Operator Kereta India Digitalisasikan Layanan Keluhan Penumpang

Siapa sih yang tidak pernah merasakan kurang nyaman ketika menggunakan sarana transportasi umum berbasis massal? Mungkin semuanya pernah ya! Mengantri saat beli tiket, berdesak-desakan di dalam modanya, atau mungkin yang menyinggung ke arah tindak kriminal adalah kasus pencopetan yang hingga kini masih marak terjadi. Semua itu seolah sudah menjadi resiko yang harus ditanggung oleh setiap pengguna jasa transportasi umum. Baca Juga: Hadapi Keluhan Soal Calo, Otoritas Banglades Hadirkan BGB Nah, karena setiap penyedia jasa juga memerlukan yang namanya peningkatan pelayanan, maka bukanlah sesuatu yang baru ketika Anda menemukan kotak saran dan keluhan di sejumlah infrastruktur transportasi. Tidak hanya itu, kemajuan jaman juga turut berperan dalam hadirnya platform keluhan dalam bentuk digital, dimana para penumpang bisa melayangkan keluhan via SMS atau melalui platform jejaring sosial yang dimiliki oleh si penyedia jasa. Menyinggung soal prosedur pengaduan penumpang dalam bentuk digital, operator perkeretaapian India, Indian Railways baru saja merilis aplikasi yang memungkinkan setiap pengguna jasanya melayangkan keluhan dengan cara yang lebih modern. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman globalrailwayreview.com (15/6/2018), Rail MADAD (Mobile Application for Desired Assistance During travel) merupakan sebuah aplikasi yang mampu menampung setiap keluhan dari para pengguna jasa dan meneruskannya kepada setiap petugas di lapangan yang relevan. Setelah diterima oleh petugas di lapangan, maka keluhan yang dilayangkan tersebut pun dapat secara langsung ditindaklanjuti. Setelah penumpang melayangkan keluhan di aplikasi Rail MADAD, mereka akan mendapatkan pesan singkat yang diikuti dengan instruksi lanjutan dari pihak perkeretaapian. Cara seperti ini dinilai ampuh untuk mempercepat tindak lanjut dari setiap keluhan penumpang yang masuk. RPGRAMS (Railway Passenger Grievance Redressal and Management System) atau sistem penanganan keluhan penumpang sendiri terdiri dari banyak cabang, salah satunya adalah Rail MADAD. Dalam aplikasi ini sendiri, tercantum beberapa nomor penting (helpline) yang dapat dihubungi kapanpun oleh penumpang, mulai dari keluhan soal keamanan hingga penanganan darurat terhadap anak. Tercatat, ada 14 mode keluhan yang tergabung di dalam satu aplikasi layanan keluhan penumpang ini. Baca Juga: Mobile Game Ini “Ajarkan” Penumpang Hadapi Situasi Darurat Selama Mengudara Opsi panggilan langsung pun tersedia di dalam aplikasi ini, semisal ada satu kejadian yang benar-benar darurat dan membutuhkan pertolongan dengan segera. Selain ditujukan untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang, hadirnya Rail MADAD juga memungkinkan operator kereta untuk mengevaluasi hasil kerja anak buahnya di lapangan. Baik buruknya kinerja mereka dapat dipantau melalui jumlah keluhan penumpang yang masuk.      

Ethiopian Airlines, Maskapai Afrika Pertama Yang Daratkan Pesawatnya di Indonesia

