Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

0
Kabin penumpang Boeing 777-200 milik Austrian Airlines disulap menjadi kargo untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Foto: Austrian Airlines

Kabin penumpang disulap menjadi kargo belakangan ramai terjadi di berbagai penerbangan di seluruh dunia. Namun, tentu saja perubahan tersebut perlu dilakukan dengan cermat. Bila tidak, bukan tak mungkin suatu hal buruk akan terjadi. Pasalnya, Fire Suppression System untuk mencegah kebakaran yang terdapat di kompartemen kargo tidak tersedia di kabin penumpang.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Dilansir dari forbes.com, dengan kondisi tersebut, berbagai regulator pun mengharuskan agar pengamat penerbangan atau pramugari (awak kabin) harus disertakan dalam setiap penerbangan tersebut (kargo di dalam kabin penumpang). Tak terkecuali dengan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura, CAAS.

“Otoritas Penerbangan Sipil Singapura telah memberikan persetujuan kepada Singapore Airlines dan Scoot Tigerair untuk mengangkut kargo di kabin penumpang pesawat mereka ketika pesawat ini digunakan untuk penerbangan kargo,” kata Direktur Standar Penerbangan CAAS, Alan Foo.

“Awak kabin juga harus berada di atas penerbangan ini untuk mengelola setiap keadaan darurat dalam penerbangan,” lanjutnya.

Dengan adanya fenomena tersebut, praktis, fungsi pramugari kini telah bergeser, dari semula melayani para pelanggan dengan penuh keramahan, menjadi petugas pemadam kebakaran di dalam kabin penumpang yang siap siaga di segala kondisi.

Namun demikian, nampaknya, kecil kemungkinan pramugari benar-benar berjibaku layaknya petugas kebakaran sungguhan. Sebab, sebelum benar-benar terbang memuat kargo di dalam kabin penumpang, berbagai mekanisme terlebih dahulu harus dipenuhi. Seperti klasifikasi barang yang tidak boleh mudah terbakar, tidak boleh menghalangi pintu darurat, hingga suhu di dalam kabin tidak boleh terlalu panas.

Selain itu, berbagai masukan dari pihak terkait, seperti produsen pesawat, dalam hal ini Airbus dan Boeing, regulator seperti EASA dan FAA, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), juga semakin memperketat mekanisme kargo di dalam kabin penumpang. Masing-masing dari mereka mempunyai poin-poin penting tersendiri.

Airbus, dengan berbagai catatan, masih memperkenankan maskapai global memaksimalkan ruang di dalam kabin penumpang dengan mencopot kursi. Sebaliknya, Boeing bersama FAA justru kompak menyuarakan agar masing-masing maskapai mengkomunikasikan segala perubahan, termasuk kargo di dalam kabin penumpang dengan regulator.

Poinnya adalah, Boeing dan FAA tidak mengharapkan adanya perubahan konfigurasi. Maskapai bisa tetap memaksimalkan kabin dengan meletakkan kargo di atas kursi yang dilapisi pelindung, meletakkan di bawah kursi, atau di bagian lainnya selama tidak mengganggu jalur evakuasi.

EASA lebih ketat lagi. Selain wajib ‘dijaga’ oleh awak kabin atau pengamat penerbangan, pengecekan ketat sebelum penerbangan dimulai, seperti bobot total kargo di dalam kabin agar tak melebihi kemampuan struktur pesawat, barang-barang yang dibawa, tata letak kargo karena berpengaruh dengan keseimbangan pesawat, bahkan wajib mensertifikasi ulang bersama pihak terkait jika terjadi perombakan besar-besaran di dalam kabin penumpang.

Baca juga: Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310

Hal itu dilakukan bukan hanya untuk membuat penerbangan tersebut aman, namun sekaligus menjadi sebuah sinyal bahwa kargo di dalam kabin penumpang jelas merupakan hal yang tak dibenarkan dan tak boleh berlarut, terlebih dalam keadaan normal.

Sejauh ini, EASA masih memberikan kemudahan untuk penerbangan tersebut selama dalam kurun delapan bulan ke depan atau selama masa krisis bila mana dalam delapan bulan ke depan pandemi corona masih tak kunjung usai. Di luar itu, EASA menyarankan agar dibuat regulasi yang jelas dan terperinci, dengan didasari riset untuk meminimalisir kecelakaan.

Leave a Reply