Inilah Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142, Pesawat dengan Kemampuan Terbang Transisi Pertama di Dunia

0
Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142, pesawat yang melakukan penerbangan transisi pertama di dunia. Foto: Twitter @ron_eisele

11 Januari 2021 lalu menandakan 56 tahun penerbangan transisi pertama di dunia oleh Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142. Tak tanggung-tanggung, penerbangan transisi pertama ini melibatkan tiga mode terbang, dimana pesawat lepas landas secara Vertical Take Off and Landing (VTOL), kemudian meluncur maju secara horizontal, dan kembali mendarat secara VTOL.

Baca juga: Anti Macet! Ambulans Terbang VTOL Bertenaga Hidrogen Hadir di Amerika Serikat

Dilansir Britannica, Ling-Temco-Vought XC-142 sendiri adalah pesawat eksperimental tiltwing tri-service yang dirancang untuk menyelidiki kesesuaian operasional VTOL ataupun short takeoff and landing (STOL).

Merunut ke belakang, program XC-142 Tilt-Wing V/STOL dimulai pada 1959 atas rekomendasi tim penasehat Presiden Amerika Serikat (AS). Dalam rekomendasinya, disebutkan bahwa AS memerlukan pesawat angkut khusus untuk Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Di samping itu, pesawat juga nantinya bisa digunakan untuk keperluan sipil.

Setelah pesawat rancangan Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142 disetujui, prototipe pertama pun melakukan penerbangan perdana sekalipun penuh dengan kontroversi pada 29 September 1964 dan berhasil mencapai penerbangan transisi pertama pada 11 Januari 1965.

XC-142A pertama dikirim ke tim penguji Angkatan Udara pada Juli 1965. Selama program XC-142A berlangsung, total sudah 420 jam dicatat dalam 488 penerbangan uji coba. Penerbangan lima XC-142A dilakoni oleh 39 pilot militer dan sipil. Uji coba termasuk penerbangan angkut, simulasi penyelamatan, penerjunan penerjun payung, dan ekstraksi kargo tingkat rendah.

Selama pengujian, driveshaft cross-linked pesawat yang ditenagai mesin General Electric T64 -GE-1 turboprops ini terbukti menjadi titik lemah. Shaft tersebut menghasilkan getaran dan kebisingan berlebih, yang mengakibatkan beban kerja pilot menjadi tinggi. Selain itu, pesawat terbukti rentan terhadap masalah karena wing flexing. Masalah Shaft, dengan digabung dengan kesalahan pada pilot, mengakibatkan sejumlah hard landing yang menyebabkan kerusakan.

Satu kecelakaan bahkan terjadi sebagai akibat dari kegagalan poros penggerak ke rotor ekor dan menyebabkan tiga korban jiwa.

Masalah lain yang ditemukan di pesawat adalah ketidakstabilan antara sudut sayap 35 dan 80 derajat, yang ditemui pada ketinggian yang sangat rendah. Ada juga gaya samping yang tinggi yang dihasilkan yaw and weak propeller blade pitch angle controls. Baling-baling “2FF” baru juga terbukti menghasilkan daya dorong yang kurang dari perkiraan semula.

Atas berbagai masalah tersebut, lima prototipe pesawat Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142 tidak dapat dilanjutkan ke tahap produksi massal. Karenanya, penerbangan uji coba terus dilakukan hingga tahun 1966. Namun, sampai tenggat waktu yang telah ditentukan, tim dari LTV tak juga mampu menyediakan pesawat V/STOL aman.

Baca juga: Avions Mauboussin Luncurkan Pesawat STOL Hibrida-Hidrogen Pertama di Dunia

Akhirnya, lima prototipe tersebut diserahkan ke NASA untuk dilakukan penelitian pada Mei 1966 hingga Mei 1970. Dari jumlah tersebut, hanya satu pesawat dengan kapasitas dua kru, 32 penumpang, panjang 17,70 m, bentang sayap 20,57 m, dan tinggi 7,95 m yang tersisa.

Pesawat dengan kecepatan maksimum mencapai 694 km, jarak tempuh 370–760 km, ketinggian maksimum 7.600 m, empat baling-baling, dan kemampuan climbing mencapai 35 m per menit ini disimpan di Museum Nasional Angkatan Udara Amerika Serikat.