Menjadi salah satu hub transit terbesar dan tersibuk di dunia, Bandara Internasional Dubai setiap tahunnya memiliki 50 juta penumpang transit per tahunnya. Tahun lalu diketahui sebesar 70 persen penumpang di bandara Dubai merupakan penumpang transit bukan yang akan melancong di negara Uni Emirat Arab tersebut.
Baca juga: Wow! Tujuh Bandara Ini Punya Fasilitas Tur Gratis
Hal ini membuat bandara Dubai membuat proposal terkait pengalaman para pelancong yang transit lebih dari empat jam untuk merasakan keindahan kota Dubai meski dalam waktu singkat. Adanya keinginan ini seperti di beberapa bandara yakni salah satunya Singapura yang memberikan tour atau perjalanan singkat di negara tersebut selama pelancong menunggu.
KabarPenumpang.com melansir dari laman gulfbusiness.com (8/5/2018), proyek ini bernama Microcosm of Dubai dimana ini merupakan bagian dari Dubai 10X Initiative dan berada dibawah pengawasan Dubai Future Foundation. Kerja sama ini nantinya akan memberikan pengalaman pelancong transit baik untuk menikmati bandara Dubai maupun daerah di luar bandara.
Inisiatif ini juga hadir untuk mencakup peluang bagi penumpang yang memiliki waktu transit kurang dari empat jam agar mengeksplorasi apa yang ditawarkan kota Dubai melalui realitas virtual interaktif dan tampilan budaya di bandara. CEO Bandara Dubai, Paul Griffiths mengatakan, dengan adanya ini pihak maskapai perlu membuang pemikiran masa lalu dan harus terlibat lebih baik dengan para pelancong melalui proyek tersebut.
Proyek Microcosm of Dubai sendiri memungkinkan ratusan ribu penumpang yang melakukan perjalanan melalui bandara Dubai memiliki pengalaman yang baru.
“Jika mereka memiliki waktu transit melebihi empat jam, pelancong akan memiliki pilihan untuk tur ke kota Dubai,” ujar Paul.
Baca juga: Saking Nyamannya, 9 Bandara Ini Buat Penunjungnya Lupa Pulang
Bulan April lalu, Dewan Kementerian UEA sudah menyetujui pembentukan komite sementara untuk menyiapkan kebijakan visa transit di negara itu. Nantinya dengan visa transit ini, para pelancong bisa terhubung dengan kota Dubai alias bisa meninggalkan bandara sementara sambil menunggu keberangkatan pesawat.
Sebelum adanya proyek ini, pengalaman para penumpang hanya terbatas di bandara dengan sekedar berbelanja makanan dan barang-barang yang dijual ritel bandara. Rata-rata pengeluaran mereka di bandara Dubai hanya sekitar 9 AED atau setara dengan Rp34 ribu, sedangkan pengeluaran pelancong di kota Dubai adalah 966 AED atau sekitar Rp3,7 juta.
Bencana bisa muncul dimana saja, tak terkecuali di stasiun kereta api, seperti terjadi di India baru-baru ini saat vending machine atau mesin tiket otomatis tidak berfungsi mengeluarkan tiket. Apalagi hal tersebut harus terjadi disaat jam sibuk dan menjadi bencana serta cobaan bagi para penumpang.
Baca juga: Tiket Kereta Murah ala Cross Country Trains? Ini Triknya!KabarPenumpang.com melansir dari laman newindianexpress.com (8/5/2018), bahwa sebuah mesin tiket otomatis di Chennai Moore Market Complex (MMC) mati sehingga banyak penumpang yang memesan tiket kertas melalui aplikasi seluler Unreserved Ticketing System on Mobile (UTS) tidak bisa mendapatkan tiket mereka. Hal ini dikarenakan saat akan melakukan penukaran tiket, mesin selalu gagal mengeluarkannya.
Tak hanya itu, sebagian besar penumpang lainnya mau tak mau harus kembali mengantre untuk mendapatkan tiket mereka dengan membeli manual di loket. Sebenarnya, aplikasi UTS tersebut dibuat untuk mengurangi kesulitan penumpang saat akan membeli tiket di pinggiran kota dan tiket cepat pada jam sibuk.
ilustrasi penumpang saat akan mencetak tiket di mesin otomatis (www.newindianexpress.com)
Aplikasi ini sendiri diluncurkan oleh Southern Railway (SR) pada 2015 lalu. UTS sendiri menyediakan opsi pembelian tiket tanpa kertas atau menggunakan kertas dan penumpang yang memilih tiket tanpa kertas harus menunjukkan ponsel mereka di pemeriksaan tiket.
Sedangkan pengguna tiket kertas harus mencetaknya pada mesin otomatis penjualan tiket di stasiun atau mobile ticket vending machines (MTVM). Aplikasi ini sendiri mendapat tanggapan luar biasa dari sebagaian pelancong yang berasal dari pinggiran kota, karena mereka tak harus mencetak tiket kertas.
Permasalahannya adalah saat penumpang memilih untuk mencetak tiket mereka yang di pesan melalui aplikasi. Saat akan mencetak tiket, ternyata enam mesin penjual tiket otomatis yang ada di MMC sudah tidak berfungsi beberapa hari dan gangguan yang terjadi pada UTS sendiri membuat kesengsaraan penumpang bertambah.
