Toyota Meluncur di Air dengan Kapal Balap Bertenaga Hidrogen
Setelah enam tahun melakukan pelayaran, Toyota salah satu merek mobil terkenal mengirimkan kapal bertenaga hidrogennya. Kapal balap ini diadaptasi khusus dengan Energy Observer yang menggunakan tenaga surya, angin dan gelombang yang dihasilkan.
Baca juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi
Hidrogen bebas karbon tersebut dihasilkan dari air laut. Teknologi dasarnya sendiri sudah digunakan didarat, dimana bisa membantu mangatasi masalah pasokan listrik entermittent dari energi terbarukan. Tetapi konsep ini sendiri baru pertama kalinya digunakan di laut untuk menghasilkan hidrogen selama persinggahan dan navigasi.
KabarPenumpang.com merangkum dari laman techradar.com (5/7/2018), kapal ini menghasilkan hidrogen dengan demineralisasi air laut yang mana menghilangkan garam dan ion. Kemudian memisahkan oksigen dan hidrogen melalui elektrolisis.
Hidrogen ini dikompresi pada 350-700 bar yang kemudian disimpan dalam tangki yang siap digunakan jika diperlukan. Energy Observer dibangun di Kanada pada tahun 1983 oleh arsitek angkatan laut Nigel Irens dan pelayaran terbaru ini tidak akan menjadi rekor dunia pertamanya.
Pada tahun 1984, itu menjadi perahu layar balap pertama yang menembus batas 500 mil dalam 24 jam. Kapal telah diperpanjang empat kali sejak mengkuti balapan dan sekarang panjangnya 30,5 meter dan lebar 12,8 meter. Pada 28 metrik ton, itu memiliki keuntungan berat yang cukup besar dibandingkan dengan perahu yang didukung oleh baterai penyimpanan saja.
Diketahui, sebuah tim yang beranggotakan lebih dari 30 orang, termasuk arsitek, perancang dan insinyur bekerja untuk mempersiapkan kapal selama enam tahun pelayarannya, di mana ia akan menavigasi 50 negara dan berhenti di 101 pelabuhan. Tur Eropa utara dijadwalkan untuk tahun depan, termasuk Inggris.
Para kru bertujuan untuk mencapai Tokyo pada tahun 2020 saat Olimpiade. Kapal ini dikapteni oleh pembalap profesional Victorien Erussard, didampingi oleh pemimpin eksplorasi Jérôme Delafosse, penyelam laut dalam dan pembuat film.
Selama perjalanan mereka, tim akan memproduksi konten dokumenter tentang sumber energi yang dapat diandalkan. Ini akan disiarkan melalui serangkaian delapan episode di jaringan TV Prancis Planète dan sebagai serial web yang dibagikan di media sosial.
“Pengamat Energi adalah konversi yang memiliki makna ganda yakni mendaur ulang catamaran yang andal dan ringan yang merupakan pemegang rekor dunia dan berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, bukan dalam komposit,” kata Erussard.
Baca juga: Saingi Jerman, SINTEF Fokuskan Penggunaan Bahan Bakar Hidrogen di Norwegia
Toyota sendiri diketahui sudah menggunakan hidrogen untuk membantu menggerakkan kendaraan di darat, termasuk mobil seperti Toyota Mirai, bus, truk dan forklift. Toyota Prancis menyediakan kru Energy Observer dengan delapan kendaraan untuk digunakan selama persinggahan ketika kapal berangkat tahun lalu dan sekarang Toyota Motor Eropa telah memberikan dukungan penuh di belakang pelayaran.
“Energy Observer adalah inisiatif yang menarik dan kami di Toyota Motor Eropa senang dikaitkan dengan tim yang begitu bersemangat dan berdedikasi. Proyek ini sekali lagi menunjukkan banyak kegunaan praktis hidrogen yang dapat dikembangkan saat kita bertransisi menuju masyarakat hidrogen,” kata Matt Harrison, wakil presiden penjualan dan pemasaran.
Kendati Futuristik, Sistem Pengereman Otomatis Masih Terbilang Prematur!
Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa rem merupakan salah satu intrumen vital yang ada di setiap kendaraan. Sedikit saja terjadi malfungsi, maka keselamatan pengemudi dan penumpang yang berada di dalam kendaraan tersebut akan terancam.
Di Jepang, sebuah laporan menyebutkan bahwa sebanyak 82 kasus kecelakaan yang terjadi pada periode tahun 2017 diakibatkan oleh malfungsi rem otomatis. Angka tersebut tentu saja tidak bisa dipandang remeh karena jika tidak ditindaklanjuti, maka tidak menutup kemungkinan insiden semacam ini akan terus berulang.
Baca Juga: Tekan Angka Kecelakaan, London Uji Coba Sistem Rem Otonom Pada Bus Umum
KabarPenumpang.com mengutip dari laman japantimes.co.jp (3/7/2018), mengingat banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi akibat malfungsi sistem pengereman otomatis ini, Kementerian Perhubungan sampai-sampai mengumpulkan data sendiri. Tercatat ada 320 laporan masuk yang berkaitan dengan malfungsi sistem pengereman tersebut selama tahun 2017.
Dari 320 kasus tersebut, pihak kementerian memusatkan perhatian terhadap 88 kasus yang menyatakan bahwa sistem pengereman tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan 249 kasus lainnya berisikan keluhan tentang sistem rem yang aktif secara tidak terduga. Ada satu anomali unik di sini, dimana otoritas berwajib di Jepang sebelumnya telah mendorong setiap mobil penumpang untuk memasang sistem pengereman otomatis.
Namun sayangnya sistem tersebut masih terlalu prematur untuk diterapkan pada kendaraan pribadi di Jepang sana. Masih diperlukannya serangkaian pengembangan membuat sistem pengereman otomatis ini berdampak buruk terhadap penggunanya. “Sistem pengereman otomatis tersebut terpasang pada 66,2 persen mobil penumpang yang diproduksi pada tahun 2016,” tutur pihak kementerian. “Angka tersebut naik 4,3 persen ketimbang tahun 2012,” tandasnya.
Sekedar informasi, sistem pengereman otomatis ini menggunakan teknologi radar yang akan mendeteksi dan memantau kondisi di depan kendaraan. Tidak hanya itu, inovasi ini juga akan memberitahu pengemudi semisal ada ancaman tabrakan atau halangan lain sebelum sistem secara otomatis mengurangi laju kendaraan dan melakukan pengereman.
Baca Juga: 10 Poin Penting Sistem Keselamatan di Bus
Pada bulan April lalu, pihak kementerian merilis sebuah video yang menayangkan bahwa sistem canggih ini belum bisa sepenuhnya diaplikasikan dalam semua kondisi. Sebut saja ketika turun hujan, pencahayaan yang kurang, turunnya kabut, atau serangkaian gangguan lain yang menghambat daya pantau radar. “Bahkan sistem pengereman otomatis ini tidak berfungsi sempurna ketika kendaraan tengah melaju dengan kecepatan tinggi.” tutup pihak kementerian.
Sukses Hadirkan WiFi Gratis di 400 Stasiun India, Kini Google Rambah Ruang Publik Lain
Sukses menghadirkan WiFi gratis di 400 stasiun India, Google berencana untuk menawarkan WiFi gratisnya seperti di mall dan universitas. Pemilihan ruang publik lainnya ini dimaksudkan untuk memudahkan pengguna mengakses internet dengan jangkauan lebih luas lagi secara gratis.
Baca juga: 400 Spot WiFi Gratis “Google Station” Telah Terpasang di India
Saat ini untuk memperluas jaringannya, Google sedang dalam pembicaraan dengan operator telekomunikasi dan penyedia layanan internet serta pemerintah negara bagian. KabarPenumpang.com merangkum dari laman inc42.com (5/7/2018), Direktur kemitraan di Google India, K Suri mengatakan, Telcos adalah sesuatu yang pasti pihaknya bicarakan.
