Sampai Berhari-Hari! Inilah Lima Macet Terparah di Dunia

Siapa sih yang suka terjebak dalam kemacetan? Bisa dibayangkan sebagaimana lelahnya Anda setelah seharian bekerja, dan terjebak dalam kemacetan panjang ketika hendak pulang. Macet 15 menit saja rasanya sudah seperti macet satu jam lebih, bukan? Sangat menyebalkan! Opsi lain agar tidak kena macet adalah menggunakan sarana transportasi umum, namun penuhnya bukan main! Mau tidak mau, Anda harus menerjang macet tersebut agar tidak terlalu larut sampai di rumah. Baca Juga: Terjebak Macet? Yuk Lakukan Hal Berikut Ini Biar Tidak Stress! Ngomong-ngomong soal macet, laman worldatlas.com menyebutkan pernah ada sejumlah macet parah yang sampai-sampai masuk ke dalam sejarah, lho! Kira-kira, macet di Jakarta atau ketika musim arus mudik masuk ke dalam perhitungan mereka tidak ya? Berikut KabarPenumpang.com himpun lima macet terparah di dunia yang pernah terjadi! Beijing, Cina – Agustus 2010 Terjebak macet selama tiga sampai empat jam rasanya masih belum ada apa-apanya dengan macet yang pernah terjadi pada 14 Agustus 2010 silam. Tercatat, kemacetan yang memerah hingga 100 km di Beijing-Tibet Expressway ini berlangsung selama 12 hari! Disinyalir, kemacetan ini terjadi karena adanya perbaikan dan pengerjaan konstruksi jalan tol. Rusia – Desember 2012 Kali ini giliran Negeri Beruang Merah yang dilanda macet berhari-hari setelah badai salju hebat melanda Tver, Barat Laut Rusia pada 30 November 2012. Tidak diketahui pasti berapa panjang dari macet ini, namun yang pasti, kemacetan baru mereda pada 2 Desember 2012 atau selama tiga hari. Bethel, New York – Agustus 1969 Woodstock Music Festival tahun 1969 ternyata membawa petaka tersendiri terhadap jalanan di New York. Lebih dari 500.000 orang menyambangi venue, dan menyebabkan kemacetan parah hingga 20 mil (32 km) panjangnya! Alhasil, macet selama tiga hari pun tak dapat terelakkan. Baca Juga: Riset INRIX: Setelah Jakarta, Bandung Jadi Kota Termacet Kedua di Indonesia Texas – September 2005 Amukan Badai Rita pada September 2005 silam berdampak pada catatan kemacetan terparah di Amerika Serikat. Tepatnya pada 21 September 2005, 2,5 juta penduduk Houston berbondong-bondong mengungsi via Interstate 45. Hanya membutuhkan waktu selama 48 jam untuk mengumpulkan hampir seluruh warga Houston di jalan bebas hambatan tersebut. Tak pelak, macet sepanjang 160 km ini baru bisa terurai tiga hari berselang. Chicago, Illionis – Februari 2011 1 Februari 2011 akan menjadi hari yang tidak akan dilupakan oleh warga Chicago, pasalnya badai hebat yang menghantam berimbas pada tebalnya salju yang mengubur daerah ini. 20 inchi salju yang memutihkan kota ini membuat kemacetan hingga 12 jam lamanya!    

