Dalam menanggapi kasus pengadilan banding, Federal Aviation Administration (FAA) mengatakan tidak perlu mengatur kembali tepat duduk maskapai penerbangan. Sebab, dalam tes evakuasi membuktikan ada ruang yang cukup untuk manuver meski ada keluhan konsumen tentang tempat duduk yang sempit.
Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana
Masalah ini sebenarnya diajukan FlyersRights.org agar FAA menetapkan standar kursi minimum karena kekhawatiran tempat duduk yang sempit untuk memudahkan evakuasi. Apalagi dengan penumpang yang memiliki tubuh lebih besar.
Namun, FAA sendiri mengaku pihaknya tidak benar-benar melakukan uji keselamatan tersebut untuk mematuhi aturan dimana dalam evakuasi penumpang dalam waktu 90 detik. Mereka menyatakan, bahwa mengandalkan demostrasi parsial dari Boeing dan Airbus.
FAA juga tidak akan melakukan tes penuh untuk meninjau terkait keselamatan. Pihaknya mengatakan, setiap desain maskapai harus lulus tes evakuasi darurat minimal satu kali sebelum mendapat sertifikat untuk mengangkut penumpang di ruang udara Amerika Serikat.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman eturbonews.com (11/7/2018), Paul Hudson, presiden organisasi penumpang dan anggota lama Komite Penasihat Rasionalisme Aviation FAA yang menangani keselamatan penerbangan kemudian mempertanyakan bukti keamanan FAA.
“Video klip Airbus dan Boeing yang disensor ini hanya menunjukkan subjek tes yang lebih muda secara fisik dalam pakaian olahraga melangkah ke lorong. Tidak ada subjek yang menunjukkan benar-benar keluar dari pesawat apa pun. Tidak ada subjek yang kelebihan berat badan (obesitas), lansia, lemah atau anak-anak dengan demikian tidak termasuk sekitar 80 persen dari penumpang Amerika Serikat,” ujar Hudson.
Dia mengatakan, tes seharusnya mensimulasikan kepanikan, karena ini merupakan faktor utama dalam evakuasi. Permasalahannya, dalam video tersebut bahkan subjek tes tersenyum dan beberapa di antara lainnya tertawa.
Padahal tes tersebut mengaruskan 50 persen bagasi kabin berada di lorong, tetapi itu tidak ada dalam video. Bahkan tampaknya tidak ada pengawasan atau pengamatan langsung leh FAA atau ahli keamanan luar.
“Memang, tes evakuasi ini begitu dipertanyakan sehingga mayoritas bipartisan besar dari DPR Amerika Serikat mengeluarkan undang-undang pada bulan April yang mewajibkan FAA untuk menetapkan standar kursi dan Inspektur Jenderal DOT baru-baru ini membuka audit pengujian evakuasi FAA,” ujar Hudson.
Sayangnya, FAA dan lembaga federal lainnya memiliki sejarah peraturan yang lemah ditambah dengan terlalu bergantung pada regulasi industri sendiri. Pada tahun 2001, ketika FAA bertugas mengatur keamanan penerbangan swasta memungkinkan 19 dari 19 pembajak teroris untuk melewati keamanan dengan senjata pisau yang diizinkan yang mengakibatkan hampir 3000 kematian.
Pada tahun 1988, ketika berada di bawah regulasi FAA, ada 270 kematian dalam pemboman teroris Pan Am 103 karena kegagalan keamanan penerbangan. EPA dan NATCA sama bergantung pada pengujian emisi curang untuk mobil Volkswagen selama bertahun-tahun.
Baca juga: Terkait Masalah Seat Pitch, FAA Dipaksa Perbaharui Peraturan Penerbangan
“Sekarang birokrasi FAA sekali lagi menolak peraturan apa pun tentang ukuran tempat duduk dan ruang penumpang sambil mengolok-olok ketidaknyamanan penumpang dan mengabaikan semua masalah keselamatan dan kesehatan, satu-satunya cara yang mungkin adalah bagi publik yang melakukan perjalanan adalah dengan protes publik yang luar biasa untuk berkomentar secara online bertentangan dengan Keputusan FAA di Regulations.gov FAA-2015-4011, atau dengan mengirimkan video pengalaman penumpang ke map atau ke Flyersrights.org dan menghubungi anggota Kongres mereka. Pengadilan, Pejabat FAA Administrator Dan Elwell, DOT Sekretaris Elaine Chao, atau Presiden Donald J. Trump, yang tampaknya tidak pernah diterbangkan secara komersial selama bertahun-tahun, juga memiliki kekuatan untuk membalikkan keputusan FAA yang tidak menguntungkan ini,” tutur Hudson.
