Menara ATC Tintin: Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota

Sumber: Wikipedia

“There! Look! Kemajoran! … Tell me, is this or is this not Djakarta?” Merupakan salah satu dialog yang diucapkan oleh Professor Calculus kepada Captain Haddock di salah satu komik Tintin. Dalam cerita Penerbangan 714 ke Sydney, Tintin, Professor Calculus, Captain Haddock, dan anjingnya yang menggemaskan, Snowy transit di Bandara Kemayoran sebelum akhirnya bertolak kembali menuju Sydney, Australia. Walaupun ini merupakan cerita fiksi, namun setting latar yang digunakan dalam cerita ini benar-benar ada, atau bisa dibilang “pernah” ada.

Baca juga: Mau Tahu 10 Menara ATC Tertinggi di Dunia, Ini Dia!

Seperti kebingungan yang tampak dalam dialog Professor Calculus, mungkin hal yang sama juga akan terjadi mana kala generasi sekarang mendapatkan pertanyaan mengenai bandara pertama di Indonesia. Bukanlah Halim Perdanakusuma, maupun Soekarno-Hatta, melainkan Bandara Kemayoran. Bandara yang dibangun pada tahun 1934 ini resmi beroperasi pada 8 Juli 1940. Landasannya pertama kali didarati oleh pesawat DC-3 Dakota milik perusahaan penerbangan Hindia Belanda, dua hari sebelum peresmian bandara itu.

Sumber: istimewa

Baca juga: Mengenal Serba Serbi dan Peran Air Traffic Controller

Namun sayang, umur bandara pertama di Indonesia tersebut tidaklah lama. Tepatnya 31 Maret 1985, bandara ini resmi dinon-aktifkan dan semua aktifitas bandara dipindahkan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Yang tersisa dari pionir bandara di Indonesia itu hanyalah puing, kenangan, dan menara ATC bercorakkan kotak-kotak merah putih. Untuk mengenang masa kejayaannya, otoritas setempat lalu menjadikan bekas menara ATC tersebut sebagai salah satu cagar budaya, sesuai dengan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993.

Sumber: Wikipedia

Adapun alasan penutupan Bandara ini adalah lokasinya yang dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia, Lanud Halim Perdanakusuma. Penerbangan sipil di area tersebut menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat drastis, yang mana mengancam lalu lintas internasional. Hal itu yang kemudian membuat pemerintah memutar otak untuk memindahkan aktifitas Bandar Udara ini ke lokasi yang baru yang dinilai lebih aman. Dengan bantuan USAID, dipilihlah Cengkareng sebagai lokasi Bandar Udara yang baru yang kini dikenal dengan Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Baca juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

Sumber: kompas.com

Sebelum benar-benar beralih fungsi, Kemayoran pernah menjadi tempat test flight pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara, CN-235 dan sempat menjadi tuan rumah ajang dirgantara bergengsi Indonesian AirShow di tahun 1986.

Sumber: Wikipedia

Kini, Menara ATC enam lantai yang kerap kali disebut Menara Tintin tersebut kondisinya sangatlah memilukan. Layaknya sebuah bangunan usang yang mulai terkikis modernisasi. Bangunan tua yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Terisolir dari pengunjung yang datang untuk mengenangnya. Tragis, bak kacang yang lupa pada kulitnya. Jika Anda melewati daerah Kemayoran, sempatkanlah diri untuk singgah sebentar mengenang keberadaan Bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura ini.