Sophia, Robot Humanoid yang Gagal Makan Malam dengan Perdana Menteri Ethiopia

Robot humanoid sosial yang dikembangkan oleh Hason Robotics yang berbasis di Hong Kong harus melewatkan makan malamnya dengan Perdana Menteri Ethiopia. Robot humanoid artificial intelligence (AI) dengan nama Sophia yang terkenal ini diketahui tiba di Ethiopia pada hari Jumat (29/6/2018) lalu. Baca juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi KabarPenumpang.com melansir dari laman africanews.com (30/6/2018), Sophia yang tiba di Ethiopia harusnya dijadwalkan bertemu dengan PM Ethiopia Abiy Ahmed untuk makan malam. Sayang saat berada di Bandara Frankfurt menuju ke Addis Ababa, tas berisi beberapa bagian dari Sophia hilang. Sementara saat itu sebenarnya Sophia ingin sekali makan malam dengan Abiy. Tetapi Getahun Merkuria, Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ethiopia mengatakan, Sophia masih akan muncul di MCIT Internasional Expo meski gagal bertemu dengan PM Abiy. Manager Icogs Labs, Getnet Asefa menjelaskan bahwa Sophia bisa diperbaiki dan mereka menemukan bagian-bagian alternatif untuknya. Sophia sendiri diaktifkan pada 19 April 2015 lalu dan hadir pada penampilan perdananya di publik saat di South by Southwest Festival (SXSW) pertengahan Maret 2016 di Austin, Texas, Amerika Serikat. Sophia diketahui mampu menghadirkan 50 ekspresi wajah. Selain itu, robot AI ini juga telah diprogram untuk berbicara bahasa Amharik yang merupakan bahasa resmi Ethiopia dan menjadi bahasa pertama yang digunakan selain bahasa Inggris. Sophia merupakan robot pertama dalam sejarah yang mendapat penghargaan kewarganegaraan Arab Saudi. Kulit yang digunakan pada robot humanoid ini dari kulit organik maupun non organik. Baca juga: Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang Pada tubuhnya tepatnya bagian mata, Sophia mampu mengenali wajah manusia karena dipasangi kamera. Robot ini pun telah di program untuk melakukan percakapan tanpa menggunakan naskah dan mampu mengumpulkan data emosional dalam membentuk hubungan emosional dengan manusia. Pada bulan Oktober 2017, Sophia menjadi robot pertama yang menerima kewarganegaraan dari negara mana pun. Pada bulan November 2017, Sophia dinobatkan sebagai Juara Inovasi pertama dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan orang pertama yang tidak diberi gelar Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Garuda Indonesia dan Citilink Raih “TripAdvisor 2018 Travellers Choice Awards”

Penikmat dunia wisata tentu familier dengan nama TripAdvisor.com, yang tak lain merupakan situs rekomendasi wisata terbesar di dunia dan cukup akrab diakses oleh netizen di Indonesia. Mulai dari destinasi wisata, penginapan sampai moda transportasi tak luput dari ulasan situs yang bermarkas di Massachusetts, Amerika Serikat ini. Dan hari ini, Garuda Indonesia Group yang terdiri dari flag carrier Garuda Indonesia dan Citilink mendapatkan kado istimewa, berupa penghargaan “TripAdvisor 2018 Travellers Choice Awards.” Baca juga: Garuda Indonesia Capai OTP Tertinggi 95,8 Persen di Arus Mudik Lebaran 2018 Penghargaan tersebut diberikan secara langsung oleh President Flights and Cruise TripAdvisor, Bryan Saltzburg, dan diterima oleh Direktur Layanan Garuda Indonesia, Nicodemus P. Lampe, serta Direktur Niaga Citilink Indonesia, Andy Adrian, di kantor Pusat Garuda Indonesia di Kebon Sirih, Jakarta (11/7/2018). Selain menjadi maskapai terbaik di Indonesia, Garuda Indonesia juga berhasil masuk pada pemeringkatan Travelers’ Choice Winner, Major Carriers-Asia dan Travelers’ Choice Winner, Economy Class–Asia. Penghargaan tersebut diberikan menyusul hasil pengumuman resmi oleh TripAdvisor pada 9 April 2018 lalu setelah merampungkan survei pemeringkatan maskapai penerbangan terbaik di seluruh dunia. Hal ini membuat Garuda Indonesia untuk kedua kalinya kembali dinobatkan sebagai maskapai penerbangan terbaik di Indonesia. Nicodemus P. Lampe menyampaikan rasa terima kasihnya atas apresiasi dan dukungan masyarakat Indonesia dan dunia pada survei yang telah dilakukan TripAdvisor tersebut terhadap Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia. “Pencapaian yang kami peroleh pada hari ini tentunya sangat membanggakan, mengingat saat ini kami tengah melaksanakan berbagai program dan inovasi yang berkesinambungan untuk peningkatan layanan, khususnya melalui konsep layanan unggulan kami, Garuda Indonesia Experience, yang kami terjemahkan dari kekayaan budaya dan keramahtamahan khas Indonesia,” ujarnya. TripAdvisor secara resmi mengumumkan Garuda Indonesia berhasil masuk dalam list 10 maskapai terbaik di Asia tahun 2018 berdasarkan hasil rating dan review selama tahun 2017 lalu yang diperoleh dari penumpang, dimana penilaian rating tersebut mencakup kualitas dan kuantitas layanan dari seluruh maskapai di Asia. Baca juga: Mei 2018 – OTP Citilink Berada di Urutan Kedua di Asia Tenggara Setelah Bangkok Airways Untuk Citilink, dinobatkan TripAdvisor sebagai salah satu LCC terbaik di Asia berdasarkan ulasan travellers yang menyatakan bahwa para wisatawan menghargai keramahtamahan staf, ketepatan waktu di atas 80 persen, tingkat keamanan, serta kebersihan pesawat.

