Hughes H-4 Hercules Flying Boat, Pesawat Amfibi (Gagal) dengan Rentang Sayap Terbesar

0
Hughes H-4 Hercules merupakan kapal terbang terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah umat manusia. Tak hanya itu, ia juga merupakan pesawat dengan rentang sayap terbesar yang pernah terbang. Foto: Getty Images

Perang Dunia II menyimpan banyak cerita. Selain peristiwa dijatuhkannya bom atom pertama di dunia di Hiroshima dan Nagasaki, sejarah mencatat, perang yang dimenangi oleh sekutu itu juga mendorong terciptanya pesawat amfibi terbesar di dunia, Hughes H-4 Hercules Flying Boat.

Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Hughes H-4 Hercules merupakan kapal terbang terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah umat manusia. Tak hanya itu, ia juga merupakan pesawat dengan rentang sayap terbesar yang pernah terbang.

Dikutip dari Simple Flying, dalam upaya memenangi Perang Dunia II, Amerika Serikat (AS) menggunakan segala macam cara, termasuk memanfaatkan sumber daya lokal. Dengan dasar itu, Howard Hughes, pilot, insinyur, pengusaha, produser film, sekaligus pemilik maskapai Trans World Airlines (TWA) -kini sudah diakuisisi oleh American Airlines April 2001 lalu- didorong untuk menyelesaikan pengembangan H-4 Hercules.

Pesawat tersebut saat itu bakal didapuk sebagai angkutan logistik perang yang aman dari ancaman kapal selam musuh atau Axis submarines (Jerman, Italia, dan Jepang). Pesawat dirancang untuk membawa 750 pasukan bersenjata lengkap atau dua tank Sherman selama Perang Dunia II.

Hanya saja, pesawat proses pengembangan pesawat mengalami kesulitan akibat perubahan konstruksi dasar dari kayu ke logam. Pembuatan pesawat ini akhirnya tersendat dan baru rampung serta menjajal penerbangan perdana pada 2 November 1947, dengan tetap menggunakan bahan dasar kayu.

Kala itu, pesawat raksasa yang desain awalnya pertama kali dibuat oleh Henry J. Kaiser, seorang pengrajin baja, dan pembuat kapal Liberty ini, hanya berhasil terbang selama 26 detik sejauh nyaris dua kilometer di Long Beach, California. Pesawat deketahui berhasil terbang setinggi 21 meter dari permukaan air dengan kecepatan 128 kilometer per jam. Sejak saat itu, pesawat tak pernah terbang lagi sampai Howard Hughes menemui ajalnya pada April 1976.

Meski hanya berhasil terbang sesingkat itu, biaya produksi Hughes H-4 Hercules Flying Boat tidaklah murah. Pemerintah AS diketahui telah menghabiskan total $22 juta ($ 572 juta hari ini). Sedangkan Howard Hughes disebut telah menghabiskan $ 18 juta ($ 468 juta hari ini) dari kocek pribadi. Cukup mahal, bukan?

Sepeninggal Hughes, Aero Club of Southern California akhirnya mengambil alih kepemilikan pesawat dengan lambung tunggal, delapan mesin radial, satu vertical tail, full cantilever wing, dan tail surfaces yang dijuluki The Spruce Goose (angsa cemara) itu, dari tangan Hughes Aircraft Company selaku produsen.

Di tangan mereka, pesawat berukuran panjang 218 kaki atau 66,65 meter, memiliki rentang sayap 319 kaki (97,54 meter), tinggi 24,18 meter, dan dapat membawa beban 180.000 kilogram (400.000 pons) sejauh 3.000 mil ini dipamerkan di sebelah kapal laut Queen Mary, di Long Beach, California.

Baca juga: Boeing 377 Stratocruiser, Pesawat dengan Kabin Bertekanan Pertama di Dunia

Namun, pada tahun 1988, The Walt Disney Company mengambil alih area tersebut. Sejak saat itu, nasib Hughes H-4 Hercules Flying Boat makin tak jelas. Pesawat tersebut akhirnya disimpan di Evergreen Aviation & Space Museum, di McMinnville, Oregon, Amerika Serikat.

Saat ini, raksasa teknologi, Google, diketahui menyewa hanggar tempat pesawat berada dan mengalami beberapa perombakan besar usai memutuskan pindah kantor pada akhir 2018 lalu. Ambisi, gagasan, serta tekad besar di balik pembuatan Hughes H-4 Hercules Flying Boat “The Spruce Goose” disebut menjadi salah satu pertimbangan Google melakukan hal itu.

Leave a Reply