Berkunjung ke Eropa, Amerika, Australia bahkan ke Asia mungkin seringkali dilakukan baik para pelancong yang menikmati keindahan negara yang ada di benua tersebut atau para pelaku bisnis yang melakukan pekerjaan mereka. Tapi bagaimana dengan Afrika? Ya, Afrika terkenal dengan gurun dan savananya, bagi pelancong yang mencintai alam bebas dan menyukai tantangan benua ini cocok sekali untuk di singgahi. Baca juga: Ethiopian Airlines Sabet Gelar Katering Terbaik di Afrika Versi PAX International Tidak perlu khawatir, para pelancong Indonesia maupun Afrika yang akan berkunjung sebentar lagi akan dimudahkan dengan penerbangan langsung dari Addis Ababa ke Jakarta. Kenapa? Karena pada 21 Juli 2018 mendatang, maskapai asal Ethiopia yakni Ethiopian Airlines akan membuka rute penerbangan langsungnya dari Jakarta-Addis Ababa PP. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa maskapai yang tergabung dalam Star Alliance Member ini akan membuka rute dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam seminggu yakni Selasa, Kamis dan Sabtu. Untuk penerbangan dari Ethiopia menuju Jakarta, akan menggunakan nomor penerbangan ET 0628 pukul 00.00 waktu setempat dan sampai di Bangkok pukul 13.20 waktu setempat. Serta melanjutkan perjalanan menuju Jakarta pukul 14.20 dan sampai pada 18.05 WIB. Sedangkan keberangkatan dari Bandara Soetta dengan nomor penerbangan ET 0629 pada pukul 20.35 WIB kemudian menuju Bangkok, Thailand pukul 00.20 waktu setempat. Kemudian melanjutkan penerbangan pukul 01.45 dan menuju Addis Ababa hingga tiba pukul 06.15 waktu setempat. Penerbangan ini sendiri akan dilayani dengan armada Boeing 787-8. “Kami sangat senang meluncurkan rute baru menuju Jakarta, penerbangan terhubung pertama antara Afrika dan Indonesia, serta maskapai Afrika pertama yang menghubungkan Afrika dengan Jakarta,” ujar Group CEO Ethiopian Airlines Tewolde GebreMariam. Tewolde mengatakan, Indonesia merupakan sasaran tepat untuk pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. “Indonesia adalah salah satu negara terpadat di dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Di tahun-tahun mendatang, perdagangan Afrika dan Indonesia, investasi dan hubungan pariwisata diatur untuk tumbuh secara eksponensial dan penerbangan langsung kami akan membuat kontribusi signifikan dalam peningkatan kerjasama Afrika-Indonesia,” ujarnya. Terkait adanya penerbangan perdana ini, PT Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta berkomitmen untuk mendukung dalam rencana bisnis maskapai sebagai memajukan industri penerbangan dalam dan luar negeri. Penerbangan perdana ini nantinya juga akan disambut dengan water salute dan pengalungan bunga dari PT Angkasa Pura II kepada tamu dan kru Ethiopian Airlines. Baca juga: Load Factor Rendah, Maskapai-Maskapai Ini Tak Lagi Mendarat di Jakarta “Kami berharap dengan penerbangan perdana ini, Ethiopian Airlines dapat mendorong potensi perdagangan dan pariwisata dari Afrika di Indonesia dan sebaliknya. Selain itu sebagai upaya menguatkan jaringan ekonomi antara negara Indonesia dan Ethiopia,” kata Senior Manager Of Branch Communication and Legal, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Erwin Revianto. Diketahui hingga kini baru Ethiopian Airlines, masakapai Afrika yang mendaratkan pesawatnya di Indonesia, tepatnya di Jakarta.