Penumpang Menurun, MRT Singapura Merugi Hampir Rp1 Miliar di Q1 2018

Guncangan pada sebuah bisnis seringkali terjadi dan membuat rugi. Hal ini juga tak menutup kemungkinan pada bisnis transportasi massal yang memudahkan penumpang untuk bepergian seperti SMRT selaku operator mass rapid transit (MRT) Singapura. Perusahaan plat merah ini dilaporkan merugi besar seiring menurunnya jumlah penumpang pengguna MRT dan tercatat kerugian yang dirasakan SMRT setelah pembayaran pajak senilai S$86 juta atau setara dengan Rp905 miliar untuk kurtal pertama 2018 yang berakhir pada 31 Maret lalu. Baca juga: Di Malaysia, Jalur MRT Ini Justru Sepi Peminat KabarPenumpang.com melansir dari laman Channel News Asia, pada periode yang sama tahun 2017 lalu, SMRT sendiri bahkan mampu meraup laba setelah pajak sebesar S$26 juta atau setara dengan Rp247 miliar. SMRT mengatakan, terkikisnya keuangan tak lepas dari menurunnya jumlah penumpang. Dimana data baru yang diterima bahwa MRT Singapura sudah kehilangan 15 juta penumpangnya, dari sebelumnya 768 juta penumpang menjadi 753 juta penumpang saat ini. Tak hanya merosotnya jumlah penumpang, biaya operasional MRT Singapura pun membengkak. Ini disebabkan naiknya biaya operasional dari S$785 juta pada tahun lalu menjadi S$838 juta pada 2018 ini. Naiknya biaya operasional tersebut karena tingginya biaya pemeliharaan akibat menuanya jaringan kereta dan stasiunnya sendiri. Chief Executive Officer SMRT Lee Ling Wee mengakui, kepuasan penumpang sebenarnya sudah mulai menurun sejak 2017 silam. Lee mangatakan, penyebabnya adalah seringnya kereta mengalami gangguan. Bahkan, layanan MRT Singapura sempat lumpuh 20 jam akibat banjir pada Oktober lalu. Lee berjanji, MRT Singapura berupaya semaksimal mungkin mengatasi gulungan permasalahan. “Belajar dari peristiwa terowongan banjir pada 7 Oktober 2017, kami terus memperkuat proses kerja dan pengawasan di setiap lini organisasi,” kata dia. Baca juga: Gas Freon di MRT Singapura Bocor, Gangguan Kesehatan Mengintai Penumpang Menurunnya penumpang dan meruginya MRT Singapura, mengingatkan pada MRT Malaysia yang sepi penumpang. Jaringan yang mengangkut dari Sungai Buloh menuju Kajang dinilai gagal menarik minat masyarakat. Padahal, pembangunan MRT Malaysia ini menghabiskan dana RM23 miliar ata Rp81 triliun. Kapasitas pengangkutan MRT juga sekitar 400 ribu sampai 500 ribu penumpang. Namun, nyatanya setiap hari jalur ini hanya mengangkut 150 ribu penumpang setiap harinya pada pertengahan 2017 lalu. Bahkan mengalami penurunan hingga 132 ribu penumpang perharinya pada Januari 2018 kemarin.