Ada-ada saja memang kelakuan orang Indonesia. Entah terlalu kreatif atau apa, tapi yang jelas tindakan yang dilakukan oleh dua pemuda di daerah Tangerang Selatan ini sontak mengundang berbagai reaksi dari netizen. Bagaimana tidak, mereka menunggangi sepeda motor di celah sempit antara peron dan rel. Kejadian yang tersebar di berbagai jejaring sosial media ini pun menjadi perbincangan masyarakat banyak.
Baca Juga: Viral Suzuki Jimny Nongkrong di Atas Rel LRT Sumatera Selatan. Ada Apa?
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kejadian ini disinyalir terjadi di Stasiun Sudimara, Tangerang Selatan pada Senin (2/7/2018). Seorang pengirim video di Instagram dengan nama pengguna @sannsani menulis kesaksiannya tentang kejadian unik tersebut.
“Jadi, itu pengendara motor lawan arus kereta dari arah (Stasiun) Jurang Mangu menuju (Stasiun) Sudimara. Saya juga heran pas lihat awal dia asal lewat aja. Nah, di situ ada beberapa security yang memberhentikan dan yang saya dengar pengendara motor mau keluar lewat stasiun atau lurus terus sampai jalan raya. Trus security tersebut melarang dan disuruh putar balik lagi ke arah Jurang Mangu. Video diambil setelah security menyuruh putar balik, gitu min,” tulis @sannsani, dikutip dari laman kompas.com (3/7/2018).
Selain kesaksian tersebut, Kepala Stasiun Sudimara, Khairul mengatakan bahwa dua pria yang berboncengan tanpa mengenakan helm ini mengaku baru tinggal di daerah itu dan masih bingung dengan jalanannya. “Mereka mengaku sebagai warga baru yang tinggal di dekat stasiun,” ujar Khairul.
Entah apa yang terbesit di pikiran kedua pemuda ini, mengendarai sepeda motor di celah sempit antara peron dan rel. Padahal, sudah sangat jelas bahwa medan tersebut dipenuhi oleh bebatuan kecil dan tidak diperuntukkan bagi sepeda motor atau pun pejalan kaki.
Baca Juga: Bawa Komputer Full Set, Wanita Ini Mendadak Viral
Jika ditelusuri lebih lanjut, sepanjang jalur rel Stasiun Sudimara – Jurang Mangu memang tidak dibubuhi dengan pagar pembatas, maka asal usul datangnya dua pemuda bermotor ini nampaknya agak sedikit masuk di akal.
Kendati alasan yang mereka lontarkan bisa diterima akal sehat, namun tetap saja keduanya sudah kadung menjadi trending topic di sejumlah sosial media dalam beberapa hari ke belakang.
Bandara sebagai salah satu pintu masuk pelancong domestik maupun mancanegara biasanya menghadirkan kemewahan sendiri. Ini dilakukan demi kenyamanan penumpang baik yang akan berangkat, transit ataupun tiba. Namun, tahukah Anda bagaimana sebenarnya kehidupan yang ada di bandara itu sendiri? Bandara sendiri bisa dikatakan sebagai miniatur kota dimana penghuninya membutuhkan sambungan transportasi dan akses mudah informasi.
Baca juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition
Mereka juga perlu makan, minum, area yang bersih, aman dan nyaman untuk beristirahat. Bangunannya pun juga membutuhkan air, listrik, sambungan internet tempat sampah dan sistem keamanan. Sedangkan pesawat membutuhkan alat navigasi, tempat lepas landas manajemen kargo, akses bahan bakar dan lainnya. KabarPenumpang.com merangkum dari laman forbes.com, ternyata banyak rahasia yang ada di bandara dan mungkin tak pernah diketahui penumpang, seperti contoh di Bandara Wellington di Selandia Baru.
1. Lokasi Bandara
Sebagian besar bandara berada di pinggiran kota sekitar 20-50 km dari pusat kota. Ini karena bandara harus mengakomodasi landasan pacu dan taxiway bersamaan infrastruktur lainnya. Apalagi sebagian besar sistem tidak bisa ditumpuk satu sama lain. Landasan pacu pun harus bersih dari gangguan, sebab semakin sibuk bandara semakin luas permukaan yang dibutuhkan.