Masalah Manifes, Bukti Carut Marutnya Layanan Pelayaran di Tanah Air

Sudah over kapasitas, manifest penumpang pun bermasalah, inilah gambaran nyata seputar jasa pelayaran rakyat di Indonesia pada umumnya. Musibah yang dialami KM Sinar Bangun di Danau Toba dan KM Lestari Maju di Perairan Selayar menjadi bukti coreng morengnya masalah manifes penumpang kapal. Berbeda dengan moda darat dan moda udara, urusan manifes penumpang kapal tak kunjung tuntas dibenahi. Dan seperti biasa, saat musibah datang, semua pihak seperti gamang menghadapi masalah manifes. Baca juga: Di Balik Tragedi Danau Toba, Inilah Profil KM Sinar Bangun Padahal jika ditilik lebih dalam, sejatinya manifes adalah hak pengguna jasa, persisnya hak pengguna jasa atas identitas dirinya untuk terdaftar dalam suatu moda transportasi. Mengapa manifes begitu penting didengungkan? Berlaku di semua moda, manifes penting untuk untuk urusan keselamatan, proses identifikasi korban akan lebih mudah dan cepat dengan adanya manifes penumpang. Dan yang tak kalah penting, data manifes menjadi pegangan bagi pihak asuransi untuk bisa melakukan pembayaran santunan kepada keluar korban. Apa yang terjadi pada kasus KM Sinar Bangun dan KM Lestari Maju sudah bisa ditebak, tiadanya manifes menjadi petaka, khususnya pada proses klaim keluarga korban. Jika tak ditemukan jazad, lantas bukti otentik apa yang menyatakan bahwa penumpang hilang telah naik ke kapal yang tenggelam? Walau implemetasi di lapangan masih berantakan, namun pemerintah lewat Kementerian Perhubungan sudah aware dengan persoalan manifes. Bila ditelaah, sudah ada Peraturan Menteri Nomor 25/26 Tahun 2016 yang mengatur mengenai jumlah penumpang dan kendaraan angkutan penyeberangan. Yang jadi kewajiban operator atau pengelola pelabuhan yakni menciptakan formulir jumlah manifes bersama format yang sudah ditentukan. Lebih detail lagi, operator kapal kemudian menciptakan rekapitulasi daftar penumpang berdasarkan sobekan kupon dari penumpang pejalan kaki dan formulir penumpang yang diisi oleh pengemudi kendaraan baik pribadi ataupun angkutan umum. Setelah penumpang naik ke kapal, operator kapal wajib menghitung kembali jumlah penumpang untuk menyesuaikannya bersama jumlah penumpang yang ada. Seterusnya, pembuatan rekapitulasi jumlah manifes jadi tanggung jawab nahkoda kapal. Rekapitulasi tersebut pada akhirnya merupakan dasar untuk mengajukana Surat Persetujuan Berlayar pada Syahbandar. Lantas yang jadi pertanyaan mendasar, bagaimana peran petugas pengawas pelabuhan? Suara YLKI Mengutip pernyataan Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi dalam “Catatan Akhir Mudik Lebaran,” disebutkan persoalan manifest tak melulu dihadapi pada pelayaran rakyat, namun pelayaran yang dikelola BUMN PT ASDP Indonesia Ferry pun ditengarai tak luput dari persoalan serius. Sistem tiket dan manifest penumpang PT ASDP, khususnya pada Cabang Merak dan Bakauheni memang pernah mengalami perbaikan signifikan pada era 2016. Saat PT ASDP dipimpin (Alm) Danang S. Baskoro, kedua lintasan pelabuhan tersibuk di Tanah Air tersebut dikelola cukup baik, dengan basis tiket elektronik maka ‘kebocoran’ pada transaksi keuangan dapat ditekan. Secara umum, pendapatan PT ASDP pun meroket di periode itu, meski tekanan keras dari para oknum untuk ‘menghilangkan’ tiket elektronik tak kunjung reda. Baca juga: Angkut 139 Penumpang dan Puluhan Kendaraan, KM Lestari Maju Tenggelam di Perairan Selayar “Namun, sayangnya setelah pergantian direksi PT ASDP, justru di tangan direksi yang baru sistem tiket PT ASDP berantakan lagi, menjadi kembali manual. YLKI menerima pengaduan/laporan yang cukup akurat terkait hal ini dari konsumen yang amat kredibel,” ujar Tulus Abadi. Bahkan, di ASDP kini kembali bangkit fenomena “tiket muter”, yaitu tiket yang sudah dijual, bisa dijual lagi untuk penumpang berikutnya. Akibat dari ini manifes penumpang kapal menjadi kacau, koruptif, dan pendapatan negara yang hilang. Jika mau jujur, pendapatan pemilik kapal pun turut tergerus dengan praktek nakal ini. Walau identitas oknum di pelabuhan dapat ditelusuri dengan mudah, namun untuk mewujudkan pengawasan manifes bukan perkara gampang. Tumpang tindihnya regulasi yang ada, khususnya di level pemerintah pusat, Kemenhub. Kemudian pihak Pemda mengklaim banyak kewenangannya diambil Pemerintah Pusat, sehingga kemudian Pemda tak punya kewenangan. Di sisi lain, Kemenhub tak cukup mampu melakukan pengawasan di lapangan.

‘Cuitan’ Seorang Penumpang Selamatkan Nasib 25 Gadis di India!

