Ketika Fly by Wire Dianggap Usang, Teknologi Fiber Optic “Fly by Light” Bersiap Gantikan

0
Ilustrasi fly by light (FBL). Foto: Airbus

Di awal kemunculannya, fly by wire digambarkan sebagai teknologi canggih yang wajib ada di setiap pesawat. Bahkan, tak sedikit kalangan yang menganggap, bahwa pesawat tanpa dibekali teknologi fly by wire merupakan pesawat usang. Andakah salah satunya?

Baca juga: Kerap Jadi Bahan Pertanyaan, Apa Perbedaan Antara Fly by Wire dan Hydraulic System di Pesawat?

Fly by Wire (FBW) sendiri merupakan sebuah sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah kendali pesawat. Teknologi ini disebut pertama kali ditemukan oleh Presiden Ketiga Indonesia, BJ Habibie. Fly by wire hadir untuk menggantikan sistem hidrolik (Hydraulic Power System) yang dianggap sudah usang.

Fly by wire pertama kali digunakan pada pesawat F-8 Crusader milik Nasa pada tahun 1972. Setelahnya Sukhoi T-4 juga menggunakan sistem kendali tersebut. Beberapa waktu kemudian pesawat tempur jenis Hawker Hunter menggunakan FBW di bangku kanan. Namun pada bangku kiri untuk pilot penyelamat, Hawker Hunter menggunakan sistem kendali konvensional dengan saklar FBW.

Untuk pertama kalinya Airbus A320 menjadi pesawat penumpang yang menggunakan sistem FBW digital pada tahun 1984. Sementara itu, pesawat N250 Gatotkaca dan Dassault Falcon 7X masing-masing menjadi pesawat turboprop serta jet bisnis pertama yang dilengkapi sistem kendali FBW digital pada tahun 1995 dan 2005.

Seiring perkembangan teknologi, perlahan tapi pasti, teknologi fly by wire mulai dianggap usang dengan kehadiran teknologi serat optik (fiber optic). Teknologi serat optik menawarkan banyak keunggulan dibandingkan teknologi konvensional ataupun teknologi digital generasi pertama di penerbangan seperti fly by wire. Teknologi serat optik dipandang sebagai generasi berikutnya dalam sistem kontrol penerbangan.

Dalam sebuah paper karya Tonoy Chowdhury dari University of North Texas yang dilihat KabarPenumpang.com menyebut, teknologi fiber optic pada tahun 2017 lalu sudah mulai diimplementasikan di pesawat, dengan istilah Fly by Light (FBL).

Guna mendongkrak konsep fly by light, program Fly-By-Light Systems Hardware (FLASH) selama lebih dari 20 tahun lalu diluncurkan oleh berbagai instansi industri dirgantara dunia, dengan dimotori oleh NASA, Pentagon, serta pemasok bagian-bagian pesawat, mulai dari mesin, badan pesawat, dan bagian lainnya. Hal ini diharapkan dapat membuka jalan bagi implementasi FBL yang lebih efektif pada pesawat terbang dengan menggunakan Neural Network Technology.

Cara kerja fly by light sebetulnya hampir mirip dengan fly by wire. Hanya saja, semua sensor yang digunakan merupakan sensor optik, bukan elektronik ataupun listrik. Dalam jenis sistem kontrol ini (FBL), sinyal perintah dikirim ke aktuator melalui media dari garis serat optik. Feedback dari sistem kontrol dan sistem lain diarahkan dengan cara yang sama (ke aktuator). Komputer kemudian memberikan data untuk pergerakan kendali control pesawat melalui kabel ini.

Sederet keunggulan FBL dibanding FBW termasuk kekebalan terhadap gangguan elektromagnetik (EMI) dan High Intensity Radiated Field (HIRF), bandwidth data yang lebih besar, ringan, dan membutuhkan lebih sedikit perawatan, serta lebih tahan terhadap elektromagnetik impuls daripada sistem FBW konvensional. Teknologi FBL tidak menggunakan kabel dan secara alami tahan gangguan elektromagnetik.

Baca juga: Yoke Boeing Vs Side Stick Airbus, Mana Sistem Kemudi yang Lebih Unggul?

EMI atau gangguan elektronik cukup berbahaya mengingat dapat menyebabkan kinerja peralatan avionik menurun atau bahkan malfungsi. Selain itu, EMI juga dapat mempengaruhi radio kokpit dan sinyal radar, mengganggu komunikasi antara pilot dan menara control.

Sama halnya dengan EMI, HIRF juga berbahaya mengingat dapat mempengaruhi sistem elektronik dan digital di pesawat, menyebabkan sistem menjadi malfungsi. EMI dan HIRF bisa disebabkan banyak hal, seperti awan cumulonimbus, kristal es, petir, dan lain sebagainya. Beruntung, semua itu bisa teratasi dengan FBL, sekalipun masih perlu kajian dan butuh waktu untuk bisa benar-benar diimplementasikan di pesawat komersial secara massif.

Leave a Reply