Membangun landasan pacu merupakan tantangan yang besar, memang terlihat seperti jalanan biasa tetapi jauh lebih rumit. Sebab landasan pacu harus mampu dan kuat untuk mendukung pesawat penumpang besar seperti A380 dengan berat 560 ribu kg. Daerah pesawat mendarat juga harus memiliki pondasi beton setebal dua meter. Setiap landasan pacu juga harus mampu membantu pesawat melambat dan menghentikan penumpukan air saat cuaca lembab atau hujan.
2. Kondisi alam
Pertimbangan lainnya adalah ketinggian bandara diatas permukaan laut dan iklim setempat. Jika kepadatan udara lebih rendah dari ketinggian, maka sayap pesawat terbang akan menghasilkan sedikit daya angkat sehingga sulit untuk lepas landas. Wellington sendiri tidak masalah dengan elevasi, tetapi bandara ini memiliki reputasi baik untuk pendaratan turbulen.
Kota yang berada di tepi Selat Cook dan berada di antara dua pegunungan yang membentang sepanjang Utara dan Selatan Pulau New Zealanda. Setiap angin yang melaluinya akan masuk melalui celah tersebut dan membuat kondisi lebih baik. GM operasi Bandara Wellington Ayolt Wiertsema mengatakan, kondisi angin di bandara terus dipantau.
“Jika angin bertiup lebih dari 30 knot atau 55,6 km per jam, maka kami akan mengirimkan peringatan melalui pusat operasi darurat dan kami mengikuti prosedur set out. Kami dilengkapi dengan baik untuk menghadapi angin kencang di sini,” ujar Ayolt.
3. Alat bantu navigasi
Tahun 2015 lalu Ornskoldsvik, sebuah bandara kecil di Swedia menjadi yang pertama di dunia untuk menutup menara, dan memindahkan pengendali (manusia) ke situs yang berjarak 130 km. Dikelilingi oleh layar yang menampilkan umpan langsung dari kamera HD di sekitar lapangan terbang, pengendali beroperasi seolah-olah berada di lapangan terbang. London City tampaknya akan mengadopsi sistem serupa tahun depan, dan uji coba sedang dilakukan di bandara Eropa lainnya. Bandara Wellington pun memperlihatkan koleksi terbarunya yakni kamera runway HD yang menghadap utara dan selatan.
“Mereka memberi gambaran tentang lapangan terbang secara keseluruhan. Dalam setiap perumahan kamera, ada beberapa lensa definisi tinggi. Pengaturan ini memungkinkan pengontrol bandara untuk memperbesar area yang diinginkan. Ini memberi kita satu set ekstra mata beresolusi sangat tinggi,” ujar salah seorang IT Bandara Wellington.
Baca juga: Yuk, Cari Tahu Makna Tersembunyi di Balik Nomor Penerbangan
Sedangkan bagi pilot, menavigasi tarmak bandara melalui alat bantu visual dimana lampu biru menunjukkan posisi taxiways sedangkan lampu putih untuk pendekatan dan area touch down serta garis tengah landasan.
4. Aman dan nyaman
Keamanan dan kenyamanan menjadi salah satu yang terpenting dimana, tempat tersebut selain ruang tunggu adalah bagasi klaim. Penanganan bagasi merupakan bagian vital dari pekerjaan. Stiker yang ada pada tas menunjukkan nama dan tujuan serta kode batang. Dengan adanya ini membuat komputer ataupun penumpang bisa mengidentifikasi tas tersebut dengan cepat untuk penerbangan tertentu.
Ketika teknologi sudah memasuki dunia bandara, maka setiap penumpang akan merasakan kemudahan dan kenyamanan. Apalagi jika memiliki asisten pribadi yang bisa membantu Anda dalam menikmati perjalanan di bandara sebelum sampai tiba di gerbang keberangkatan untuk membawakan barang.
Baca juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi
Baru-baru ini, KLM Royal Dutch Airlines, maskapai plat merah asal Negeri Kincir Angin menghadirkan robot bandara yang akan mengantarkan penumpang sekaligus membawakan barang mereka ke gerbang. KabarPenumpang.com melansir dari laman channel3000.com (11/7/2018), robot ini bernama KLM Care-E yang memiliki bentuk berbeda dari yang lain.