Tidak ada yang bisa memungkiri kekuatan dan kecepatan dari sebuah platform media sosial. Selain dapat digunakan sebagai sarana promosi sebuah produk, tapi yang lebih mengesankan adalah media sosial dapat dengan mudah memviralkan sebuah kejadian dalam kurun waktu yang relatif sangat cepat. Dapat dengan mudah terhubung dengan beberapa orang penting dan sejumlah otoritas merupakan kelebihan lain yang dapat Anda rasakan dari hadirnya media sosial, bukan? Baca Juga: Antara Garuda Indonesia, Berita Hoax, dan Media Sosial Terkait dengan kelebihan dari media sosial tersebut, beberapa waktu ke belakang, jagat sosial media kembali menunjukkan kekuatannya. Dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, seorang penumpang kereta Muzaffarpur – Bandra Awadh Express berhasil menyelamatkan 25 gadis sekaligus yang tampak ketakutan di dalam rangkaian kereta tersebut. Hebatnya lagi, aksi yang dilakukan oleh Adarsh Shrivastava ini hanya ia lakukan dengan cara me-mention sejumlah orang penting yang ada di jejaring sosial Twitter. Kejadian ini berawal ketika Adarsh tengah menggunakan layanan Muzaffarpur – Bandra Awadh Express pada Kamis (5/7/2018) kemarin. Pemandangan di dalam rangkaian tersebut agak aneh di mata Adarsh ketika dirinya melihat sejumlah anak yang tampak ketakutan dan merasa tidak nyaman berada di dalam rangkaian tersebut. Bahkan beberapa di antaranya ada yang sampai menangis. Merasa ada yang janggal, Adarsh langsung mengambil ponselnya dan mencuitkan sebuah posting yang ditujukan kepada Menteri Perkeretaaapian Piyush Goyal, Perdana Menteri Narendra Modi, Menteri Negara di Kementerian Perkeretaapian Manoj Sinha, Kepala Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath, dan Kementerian Perkeretaapian dalam cuitannya tersebut. “Saya tengah dalam perjalanan menggunakan Avadh Express(19040). Di s5. Di dalam gerbong saya terdapat 25 gadis yang hampir semuanya menangis dan merasa ketakutan. @RailMinIndia @PiyushGoyal @PMOIndia @PiyushGoyalOffc @narendramodi @manojsinhabjp @yogi” Begitulah isi dari cuitan Adarsh pada pukul 17:25 waktu setempat. Baca Juga: Manfaatkan Medsos Sebagai Wadah Promosi, Tokyu Corp. Sukses Jaring Banyak Wisman Kurang lebih dalam waktu setengah jam saja, sejumlah otoritas berwenang langsung turun tangan untuk menyelidiki hal apa yang terjadi di balik laporan Adarsh tersebut. Setelah ke-25 gadis tersebut berhasil diselamatkan, satu per satu dari mereka mulai dimintai keterangan guna mendapatkan informasi lebih lanjut. Sayangnya,tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut. Akhirnya ke-25 gadis ini diserahkan ke Komite Perlindungan Anak dan mendapatkan perawatan di sana. Kuat dugaan, mereka merupakan calon korban human trafficking di India, dimana dalam kasus ini, dua orang tersangka berhasil diamankan dan proses penyelidikan hingga kini masih bergulir.    

Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

Dalam rangka pengembangan infrastruktur bandara dan melayani para penggunanya dengan lebih baik, Bandara Internasional Sydney diketahui baru-baru ini bersinergi dengan Flag Carrier Negeri Kangguru, Qantas Airways. Dalam kerja sama tersebut, mereka saling bahu membahu mengembangkan teknologi face recognition. Dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah ini, nantinya para penumpang akan melewati sebagian besar pemeriksaan bandara tanpa menggunakan paspor dan boarding pass. Baca Juga: Pilah-Pilih Vendor, Bandara Internasional Changi Siap ‘Pekerjakan’ Facial Recognition Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (6/7/2018), sebagai bagian dari uji coba biometrik ‘couch-to-gate’ ini, ada empat langkah utama yang akan diuji, termasuk check-in otomatis, akses lounge, proses boarding, dan penangangan bagasi. Uji coba teknologi face recognition ini sendiri rencananya akan dilakukan disejumlah rute penerbangan internasional. Salah satu juru bicara dari pihak bandara mengatakan bahwa nantinya, bandara juga akan dilengkapi dengan fitur Mobile Check-In dan Automated Border Processing. Setelah masa uji coba berakhir, nantinya penumpang akan bisa melewati sebagian besar perjalanan mereka di bandara hanya dengan menggunakan wajah mereka, tanpa boarding pass, tanpa paspor. Sementara itu, CEO anara Internasional Sydney, Geoff Culbert mengatakan bahwa uji coba ini merupakan bagian dari fokus dalam ruang lingkup investasi di bagian teknologi. “Yang paling utama adalah kami berupaya untuk membuat pengalaman penumpang selama berada di bandara menjadi lebih baik, lebih mudah, dan lebih nyaman lagi,” tutur Geoff. “Dan kami sangat bahagia karena dapat memfasilitasi penumpang Qantas dalam uji coba teknologi face recognition ini,” tandasnya. Wajah Anda merupakan boarding pass, paspor, dan tanda pengenal lain yang dibutuhkan oleh pihak bandara. Sesederhana itulah pemahan dari penggunaan teknologi face recognition di Bandara Internasional Sydney ini. “Tidak akan ada lagi yang namanya menunjukkan boarding pass fisik. Wajah Andalah yang merupakan boarding pass dan paspor,” imbuh Geoff. Baca Juga: Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah Di sisi lain, CEO Qantas Airways, Vanessa Hudson mengatakan bahwa maskapai berlogo kangguru tersebut tengah berfokus pada pengembangan teknologi yang akan berdampak pada dorongan inovasi terhadap para pelanggannya. “Tidak hanya di check-in counter saja, bahkan ketika mereka menggunakan lounge pun, niscaya para penumpang akan merasakan sesuatu yang berbeda – lebih inovatif,” ungkap Vanessa. “Secara keseluruhan, ini akan meningkatkan pengalaman penumpang.” Tutupnya.  