Gara-Gara Takut Tertinggal Kereta, Pria Ini Laporkan Adanya Bom

Bom bukanlah hal untuk di permainkan, apalagi ketika itu menyangkut nyawa orang banyak. Ini bisa membuat kepanikan luar biasa bahkan kengerian tersendiri bagi orang-orang disekitarnya. Tapi bagaimana bila ancaman bom itu palsu dan hanya untuk membuat sesorang tidak terlambat saat naik kereta? Baca juga: Akibat Ancaman Bom, Lion Air JT120 Alami Delay Selama Dua Jam Dikutip KabarPenumpang.com dari Times of India, penumpang kereta Rajdhani Express di India dengan tujuan Kolkata dilanda kepanikan setelah pihak berwajib menerima laporan adanya bom. Kabar bom tersebut didapatkan setelah kereta baru meninggalkan stasiun New Delhi. Akibatnya masinis langsung menghentikan kereta di Ghaziabad dan pihak kepolisian yang diterjunkan langsung menyisir kereta selama dua jam namun tidak menemukan adanya bom. Kemudian pihak kepolisian menyelidiki telepon yang melaporkan adanya bom tersebut dan petunjuk mengarah pada Supriyo Mukherjee (43 tahun) yang akhirnya digelandang ke kantor polisi untuk di interogasi. Ternyata alasannya untuk mengatakan bom karena saat itu Mukherjee diketahui baru kembali dari Patiala bersama istrinya dan harus berangkat ke Rajdhani dari Delhi. Dikarenakan dirinya mampir ke apotek, Mukherjee tertinggal kereta api dan menghubungi ruang kendali di stasiun dengan mengatakan ada bom yang sebenarnya hanya bualan alias tidak ada. “Dia menyebar hoax bom itu agar bisa tiba di stasiun Ghaziabad untuk naik kereta. Kami sebelum mengamankan pelaku sudah melakukan pemeriksaan di kereta dengan tim anti teror bom dan anjing pelacak,” ujar petugas kepolisian stasiun kereta Parvaiz Ahmed. Setelah beberapa jam dilakukan pengamanan, polisi memasktikan kabar bom yang ada di dalam kereta merupakan hoax dan kereta kembali melaju pukul 19.05 waktu setempat. Sebelum mengamankan Mukherjee, polisi sempat mencurigai seorang penumpang di stasiun kereta Ghaziabad, tapi kemudian segera melepasnya karena menangkap pelaku yang asli. “Kami interogasi dia, ternyata pria tersebut bukanlah penyebar hoax,” ujar kepala polisi stasiun kereta, Rupesh Singh. Baca juga: TSA Kembangkan Alat Pendeteksi Bom di Stasiun Kereta Bawah Tanah New York Hal ini beberapa waktu lalu juga terjadi di Indonesia, dimana salah satu maskapai penerbangan yakni Lion Air mendapat ancaman bom berkali-kali dalam jangka waktu tidak jauh. Hal ini bahkan membuat keterlambatan penerbangan hingga berjam-jam. Pasalnya, ancaman bom menjadi sangat serius di Indonesia karena saat itu sedang dalam kondisi siaga terorisme. Ancaman bom juga bukanlah bercandaan, bahkan saat semua penumpang sudah dalam pesawat dan ada sebutan kata bom saja bisa membuat panik dan perjalanan tertunda agar pihak kepolisian bisa menyisir semua kabin. Kini diketahui, bila mengatakan bom sembarangan dalam penerbangan, pelaku akan di amankan dan akan diberi sanksi oleh pihak keamanan.

Viral Suzuki Jimny Nongkrong di Atas Rel LRT Sumatera Selatan. Ada Apa?

