Miris, Begini Kondisi Industri Penerbangan Timor Leste! Nyesel Pisah dari Indonesia

0
Maskapai Air Timor, national flag carrier Timor Leste. Foto: Flight Zona

Timor Leste, perlahan mulai terhubung dengan dunia luar berkat hadirnya beberapa penerbangan internasional dari beberapa kota, seperti Darwin (Australia), Denpasar (Bali), Paro (Bhutan), dan Singapore (Singapura).

Baca juga: Citilink Punya Rute Baru Jakarta-Penang, Negara Kedua Penerbangan Internasional Setelah Timor Leste

Sayangnya, wabah Covid-19 membuat semua layanan tersebut terhenti. Otomatis, negara yang baru berdiri pada 1999 ini, mau tak mau harus kembali seperti sedia kala, bak negara terpencil di dunia yang jauh dari dunia luar.

Namun demikian, sekalipun tak diterjang wabah Covid-19, sebetulnya, industri penerbangan negara tersebut masih tergolong jauh dari kata layak. Dilihat dari segi bandara, jangan harap penumpang akan menemukan lounge mewah dengan sederet fasilitas yang membuat nyaman dan mendukung mobilitas di era revolusi industri 4.0. Sebab, hal itu mustahil didapat.

Itu baru bandara. Dari segi kompetisi, industri penerbangan dalam negeri juga belum terlalu marak. Bahkan, Timor Leste menjadi salah satu negara di dunia yang national flag carrier-nya tidak dimiliki oleh negara, seperti Swiss International Air Lines (maskapai nasional Swiss yang dimiliki Jerman/Lufthansa) dan Austrian Airlines (maskapai nasional Austria yang dimiliki Jerman/Lufthansa).

Seperti diketahui, maskapai nasional Timor Leste, Air Timor, saat ini, saham mayoritasnya dimiliki oleh New International Timor Airways, salah satu perusahaan dari pengusaha ternama Singapura, Datuk Dr. Edward Ong Han Nam.

Bedanya, bila Swiss Air dan Austrian Airlines memiliki banyak armada yang di antaranya sudah jadi milik perusahaan, Air Timor tidak demikian. Dalam menghubungkan Dili, Timor Leste, dengan dunia luar, Air Timor hanya dibekali dengan dengan pesawat, itu pun juga menyewa. Satu Airbus A319-100, pesawat dari Druk Air Bhutan dan satu lainnya ATR 72-600, pesawat sewaan dari TransNusa, Indonesia.

Mirisnya lagi, seperti dilansir Simple Flying, sebagai maskapai nasional, Air Timor bahkan belum mampu untuk menyediakan layanan penerbangan terjangkau untuk masyarakat Timor Leste. Padahal, meskipun lebih dari setengah penduduknya dikategorikan miskin, namun, tetap saja, beberapa persen kalangan masih cukup sanggup untuk menumpangi sebuah pesawat.

Dengan ditutupnya akses penerbangan dari Australia, Singapura, Bhutan, dan Indonesia, sampai setidaknya September atau Oktober mendatang, wajar bila Timor Leste disebut media asing sebagai negara yang terpencil yang belum pernah dikunjungi oleh teman ataupun kerabat, menandakan betapa tepencilnya negara tersebut.

Baca juga: Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri

Akan tetapi, minimnya industri penerbangan dalam negeri Timor Leste justru menjadi berkah bagi maskapai luar negeri, termasuk Indonesia. Selain Citilink, NAMAir, Transnusa, dan Sriwijaya Air, beberapa tahun lalu, Leste Aviation, perusahaan penerbangan milik Sardjono Jhony Tjitrokusumo, Direktur Utama PT Transjakarta yang baru dilantik akhir Mei lalu, pernah menyatakan minat mereka untuk meramaikan pasar penerbangan Dili-Denpasar.

Minimnya traffic right atau kebebasan udara yang sudah dimanfaatkan Timor Leste menjadi dasar ketertarikan Leste Aviation meramaikan pasar itu. Selama ini, arus keluar masuk negara tersebut masih dominan lewat traffic right Indonesia. Jika sudah begini, dengan berbagai keterpurukan di atas, menyesalkah Timor Leste pisah dari Indonesia?

Leave a Reply