PaQ, Amankan Barang Berharga dalam Koper dari Benturan di Bagasi

Melakukan perjalanan dengan pesawat, biasanya mewajibkan penumpang yang membawa koper besar masuk ke bagasi kargo. Apalagi saat ada peraturan dimana alat elektronik besar harus ikut disimpan di bawah tanpa boleh masuk ke dalam kabin. Baca juga: Swiss Freitag Ciptakan Tas Travel yang Bisa Dilipat! Namun bagaimana untuk membungkus dan menyimpan barang elektronik atau barang pecah belah yang dibawa agar tertahan benturan? KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (5/7/2018), dengan membungkus menggunakan bubble warp (plastik gelembung) atau koran barang tersebut bisa cukup aman dan melindunginya dari benturan. Pembungkusan ini juga agar barang tidak rusak, pecah atau cacat saat dibuka kembali. Tak hanya itu ada pula PaQ yang merupakan gadget self-inflating dan mampu mengamankan semua barang berharga dalam koper Anda. PaQ ini berbahan material PVC seperti kantung tiup seukuran smartphone atau tablet dengan berat 7,7 ons atau sekitar 218 gram. Di lengkapi dengan tenaga baterai AA yang bisa bertahan selama dua tahun dengan penggunaan seminggu sekali. Cara penggunaannya pun mudah, saat Anda selesai berkemas pakaian dalam koper, letakkan kantung PaQ yang berbentuk persegi panjang tersebut dan tempatkan dalam koper di sisi atas. Kemudian, tekan tombol pada perangkat untuk memompa udara kedalam kantong dan tutup koper Anda. Nantinya, meski sudah ditutup, PaQ masih bekerja untuk memenuhi ruang kosong di koper dan akan berhenti mengembang pada tekanan tertentu secara otomatis jadi tidak perlu khawatir PaQ akan merusak koper. Hal ini menguntungkan pengguna karena PaQ akan mampu menahan semua pakaian, cairan, barang elektronik dan lainnya di dalam koper untuk mencegah terbentur. Baca juga: JOOX dan AirAsia Rilis “Fly Away,” Musik Tanpa Internet di Pesawat Tenang saja, PaQ sendiri bisa kempes setelah Anda membuka koper. Diketahui PaQ saat ini merupakan subjek kampanye Kickstarter atau bisa dikatakan penjualan dengan promo seharga US$29 atau Rp417 ribu. Nantinya untuk harga eceran sendiri diperkirakan dijual dengan harga US$49 atau Rp705 ribu. Bila pendanaan terpenuhi, selain menggunakan sensor akan pula dihadirkan dengan kemampuan Bluetooth dimana akan memberitahukan aplikasi di ponsel setelah koper tiba di bagasi claim.