Sebab bila robot biasa hanya memindai wajah atau boarding pass, robot ini didesain juga untuk mengangkut barang bawaan penumpang yang akan dibawa masuk dalam kabin. Care-E sendiri menjadi troly self-driving dengan warna biru terang sama dengan livery milik maskapai nasional Belanda.
Care-E sendiri kini tengah diuji oleh maskapai penerbangan dan akan diluncurkan di dua bandara di Amerika Serikat yakni JFK dan San Francisco Internasional New York pada 2018 ini. Meskipun Care-E adalah produk dari maskapai KLM, penumpang yang menggunakannya tak perlu berbicara bahasa Belanda ataupun bahasa Inggris.
Sebab, dalam menggunakan Care-E sendiri bisa dengan berbagai suara atau gerakan yang akrab agar mudah berinterasksi dengan pengguna. Untuk menggunakan Care-E pun mudah, penumpang hanya perlu memindai boarding pass.
Robot besutan maskapai Belanda ini mampu mengangkut bobot barang hingga 85 pon atau sekitar 38,5 kg dan berjalan bersama Anda dengan kecepatan 3 mph atau 4 km per jamnya setara dengan kecepatan jalan manusia. Untungnya Care-E sudah menggunakan teknologi AI sehingga bisa mengakses data secara real time seperti perubahan gerbang keberangkatan dan akan mengantarkan penumpang sesuai perubahan tersebut.
Baca juga: Menuju Konsep Smart City, Bandara Mineta San Jose Operasikan Robot yang Siap Bantu Penumpang
Tetapi robot ini bukanlah yang pertama kali muncul dibandara sebab di Bandara Incheon Seoul dan LaGuardia New York telah menghadirkan robot panduan. Selain itu di Bandara Schipol Amsterdam Belanda juga hadir Spencer.
Tetapi Spencer tak sama dengan Care-E yang bisa membawa tas. Meski begitu, saat ini masih ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan robot bandara seperti membuat kopi, membuat seseorang berhenti berbicara di ponsel dengan volume penuh sementara yang lainnya mendengar informasi keberangkatan.
Tentu Anda semua pernah melihat mural di dinding berupa tulisan dengan font dan warna yang beragam. Tidak bisa dipungkiri, seni graffiti memang sering dibuat oleh sekumpulan seniman kreatif dengan tujuan dan maksud tertentu. Ada yang sekedar iseng saja, atau bahkan ada juga yang menjadi satu hobi buat mereka. Medianya pun beragam, mulai dari tembok-tembok di gang, kolong jembatan, tembok rumah warga, hingga tembok pembatas rel kereta.
Baca Juga: Azuma Virgin, Kereta Cepat Ramah Lingkungan di Inggris, Mengular di 2018
Kendati ini termasuk ke dalam kategori tindakan vandalisme, namun tetap saja ancaman hukum tidak menggentarkan para pejuang malam ini. Mengapa dinamai pejuang malam? Karena kebanyakan dari seniman jalanan ini beraksi saat malam hari, dimana tidak banyak orang yang dapat memergoki aksi mereka. Walhasil, sebuah perencanaan yang sangat matang harus disiapkan sebelum mereka terjun ke lapangan ; mulai dari lokasi penyemprotan mural, alat dan bahan, hingga sketsa kasarnya.
Namun jangan kira aksi yang dilancarkan pada malam hari ini selalu berujung aman. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (19//6/2018), tiga remaja ditemukan tewas di sebuah rel di Selatan London pada Senin (18/6/2018) pagi. Disinyalir, ketiga remaja ini merupakan seniman graffiti yang baru saja melancarkan aksinya.
Graffiti Buatan Alberto Carrasco, Jack Gilbert, dan Harrison Scott-Hood . Sumber: bbc
Sayang, ketika Alberto Carrasco (19), Jack Gilbert (23), dan Harrison Scott-Hood (23) selesai membubuhkan graffiti di dekat rel kereta, ketiganya tersambar oleh kereta dan nyawa mereka pun langsung melayang seketika. “Tidak ada tempat perlindungan yang aman di sana. Jika mereka terperangkap di jalur yang akan dilalui oleh kereta, maka mereka benar-benar tidak punya banyak pilihan,” tutur pihak Kepolisian Transportasi Inggris, Supt. Matt Allingham yang enggan membeberkan lokasi kejadian secara lebih detail.