Setelah pemberitaan terakhir menyebutkan bahwa kekuatan sosial media Twitter mampu menggagalkan kasus human trafficking di India, kini jagat sosial media Instagram di Indonesia berhasil menyedot perhatian publik. Bukan karena berhasil menggagalkan kasus kriminal seperti di India, melainkan ada penampakan unik di atas jalur Light Rapid Transit (LRT) Sumatera Selatan. Kira-kira apa ya? Baca Juga: Hanya dengan Lima Stasiun Utama, LRT Palembang Siap Beroperasi Saat Asian Games 2018 Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman brilio.net (6/7/2018), sebuah akun instagram dengan nama pengguna @suzukijimnyindonesia mengunggah sebuah foto mobil Jimny tengah berada di atas jalur LRT Sumatera Selatan. Caption dari unggahan tersebut pun menyiratkan tanda tanya besar di benak setiap orang yang melihatnnya. “Sesuai dengan slogan kebesaran dan kebanggaan #JIMNY “YOU CAN GO FAST, BUT I CAN GO ANYWHERE” Mungkin admin @ditjenperkeretaapian bisa menjelaskan maksud dan tujuan jimny ini? Biar kita bisa tau hehehe Terimakasih Min” Begitulah kurang lebih keterangan yang dicantumkan oleh akun @suzukijimnyindonesia dalam postingan yang diunggah pada Kamis (5/7/2018) tersebut. Dalam postingan itu sendiri, tampak sebuah mobil Suzuki Jimny berwarna biru langit, lengkap dengan seorang pengemudi di dalamnya. Selain itu, tampak pula sebuah alat pada bagian depan mobil yang terkenal bandel ini. Tenang dulu, Anda jangan langsung berpikiran yang aneh-aneh ketika melihat postingan tersebut. Karena melalui akun instagram miliknya, Ditjen Perkeretaapian menjelaskan bahwa mobil Jimny tersebut sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan digunakan untuk mobilisasi serta pengujian atau inspeksi jalur LRT Sumatera Selatan yang rencananya akan mulai beroperasi dalam waktu dekat ini. “Jimny digunakan untuk inspeksi prasarana LRT Samsel, yakni third rail untuk power supply LRT serta mobilisasi di atas track dan untuk clear area (pengecekkan) di atas rel sebelum kereta berjalan,” terang akun @ditjenperkeretaapian. Baca Juga: Kebut Persiapan Asian Games 2018, PT INKA Mulai ‘Cicil’ Pengiriman LRT Palembang Lalu mengapa mesti mobil Jimny? Mengapa tidak mobil lain saja? Menjawab pertanyaan tersebut, seorang netizen menimpalinya dengan sangat sederhana. “Lebar track kereta api di Indonesia hanya cocok dengan jarak antarban (wheel track) di Jimny. Mobil lain tak cocok karena terlalu lebar. Suzuki Jimny 4×4 traksinya cukup baik untuk menarik beban berat sehingga tidak selip,” unggah akun @SuryaSBK.  

Pembatalan Tiket Lama dan Ribet, PT KAI Coba Buat Aplikasi Mudahkan Penumpang dengan Online