Selandia Baru Bakal Hadirkan Kembali Trem di Jalanan Wellington

Pada masanya trem merupakan salah satu transportasi massal yang banyak sekali digunakan negara di dunia. Salah satu negara yang juga pernah memiliki trem adalah Selandia Baru. Negara ini memiliki trem listrik bersejarah yang kembali melaju di jalanan Wellington di awal abad ke-20. Dimana kehadiran trem ini sekaligus mengungkap sejarah tragis yang mengubah moda transportasi metropolitan itu selamanya. Baca juga: Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan Dirangkum dari stuff.co.nz oleh KabarPenumpang.com (27/6/2018), seorang pembuat roda Wairarapa sudah memulihkan trem listrik tertua di Wellington selama lebih dari ribuan jam untuk kembali ke Pantai Kapiti. Trevor Burling dari Wellington Tramway Museum mengatakan, pemulihan kendaraan ini adalah tambahan signifikan terhadap warisan transportasi Selandia Baru. “Ini trem listrik tertua dari Wellington. Ini adalah gelombang listrik pertama yang pernah datang,” ujarnya. Perubahan tersebut ternyata dipengaruhi oleh kematian tragis konduktur trem sebelum Perang Dunia I yang menyebabkan perubahan hukum yang mempengaruhi seluruh negeri. Diketahui saat itu tahun 1913 Frank Breedon seorang konduktur meninggal ketika tremnya menabrak tiang, dirinya tewas saat berayun dibagian luar trem ketika beroperasi di Wellington demi menyelamatkan diri untuk keluar. Karena hal ini, Parlemen kemudian mengharuskan semua trem yang ada di Selandia Baru memiliki akses dari satu ujung ke ujung yang lainnya di dalam kendaraan. Ini membuat kursi dilepas untuk membuat gang di dalam trem. Trem ini sempat pensiun pada pertengahan 1940-an dan berada di pantai di Raumati Selatan. Kemudian tahun 1983 museum membeli gerbong trem tersebut dan menyimpannya hingga akhirnya dari Gladston Wheelwright Shop pada 28 Juni dipindahkan ke rumah barunya di Museum Tramway di Queen Elisabeth Park, Paekakariki. Saat ini trem tersebut bisa dilihat di museum dan biaya pemulihan gerbong tersebut sekitar AUS$300 ribu atau setara dengan Rp3,1 miliar yang disumbang oleh Lotere Selandia Baru dan lainnya. “Greg telah melakukan pekerjaan yang sangat hebat. Dia seorang perfeksionis. Dia benar-benar berhati-hati dengan materi dan mungkin membuatnya lebih baik daripada ketika itu baru,” ujar Burling. Greg dan Ali Lang dari The Wheelwright Shop di Gladstone, Carterton telah benar-benar berkomitmen untuk restorasi selama lebih dari empat tahun. “Kami sangat bangga akan hal itu. Kami lelah setelah semua pekerjaan yang kami lakukan selama sebulan terakhir untuk menyelesaikannya. Sungguh menyentuh untuk mencapai kesimpulan tetapi sangat bagus untuk mengetahui orang-orang akan menggunakannya,” kata Ali Lang. Langkah selanjutnya dalam mendapatkan trem kembali ke rel adalah pemulihan rel untuk berjalannya. Burling mengatakan setelah ini selesai dalam 18 bulan hingga dua tahun, trem akan digunakan di McKay’s Crossing untuk membawa penumpang ke Porirua Beach. Baca juga: Trem di Melbourne, Jaringan Terpanjang di Dunia dan Jadi Ikon Kota Trem dibangun oleh Perusahaan Mobil Listrik Inggris di Manchester, Inggris dan dikirim ke Selandia Baru di mana ini disatukan oleh Wellington Corporation Tramways. Ini pertama kali digunakan pada tahun 1904 dan digunakan di berbagai rute di sekitar Wellington termasuk Oriental Parade, Island Bay, dan Karori. Itu diperbesar pada tahun 1911 dengan bagian terbuka ditambahkan ke kotak mobil untuk meningkatkan kapasitas. Kombinasi gaya konfigurasi California ini berarti bahwa beberapa penumpang terbuka untuk elemen. “Bisakah Anda membayangkan naik Willis St dalam salah satu hal itu di tengah musim hujan?” Kata Burling.

Nyeleneh, Orang-Orang ini Sulap Kendaraan Jadi Kolam Renang!

