Ilmuwan: Bukti Penularan Covid-19 di Udara Semakin Banyak

0

Beberapa ilmuwan saat ini percaya bahwa semakin banyak bukti penularan Covid-19 di udara. Bahkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penularan melalui udara melibatkan tetesan kecil yang mengandung virus dan melayang di udara (aerosol) serta bertahan selama beberapa waktu yang dibawa menempuh jarak lebih dari satu meter pada arus udara.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Diameter tetesan tersebut kurang dari lima mikron dan mengandung lebih sedikit virus daripada tetesan pada saat pernapasan besar. Namun tetesan tak langsung jatuh ke tanah dengan cepat. KabarPenumpang.com melansir dari theguardian.com (14/7/2020), sayangnya peran transmisi udara dalam penyebaran Covid-19 ini tidak jelas, di mana beberapa percobaan di laboratorium menunjukkan virus corona dapat bertahan di aerosol selama berjam-jam.

Hal ini kemudian membuat WHO mengatakan tidak mungkin untuk mengesampingkan kasus-kasus di antara banyak orang dalam lingkungan ruangan yang padat dan berventilasi buruk seperti restoran, ruang latihan udara serta kelas kebugaran. David Heymann, seorang profesor epidemiologi di London School of Hygiene dan Tropical Medicine mengatakan, tentang bahaya infeksi penularan Covid-19 diketahui kemungkinan oleh paparan tetesan besar.

“Ada bukti terbatas bahwa aerosol yang dihasilkan oleh berbicara, batuk atau bersin dapat menyebar lebih dari 1 meter, sehingga menjadi udara, dan ada bukti terbatas bahwa transmisi udara memainkan peran dalam penyebaran komunitas Covid-19,” katanya.

Tapi ini tidak membuat semua orang setuju, seperti dalam surat terbuka pada WHO pekan lalu di mana 239 ilmuwan mengangkat kekhawatiran tentang transmisi aerosol, termasuk jarak yang lebih jauh.

“Saya tidak berpikir Anda bisa menjelaskan beberapa peristiwa penyebaran super besar seperti wabah paduan suara selain dengan aerosol yang berjalan lebih dari satu meter,” kata Donald Milton, seorang profesor kesehatan lingkungan di University of Maryland.

Namun kemudian muncul pertanyan tentang masker, apakah bisa melindungi seseorang dari tertular Covid-19? Heymann mengatakan, masker penting untuk melindungi diri dari orang lain yang terinfeksi terutama ketika jarak sosial sulit dilakukan. Dia menjelaskan jika masker digunakan maka akan menangkap tetesan dan itu tidak bisa masuk ke aerosol orang lain.

“Untuk mencegah infeksi dari pemakainya, respirator N95 adalah jenis masker terbaik,” kata dia. Selain itu pelindung wajah juga bisa digunakan untuk menghindari tetesan besar serta mencuci tangan dan mengambil jarak sosial penting. Tak hanya itu, ahli juga mengatakan perbaikan ventilasi dalam ruangan serta penggunaan kontrol infeksi di udara seperti filter udara dan lampu UV bisa digunakan.

Catherine Noakes, seorang profesor teknik lingkungan di Universitas Leeds, yang menandatangani surat terbuka, mengatakan ada sedikit bukti penularan Covid-19 oleh aerosol jarak jauh tetapi aerosol masih bisa menimbulkan risiko di seluruh ruangan. Paul Hunter, seorang profesor kedokteran di Universitas East Anglia, mengatakan bukti menunjukkan penyebaran tetesan adalah faktor paling penting untuk dikendalikan. Tetapi jika transmisi udara signifikan, itu bisa memiliki implikasi penting untuk lingkungan dalam ruangan.

“Jika itu masalahnya kita seharusnya tidak memiliki pub terbuka, kita tidak boleh memiliki gym terbuka, bahkan jika orang mengenakan masker wajah,” katanya.

Hunter menambahkan itu juga bisa berarti jarak sosial lebih dari dua meter, dan meluasnya penggunaan masker N95 di rumah sakit. Kepedulian dengan ventilasi ruangan, disebutkan juga bisa lebih rendah untuk penyebaran Covid-19. Hal ini karena virus tersebut tidak akan menyebar dengan cepat ketika berada di luar ruangan bila di bandingankan dengan ruang tertutup.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS merekomendasikan agar jendela tetap terbuka atau menyesuaikan AC. Linda Bauld, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Edinburgh, mengatakan ventilasi yang baik akan menjadi lebih penting karena lebih banyak tempat dibuka kembali, dan bisa berarti membiasakan diri membuka jendela bahkan di musim dingin.

Baca juga: Dear Penumpang Kereta Komuter, Ilmuan Jepang Beberkan Cara Cegah Corona di Gerbong Loh

“Saat ini tidak ada bukti infeksi manusia dengan Sars-CoV-2 yang disebabkan oleh aerosol menular yang didistribusikan melalui saluran sistem ventilasi HVAC,” tambah Bauld.

Leave a Reply