Lima Stasiun MRT di Singapura Hadirkan Sistem Deteksi Penumpang Tanpa Masker

0
Sistem tidak akan menggantikan staf stasiun tetapi sebaliknya akan "lebih sebagai enabler". FOTO ST: MARK CHEONG

SBS Transit yang merupakan operator transportasi umum di Singapura melakukan pendeteksian penumpang tanpa masker dan bagasi tanpa pengawasan secara otomatis dengan sistem analisis video. Sistem ini akan diluncurkan di lima stasiun pertukaran MRT yakni Outram Park, Chinatown, Dhoby Ghaut, Little India dan Serangoon di sepanjang Jalur Timur Laut akhir tahun ini.

Baca juga: Thermal Scanner di Stasiun MRT Jakarta, Selain Deteksi Suhu Tubuh Juga Bisa Kenali Rentang Usia Calon Penumpang

Lima jalur ini sebagai permulaan dan diharapkan digunakan di stasiun-stasiun persimpangan di sepanjang jalur pusat kota pada tahun depan. Sistem tersebut akan menganalisis visual dari jaringan CCTV SBS Transit yang ada. Sistem tersebut dikembangkan oleh operator dan perusahaan Perancis Thales selama 1,5 tahun terakhir.

“Seluruh tujuan mendasar kami adalah benar-benar untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan juga untuk meningkatkan hasil dalam keselamatan dan keamanan,” ujar Wakil presiden senior SBS Transit Jeffrey Sim, yang bertindak sebagai kepala kereta api yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (7/9/2021).

Sim mengatakan, sistem ini tidak akan menggantikan staf stasiun, tetapi sebaliknya akan lebih sebagai enabler. Saat ini, staf harus berpatroli di stasiun MRT secara teratur dan memantau kamera CCTV untuk menemukan masalah apa pun. Sistem tersebut akan membantu staf mengidentifikasi masalah bagasi yang tidak dijaga, penumpang tanpa masker, dan kerumunan tak terduga dengan lebih cepat.

Teknologi ini dapat mengukur tingkat kepadatan komuter di stasiun MRT dan fungsi ini telah diuji coba di stasiun Woodleigh pada bulan Maret lalu. Sim mengatakan, sistem akan mengumpulkan data untuk mengidentifikasi tingkat kerumunan yang biasa pada waktu yang berbeda dalam sehari. Perangkat lunak kemudian akan memperingatkan staf stasiun setiap kali kerumunan yang lebih besar dari biasanya terdeteksi. Contoh seperti itu bisa terjadi jika seorang komuter pingsan.

“Kecenderungannya, ketika ada yang pingsan, orang-orang akan berkumpul dan kepadatannya akan meningkat. Jadi saat itulah staf stasiun akan dapat melakukan intervensi lebih awal, daripada diberitahu oleh seseorang yang menekan tombol panik atau datang ke kontrol stasiun,” kata Sim.

Baca juga: Teknologi Pendeteksi Mood, Yakin Akurat?

Dia mengatakan kemampuan untuk mengukur kepadatan penumpang secara akurat akan membantu staf memutuskan apakah akan mengerahkan lebih banyak petugas atau bus penghubung untuk membubarkan kerumunan jika terjadi kerusakan MRT. Sim menambahkan, sistem ini juga sedang diadaptasi untuk mengidentifikasi penumpang dengan kebutuhan mobilitas, seperti pengguna kursi roda atau mereka yang menggunakan kruk.