Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar

0
Ilustrasi pilot. Foto: rt.com

Cirum mencatat ada sekitar 18 ribu pesawat di-grounded akibat anjloknya permintaan penumpang. Akibatnya, 25 juta lapangan pekerjaan di sektor dirgantara di seluruh dunia pun terancam. Mulai dari staf darat, karyawan kantor, karyawan pabrik pembuatan pesawat, petugas bandara, ATC, pramugari, hingga pilot.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Dari sekian profesi di atas, mungkin pilot bisa saja yang paling merana. Betapa tidak, selain harus di rumahkan atau bahkan di PHK, mereka juga tetap harus tetap ‘terbang’ melalui berbagai platform online atau simulator, tanpa dibayar, malahan bisa jadi justru harus mengeluarkan kocek pribadi. Hal itu dilakukan guna mempertahankan kemampuan dan “ratings” atau izin untuk menerbangkan pesawat tertentu.

Dikutip dari CNN Internasional, sebab begitu krusialnya posisi pilot sebagai salah satu penentu keselamatan dan keamanan penerbangan, pilot harus tetap terus ‘terbang’ sekalipun pada kenyataannya mereka berada di rumah atau mungkin sudah di PHK dan masih ingin melajutkan karir sebagai pilot. “Pilot harus sering latihan dan meng-upgrade skill untuk dapat terus terbang,” kata Brian Strutton, salah seorang anggota British Airline Pilots Association (BALPA) yang menaungi seluruh pilot di Inggris.

Celakanya, mengikuti kebijakan pembatasan atau karantina wilayah, banyak fasilitas simulator tutup. Di Inggris, misalnya, nyaris seluruh fasilitas simulator tutup, mengikuti kebijak lockdown pemerintah. Sekalipun ada yang buka, harganya pun tak murah mencapai US$300-US$400 atau sekitar Rp6 juta (kurs 15.051) per jam. Harga tersebut belum termasuk jasa pendampingan ahli yang tarif per jamnya bisa saja selangit atau lebih mahal dari tarif sewa simulator itu sendiri.

Belum lagi berbagai lisensi lainnya, seperti lisensi kecakapan berkomunikasi, kemampuan evakuasi saat terjadi kebakaran, kemampuan bekerja secara tim antara pilot dan co-pilot, dan berbagai kemampuan lainnya, termasuk kemampuan untuk terbang baik di siang hari dan malam hari, pilot pesawat komersial juga perlu melakukan tiga kali take-off dan pendaratan di malam hari dalam 90 hari terakhir yang juga harus terus di-upgrade.

Dengan sedikitnya 290.000 menganggur atau kehilangan pendapatan, termasuk juga pilot yang masih bertahan di maskapai, tentu, mengeluarkan uang untuk mempertahankan kemampuan atau ratings pilot sangat memberatkan. Namun, mau tak mau harus dijalani untuk keberlanjutan karir.

Karlene Petitt, seorang pilot Boeing 777 mengatakan bahwa di masa pandemi ini, pilot tak punya pilihan lain kecuali terus mengupgrade skill mereka. Bila tidak, pilot bisa saja lupa atau kehilangan ‘sentuhan’ mereka ketika mulai kembali mengudara. Ia pun berbagi opsi bahwa pilot bisa mempertahankan skill dengan platform online.

“Kamu mulai melupakan sesuatu jika kamu tidak menggunakannya. Dan sebagian besar dari apa yang kita, sebagai pilot, lakukan adalah berdasarkan kognitif. Jika kamu dapat mempertahankannya, maka kamu tidak akan kehilangan kemampuan,” katanya.

“Alangkah baiknya jika maskapai menyediakan platform pelatihan online yang kami miliki selama pelatihan awal atau selama peringkat tipe awal, sehingga kami bisa pergi dan mempertahankan kemahiran saat di rumah, sampai kami kembali menerbangkan pesawat,” tambahnya.

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Dibanding simulator, manfaat pelatihan lewat platform online bisa sangat akurat dari segi mekanisme. Maksudnya, pilot yang diwajibkan untuk mengikuti pelatihan lewat platform online bisa segera diketahui siapa yang membangkang atau tidak. Dengan begitu, pihak maskapai bisa langsung memberikan peringatan terhadap pilot yang bersangkutan. Dari segi biaya, platform online bisa dibilang lebih murah. Petitt pun menjamin bahwa metode tersebut sangat membantu. Sebab ia pernah merasakan dampaknya secara langsung.

“Kami melakukannya (mempertahankan skill melalui platform online) bertahun-tahun yang lalu. Kamu hanya bergerak dan menyentuh tombol secara fisik karena gerakan menyentuh di mana kamu akan menyentuh di pesawat membantu menanamkannya ke dalam memori,” tutupnya.

Leave a Reply