Medsos Sumbang Peningkatan Kecelakaan pada Remaja, Otoritas Kereta Api Inggris Kampanyekan Keselamatan

Ilustrasi Kecelakaan Kereta. Sumber: Istimewa

Peran media sosial (medsos) dewasa ini terbilang cukup signifikan dalam menyebarluaskan sebuah peristiwa. Tidak terkecuali kalangan remaja, medsos seolah dijadikan wadah bagi mereka untuk ‘memamerkan’ suatu hal yang dianggap keren dan layak untuk dikonsumsi publik – mulai dari status, foto, hingga video. Sayangnya, apa yang mereka anggap keren itu sejalan dengan jalan pemikiran orang lain. Maka tidak heran jika jargon “Awasi penggunaan media sosial anak-anak Anda” dengan cepat menyebar dan diamini oleh para orang tua.

Baca Juga: Seni Graffiti di Inggris, Kebanggaan Kaum Bronx yang Sisakan Kesan Kotor dan Tidak Terjaga

Merujuk pada hal di atas, sebuah laporan yang dirilis oleh British Transport Police (BTP) tertuang bahwa media sosial turut berperan dalam meningkatnya jumlah remaja yang tewas di jalur kereta api. Sebagaimana data yang berhasil dihimpun KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (18/7/2018), sebanyak tujuh remaja tewas di jalur kereta api di Inggris dalam rentang waktu satu tahun. Angka tersebut disusul oleh 48 remaja yang mengalami cidera serius yang memaksanya menjadi seorang difabel. Miris!

Seorang juru bicara dari BTP mengatakan bahwa, “medsos pada akhirnya menginfluensi remaja lainnya untuk melakukan pelanggaran seperti menerobos masuk ke daerah terlarang di sepanjang jalur kereta. Jumlah remaja yang tewas selama 12 bulan ke belakang dikhawatirkan akan terus bertambah seiring dengan kasus tiga seniman graffiti yang tewas tertabrak kereta di Loughborough Junction, London Selatan pada bulan Juni lalu.”

Hal tersebut berbuntut pada kampanye keselamatan yang coba diterapkan oleh Network Rail, pemilik dan pengelola sebagian besar jaringan perkeretaapian di Tanah Britania Raya. Kampanye itu sendiri berbentuk sebuah video yang diilhami dari kisah nyata yang dialami Tom Hubbard, seorang remaja yang tersengat aliran lstrik 25.000volt pada tahun 2014 silam. Kendati nyawa Tom masih bisa selamat, namun tidak bagi kehidupan sehari-harinya. Ia menjadi seorang difabel akibat ulahnya menerobos masuk ke dalam area terlarang di salah satu jalur kereta api di Inggris.

Dalam sebuah laporan yang dimiliki oleh Network Rail, angka anak di bawah umur yang menerobos area terlarang di sepanjang jalur kereta meningkat ke level 80 persen sejak tahun 2013 silam. Itu berarti telah terjadi peningkatan sebanyak 21 persen dalam kurun waktu satu tahun saja. Sedangkan sebuah studi terpisah, Network Rail mendapati satu dari 10 remaja mengaku berjalan di jalur kereta api secara ilegal.

Baca Juga: Naas, Seniman Grafiti di Sydney Tewas Setelah Dihantam Kereta

“Jalur kereta api menyimpan bahaya yang nyata namun tersembunyi. Sebut saja dari aliran listrik di jalur kereta itu tidak pernah padam dan sangat berbahaya. Belum lagi dari modanya sendiri yang melaju hingga kecepatan 200 km per jam. Ya, memang si masinis melihat ada hambatan seperti para remaja tersebut, namun apakah ia dapat menghentikan kereta dengan seketika, jawabnanya tentu tidak!” tutur Allan Spence, Kepala Keamanan Publik dan Penumpang di Network Rail. “Kepada para orang tua juga kami himbau kerja samanya untuk terus mengedukasi anak-anaknya tentang bahayanya bermain di jalur kereta,” tandasnya.

Di sisi lain, Asisten Kepala Polisi dari BTP Robin Smith pun mengamini pernyataan Allan. “Kami harap kampanye yang dilakukan oleh Network Rail dapat menyadarkan anak-anak bahwa jalur kereta api bukanlah tempat bermain yang tepat, melainkan berbahaya.”