Pembelian tiket kereta api kini sudah dimudahkan karena bisa secara online melalui aplikasi travel online ataupun milik PT KAI yakni KAI Accsess. Meski begitu mudahnya membeli, tetapi tidak dengan pembatalan atau pengubahan waktu berangkatnya. Baca juga: Mau Membatalkan atau Merubah Jadwal Tiket Kereta Api? Baca Ini Dulu Ya! Ini membuat para penumpang banyak yang tidak nyaman termasuk KabarPenumpang.com sendiri yang merasakannya. Sebab cukup lama waktu terbuang saat mengantri pembatalan tiket tersebut karena dipanggil sesuai nomor urut oleh petugas loket sekitar satu sampai dua jam waktu menunggu nomor antrian untuk pembatalan tiket tersebut. Terkait masalah pembatalan tiket ini, KabarPenumpang.com kemudian menghubungi VP Pulic Relation PT KAI Agus Komarudin yang mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan development aplikasi pembatalan dan re-route secara online. “Mudah-mudahan dalam tahun ini juga bisa kami siapkan untuk di launching,” ujar Agus yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (10/7/2018). Dia mengatakan, pihaknya harus sangat hati-hati mengingat sistem tersebut cukup kritis karena menyangkut pembayaran sejumlah uang yang di kirimkan ke rekening masing-masing penumpang. Agus menegaskan, adanya opsi atau pembatalan dan re-route tiket penumpang tersebut bukanlah persolan teknologi, sehingga banyak pertimbangan yang harus dipikir secara cermat oleh pihaknya sebelum menggulirkan kebijakan tersebut. “Untuk teknologi, sistem IT kami tak ada masalah. Sistemnya mendukung kok, tapi ada faktor lain yang jauh lebih prioritas yang perlu dipertimbangkan secara mendalam dibanding persoalan teknologi,” kata Agus. Salah satunya terkait masalah percaloan, dimana PT KAI mengkhawatirkan pembatalan tiket secara online dimanfaatkan sehingga percaloan kembali mencuat kepermukaan. Sehingga pihak KAI menginginkan hal tersebut benar-benar di antisipasi. Baca juga: Mencapai 64%, Jalur Pembelian Tiket PT KAI Mayoritas via Online “Kalau KAI kan perlu observasi berbagai kemungkinan, terutama dalam meminimalisir atau menghapus praktek percaloan. Riskan bagi kami mendapat banyak keluhan, makanya kami terus berpikir skema terbaiknya,” tegasnya. Agus menambahkan, karena sulit ditembus calo maka sempat beredar tiket palsu dan KTP palsu yang dijual saat angkutan Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Ini membuat penumpang menjadi korban percaloan. Berikut ini ada beberapa stasiun tempat pembatalan tiket, Stasiun Serang, Rangkasbitung, Jakartakota, Gambir, Pasar Senen, Bogor,Bekasi, Cikampek.

Hitung Mundur, LRT Jakarta Optimis Bisa Beroperasi Saat Asian Games 2018

Proyek Light Rapid Transit (LRT) Jakarta yang akan menghubungkan Velodrome Rawamangun di Jakarta Timur dan Kelapa Gading di Jakarta Utara kini sudah mulai masuk tahap akhir pembangunan. Pernyataan mengenai pembangunan jalur sepanjang 5,8 km tersebut dilontarkan langsung oleh Direktur Proyek LRT Jakarta, Allan Tandiono. Diproyeksikan, dalam waktu dekat ini sarana transportasi baru di Ibu Kota ini bisa rampung. Baca Juga: Di Tengah Pesimisme, Dirut Jakpro Optimis LRT Jakarta Bisa Digunakan Saat Asian Games 2018 Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Allan mengungkapkan bahwa saat ini timnya tengah mengakselerasi proses pembangunan tahap akhir ini. “Saat ini, tim konstruksi sedang mempercepat tahap penyelesaian, seperti memasang atap, instalasi listrik dan mekanik, lantai dan lukisan,” tutur Allan, dikutip dari laman thejakartapost.com (7/7/2018). Selain itu, Allan juga menambahkan bahwa proyek yang digagas oleh Pemprov DKI dan PT Adhi Karya ini tengah menjalani fase uji coba oleh Kementerian Perhubungan. “Diharapkan akhir Juli sudah selesai,” ungkap Allan. Ditambah lagi, perhelatan olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018 yang akan mulai bergulir pada 18 Agustus mendatang juga menjadi salah satu penanda LRT Jakarta untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Satya Heragandhi mengatakan pekerjaan ini dikebut siang-malam agar dapat beroperasi ketika Asian Games 2018 berlangsung. “Proses pengerjaan ini dikebut siang dan malam demi mencapai target 85% hingga Agustus nanti,” ujar Satya. Dikutip dari laman detik.com (4/7/2018) kemarin, Satya mengungkapkan bahwa pembangunan proyek LRT ini sudah dalam tahap 77 persen selesai. Bahkan delapan gerbong kereta sudah mendarat di atas rel. “Delapan gerbong sudah siap dan nanti akan ditambah delapan gerbong lagi,” terangnya. Rencananya, delapan gerbong tambahan lainnya akan tiba pada 13 dan 14 Juli mendatang. Jika warga Indonesia saat ini tengah menantikan kehadiran jaringan LRT secara keseluruhan, maka para aktor utama di balik pembangunan proyek ini tengah ketar-ketir menantikan proses sertifikasi. “Apabila nanti sudah di sertifikasi kira-kira tanggal 30 Juli, maka sudah bisa kami resmikan,” ungkap Satya. Sebagai informasi tambahan, jaringan LRT Velodrome Rawamangun – Kelapa Gading ini total memiliki enam stasiun, yaitu Stasiun depot di Jalan Pegangsaan Dua Kelapa Gading, stasiun Mal Kelapa Gading, stasiun Kelapa Gading Boulevard, stasiun Pulomas, Stasiun Pacuan Kuda hingga Stasiun Velodrome di arena balap sepeda Velodrome Rawamangun. Baca Juga: LRT Kelapa Gading-Velodrome Progress Pengerjaan 67 Persen Untuk masalah harga, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) memberikan usul harga tiket LRT Jakarta sebesar Rp10.800. “Mengenai harga, belum ada kepastian. Namun memang telah ada usulan dari DTKJ bahwa harga tiket Rp10.800,” ujar Satya. Memang harga tersebut berada di atas rataan harga sarana transportasi berbasis massal yang ada di Jakarta seperti TransJakarta dan KRL Jabodetabek, namun menurut Satya, itu masih dalam batas wajar. “Segitu tidak mahal. Apalagi jalur ini (LRT) yang sampai ke tengah dan dekat dengan busway,” ujarnya.

