Italia (3): Akhirnya, Menatap Langsung Piazza Duomo di Milan

Setelah menyelesaikan perjalanan ‘ekspres’ satu hari di kota Florence, kami kembali ke Utara, menuju Venesia untuk menginap satu malam. Venesia memang menjadi tempat transit karena pada hari ketiga, di pagi hari kami sudah menjadwakan kunjungan ke kota Mode, Milan. Kenapa dibilang singkat, karena seperti halnya saat mendatangi Florence, di Milan kami hanya mematok jalan-jalan selama setengah hari.

Baca juga: Italia (1) – Menjajal Transportasi di Venesia, Tak Beda Jauh dengan TransJakarta

Bila Florence berada di sebelah selatan Venesia, maka posisi Milan secara geografis kira-kira sejajar dengan Venesia. Milan dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling maju di Italia, dan terdiri dari 118 disktrik. Hingga tahun 2016, populasi penduduk urban di Milan mencapai 1,3 juta juta orang. Merujuk ke silsilahnya, nama Milan bila dibahasa Latinkan dibaca Mediolanum yang berarti di tengah hamparan. Hingga kini, Milan sendiri menjadi pusat ekonomi dan keuangan Negeri Pizza.

Kota yang dikenal dengan julukan kota fesyen dunia ini memiliki bangunan yang lebih modern di bandingkan Venesia dan Florence.Alasan kami menuju Milan karena di sini menjadi salah satu pusat fesyen dunia dan banyak merek-merek busana terkenal menyajikan etalase butik mewah.

Baca juga: Italia (2) – Berburu Wisata di Florence dalam Satu Hari

Guna menyambangi Milan, kami berangkat menggunakan kereta cepat dari stasiun Santa Lucia, Venesia menuju Stasiun Central Milan, yang tentunya juga menggunakan tiket online yang pembeliannnya kami lakukan sejak tiga bulan sebelum keberangkatan. Rute Venesia ke Milan terasa sedikit lebih lama ketimbang Venesia ke Florence. Mungkin karena lebih lama dan jaraknya lebih jauh, tarif kereta Venesia ke Milan lebih mahal sekitar 20 – 30 Euro dari Venesia ke Florence.

stasiun Milano Centrale

Tiket menuju Milan memang lebih mahal, dikarenakan perjalanan kami dari Venesia menuju Milan sekitar tiga setengah jam dengan model kereta yang sama seperti menuju Florence kemarin. Sesampainnya di stasiun Milano Centrale kami langsung mencari transportasi umum untuk menuju Piazza Duomo. Tetapi karena jadwal tidak bertepatan dengan kedatangan kami, alhasil diputuskan untuk berjalan kaki menuju Piazza Duomo.

Sekedar saran, untuk wisatawan yang belum fasih tentang Milan, ada baiknya membeli peta, atau peta juga bisa Anda dapatkan gratis di stasiun. Alasannya untuk mencari arah jalan lewat aplikasi di smartphone akan kesulitan,terlebih bagi kami yang jujur lebih mengandalkan akses free WiFi. Sebagai informasi, hotspot free WiFi memang tersedia, tapi hanya ada di beberapa tempat wisata saja. Dengan berjalan santai, perjalanan kami cukup lama dari satsiun Milano Centrale munuju Piazza Duomo karena kami sempat berhenti untuk berfoto-foto dan mengunjungi beberapa toko di sepanjang jalan.

Berpose di Piazza Duomo.

Baca juga: WiFox, Bantu Anda Berburu WiFi Gratisan di Bandara Internasional

Sebelum tiba di Piazza Duomo kami sempat melewati Galleria Vittorio Emanuele II yang berisi banyak butik kelas dunia khas Eropa. Bangunan ini sangat megah dengan ciri khas bangunan Eropa klasik dengan sedikit sentuhan modern. Sesampai di Piazza Duomo kami menyempatkan masuk ke dalam gereja dan musium Duomo. Piazza Duomo menjadi magnet kunjungan kami, lantaran bangunan berupa gereja yang berada di lapangan utama kota ini menjadi salah satu bangunan termegah di Eropa. Dengan arsitektur Gothic, gereja ini memang sangat besar, di bagian dalamnya bahkan bisa menampung 40 ribu jamaah.

Galleria Vittorio Emanuele II di malam hari.

Seperti halnya di Florence, di Mila ada juga bus Hop On Hop Off, tetapi kami tidak menaikinya melainkan menikmati keindahan kota Milan dengan hanya berjalan kaki. Meski sangat belum puas berada seharian di Milan, dengan sisa tenaga yang ada, sorenya kami kembali menuju Venesia , tapi mungkin karena kelelahan kami menggunkan wahana Metro (kereta bawah tanah) dari Piazza Duomo menuju stasiun Milano Centrale.

Kereta bawah tanah Metro Milan.

Baca juga: Stasiun Ini Dalamnya Melebihi Tinggi Patung Liberty Loh!

Tiket sekali perjalan menggunakan metro terbilang cukup murah, yakni 1,5 Euro sekali jalan. Tetapi kami tidak bisa menikmati perjalanan karena saat itu di dalam metro sangat padat, diperkirakan jam pulang kerja saat kami naik. Model metro atau kereta bawah tanah ini mirip dengan kereta listrik Jabodetabek dari tempat duduknya . Sesampainnya kami di stasiun Milano Centrale, kami cukup pindah peron dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun Santa Lucia di Venesia.

Dari Venesia, di hari keempat kami bertolak pulang ke Indonesia lewat Amsterdam. Demikian berakhirlah perjalanan singkat di Italia, dari Venesia, Florence dan Milan. Semoga tulisan ini dapat membawa inspirasi bagi Anda pembaca KabarPenumpang.com. (Dessyta Octavera Santi – karyawati swasta di Jakarta)

Leave a Reply