Kreatifitas tanpa batas. Kalimat singkat, jelas, dan padat tersebut dapat bermakna banyak di tangan-tangan orang yang tepat. Pengalihfungsian beragam benda yang sudah tidak dipakai menjadi kasus yang paling sering kita temui. Tentu Anda semua masih ingat dengan sejumlah moda transportasi tua yang disulap menjadi salon, restoran, hingga hotel. Baca Juga: Seniman Hollywood Sulap Kereta Kuno Jadi Restoran Mewah Nah, kali ini ada seorang kreatif yang menyulap van tua menjadi sebuah kolam renang! Ya, itulah yang menjadi nilai jual dari kreatifitas seseorang, dimana ia mampu mentransformasikan suatu barang yang sudah tidak terpakai menjadi lebih berguna kembali. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (14/6/2018), seorang pekerja seni asal Perancis, Benedetto Bufalino diketahui pernah mengubah sejumlah kendaraan menjadi lebih artistik. Terakhir, ia mengubah sebuah van tua yang sudah tidak terpakai menjadi kolam renang mini. Alih-alih harus menetap di suatu tempat, van tua yang memiliki fungsi baru ini tetap dapat berlari di jalanan lho! Jadi silakan Anda bayangkan sendiri bagaimana sensasinya berenang sembari jalan-jalan keliling kota. Hampir dapat dipastikan, perhatian semua orang akan tertuju pada Anda. Semuanya berawal ketika Benedetto membeli sebuah van tua dan mulai bekerja dengan timnya untuk membuat sebuah kolam renang mobile. Secara sistematis ia mengeruk semua bagian dalam van tersebut dan melapisi bagian dalamnya dengan pelat baja. Hasilnya pun melebihi apa yang dibayangkan. Sebuah kolam renang kecil yang mampu menampung beberapa orang dewasa ini tetap tidak kehilangan ‘wajahnya’ sebagai mobil van. Benedetto sendiri mengaku bahwa kolam van ini bisa tetap melaju, walaupun akan sangat berat ketika harus berjalan dengan kondisi air yang penuh, lengkap dengan beberapa orang yang berenang di dalamnya.
Sumber: viva.co.id
Itu dari luar negeri, Indonesia sendiri punya satu moda yang hampir serupa dengan kolam van tadi. Tentu saja dengan ciri khas kearifan lokalnya. Pertengahan Juni kemarin, jejaring sosial Instagram dibuat heboh dengan video yang menampilkan sejumlah pria dewasa tengah berendam di sebuah truk yang sedang berjalan. Baca Juga: Kreatif! Pilot ini Sulap Bangkai Airbus A330 Menjadi Sebuah Museum Berlapiskan terpal besar berwarna biru, bagian belakang truk bak terbuka ini disulap menjadi sebuah kolam renang seadanya oleh beberapa pria kreatif ini. Sontak, hal tersebut tidak hanya menjadi viral di Instagram saja, bahkan aksi mereka ini mampu menyedot perhatian warga sekitar tempat mereka melintas. Tidak banyak informasi yang dapat digali dari viralnya video ini, namun satu yang pasti, kreatifitas tanpa batas tidak memandang usia, gender, dan media yang digunakan.  