Kasus ini sontak menjadi bahan evaluasi pihak perkeretaapian untuk menjaga keseluruhan infrastrukturnya agar tidak menjadi objek corat-coret seniman graffiti. Pasalnya, sebuah data menyebutkan bahwa di kuartal pertama tahun 2018 merupakan titik tertinggi dari kasus temuan graffiti yang pernah terjadi, terhitung sejak kuartal pertama tahun 2013. “982 kasus coretan sepanjang kuatral pertama 2018,” tulis data yang dirilis oleh British Transport Police tersebut.
Baca Juga: Aeroliner3000, Konsep Kereta Cepat Inggris dengan Double Decker
Bukan apa-apa, hadirnya coretan semacam ini tentu tidak melulu memperindah sebuah objek, apalagi sarana dan prasarana transportasi. Kesan acak-acakan dan tidak terjaga langsung terpancar dari objek tersebut. Selain menjadikan objeknya jadi terlihat tidak terjaga, mural yang dijadikan sebuah kebanggaan oleh kaum pinggiran (Bronx) ini juga sangat berbahaya.
Berkaca pada kasus terakhir yang menimpa ketiga remaja tersebut, apa masih berani untuk membuat graffiti di prasarana transportasi ketika malam hari?
Hadirnya toilet di moda transportasi memang salah satu fasilitas yang didambakan oleh sebagian penumpang. Namun apa jadinya jika toilet tersebut tidak dapat digunakan ketika moda transportasinya mengalami masalah dan penumpang dipaksa menunggu hingga berjam-jam lamanya? Situasi seperti inilah yang menimpa Kapal Ferry Alaska Marine Highway M/V LeConte pada Kamis (5/67/2018) minggu lalu.
Baca Juga: Kenali 10 Rute Kapal Ferry Terindah di Dunia
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman juneauempire.com (6/7/2018), kapal ferry yang tengah mengangkut 52 penumpang ini terpaksa terombang-ambing di Angoon, Alaska karena sepasang generator yang ada di kapal tersebut mogok. Generator tersebut menggerakkan sistem pembuangan yang ada di dalam kapal dan jembatan yang digunakan penumpang dan kendaraan untuk masuk ke dalam. Ketika generatornya mati, maka secara otomatis semua fungsi tersebut pun akan mati.
“Semua fungsi yang berada di dalam kapal pun kehilangan daya,” tutur juru bicara dari Alaska Marine Highway, Aurah Landau. Aurah pun mengatakan bahwa situasi di kapal saat itu sangat sulit. “Ketika generator mati, maka sistem sanitasi pun akan mati. Sebuah kondisi yang sangat sulit bagi penumpang kala itu,” tandas Aurah sembari menggambarkan kondisi penumpang yang terombang-ambing selama tujuh jam lamanya.
Sepengetahuan Aurah, “Ini merupakan kali pertama Kapal Ferry Alaska Marine Highway kehilangan daya sepenuhnya,”
Beruntung, generator darurat tetap hidup dan beberapa instrumen yang berada di dalam kapal bisa tetap hidup, seperti lampu darurat, pompa pemadam kebakaran, dan sejumlah instrumen lain. Teknisi yang didatangkan langsung dari Juneau (sebuah kota kecil di Alaska) seketika itu juga langsung berusaha untuk mencari sumber masalah. Teknisi datang beberapa jam setelah generator mogok.
Setelah sang teknisi berhasil menemukan penyebab generator mogok, kapalpun dapat kembali dijalankan dan melanjutkan pelayarannya menuju Juneau. Namun beberapa waktu berselang, kapal kembali mengalami masalah dan semua awak yang berada di dalam kapal yakin bahwa ini merupakan permasalahan yang berbeda. Akhirnya sang nakhoda memutuskan untuk berlabuh sementara di Auke Bay untuk memeriksa kelaikan moda tersebut.
Baca Juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi
Setelah diperiksa dan diperbaiki secara menyeluruh, kapal dapat kembali melanjutkan perjalanannya menuju Hainnes dan Skagway. Hingga saat ini, pihak agensi masih melakukan penyelidikan guna mendapatkan jawaban atas gangguan yang merugikan penumpang tersebut.
