Inilah Alasan Airbus Bikin Pesawat Varian NEO “New Engine Option”

0
Airbus A320neo Citilink. Foto: Istimewa

Di pasar narrowbody, Boeing boleh saja bangga dengan dominasi Boeing 737 series sejak tahun 60an. Namun, roda terus berputar dan Airbus perlahan mulai menggeser kedigdayaan Boeing di pasar ini (termasuk di pasar widebody), melalui varian pesawat-pesawat berlabel NEO atau New Engine Option.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Langkah Airbus untuk memulai varian NEO pada pesawat-pesawatnya dimulai pada tahun 2006. Saat persaingan di sektor pesawat komersial semakian ketat, alih-alih mengembangkan model pesawat baru, produsen pesawat terbesar dari Eropa ini justru fokus pada pengembangan keluarga A320.

Melalui program A320 Enhanced atau A320E, Airbus berhasil mencapai peningkatan efisiensi pada pesawat dengan modifikasi struktur, winglet, dan bobot. Keberhasilan tersebut kemudian mendorong Airbus melakukan perubahan secara utuh hingga muncullah A320neo, sebagai pembeda dengan A320 versi lama atau yang dikenal sebagai A320ceo (current engine option).

New York Times, dalam sebuah laporan yang dikutip Simple Flying, menyebutkan, “Para analis mengatakan keputusan Airbus (mengembangkan varian NEO) kemungkinan besar karena kekhawatiran terhadap para pesaing yang lebih kecil (dari Boeing) seperti produsen pesawat di Brasil, Kanada, Cina, dan Jepang.”

“Mereka semua mengembangkan jet mereka sendiri dengan mesin yang sama dengan A320neo yang memiliki kapasitas hingga 150 kursi, sehingga kapasitas dan bahan bakar (A320neo) nyaris menyerupai dengan pesawat dari negara-negara itu,” lanjut media itu dalam sebuah tulisan.

Di antara berbagai pesawat yang dimaksud, Bombardier C Series (yang kemudian diakuisisi menjadi Airbus A220) dan COMAC C919, pesawat Made in China, adalah dua di antaranya.

Dengan adanya pengembangan pesawat narrowbody dari negara-negara di atas, yang notabene menjadi sumber uang terbesar Airbus, pastinya tak ada cara lain kecuali menawarkan pesawat dengan mesin baru dan efisiensi lebih.

Laporan Flight Global, A320neo diketahui menggunakan mesin CFM International LEAP-1A atau Pratt & Whitney PW1000G, yang lebih hemat pembakaran bahan bakar hingga 60 persen serta hemat biaya perawatan hingga 20 persen dibanding A320ceo.

Secara umum, pengembangan A320 meliputi sharklet yang menawarkan efisiensi bahan bakar hingga 3,5 persen, kabin lebih luas, perubahan pada dapur, toilet, tata letak kursi baru, additional cabin space, serta jangkauan pesawat mencapai 6.850 kilometer dari sebelumnya 5.700 kilometer. Nyaris seluruhnya baru, kecuali kokpit yang 95 persen sama. Bila di total, A320neo diklaim lebih hemat bahan bakar sampai 15 persen dibanding A320ceo.

Harga yang ditawarkan Airbus untuk semua benefit di atas juga terjangkau, mencapai US$120 juta, naik US$10 juta dari harga sebelumnya.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Meski demikian, bukan berarti maskapai langsung tergila-gila dengan A320neo. Sebab, keuntungan-keuntungan yang ditawarkan A320neo bisa saja disematkan di A320ceo. Bila dikalkulasi, total costnya bahkan lebih murah melakukan pergantian mesin dan komponen lain (serupa A320neo) pada pesawat A320ceo.

Lagi pula, A320neo bukan tanpa masalah. Sejak 2018, ada serangkaian lapopran negatif dari berbagai maskapai, seperti Lufthansa dan Qatar Airways, terhadap mesin Pratt & Whitney 1100G. Kendati demikian, permasalahan tersebut tidaklah fatal dan tetap membuat A320neo menjadi pesaing terberat Boeing 737 MAX di pasar narrowbody.

LEAVE A REPLY