“Dengan hal-hal seperti cakupan WiFi dan pemindahan data ke jaringan yang tidak stabil. Itu adalah alasan mengapa perusahaan telekomunikasi ingin berada di ruang ini. WiFi sedang dalam tahap yang baru lahir di sini, Sehingga siapapun yang tertarik dengan ekosistem WiFi publik, kami terlibat dengan mereka untuk mendorong akses. Filosofi kami adalah bagaimana kita menghubungkan miliaran selanjutnya?” ujar Suri.
Diketahui sebelumnya, Google sudah mendapatkan kesepakatan dengan RailTel dan Larsen&Tourbo untuk menyebarkan 150 Hotspot Google Station di Pune. Dengan Google WiFi telah digunakan lebih dari delapan pengguna setiap hari.
“Kami bekerja pada kekuatan kami dalam bermain iklan untuk melihat bahwa kami dapat tampil di proses masuk dengan cara yang mulus. Kami melakukan itu sehingga kami dapat memonetisasi bagian-bagian dari WiFi, oleh karena itu menjadi model yang berkelanjutan. Kami dapat membawa banyak teknologi kami untuk menanggungnya dan memecahkan masalah keberlanjutan pada dasarnya,” ujar Suri.
Terkait dengan WiFi berbayar, Suri mengatakan, tidak semua orang benar-benar bersedia membayar untuk layanan WiFi publik, ini adalah tahap awal ekosistem WiFi, sehingga pihaknya melakukan uji coba dengan apa yang diketahui dapat bekerja dan terus mencari caranya.
Beberapa peneliti mengatakan pengguna bisa mempertimbangkan untuk membayar layanan WiFi di lokasi umum jika dengan harga INR5-6 atau Rp1000-1200 per GB. Suri menambahkan, bahwa Google secara konstan akan mencari lebih banyak peluang yang mungkin termasuk menggulirkan WiFi gratis di lebih banyak stasiun.
Perkembangan ini terjadi setelah proyek Open Public WiFi dari Pusat yang bertujuan untuk mengembangkan penggunaan WiFi dengan menawarkan konektivitas Internet murah untuk orang-orang di Kota Tingkat 2 dan 3 di India. Saat ini, Telecom Regulatory Authority of India (TRAI) telah membuat rekomendasi untuk pembuatan agregat kantor data publik (PDOA) dan kantor data publik (PDO), yang harus diizinkan untuk menyediakan akses Internet melalui teknologi WiFi tanpa lisensi apa pun.
Pada bulan Juli 2017, TRAI telah mengumumkan rencana untuk membuat jaringan hotspot WiFi di seluruh negeri. Sebagai bagian dari inisiatif, TRAI akan berkolaborasi dengan perusahaan telekomunikasi dan penyedia data Internet yang ada untuk menyiapkan PDO “bayar saat pergi” di berbagai bagian negara.
The Indian Space Research Organization (ISRO) meluncurkan tiga satelit pada Mei 2017 dengan tujuan menyediakan Internet berkecepatan tinggi di India. Selama periode yang sama, Facebook meluncurkan Proyek WiFi Express di India, yang bertujuan untuk memberdayakan pengusaha lokal agar mendapatkan penghasilan tetap dengan menyediakan akses Internet berkualitas kepada tetangga mereka.
Baca juga: Setelah India, Google Station Siap Tebar Free WiFi Gratis di Indonesia
Kabarnya, Bharti Airtel juga telah bergabung untuk membantu meluncurkan 20 ribu hotspot lagi di negara ini. Vodafone India meluncurkan SuperWiFi dengan banyak fitur dan manfaat bagi perusahaan. Layanan tersebut saat ini ditargetkan pada segmen seperti perusahaan, pemerintah, perhotelan, pendidikan, BFSI, ritel, restoran, kesehatan dan manufaktur.
Reliance Jio juga menggelar hotspot di tempat-tempat umum. Perusahaan telekomunikasi ini dapat menggunakan jaringan WiFi mereka untuk menawarkan layanan voice over WiFi (VoWiFi) di India juga. Menurut studi Analysys Mason, WiFi publik akan menghubungkan 40 juta pengguna baru ke Internet pada tahun 2019. Rencana Google untuk menyediakan WiFi publik di mall dan universitas pasti akan berkontribusi pada basis pengguna baru ini.
