Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra

Ilustrasi awak kabin asing (www.abc.net.au)

Bagaimana kehidupan awak kabin asing yang bekerja pada maskapai berbiaya hemat di sektor domestik? Sebagai contoh adalah Jetstar yang mempekerjakan awak kabin berkebangsaan asing di rute domestik Australia dan membayar gaji pokok mereka minimal US$100 atau Rp1,4 juta per minggu.

Baca juga: Inilah Tingkah Laku Penumpang yang Unik Versi Awak Kabin

Para awak kabin yang berbasis di Thailand ini bahkan bila pada waktu liburan (peak season) bisa bekerja hingga 20 jam dan berjuang untuk makan dengan jumlah bayaran mereka yang tidak besar. KabarPenumpang.com merangkum dari laman abc.net.au (14/8/2018), seorang awak kabin bernama Pojchara Kosolchuenvijit baru dua minggu lalu mengundurkan diri dari Jetstar dan sering terbang antara Bali-Australia.

“Untuk kru yang berbasis di Thailand, kami dapat di-roster hingga 17 jam dan dapat bekerja hingga 20 jam. Ada masalah keamanan karena kelelahan, para kru harus fit setiap saat. Ini kru yang akan membantu penumpang dalam keadaan darurat,” ujar Pojchara.

Gaji awak kabin yang berbasis di Bangkok akan melonjak menjadi US$13 atau Rp190 ribu per jam saat mereka terbang, tetapi Pojchara mengatakan untuk mendapatkan uang tersebut mereka harus menghabiskan waktu banyak di Australia. Sebab mereka akan mendapat tunjangan US$60 per 36 jam, sedangkan kru lokal akan mendapat upah US$128,70 per malamnya.

“Kami perlu makan, dan untuk makan kami butuh uang. Jika Anda hanya memiliki US$30, apa yang dapat Anda makan seharga US$30 setiap hari di Melbourne? Hampir tidak mungkin. Kami harus sembunyi masak dengan panci listrik untuk memasak mie instan di hotel, saya tahu itu dilarang, tetapi kami hanya harus melakukannya,” kata Pojchara.

Pojchara menambahkan, dirinya suka dengan Jetstar tetapi beberapa hal harus diperbaiki, meski dirinya tahu ini adalah bagian dari model bisnis untuk mendapatkan tenaga kerja murah. Dia mengatakan, mereka pekerja asing tidak membutuhkan diskriminasi tetapi membutuhkan pembagian yang adil dan upah sesuai serta cukup untuk kehidupan.

Jetstar menolak untuk berbicara tetapi dalam sebuah pernyataan mengatakan pengaturan karyawan telah sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan Australia.

“Kru kami yang berbasis di Thailand membawa pulang rata-rata $2.600 per bulan, tergantung pada senioritas, yang lima kali lipat rata-rata gaji bulanan Thailand,” ujar Jetstar melalui pernyataannya.

Pojchara Kosolchuenvijit setuju bahwa itu adalah gaji yang bagus, jika para kru tidak harus meninggalkan Bangkok.

“Tetapi untuk mendapatkan uang sebanyak itu, Anda harus menghabiskan banyak waktu Anda di Australia, di mana jauh lebih mahal,” tambah dia.

Bulan lalu maskapai juga mulai menggunakan kru asing yang lebih murah di rute domestik antara Darwin dan Adelaide dan menurut beberapa staf Jetstar mungkin pekerja itu ilegal. Jetstar mengatakan tidak melakukan kesalahan karena peraturan imigrasi memungkinkan penggunaan kru asing di penerbangan internasional.

Namun seorang pilot Jetstar mengatakan, bahwa tidak mungkin penerbangan kembali Darwin-Adelaide adalah penerbangan internasional. “Semua penumpang naik di Adelaide dan turun di Darwin, mereka menggunakan terminal domestik, tiket domestik dan pemeriksaan keamanan domestik,” kata pilot.

Pilot lain mengajukan keluhan kepada Jetstar setelah diberi roster untuk bekerja dengan kru yang berbasis di Thailand pada apa yang dia yakini sebagai penerbangan domestik.

“Saya pikir itu aneh bahwa awak kabin yang berbasis internasional mampu mengoperasikan sektor domestik. Saya masih tidak sepenuhnya puas dengan pengaturan ini sesuai dengan hukum tempat kerja Australia,” ujar pilot itu lagi.

Baca juga: Departemen Perhubungan Naikkan Permintaan Pajak Layanan, Maskapai Justru Lepas Tangan

Jetstar menolak saran bahwa kru yang berbasis di luar negeri dilatih dengan standar yang lebih rendah. Pihak Jetstar juga mengatakan harus menggunakan awak asing yang ditugaskan di rute itu karena periode liburan sekolah.

“Penggunaan penerbangan tag operator penerbangan yang berbasis di luar negeri di seluruh jaringan kami sangat kecil,” kata juru bicara dalam sebuah pernyataan. Di bawah Peraturan Migrasi sebagai bagian dari Undang-Undang Migrasi, layanan ini sejalan dengan definisi penerbangan di mana kru asing dapat bekerja, termasuk bahwa ia harus beroperasi di antara bandara yang dinyatakan (misalnya Adelaide dan Darwin),” jelas Jetstar.