Media Sosial, Seberapa Besar Peranannya di Sektor Aviasi Global?

ilustrasi media sosial. Sumber: istimewa

Media sosial dewasa ini sudah mengalami pergeseran fungsi. Memang, dulu media sosial hanya dijadikan instrumen untuk ‘memamerkan’ aktifitas keseharian mereka, namun kini, media sosial sudah mengambil alih fungsi promosi – sebut saja dalam ajang jual beli barang. Lalu ditinjau dari segi lain, media sosial juga kini sudah berperan sebagai penyebar berita yang sangat andal – terlepas itu dari berita hoax atau nyata, namun yang satu ini, tidak bisa dianggap sepele.

Baca Juga: Manfaatkan Medsos Sebagai Wadah Promosi, Tokyu Corp. Sukses Jaring Banyak Wisman

Salah satu contoh dari poin terakhir fungsi media sosial sebagai penyebar berita adalah kegagalan sistem IT di Bandara Internasional Gatwick, Inggris pada pertengahan bulan Agustus 2018 silam. Amarah penumpang yang geram dengan insiden ini ditumpah-ruahkan melalui berbagai platform media sosial, dan voila! – berita tersebut menjadi viral. Lalu berdasarkan contoh di atas, pertanyaan muncul, “Seberapa besar pengaruh media sosial terhadap perkembangan sebuah industri aviasi – misalnya?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (5/2/2019), dimana CEO dan CTO dari Orlo (sebelumnya perusahaan manajemen media sosial SocialSignIn), Ben Nimmo mengatakan bahwa media sosial adalah sebuah wadah yang akan menampung setiap orang untuk mengeluh atau untuk mencari informasi terbaru.

“Sebut saja Twitter, media sosial yang sudah dipatri sebagai tempat ‘berita yang diberitakan’,” tutur Ben.

“Sudah tidak bisa dipungkiri lagi jika media sosial memegang peranan yang sangat besar dalam penyebaran informasi tentang sebuah krisis atau gangguan,” tandasnya singkat.

Di lain pihak, International Air Transport Association’s (IATA) menyebutkan bahwa ada tiga poin pendorong untuk menjalin komunikasi di balik evolusi media sosial. Pertama adalah konektivitas (sepertiga populasi dunia secara aktif menggunakan berbagai macam platform media sosial), lalu yang kedua mobilitas (diperkirakan pada tahun 2020, sekitar 80 persen orang dewasa secara global akan memiliki smartphone pribadi), dan yang terakhir adalah streaming video (ambil contoh Facebook Live, dimana pengguna dapat menyiarkan secara langsung insiden yang tengah terjadi di suatu lokasi).

Sementara untuk Twitter, IATA mengkategorikan media sosial ini sebagai layanan ‘micro-blogging’ yang paling banyak digunakan. Selain tersedia dalam berbagai varian bahasa, para pengguna Twitter juga dapat melaporkan sebuah insiden secara langsung. IATA juga mencatat bahwa cuitan dari korban selamat pada sebuah insiden atau saksi mata dari sebuah kejadian mampu dilihat oleh puluhan ribu pengguna Twitter di seluruh dunia, ‘termasuk para jurnalis yang senantiasa memantau aktifitas di Twitter,”

Baca Juga: Antara Garuda Indonesia, Berita Hoax, dan Media Sosial

Tidak berhenti sampai di situ, media sosial juga, tambah Ben, dapat dijadikan sebagai garda terdepan oleh sebuah organisasi untuk bekerja secara proaktif – ajang kampanye menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Ya, kadung digandrungi oleh banyak orang, sampai-sampai sebuah survei yang dilakukan oleh Société Internationale de Télécommunications Aéronautiques (SITA) pada tahun 2017 silam menunjukkan bahwa sebanyak 74 persen penumpang menginginkan update informasi terbaru dari dunia penerbangan melalui aplikasi seluler – yang ujung-ujungnya merujuk pada media sosial.