Entah apa yang meyebabkan Kapal Ferry Alaska Marine Highway bisa sampai mengalami masalah hingga dua kali dalam sekali perjalanan, namun ini mengindikasikan kurangnya pengawasan terhadap persiapan pra pelayaran.
26 April 1986 menjadi hari yang tak pernah terlupakan di dunia, saat itu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl di Ukraina yang dulu masih jadi bagian Uni Soviet, mengalami kebocoran reaktor. Akibatnya 31 orang pekerja langsung tewas dan ada ribuan warga kota yang mengalami dampak radiasi nuklir. Efek radiasi nuklir yang menetap hingga tahunan membuat kawasan reaktor menjadi zona mati yang ditinggalkan.
Namun musim telah berganti, setelah berselang 32 tahun, kini Pemerintah Ukraina memutuskan untuk menghidupkan kembali jalur kereta api yang terletak di zona sekitaran PLTN Chernobyl. Adapun keputusan Pemerintah untuk menghidupkan kembali jalur kereta api di sekitaran PLTN Chernobyl yang sudah hancur ini diterbitkan pada Rabu (13/6/2018) bulan lalu.
Baca Juga: “Terowongan Cinta” di Ukraina, Salah Satu Jalurnya Menuju Pangakalan Militer Rahasia
Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman xinhuanet.com (13/6/2018), dengan rencana pengaktifan kembali jalur ini, kabinet mengalokasikan dana sebesar US$34,8 juta atau yang setara dengan Rp500,6 miliar. Sebuah nilai yang dirasa cukup untuk merekonstruksi ulang jalur kereta Vilcha-Yanov sepanjang 47 km yang berada di zona PLTN Chernobyl tersebut.
PLTN Chernobyl sendiri berada di dekat kota Pripyat, Ukraina, 14,5 km sebelah barat laut kota Chernobyl, 16 km dari perbatasan Belarus-Ukraina, dan sekitar 110 km sebelah utara kota Kiev. Setelah terjadinya tragedi Reactor No. 4 pada tahun 1986 silam, maka secara stimultan PLTN ini mulai tidak aktif dan statusnya berubah menjadi zona pengecualian. Kemudian pada 15 Desember 2000, PLTN Chernobyl ini secara resmi ditutup.
Sumber: chernobylplace.com
Pemerintah Ukraina sendiri menargetkan jalur kereta ini akan difungsikan untuk mengankut limbah radioaktif ke fasilitas penyimpanan bahan bakar terpusat yang kini tengah dibangun di dekat PLTN Chernobyl. Rencananya, rekonstruksi jalur ini akan rampung dalam jangka waktu tiga tahun ke depan, terhitung sejak tanggal awal pembangunan. Diketahui, jalur kereta ini sendiri sudah tidak beroeprasi sejak tahun 2007 silam.
Sumber: chernobylplace.com
Pada bulan November 2017 silam, Pemerintah Ukraina telah memulai pembangunan fasilitas penyimpanan bahan bakar terpusat yang seyogyanya siap untuk beroperasi pada tahun 2022 mendatang. Adapun pembangunan fasilitas pembangunan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampunan Ukraina dalam mengelola dan menyimpan limbah nuklirnya. Setelah rampung, fasilitas tersebut akan diproyeksikan untuk menyimpan bahan bakar nuklir bekas dari tiga PLTN yang ada Ukraina.
Baca Juga: Kuburan Tak Selalu Seram, Stasiun Purwakarta Saksinya
Kendati tengah dalam proses rekonstruksi, jaringan perkeretaapian yang ada di sekitaran PLTN Chernobyl yang sempat tidak terjamah ini mengundang minat tersendiri dari para pemburu foto. Dikutip dari laman sumber lain, tidak sedikit para fotografer yang sudah siap ‘perang’ datang ke lokasi untuk berburu jepretan yang ciamik. Hasilnya pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Kesan terbengkalai dan angker sangat kuat mencuat dari foto-foto tersebut.
Tentu Anda semua masih ingat dengan sebuah rekor yang diciptakan oleh Negeri Tirai Bambu dimana sebanyak 1.500 orang saling bergotong royong untuk membangun sebuah stasiun kereta dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, bukan? Ya, nampaknya hal tersebut agak sulit dilupakan mengingat kecepatan dan jumlah orang yang terjun langsung dalam pembangunan stasiun di Provinsi Fujian, Cina Selatan ini.
