Kombinasi Lintasan Kereta Underground – Elevated, Bikin Biaya Operasional Lebih Besar

Jika kondisi memungkinan, sejatinya pembangunan jaringan kereta komuter, baik di segmen MRT (Mass Rapid Transit) atau LRT (Light Rapid Transit) ditekankan untuk memilih salah satu diantara tiga opsi, yaitu elevated (jalur layang), underground (jalur bawah tanah), atau grounded yang menapak di atas tanah. Namun umumnya karena kondisi kontur geografi dan struktur bangunan di sekitarnya, menjadikan operator kereta harus memilh opsi hybrid, contohnya seperti MRT Jakarta yang mengkombinasikan lintasan elevated dan underground.

Baca juga: Ketika LRT Mogok, Penumpang Harus ‘Siap’ Berjalan Kaki di Elevated Track

Sebaliknya, jaringan LRT seperti proyek Jabodebek dan LRT di Palembang, memilih opsi full elevated. Selain kontur geografis dan kondisi bangunan di sekitarnya, yang tak kalah penting adalah biaya pembangunan, disini implementasi jaringan underground jelas yang paling tinggi. Namun lepas dari itu semua, pemilihan jaringan pada MRT/LRT rupanya juga terkait dengan konsumsi energi yang harus dikeluarkan oleh operator.

Dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (14/1/2019), General Manager LRT Departemen PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Isman Widodo, menyatakan bahwa tidak naik turunnya kereta memungkinkan biaya operasional LRT nantinya bisa lebih hemat. Sebab, perlintasan menanjak atau menurun di rel besi tidak bisa disamakan dengan di jalanan yang hanya dilalui ban mobil dan aspal. Semakin banyak lintasan yang naik dan turun, maka tenaga yang dibutuhkan di kereta juga bakal semakin besar dan biayanya pun semakin mahal.

PT Adhi Karya yang mantab membangun LRT pada lintasan elevated tentu memiliki pertimbangan matang, di antaranya yaitu perimbangan antara capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex) model elevated yang dianggap paling efisien, kapasitas kereta, hingga teknologi yang digunakan. “Konsep elevated ini lebih murah ketimbang bentuk underground atau bawah tanah, serta lebih efisien dan cepat dibandingkan menapak di atas tanah atau grounded yang memerlukan biaya yang besar,” ujar Iswan Widodo.

Baca juga: Eksklusif! Inilah Penampakan Bagian Dalam Stasiun MRT Dukuh Atas

Sementara dari sisi lain, pembangunan jaringan underground, meski menelana biaya besar dan waktu lebih lama, tapi punya nilai prestis tersendiri bagi suatu negara. Kehadiran jaringan kereta bawah tanah, tak dikesampingkan sebagai tolok ukur kemajuan transportasi di suatu negara.