Sydney Hadirkan Kereta Double Deck Terbaru dari Korea Selatan, Mengular di 2020
Kereta dengan model kabin bertingkat atau double deck sudah dikenal di Sydney, Australia. Bahkan kereta double deck dengan warna kuning ini sangat akrab sebagai wahana komuter warga di kota terbesar di Negeri Benua tersebut. Dan kini ada kabar pemerintah negara bagian New South Wales (NSW) berencana untuk merilis double deck terbaru dengan melintas wilayah Newcastle, Blue Montains dan South Coast.
Baca juga: Wujudkan Mimpi, Pemilik Resor di Australia Hadirkan Kereta Bertenaga Sel Surya
Kereta tersebut dibuat selama sembilan bulan terakhir oleh para arsitek untuk menyempurnakan aspek interior kereta seperti penyimpanan bagasi, rak sepeda bahkan warna kursi. KabarPenumpang.com melansir dari smh.com.au (27/6/2018), nantinya kereta tersebut akan dipesan sebanyak 512 gerbong dan akan menggantikan kereta V-set yang sudah ada selama empat dekade.
Tahun depan, kereta baru ini akan meluncur di rel dari Central Coast dan Newcastle. Tahun 2020 kereta api yang dibuat di Korea Selatan ini akan mulai berjalan di Blue Montains ke Mount Victoria kemudian menuju Lithgow sekitar empat bulan kemudian serta di jalur South Coast ke Wollongong dan Kiama.
Dalam kereta dua dek ini, terdapat toilet yang bisa diakses oleh penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, tangga yang cukup untuk digunakan penumpang nantinya untuk ke dek atas. Kursi yang melengkapi kereta ini pun terpasang dalam formasi dua-dua dan bukan model kursi yang bisa di balik.
Menteri Perhubungan Australia Andrew Constance mengatakaan, kereta ini akan menjadi pengalaman yang benar-benar baru untuk pelanggan. Dimana kereta ini lebih nyaman dan menyenangkan dari yang lalu.
“Ini bukan seolah-olah ini adalah kereta yang dirancang untuk perjalanan penumpang 10 hingga 12 jam,” ujar Constance.
Kepala Transportasi NSW bagian pengiriman armada, Becky Wod mengatakan, dirinya berharap penumpang akan melihat ruangan yang lebih besar dan lingkungan yang ramah.
“Kami mendapat banyak umpan balik dari para pelanggan kami bahwa salah satu hal yang perlu kami fokuskan adalah perasaan aman, serta merasa nyaman. Kami benar-benar memikirkan teknologi dan membuatnya dapat diakses,” ujar Wood.
Di bagian luar kereta, layar digital akan memberi tahu orang-orang tentang aspek-aspek seperti lokasi gerbong yang tenang dan penuh. Pembaruan dua tahun ke jalur Blue Mountains antara Springwood dan Lithgow akan dimulai akhir tahun ini untuk membuatnya mampu membawa kereta baru. Constance mengatakan, dia akan mengungkapkan biaya pembaruan ketika kontrak akhir ditandatangani.
Baca juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat
“Kami memiliki kemampuan untuk melakukan ini untuk pertama kalinya dalam 150 tahun dan kami akan melakukannya. Saya tidak mengerti mengapa orang-orang Lithgow harus ditolak akses ke kereta kelas dunia modern,” katanya.
Pemerintah telah menetapkan biaya keseluruhan dari kereta api baru, peningkatan ke jalur Blue Mountains dan fasilitas pemeliharaan baru di Kangy Angy sebesar AUS$2,8 miliar atau setara dengan Rp29,6 triliun.
Menteri Perhubungan Australia Andrew Constance mengatakaan, kereta ini akan menjadi pengalaman yang benar-benar baru untuk pelanggan. Dimana kereta ini lebih nyaman dan menyenangkan dari yang lalu.
“Ini bukan seolah-olah ini adalah kereta yang dirancang untuk perjalanan penumpang 10 hingga 12 jam,” ujar Constance.
Kepala Transportasi NSW bagian pengiriman armada, Becky Wod mengatakan, dirinya berharap penumpang akan melihat ruangan yang lebih besar dan lingkungan yang ramah.