Menuju Konsep Smart City, Bandara Mineta San Jose Operasikan Robot yang Siap Bantu Penumpang

Tidak akan ada habisnya jika kita membahas tentang perkembangan yang dilakukan oleh berbagai operator layanan transportasi, karena pada dasarnya mereka harus terus melakukan ‘evolusi’ agar tetap berada di jalur persaingan dengan para rivalnya. Sebut saja dengan meningkatkan pelayanan, para penumpang diharapkan akan dapat merasakan pengalaman berbeda dan meninggalkan kesan yang baik. Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara Nah, sehubungan dengan perkembangan di sektor teknologi yang seolah sudah menjadi bagian dari setiap peningkatan layanan di infrastuktur transportasi – seperti bandara, maka tidak heran rasanya jika banyak pengelola bandara di seluruh dunia yang berusaha untuk menyajikan inovasi teknologi terbaru di dalamnya. Sebut saja Bandara Internasional Mineta San Jose, California yang telah mengupayakan untuk merebut impresi para pelancong dengan mengoperasikan robot beberapa waktu yang lalu. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman digitalsignageconnection.com, robot-robot yang ada di bandara ini ditujukan untuk menyambut para pelancong dan membantu navigasi mereka dari dan menuju terminal. Penyandingan tenaga manusia dan robotika ini mulai diperkenalkan kepada publik pada Oktober 2016 silam dengan visi untuk memungkinkan kekuatan teknologi menjadi sebuah peluang bisnis yang menguntungkan. Namun di balik visi tersebut, tentu saja meningkatkan perjalanan para pelancong dengan menitikberatkan pada perkembangan teknologi dan inovasi menjadi yang paling utama di antara semua misi tersebut. Bekerja sama dengan 22 Miles, salah satu perusahaan yang menggeluti dunia IT, Bandara Internasional Mineta San Jose berhasil meraup impresi positif dari para pengguna layanannya. “Sangat penting bagi kami untuk menyajikan layanan terbaik kepada setiap pelancong yang berada di kawasan kami,” tutur Manajer Informasi Publik Bandara Internasional Mineta San Jose, Rosemary Barnes. Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan Norma, Amelia, dan Piper merupakan tiga robot yang secara khusus ditugaskan di bandara ini untuk membantu mobilitas para pengguna layanan. Agar dapat menyelaraskan dengan kebutuhan para pelancong, ketiga robot ini dapat memahami lima bahasa, Inggris, Spanyol, Jepang, Jerman, dan Perancis. Tantangan dalam pengimplementasian teknologi robotika ini bukan berarti tidak ada, dan rataan masalahnya datang dari pengembangan inovasi. Namun pengembangan seperti itu terus dilakukan agar tercapainya ruang lingkup Smart City yang tengah digalakkan oleh sejumlah operator bandara di seluruh dunia.  

