Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

0
Ilustrasi pilot sebelum memutuskan landing atau divert. 43airschool.com

Transportasi udara terbukti jadi moda transportasi paling aman dibanding yang lain. Capaian itu tentu, salah satunya, tak lepas dari kinerja pilot. Sebab, pilot sudah bekerja bahkan sebelum penerbangan dimulai.

Baca juga: Hard Landing Vs Soft Landing, Mana Lebih Baik?

Saat dalam penerbangan pun, pilot juga mempunyai banyak pertimbangan untuk melanjutkan perjalanan kemudian landing atau menunda pendaratan dan beralih ke bandara lain. Agar lebih jelas, dilansir thepointsguy.co.uk, berikut delapan cara pilot mendapatkan penerbangan aman; termasuk memutuskan landing atau menunda pendaratan (divert) dan beralih ke bandara terdekat.

1. Bahan bakar
Sebelum memulai penerbangan, pilot dan co-pilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan. Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

2. Ketenangan
Selama penerbangan, apalagi penerbangan kurang lebih 15 jam, rencana penerbangan yang sudah dibuat mungkin akan berubah seiring perkembangan cuaca. Perubahan itu bisa dua, memudahkan atau menyulitkan. Jika menyulitkan, ketenangan dibutuhkan pilot untuk membuat ulang perencanaan, mengingat keputusan yang dibuat saat kondisi tengah tertekan cenderung keliru.

3. Approach singkat
Jelang tiba di bandara, persiapan pendaratan dimulai. Namun, bila bandara tujuan sedang tidak bersahabat, mau tak mau pilot harus menunggu. Menunggu di sini ada dua, menunggu atas dasar saran ATC atau keputusan pilot.

Selama menunggu, tentu bahan bakar akan terkuras. Biasanya, pesawat bisa bertahan selama beberapa waktu, tergantung ketepatan pilot dalam merencanakan penerbangan. Bila kondisi tak kunjung berubah, maka pilot harus segera memutuskan untuk tetap mendarat atau mendarat di bandara lain. Bila mendarat di bandara lain jadi opsi, maka, pastikan pendaratan di sana tak ada kendala apapun mengingat stok bahan bakar terlalu sedikit untuk menunda pendaratan kembali.

4. Landing distance
Landing distance atau jarak pendaratan merupakan jarak ujung landasan ke zona touchdown. Biasanya landing distance sejauh 50 kaki. Bila lebih dari itu karena satu dan lain hal, berarti pilot telah mengurangi zona safety factor pesawat untuk berhenti sebelum mencapai ujung runway.

5. Angin
Proses landing tak lebih mudah dari yang dibayangkan. Sebelum memutuskan landing, pilot terlebih dahulu menghitung hembusan angin untuk mendapatkan required landing distance. Bila angin berhembus lebih kencang dari yang dilaporkan, maka, pilot harus menjaga margin aman pendaratan, baik pada zona touchdown maupun safety factor hingga ke ujung landasan.

6. Permukaan runway
Mendarat dalam kondisi normal, tidak terlalu panas ataupun tidak dalam posisi hujan lebat, mungkin akan mudah dilakukan. Namun, pada dua kondisi tersebut, terutama hujan lebat, proses pengereman menjadi tidak sempurna, begitupun daya cengkeram landasan dengan ban. Karenanya, pilot perlu memutuskan dengan cepat apakah tetap mendarat atau tidak berdasarkan tabel runway contition assessment di bawah ini.

Tabel runway condition assessment. Foto: ICAO

Baca juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

7. Menghitung jarak
Proses menentukan landing distance atau jarak pendaratan berdasarkan faktor eksternal tidaklah mudah. Pada pesawat-pesawat tua, pilot harus menghitung secara manual. Namun, pada pesawat terbaru, seperti Boeing 737 Dreamliner dan Airbus A350, pilot cukup memasukkan angka-angka ke komputer (onboard performance tool) dan rekomendasi pun keluar. Dengan begitu, potensi kesalahan cenderung berkurang dibanding dengan menghitung secara manual.

8. Landing atau Divert
Pilot pesawat modern umumnya hanya perlu mengikuti rencana penerbangan yang telah dibuat sebelumnya. Jika pun ada perubahan akibat faktor eksternal, pilot hanya perlu mengatur ulang rencana bila rencana alternatif juga terhalang. Pesawat juga mumpuni untuk diajak mengubah rencana penerbangan karena ketersediaan bahan bakar yang cukup. Menunda pendaratan atau divert selalu jadi opsi terbaik bila cuaca dan runway tak mendukung.

Leave a Reply