“Kami mendapat banyak umpan balik dari para pelanggan kami bahwa salah satu hal yang perlu kami fokuskan adalah perasaan aman, serta merasa nyaman. Kami benar-benar memikirkan teknologi dan membuatnya dapat diakses,” ujar Wood.
Di bagian luar kereta, layar digital akan memberi tahu orang-orang tentang aspek-aspek seperti lokasi gerbong yang tenang dan penuh. Pembaruan dua tahun ke jalur Blue Mountains antara Springwood dan Lithgow akan dimulai akhir tahun ini untuk membuatnya mampu membawa kereta baru. Constance mengatakan, dia akan mengungkapkan biaya pembaruan ketika kontrak akhir ditandatangani.
Baca juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat
“Kami memiliki kemampuan untuk melakukan ini untuk pertama kalinya dalam 150 tahun dan kami akan melakukannya. Saya tidak mengerti mengapa orang-orang Lithgow harus ditolak akses ke kereta kelas dunia modern,” katanya.
Pemerintah telah menetapkan biaya keseluruhan dari kereta api baru, peningkatan ke jalur Blue Mountains dan fasilitas pemeliharaan baru di Kangy Angy sebesar AUS$2,8 miliar atau setara dengan Rp29,6 triliun. Gegara ‘Flight Mode’ di Ponsel, Seorang DJ Didepak Pramugari
Delapan orang harus keluar dari sebuah penerbangan Delta Airlines karena dianggap tidak mengubah flight mode alias mode pesawat di ponsel mereka. Perlakuan ini dilakukan oleh seorang pramugari yang tidak disebutkan namanya.
Baca juga: Ini Lho Fungsi Lain dari Airplane Mode!
Awal mulanya seorang pramugari yang tak disebutkan namanya di videokan saat menegur Robyn Rogers dan mengatakan dirinya tidak mengubah mode pesawat di ponselnya. KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (29/6/2018), bahwa pramugari tersebut berdiri didepan DJ asal New York itu dan mengancam untuk mengubah mode ponselnya ke pengaturan yang tepat.
Rogers sendiri mengklaim dirinya mencoba memperlihatkan pada pramugari bahwa ponselnya berada di mode pesawat. Tetapi pramugari tersebut justru terus berargumen dan berselisih dengan Rogers.
Hingga dalam video yang diambil penumpang dari deretan belakang tersebut terdengar pramugari mengatakan, “Saya tahu apa yang saya dengar. Saya tidak akan berdebat dengan Anda. Tidak perlu berdebat, karena instruksi kru artinya instruksi kru.”
Saat itu pun Rogers menegaskan bahwa ponselnya sudah dalam mode pesawat tetapi pramugari tersebut tetap saja berdebat. Hingga seorang penumpang bernama Ryan Miller mengatakan, “Saya berada di sampingnya.”
Pramugari tersebut mengatakan kepada Miller apakah dirinya ingin ditinggal juga. Insiden ini kemudian diunggah Rogers di akun Instagramnya dimana dirinya dan beberapa penumpang lain dipaksa keluar pesawat.
Dalam postingannya tersebut, Rogers mengatakan, dirinya merasa insiden tersebut adalah sangkut paut dengan rasisme. Sebab selain Rogers, seorang wanita Latina dan seorang pria dengan anaknya juga tidak bisa kembali ke pesawat.
Baca juga: Ditendang Penumpang Cilik, Wanita Ini Keluhkan Regulasi Delta Airlines
“Saya ingin mengakui karena saya sangat menyadari ketidakadilan yang serius dan sangat menyakitkan yang terjadi di dunia dan komunitas kami, saya telah bergumul dengan berbagi pengalaman saya. Sepertinya kecil dalam menghadapi hal-hal itu. Tetapi yang kecil itu penting dan hal-hal kecil yang tidak terkendali,” ujarnya.
Insiden ini sendiri terjadi pada 23 Juni 2018 dalam penerbangan dari Bandara Fort Wayne di Indiana, Amerika Serikat. Terkait insiden ini pun Delta Airlines melalui seorang juru bicaranya menyebutkan bahwa hwapenerbangan tersebut merupakan penerangan lanjutan yang dioperasikan SkyWest Airlines. Masalah ini pun ditanggapi SkyWest dan melakukan peninjauan serta penyelidikan terhadap rekaman insiden itu.
