Garuda Indonesia Rugi Terus, Korean Air Bisa Kok Cetak Untung Rp3,2 Triliun!

0
Korean Air jadi salah satu maskapai yang beroperasi di rute tersibuk dunia, Seoul-Jeju. Foto: Getty Images

Kinerja keuangan Garuda Indonesia terus memburuk. Setiap bulan, flag carrier atau maskapai nasional Indonesia itu terus membukukan kerugian sebesar Rp1 triliun. Perseroan mengklaim bahwa semua ini terjadi akibat pandemi virus Corona yang menekan permintaan.

Baca juga: Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

Dalih tersebut tentu saja sesuai fakta. Namun, tak sepenuhnya benar untuk terus dijadikan kambing hitam. Buktinya, ada beberapa maskapai di dunia yang mencetak keuntungan besar. Korean Air dan Asiana Airlines adalah dua di antaranya.

Melihat laporan keuangan perusahaan, Garuda Indonesia sebenarnya berhasil membukukan keuntungan sebesar US$6,98 juta atau Rp99,11 miliar (kurs Rp14.200 per dolar AS) pada 2019. Namun, keuangannya langsung tertekan pada 2020 atau saat pandemi melanda dunia termasuk Indonesia.

Garuda Indonesia menderita kerugian hingga US$1,07 miliar atau Rp24,29 triliun (kurs 14.296) pada kuartal III 2020. Angkanya berbanding terbalik dibandingkan dengan posisi kuartal III 2019 yang membukukan laba bersih sebesar US$122,42 juta atau Rp1,73 triliun.

Pendapatan perusahaan jeblok dari US$3,54 miliar (Rp50,26 triliun) menjadi US$1,13 miliar (Rp16,04 triliun). Rinciannya, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal sebesar US$46,92 juta (Rp666,26 miliar) dan penerbangan berjadwal US$917,28 juta (Rp13,02 triliun).

Bulan Mei lalu, dari rekaman meeting internal yang bocor ke media, posisi utang Garuda Indonesia diungkap Direktur Utamanya, Irfan Setiaputra, berada di posisi Rp70 triliun. Setiap bulan, Garuda rugi hingga US$100 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Tak ayal, di tengah sulitnya kondisi keuangan, program pensiun dini pun digalakkan. Mirisnya, bagi mereka yang memutuskan bertahan, tidak akan digaji karena keterbatasan uang cash. Sulit sekali.

Sebagai maskapai nasional, kondisi Garuda Indonesia sangat jauh berbeda dibanding maskapai nasional di negara lain. Ambil contoh Korea Selatan. Sejak tahun lalu, flag carrier mereka, Korean Air, terbukti mampu mencetak keuntungan bersih. Bahkan, pada kuartal I 2021 pun, maskapai juga berhasil membukukan keuntungan bersih nyaris Rp1 triliun.

Korean Air sempat mengalami kerugian pada kuartal I 2020. Namun, pada kuartal II, maskapai berhasil mencetak untung besar mencapai US$125,2 juta atau sekitar Rp3,1 triliun (kurs 14.296). Keuntungan tersebut didapat dari operasional kargo yang sangat tinggi, menutupi penerbangan penumpang yang jauh menukik.

Maskapai itu tidak sendiri. Di kuartal II, setidaknya ada tiga maskapai lain yang juga mencatat keuntungan. Tiga itu, Asiana Airlines, China Airlines, dan Eva Air.

Di kuartal III 2020, Korean Air kembali membukukan rugi bersih sebesar 385,93 miliar won atau setara US$342 juta (Rp4,8 triliun). Di kuartal IV 2020, perusahaan kembali mencetak keuntungan. Secara keseluruhan, Korean Air mencetak laba US$212 juta atau sekitar Rp3 triliun (kurs 14.296).

Baca juga: Indonesia Tanpa Flag Carrier? Puluhan Negara Ini Tak Punya Maskapai Nasional, Termasuk AS!

Tak hanya itu, tren positif maskapai juga berlanjut di kuartal I 2021. Kantor Berita Yonhap melaporkan, maskapai tercatat membukukan keuntungan US$68,3 juta atau sekitar Rp975 miliar. Sama seperti sebelum-sebelumnya, maskapai membukukan keuntungan berkat memaksimalkan penerbangan kargo.

Antara Indonesia dan Korea Selatan tentu berbeda. Penerbangan kargo Korean Air tertolong dengan posisi Korea Selatan sebagai salah satu pemasok peralatan dan perlengkapan medis serta ekspor barang lainnya. Tetapi, lemah di domestik. Sedangkan Indonesia sebaliknya.