Baca Juga: Tak Sampai 24 Jam, Cina Rampungkan Pembangunan Stasiun Ini!
Nah, kali ini ada negara lain yang mencoba untuk menorehkan rekor baru, dimana mereka membangun jaringan kereta bawah tanah dengan ketinggian terbatas dalam waktu hanya 4 jam 30 menit saja! Hebatnya lagi, jalur tersebut berada persis di bawah sebuah jalur kereta eksisting.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman financialexpress.com (6/7/2018), rekor tersebut tercipta di negara dengan kondisi jaringan perkeretaapian yang bisa dibilang agak tertinggal dari yang lain, India. Jalur Limited Height Subway (LHS) ini dibangun Indian Railways untuk meminimalisir persimpangan bertingkat di Kothavalasa-Pendurti Line di Waltair Division dari East Coast Railway, dimana persimpangan No.484 tersebut dilintasi oleh empat jalur kereta sekaligus.
Konstruksi ini sendiri menggunakan pelat dasar dan kotak pra-fabrikasi dengan ukuran 1,5 X 4,65 X 3,65 meter. Konstruksi ini dikerjakan dengan mengerahkan 16 ekskavator, tiga crane, lima tipper, empat mesin hydra (mesin bor berkekuatan air), 1.000 karung pasir, dan kurang lebih sekitar 300 pekerja. Namun, adapun dampak dari pembangunan ini adalah terhambatnya kereta penumpang via Rammurthypanthulapeta selama kurang lebih tiga setengah jam.
“Penempatan kotak pra-fabrikasi terhitung satu jam, sedangkan menempatkan lembaran beton dasar memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, dan keseluruhan konstruksi ini rampung dalam waktu empat setengah jam,” ujar salah satu juru bicara dari East Coast Railway.
Baca Juga: Indian Railways Siap Bangun Jalur Kereta di Atas Ketinggian 10.000 Kaki!
Tentu ini bukanlah satu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, apalagi dalam waktu yang relatif sangat singkat. Normalnya, dibutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan jam untuk membangun LHS yang mencakup dua jalur. Tapi kali ini sejarah telah dicatatkan oleh Indian Railways dengna membangun LHS empat jalur dalam kurun waktu kurang dari lima jam saja. Keren!
Era modern masa kini berbagai perusahaan bus berlomba-lomba untuk menghadirkan yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah Mercedes-Benz yang meluncurkan bus kota elektronik bebas emisi dan menjawab kebutuhan akan mobilitas di kota besar maupun kecil.
Baca juga: Inilah Citaro, Primadona Bus Listrik Besotan Mercedes Benz
Bus ini adalah Mercedes eCitaro yang mengambil ruang dalam transportasi di area padat penduduk. KabarPenumpang.com merangkum dari laman motor1.com (10/7/2018), Mercedes sendiri saat ini sudah mendapatkan pesanan pertamanya untuk bus bebas emisi tersebut.
Sebelum eCitaro hadir, pendahulunya yakni Citaro yang juga merupakan bus listrik sudah terkirim lebih dari 50 ribu ke seluruh dunia dan menjadi bus kota terlaris. Kedua bus ini memiliki sasis yang identik, tetapi eCitaro memiliki bodi yang didesain ulang.
Terlihat jelas perbedaannya yakni bagian depan dimana logo merek lebih besar yakni ukuran diameter 28 cm dan dikombinasikan dengan trim dekoratif tiga dimensi dan permukaan yang mengkilap. Bagian atapnya agak sedikit melengkung bagian depannya, sedangkan bagian belakang bus eCitaro ini diadopsi dari standar Citaro.
bagian dalam bus eCitaro buatan Mercedes-Benz (motor1.com )
Daya untuk menjalankan bus ini disediakan oleh versi poros listrik ZF AVE 130 dengan menghadirkan motor listrik di bagian roda. Output puncak sistemnya sendiri yakni 335 horsepower atau 250 KW dan 715 poundfeet atau 970 Newtown per torsi yang sudah tersedia dari awal.
Baterai yang digunakan ialah Lithium-ion yang terbagi hingga sepuluh modul dengan masing-masing memasok listrik sebesar 25 kWh untuk total 243 kWh. Modul baterai ini dipasang di bagian belakang dan atap bus eCitaro.