Bus Otonom Apolong Baidu Level 4 Meluncur Secara Global di 2019
Kendaraan otonom atau tanpa awak saat ini semakin dikembangkan untuk dioperasikan di jalanan. Salah satu perusahaan yang mengembangkannya adalah Baidu yang merupakan mesin pencari asal Cina yang menjadi saingan Google.
Baca juga: Hadirkan Bus Otonom, Ericsson Gandeng Perusahaan Lokal Swedia
Baidu baru saja mengumumkan mini bus yang dibuatnya dan terhubung ke server mereka. Bus yang disebut Apolong tersebut kini tengah diproduksi sebanyak 100 unit. Dengan ini bus listrik otonom tersebut menjadi yang pertama dengan produksi yang cukup banyak dari Baidu.
KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (5/7/2018), bus ini akan digunakan sebagai bus antar jemput di Cina sebelum diluncurkan secara global pada 2019 mendatang.
“Tahun 2018 menandai tahun pertama komersialisasi untuk mengemudi otonom. Dari volume produksi Apolong, kita dapat benar-benar melihat bahwa mengemudi otonom membuat langkah besar mengambil industri dari nol ke satu,” ujar Robin Liu dari Baidu.
Bus otonom yang saat ini dibuat oleh King Long merupakan Apolong level 4 dan menggerakan dirinya sendiri melalui platform terbuka Apollo yang dikembangkan oleh mesin pencari Baidu. Saat ini versi 3.0 sistem Apollo sudah mengumpulkan lebih dari 220 ribu baris kode melalui sepuluh ribu pengembang sejak diluncurkannya pada tahun lalu.
Tak hanya itu, pembuatan Apollo 3.0 sendiri melibatkan 116 mitra global dari bidang otomotif maupun teknologi. Bus Apolong ini sendiri diketahui telah dikembangkan sejak Oktober 2017 lalu dan mampu mengangkut 14 penumpang.
Bus otonom itu sendiri dilengkapi dengan Array sensor di dalamnya yang mencakup sistem radar, sensor laser, radar gelombang militer dan model kamera HRD serta stereo. Bus tersebut juga memiliki material dari bahan komposit ringan dengan kaca melengkung ke atas dan memiliki pintu otomatis yang lebar.
Baca juga: Pangkas Human Error, Nanyang University Gandeng Volvo Hadirkan Bus Otonom
Mini bus Apolong otonom sendiri di produksi di Xianmen di Provinsi Fujian, Cina Tenggara. Debut pertamanya akan dimulai di konferensi World Baidu di Beijing pada November 2018 mendatang.
Pada debutnya disebutkan jadwal beroperasinya di beberapa kota di Cina termasuk Beijing dan Shenzhen. Bus tersebut akan berada di kawasan seperti taman, perkantoran dan bandara. Peluncuran secara globalnya akan dimulai perdana di Jepang yang bermitra dengan SB Drive.
“Di Jepang, transportasi publik menghadapi sejumlah tantangan, termasuk pengurangan jaringan lalu lintas, kekurangan pengemudi dan penuaan pengemudi. Kami berharap teknologi self-driving akan menyelesaikan masalah ini dalam waktu dekat. Peluncuran Apolong adalah langkah penting untuk mempertahankan transportasi umum di Jepang,” kata Yuki Saji dari SB Drive.
Lintasi Hutan di Karawang, Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Optimis Tuntas Akhir Tahun
Pemberitaan mengenai proyek Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) yang rencananya akan menghubungkan Jakarta dengan Bandung sudah santer hingga ke luar negeri. Namun sayangnya, proyek yang merupakan bentuk kerja sama antara Indonesia dengan Cina ini hingga kini masih masuk ke dalam kategori mangkrak. Soal pembebasan lahan menjadi senjata utama PT KCIC dalam menjawab banyaknya pertanyaan dari warga Indonesia yang menantikan kehadiran dari jenis kereta cepat pertama di kawasan Asia Tenggara ini.
Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan
Kendati warga Indonesia sendiri nampaknya sudah mulai pesimis dengan kelanjutan proyek ini, namun lain cerita dengan yang diutarakan oleh pihak China Railway Corp (CRC) selaku kontraktor. Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kontraktor yang juga menunggangi beberapa proyek kereta di daratan Eropa ini mengatakan bahwa proyek KCIC akan segera berjalan. “Kemajuan proyek sudah sampai tahap pembangunan 22 lokasi konstruksi, walaupun masih ada beberapa masalah terkati perizinan dan pembiayaan,” tutur pihak CRC, dikutip dari laman railway-technology.com (3/7/2018).
PT KCIC sendiri mencatat pembebasan lahan pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung hingga saat ini baru mencapai 86 km atau 60% dari total kebutuhan lahan yang mencapai 143 km. “40 persen sisa pembebasan lahan kereta cepat harus selesai tahun ini. Kalau mau cepat selesai harus selesai dong lahannya,” tutur Direktur Utama PT KCIC, Chandra Dwiputra. “Kami lihat sekarang yang kerjakan siapa, kontraktor yang sudah biasa mengerjakan di Cina, biasa mengerjakan ini. Harus optimis dong, kecuali yang bangun baru belajar,” imbuhnya.
Senada dengan Chandra, Menteri BUMN Rini Soemarno pun melontarkan pernyataan yang serupa. “Harus tahun ini selesai, kalau mau cepat selesai harus selesai semua lahannya tahun ini,” ungkap Rini dikutip dari laman liputan6.com (3/6/2018).
Baca Juga: Menteri Rini: “Jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Dilengkapi 13 Terowongan”
Sementara itu, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, meminta proyek pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung memperhatikan daya resapan air. “Pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung itu melintasi daerah kawasan hutan di Karawang,” kata Kepala Bappeda Kabupaten Karawang, Eka Sanatha (3/7/2018). Hal tersebut dimaksudkan agar proyek bisa tetap berjalan dan warga Karawang dapat tercegah dari bencana banjir yang mengancam apabila para pemangku kepentingan terkait tidak memperhatikan perihal daya resapan air tersebut.
Tiga Inovasi ‘Otonom’ di Bandara Internasional Changi Tuai Banyak Pujian
Seolah sudah menjadi sebuah risiko dimana minat dan tren dunia aviasi global yang terus menanjak, maka peningkatan di sektor infrastuktur pun harus mulai digenjot sedini mungkin. Wajar saja jika pemberitaan seputar dunia transportasi udara belakangan ini selalu menyinggung soal pengadaan terminal baru atau pemberdayaan robot di beberapa terminal. Semua itu dilakukan semata-mata hanya untuk menampung dan melayani para penumpang yang diperkirakan akan terus merangkak naik setiap kuartalnya.
Baca Juga: Trafik Penumpang Terus Melesat, Bandara Shenzhen Siap Operasikan Sistem Kereta Otonom
Seperti yang sudah disinggung di atas, pemberdayaan beragam inovasi baru pun sudah dapat Anda jumpai di Indonesia, seperti counter self check-in Garuda Indonesia di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta. Lalu, bagaimana dengan negara-negara lain? Tentu beberapa dari mereka sudah lebih maju ketimbang Ibu Pertiwi. Sebut saja Bandara Incheon di Korea Selatan yang mempekerjakan beberapa robot di terminalnya, dan yang baru-baru ini mengundang decak kagum warganet adalah Bandara Internasional Changi, Singapura.
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (17/6/2018), salah satu bandara tersibuk di kawasan Asia ini memperkenalkan sejumlah moda otonom untuk disandingkan dengan tenaga manusia. Tidak hanya di dalam terminal, namun otomatisasi ini pun terjadi di tarmak Bandara Internasional Changi.
Seperti yang kita ketahui bersama, ada banyak sekali checklist yang harus dilakukan oleh pilot sebelum mengudara, sebut saja dokumen pra-penerbangan yang harus disertifikasi dan ditandatangani oleh sang kapten. Alih-alih mempekerjakan tenaga manusia dalam tugas ini, Bandara Internasional Changi lantas memberdayakan kendaraan otonom. Hasilnya pun tidak mengecewakan, kendaraan yang mengambil alih porsi kerja manusia ini pun menuai pujian dari banyak pihak.