CatEyeSYNC, Solusi Bagi Anda yang Gemar Bersepeda di Malam Hari

Selain hujan dan terpaan panas di siang hari, salah satu yang menjadi masalah bagi para pesepeda adalah berkendara di malam hari. Selain tidak semua sepeda memiliki sistem pencahayaan tambahan, jarak pandang yang dipancarkan oleh lampu tambahan tersebut pun tidak terlalu jauh. Ketika jarak pandang berkurang, maka secara otomatis resiko kecelakaan pun akan meningkat. Tapi Anda tidak perlu khawatir, karena CatEyeSYNC punya jawaban atas permasalahan tersebut! Baca Juga: Lima Poin ini Siap Ubah Persepsi dan Jadikan Anda Seorang Komuter Sepeda! Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (6/7/2018), sistem CatEyeSYNC mampu menghidupkan tujuh lampu sekaligus, hanya dengan menggunakan smartphone Anda! Keren, bukan? Inovasi ini terdiri tiga bagian sederhana, yaitu Headlight Core, Kinetic Tail Lamp, dan Wearable Tail Light. Untuk masalah aplikasinya, Anda dapat mengunduhnya di AppStore dan Google Play. Sistem CatEyeSYNC dapat dikontrol melalui ponsel Anda dengan menggunakan koneksi Bluetooth.
Core Headlight. Sumber: newatlas.com
Tidak hanya sebatas menghidupkan atau mematikan lampunya saja, tetapi melalui aplikasi tersebut, Anda juga mengatur mode si lampu sepeda. Mulai dari mode flashing, hingga intensitas menyalanya, semua dapat diatur melalui aplikasi. Bobot dari ketiga lampu ini juga tergolong sangat ringan, yang paling berat hanyalah 94 gram saja.
Kinetic Tail Lamp. Sumber: newatlas.com
Untuk Headlight Core, beratnya hanya 94 gram, namun bisa memancarkan cahaya seterang 500 lumen. Sedangkan untuk Kinetic Tail Lamp, lampu ini bisa memancarkan cahaya seterang 30 lumen. Semisal pesepeda sedang berhenti, otomatis Headlight Core akan memancarkan cahaya hingga 50 lumen.
Wearable Tail Lamp. Sumber: newatlas.com
Sementara untuk Wearable Tail Lamp akan memancarkan cahaya seterang 40 lumen dan dapat menambah kewaspadaan pengguna jalan lain ketika lampu ini dipasangkan pada baju, tas, atau helm si pesepeda. Baca Juga: Sepeda Kini Tanpa Dilipat Bisa Masuk Ke Gerbong Kereta Ketiga jenis lampu ini sendiri disokong oleh baterai lithium yang dapat diisi ulang ketika dayanya habis. Indikator daya baterai pun dapat Anda lihat melalui aplikasi. Semisal daya ketiga lampu tersebut bada di bawah 10 persen, maka pengguna akan mendapatkan peringatan melalui pesan di dalam aplikasi. Jika diatur ke output maksimum, maka ketahanan Headlight Core mampu mencapai dua jam, Kinetic Tail Lamp dan Wearable Tail Lamp mampu bertahan selama 1,5 jam. Bagaimana, apakah Anda yang gemar bersepeda tertarik untuk memiliki lampu-lampu inovatif ini? Cukup siapkan dana sebesar US$90 untuk Headlight Core, US$70 untuk Kinetic dan US$70 untuk Wearable Tail Light. Salam Gowes!  

Gaet Embraer, Boeing Siap Rambah Pasar Pesawat Berbadan Kecil

Dalam rangka melebarkan sayap bisnisnya, salah satu manufaktur raksasa di dunia aviasi, Boeing berencana untuk mengambil alih bisnis jet komersial dari perusahaan kedirgantaraan asal Brasil, Embraer. Langkah tersebut ditempuh dengan harapan mampu mendorong ‘si perusahaan raksasa’ untuk masuk ke dalam pasar pesawat penumpang berukuran kecil. Ini juga merupakan salah satu cara yang ditempuh Boeing untuk memperkuat jaringan perusahaannya, setelah beberapa waktu yang lalu, Airbus menjalin kerja sama denga Bombardier. Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Boeing akan memegang kendali atas 80 persen saham Embraer. Sebuah nilai yang setara dengan US$4,75 miliar atau yang berkisar Rp68,3 triliun. Berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) yang diumumkan oleh kedua perusahaan, nantinya basis perusahaan joint venture ini akan bermarkas di Brasil, namun akan dikendalikan oleh Boeing. “Kami akan terus menjalin kerja sama dengan perusahaan lain dengan fokus untuk mengembangkan pasar dan mengembangkan produk dan layanan pertahanan seperti pesawat militer Embraer’s KC-390,” tutur salah satu juru bicara dari Boeing. Sebenarnya, kerja sama antara dua perusahaan ini sudah terjalin selama kurang lebih beberapa dekade ke belakang. “Sejak tahun 2017 lalu, kami sudah mulai membicarakan tentang produksi pesawat yang mampu menampung 70 hingga 450 penumpang, dan juga pesawat kargo,” tambah sang juru bicara tersebut. Mengapa Embraer yang dipilih oleh Boeing dalam mengembangkan bisnisnya? Karena Embraer merupakan salah satu produsen pesawat regional terbesar, dimana produksiannya mencakup pesawat berbadan kecil yang mampu menampung 70 hingga 130 penumpang. Sedangkan pesawat komersial Boeing yang paling kecil adalah seri 737, dimana pesawat ini mampu menampung 126 penumpang. Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah! Setelah pemberitaan terakhir antara Boeing dan Airbus sukses menyedot perhatian publik dengan pesawat penumpang terbesarnya, Boeing 787 dan Airbus A380, kini dua perusahaan ini tengah kembali berusaha merebut perhatian pasar dengan cara merambah produksi pesawat berbadan kecil. Terlepas dari itu semua, durasi kerja sama antara Boeing dan Embraer akan terjalin selama 10 tahun ke depan.