Untuk jumlah baterainya sendiri akan tergantung dengan spesifikasi, ada bus yang menggunakan enam, delapan atau sepuluh. Dimana maksimum baterai yang terpasang sebanyak sepuluh di setiap busnya.
Bus ini memiliki berat 13,44 ton dan mampu mengangkut lebih dari enam ton atau sekitar 85-90 penumpang. Untuk pengisian baterainya sendiri akan melalui soket konektor Combo-2 yang ditempatkan di atas lengkungan roda depan tepatnya di sisi kanan bus.
Baca juga: Berharap Mampu Pasok Kebutuhan Bus di Bandara, Moeldoko Hadirkan Prototipe Bus Listrik Ketiga
Tak hanya itu, pada masa depan pembuat mobil Jerman juga akan menawarkan pilihan untuk mengisi bus melalui pantograph. Diketahui, peluncuran perdana eCitaro di publik yakni pada bulan September mendatang di IAA Commercial Vehicles di Hanover.
Bus eCitaro buatan Mercedes-Benz ini sendiri akan mulai diproduksi pada akhir tahun. Mercedes sendiri sudah mendapat pesanana sebanayk 20 bus listrik ini yang akan di produksi di Hamburg.
Duduk di kursi yang nyaman dan dapat melakukan mobilitas dari satu titik ke titik yang lain dengan kecepatan yang luar biasa menjadi gambaran sederhana dari seorang penumpang kereta peluru. Kendati hingga saat ini Indonesia masih belum memilikinya, namun pemberitaan tentang kereta peluru seperti yang ada di Jepang kerap kali membuat warga Indonesia ingin merasakan sensasi ‘menungganginya’. Namun apa jadinya jika Anda disuruh untuk mengendalikan kereta dengan kecepatan di atas 200km/jam tersebut?
Baca Juga: Shinkansen Hello Kitty Resmi Mengular, Penggemar dan Penumpang Riuh Ramai Berselfie Ria
Bagi Anda yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia perkeretaapian, khususnya masinis, mungkin akan sulit bagi Anda untuk membayangkannya. Tapi di Jepang, Anda tetap bisa merasakan sensasi mengendarai ikon dari jaringan kereta api di Negeri Matahari Terbit, lho! Dikutip KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (5/7/2018), Railway Museum yang terletak di Saitama menawarkan wahana simulasi mengemudikan kereta peluru.
Hadirnya simulator shinkansen E5 di Railway Museum per tanggal 5 Juli 2018 ini merupakan salah satu wahana yang disediakan oleh pihak museum dalam rangka peresmian gedung baru. Tak pelak, wahana simulator tersebut ramai dihampiri oleh para pengunjung, tidak terkecuali para railway geeks (penggila kereta api) yang diketahui memiliki minat lebih dalam dunia perkeretaapian. Di pameran itu juga, Anda juga dapat secara lebih mendalam memahami filosofi kerja, sejarah, dan gambaran masa depan dari perkeretaapian Jepang.
Siapapun boleh menjajal wahana E5 Simulator yang menjadi andalan pihak penyelenggara. Cukup merogoh kocek sebesar 500 yen atau yang setara dengan Rp65.000, Anda sudah bisa merasakan sensasi ngebut dengan kecepatan 320km/jam, lengkap dengan kursi kemudi yang didesain sangat mirip dengan aslinya. Sebuah layar besar pada bagian depan yang menayangkan video panorama semakin menambah nilai realistis dari wahana ini.
Ada banyak sekali ilmu pengetahuan yang dapat Anda gali di pameran ini. Sebut saja Anda dapat memahami lebih detail mengenai pekerjaan yang setiap harinya dibebankan kepada seluruh personel di jaringan perkeretaapian Jepang di “Job Station” yang terletak di lantai dasar museum ini.
Baca Juga: Wow, Kereta Shinkansen Ada di Restoran Indonesia!
Atau bagi Anda yang tertarik dengan sejarah perkeretaapian Jepang, Anda pasti akan betah berlama-lama di “History Station” yang terletak di lantai tiga. Nah, bagi Anda yang sekiranya ingin mengetahui gambaran masa depan dari jaringan perkeretaapian Jepang, Anda bisa menyambangi “Future Station” yang terletak di lantai dua. Bagaimana, sangat menarik bukan? Jangan lupa sempatkan diri Anda untuk mampir ke museum yang terkenal dengan nama Omiya Railway Museum ini ya!