Virtual dan Augmented Reality Ubah Pengalaman Penumpang di Udara

Hadirnya teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) dalam dunia aviasi global memang memberikan banyak keuntungan bagi sejumlah pihak. Tidak hanya bagi si penyedia produk VR dan AR saja yang diproyeksikan akan meraup untung, pun dengan pihak maskapai selaku ‘penghubung’ produsen VR dengan konsumen jasa penerbangan. Di sisi penumpang sendiri, tentu saja hadirnya teknologi ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengalaman mengudara mereka secara keseluruhan. Baca Juga: First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama Mundur ke tahun 2015 lalu, dimana Flag Carrier Australia, Qantas Airways memperkenalkan teknologi VR hasil kerja samanya dengan Samsung ke dalam kabin armadanya dan first class lounge. Namun siapa sangka, kesuksesan uji coba teknologi tersebut telah memicu hampir seluruh penyedia jasa penerbangan untuk turut serta mengaplikasikan fitur VR di dalam pelayanannya. Sampai-sampai, beredar pernyataan yang mengatakan bahwa penggabungan teknologi baru untuk meningkatkan pengalaman penumpang adalah sebuah keharusan. Wajar saja jika penyataan tersebut seolah menjadi pemantik penyedia jasa penerbangan untuk meningkatkan pelayanannya, setidaknya jika mereka tidak ingin tersingkir dari ketatnya persaingan yang ada. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman wamda.com (31/5/2018), Ketua Kapitel UAE asosiasi industri global untuk VRAR Association, Shujat Mirza mengatakan bahwa hadirnya teknologi VR dan AR merupakan pengubah ritme permainan di sektor aviasi global . “Ini tidak hanya sebatas cara kita sebagai penumpang untuk mengkonsumsi sebuah konten, melainkan juga memungkinkan kita untuk berinteraksi lebih baik lagi,” ungkapnya. Dari sini saja, kita sudah dapat berkaca bahwa tidak hanya nilai keselamatan dan keamanan saja yang diutamakan oleh para penyedia jasa penerbangan, pun dengan poin pengalaman penumpangnya. Nampaknya akan terlalu panjang jika menyebutkan maskapai mana saja yang telah menerapkan fitur VR dan AR di dalam pelayanannya. Sebut saja Royal Dutch Airlines (KLM), Lufthansa, dan Air France yang menjadi tiga maskapai besar yang telah membuktikan ‘khasiat’ dari penggabungan teknologi VR dan AR ke dalam pelayanannya. Walaupun tidak sama persis, namun secara garis besar, penumpang ketiga maskapai tersebut dapat menikmati layanan entertainment on-board selama mereka mengudara. Mulai dari headset VR hingga menyaksikan tayangan 2D dan 3D, merupakan beberapa poin yang siap meningkatkan pengalaman mengudara penumpang. Seperti yang sudah disinggung di atas mengenai siapa-siapa saja yang akan menerima keuntungan dari penggunaan teknologi VR dan AR ini, ternyata banyak pihak yang meyakini bahwa perusahaan-perusahaan startup pun akan ikut merasakan euforia dari naik daunnya teknologi ini. Tidak bisa dipungkiri, ada banyak perusahaan startup di luar sana yang berkecimpung di bisnis menggiurkan ini. Baca Juga: Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara Sebut saja GigaWorks, TAKELEAP, PearQuest, dan Eventagrat merupakan sejumlah kecil startup yang mendalami bisnis VR dan AR ini. Namun bukan berarti mereka hanya tinggal menunggu pesanan dari pihak maskapai. Ada beberapa poin yang harus mereka buktikan kepada calon konsumennya, seperti inovasi apa yang bisa mereka hadirkan dan membuatnya beda dengan perusahaan startup lain. Dengan begitu, sudah hampir dapat dipastikan bahwa masa depan dunia aviasi global akan dipenuhi dengan seabreg fitur futuristik yang dapat meningkatkan pengalaman terbang para penumpangnya.