Selain itu, ada juga kendaraan otonom terpandu yang menggiring Load Device (LD) menuju pintu kargo. Teknologi ini pun berpotensi untuk menggantikan peran dari towing car yang selama ini masih dioperasikan oleh tenaga manusia.
Baca Juga: Panasonic Uji Coba Kursi Roda Otonom di Bandara Haneda
Satu lagi yang menyita perhatian banyak orang adalah kursi roda pintar, yang dapat digunakan oleh penumpang lanjut usia atau penyandang disabilitas untuk masuk ke dalam pesawat dari ruang tunggu. Alih-alih seorang staf harus mendorong satu kursi roda, kini seorang staf bisa langsung mengontrol tiga kursi roda sekaligus. Untuk urusan kursi roda otonom ini, Bandara Internasional Changi bekerja sama dengan penyedia layanan ground-handling setempat, SATS.
Dua Stasiun di India Siap Jadi ‘Kelinci Percobaan’ Sistem Keamanan Asal Israel
Operator kereta api asal Negari Anak Benua, Indian Railways rencananya akan meningkatkan sistem keamanan di dalam jaringannya. Bekerja sama dengan pihak Israel, penggunaan teknologi ini juga disinyalir mampu memberikan keleluasaan bagi para penggunanya untuk mengambil langkah-langkah pengendalian massa menggunakan Artificial Intelligence (AI). Menindaklanjuti gagasan tersebut, Ketua Dewan Perkeretaapian India, Ashwani Lohani telah memberikan lampu hijau kepada sang operator untuk ‘mengeksekusi’ proyek percontohan ini.
Baca Juga: Demi Aman dan Nyaman, Bus di India Ini Gunakan Teknologi Pemindai Wajah
Sebagaimana yang dilansir KabarPenuampang.com dari laman dnaindia.com (28/6/2018), adapun stasiun yang akan dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk proyek ini adalah Stasiun Thane dan Kalyan. Saat ini, Central Railways tengah melihat replikasi teknologi yang digunaakn Israel di ruang publik. Secara keseluruhan, nantinya teknologi ini mirip seperti Closed Circuit Television (CCTV), namun lebih kompleks dan canggih.
Dalam hal peringatan keamanan, sistem juga akan meningkatkan kemampuan untuk mengindentifikasi sebagian dan atau semua orang dengan cara memasukan rincian data wajah ke dalam sistem. Sistem juga mampu menampilkan rincian lain dari para penumpang, contohnya adalah waktu kunjung mereka ke stasiun. “Durasi kunjungan mereka pun akan dicatat oleh sistem,” ujar salah seorang pejabat Central Railways.
Pejabat tersebut pun mengakui bahwa sistem keamanan terintegrasi yang saat ini berkembang di luaran sana masih belum memiliki sejumlah fitur futuristik tersebut. “Hal ini dikarenakan sistem keamanan terbaik di dunia yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan tengah dikembangkan di Israel, dan kami bekerja sama dengan salah satu perusahaannya,” tandas sang pejabat.
Menyinggung soal pengendali massa, nantinya teknologi berbasis kamera pengawas ini dapat menyorot titik-titik kepadatan yang ada di dalam maupun luar rangkaian kereta api. Setelah itu, para petugas kereta akan mendatangi titik kepadatan dan berupaya untuk mengurainya. Terdengar sederhana namun dapat berpengaruh besar terhadap kondisi di sekitar lokasi pemasangan.
Baca Juga: Tingkatkan Keselamatan, Otoritas Transportasi India Siap Sodorkan QR Code untuk Penumpang
Setelah mendapat lampu hijau dari Ketua Dewan Perkeretaapian India, kini Central Railways hanya tinggal menunggu sistem tersebut rampung dikembangkan. “Rencananya kami akan memasangnya sebelum akhir musim hujan ini,” kata SK Jain, Manajer Kereta Api Divisional (Mumbai) di Central Railway.
