Jalur Labuan – Rangkasbitung, Dulunya Juga Untuk Angkut Ikan dan Garam

(IRPS)

Jalur kereta api Labuan menuju Rangkasbitung kini masuk dalam Wilayah Aset I Jakarta. Lintasan ini sendiri mulai dibangun tahun 1908 silam dan tutup sejak 1984 karena persaingan antar moda transportasi lainnya. Lintasan sepanjang 56 km tersebut memiliki percabangan ke arah Bayah dari Stasiun Saketi.

Baca juga: Jalur Kereta Rangkasbitung-Saketi-Labuan Kembali Direaktivasi

Setelah beroperasi selama 20 tahun, lintasan ini cukup ramai, sebab ada perjalanan kereta penumpang dan barang lima kali pergi pulang dalam sehari. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kereta yang melintasi jalur ini dulunya memiliki kelas II, III dan khusus inlanders atau pribumi.

Kereta barang yang melintas jalur ini biasanya mengangkut ikan dari Labuan untuk di jual ke Jakarta dan membawa garam dari Tanah Abang untuk pembuatan ikan asin di Labuan. Mati sejak 1984, jalur Labuan-Rangkasbitung rencananya akan kembali direaktivasi.

Rencana ini sudah berjalan dimana PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai melakukan survei untuk pemetaan jalur tersebut. Reaktivasi jalur ini sendiri dikatakan Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kabupaten Lebak, Dudi Mulyadi, bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Survei pemetaan jalur itu,terkait akan dioperasikan kembali KA Rangkasbitung-Labuan sepanjang 56 kilometer. Kami mulai pemetaan dari titik jembatan Ciujung hingga melintasi Stasiun Warunggunung-Cibuah dan Citangkil yang berjarak kurang lebih 17 kilometer,” kata Dudi yang dikutip dari wartakota, Minggu (27/1/2019).

Tahun 2016 lalu, Bupati Pandeglang, Irna Narulita berharap, reaktivasi jalur Labuan-Rangkasbitung bisa rampung tahun 2020 mendatang. Dia mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan terkait pengaktifan kembali jalur kereta tersebut.

“Lebih bagus kalau dalam satu-dua tahun rel kereta apa itu sudah bisa digunakan, karena dengan begitu ekonomi masyarakat akan hidup, khususnya di wilayah stasiun kereta,” kata Irna yang dikutip dari tempo.co.

Kasi Penataan Jaringan Ditlaka Ditjen Kereta Api Jumanto menyampaikan sebelum melakukan pembangunan akan dilakukan sosialiasasi terlebih dahulu. Ada dua hal juga yang harus dipersiapkan yakni penertiban dan pengadaan lahan.

“Karena jalur kereta yang mati saat ini masih dimanfaatkan oleh warga. Agar laju kereta bisa 60 km per jam harus ada pelebaran untuk jalur kereta dari yang sudah ada saat ini,” ujarnya.

Baca juga: Menjadi Saksi Sejarah Perang Kemerdekaan, Stasiun Rangkasbitung juga Sebagai Tombak Perekonomian

Untuk diketahui, ada lima stasiun di jalur Labuan-Rangkasbitung yang akan diaktifkan yakni Pandeglang, Kadukacang, Saketi, Menes dan Labuan. Selain itu ada objek wisata yang juga bisa dikunjungi selain vila dan pantai di jalur selatan tersebut.