Hanya Empat Penumpang Selamat, Tragedi JAL 123 Kecelakaan Udara Terburuk di Jepang

12 Agustus 34 tahun lalu selalu dikenang sebagai hari yang kelam dalam dunia kedirgantaraan. Di tahun 1985, sebuah pesawat jumbo jet Boeing 747SR  milik Japan Airlines (JAL) dengan nomor penerbangan 123 jatuh di pegunungan Takamagahara, Prefekur Gunma atau tepatnya 100 km dari Tokyo, Jepang.

Baca juga: Terdampak Cuaca Buruk, Pesawat Carter ini Tergelincir Menuju Jalan Tol

Penerbangan nahas tersebut mengangkut 509 penumpang dan 15 awak. Dalam insiden kecelakaan itu sebanyak 505 penumpang dan 15 awaknya tewas. Bahkan seorang aktor dan penyanyi terkenal Jepang, Kyu Sakamoto ikut tewas dalam kecelakaan pesawat paling mematikan dalam sejarah. Namun, hal mengejutkan lainnya adalah ada empat penumpang yang selamat dari kecelakaan dan semuanya perempuan.

Monumen mengenang kecelakaan JAL123

Mereka adalah seorang pramugari JAL Yumi Ichiai yang tengah cuti dan terjepit di antara kursi, seorang ibu dengan anaknya berusia 8 tahun Hiroki Yoshizaki dan Mikiko Yoshizaki yang terkurung di runtuhan badan pesawat dan anak perempuan 12 tahun Keiko yang terlempar ke semak-semak. Keempatnya bahkan diketahui saat itu duduk dalam satu barisan yang sama di sebelah kiri bagian belakang pesawat.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pesawat tersebut awalnya berangkat dari Bandara Haneda di Tokyo yang akan menuju ke Bandara Internasional Osaka. Pesawat JAL 123 tersebut saat itu tengah mengangkut masyarakat Jepang yang akan pulang ke kampung halaman untuk merayakan festival keagamaan ‘Obon’ yakni acara menghormati arwah leluhur.

Kronologis kecelakaan ini, pesawat JAL 123 lepas landas dari Bandara Haneda pukul 18.12 waktu setempat. Setelah 12 menit lepas landas, bagian penyekat buritan belakang pesawat pecah dan mengalami beberapa ledakan dekompresi parah yang merobek ekor pesawat.

Terlepasnya ekor pesawat kemudian merusak sistem hidrolik pesawat secara keseluruhan dan membuat melayang-layang tanpa terkendali selma 30 menit sebelum akhirnya jatuh menabrak gunung. Awalnya sebelum jatuh, pilot mencoba mencari tempat mendarat darurat, dimana mula-mula kembali ke Bandara Haneda di Tokyo, tempat pesawat ini lepas landas. Ketika pesawat semakin tidak terkendali, pilot mencoba terbang menuju pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di Yokota. Namun, semua usaha tersebut sia-sia.

Pukul 18.56 waktu setempat, pesawat hilang kontak dengan radar dan menabrak punggung gunung dan menabrak kedua gunung kemudian terbalik serta menghantam tanah dimana punggung pesawat terlebih dahulu. Dari penyelidikan kecelakaan pesawat yang dilakukan omisi Penyelidik Kecelakaan Pesawat dan Kereta Api Jepang kemudian, ekor pesawat tersebut pernah tersenggol dalam sebuah pendaratan di Bandara Itami pada 2 Juni 1978.

Ekor pesawat itu kemudian tidak diperbaiki dengan sempurna oleh teknisi Boeing dan JAL yang menyebabkan berkurangnya kemampuan penyekat bertekanan bagian belakang (rear pressure bulkhead) dalam menahan beban tekanan selama penerbangan sehingga mengakibatkan kelelahan logam dan kecelakaan tersebut terjadi. Pasca kecelakaan, Presiden JAL, Yasumoto Takagi, memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Di Haneda, seorang manajer perawatan JAL memutuskan bunuh diri akibat tidak kuat menanggung rasa malu yang telah ditimbulkannya kepada perusahaan.

Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu

Pihak maskapai kemudian memutuskan tak lagi memakai nomor penerbangan Japan Airlines 123 untuk rute Tokyo-Osaka dan menggantinya dengan penerbangan 127. Tak hanya itu, Japan Airlines juga mengganti jenis pesawat yang digunakan dari Boeing 747 menjadi Boeing 767 dan Boeing 7777. Di Prefektur Gunma, lokasi yang berdekatan dengan kecelakaan dibangun monumen untuk mengenang para korban.