Seorang penumpang S Gopal dari Thiruvallur yang memesan tiket dari Chennai ke Avadi mengatakan, dirinya terpaksa mengikhlaskan uang tiketnya karena mesin yang tak berfungsi saat akan mencetak tiket tersebut.
“Setelah saya memasukkan rincian tiket di MTVM, saya tidak mendapatkan apapun untuk sementara waktu dan kemudian tertulis menerima kesalahan pesan. Saat ini saya bertanya kepada petugas stasiun dan saya diminta untuk menunjukkan rincian tiket ke petugas di loket setelah menunggu dalam antrean, petugas mengatakan tiket dalam proses,” ujar Gopal.
Dia mengaku sempat mempermasalahkan hal tersebut dan petugas meminta dirinya menunggu 15 menit selama petugas membuka mesin untuk memverifikasi tiket. Sayangnya, Gopal saat itu menolak dan membeli tiket baru di loket. Tak hanya Gopal, penumpang kereta api lainnya pun banyak juga yang kecewa saat tiket mereka tidak keluar dari mesin.
Baca juga: Tap Ponsel Pintar, Satu Detik Masuk Stasiun Tanpa Antri Tiket
“Saya berlari ke loket untuk mendapatkan kereta Katpadi setelah 20 menit mesin cetak tiket gagal mengeluarkan tiket. Kami tidak bisa mengandalkan tiket tanpa kertas di ponsel. Seandainya saya membeli tiket melalui loket, saya akan mendapat tiket dalam waktu singkat,” ujar R Rajendra.
Terkait masalah tak mencetaknya mesin otmatis, pihak SR mengatakan, masalah tersebut sudah ditangani departemen terkait untuk diperbaiki dan mesin akan bisa kembali digunakan.
Asal muasal jaringan kereta di dunia bermula dari Inggris, maka wajar jika sejarah perkeretaapian di Inggris amat kental dengan perkembangan beragam jenis kereta dan stasiun sebagai infrastruktur pendukung. Namun ternyata, tidak semua stasiun di Inggris adalah tempat yang menarik untuk di datangi dalam memudahkan perjalanan penumpang.
Baca juga: Menyoal Kepadatan Penumpang Kereta di Inggris, Desainer ini Adopsi Konsep Kursi Bar dan Jemuran
Glasgow Queen Street adalah salah satu stasiun yang paling tidak populer di Inggris menurut data baru-baru ini. Setidaknya ada 58 persen penumpang yang mengatakan puas dengan pelayanan Glas Queen Street dari hasil survei yang dilakukan pengawas kereta independen Transport Focus.
KabarPenumpang.com melansir dari laman telegraph.co.uk (7/5/2018), hasil tersebut didapat Transport Focus setelah mensurvei lebih dari 28 ribu penumpang dengan 56 stasiun. Survei ini sendiri dilakukan pada bulan September dan November 2017 tak lama setelah proyek modernisasi senilai £100 juta atau sekitar Rp1,9 miliar dimulai di Glasgow Queen Street.
Penasihat penjualan dari Stirling, Cameron MacIntosh mengatakan, stasiun ini seperti situs bom mutlak sekarang dan benar-benar terlihat seperti dunia ketiga. Tak hanya itu seorang teknisi bernama John McInnes mengatakan, dirinya berharap pemeritah akan menyelesaikan stasiun ini karena terlihat seperti bencana baru.
“Memalukan membawa teman atau relasi ke sini. Mereka tidak dapat mempercayai kekacauan tempat ini,” ujar McInnes.
Lain lagi dengan Margaret McGinley seorang resepsionis yang mengatakan, stasiun tersebut akan terlihat buruk untuk sementara waktu. Tetapi dirinya berpikir ini akan menakjubkan ketika renovasi selesai dikerjakan.
Sedangkan menurut Transport Focus, prioritas utama penumpang pada stasiun yang dikunjunginya adalah terkait masalah informasi kedatangan kereta, ruang tunggu, tampilan stasiun secara keseluruhan dan nuansa di stasiun itu sendiri. Tak hanya Glasgow Queen Street, di tempat kedua adalah stasiun yang melayani bandara Gatwick kemudian Oxford dan Clapham Junction.
Untuk Gatwick sendiri nilai kepuasannya hanya 66 persen, Oxford 67 persen dan Clapham Junction 69 persen. Selain itu ternyata Glasgow Queen Street merupakan stasiun tersibuk ketiga di Skotlandia dan menangani sekitar 20 juta penumpang per tahunnya.
Nantinya setelah direnovasi, pihak pemerintah berharap stasiun ini mampu melayani 28 juta penumpang pada 2030 mendatang. Berdasarkan rencana yang sudah disusun, stasiun ini akan selesai pembangunan dan renovasi pada Juni 2019 mendatang.
Baca juga: Mudahkan Penumpang Cari Kursi Kosong, Mulai September 2018 Kereta Komuter Inggris Gunakan Sensor
“Sementara Glasgow Queen Street sedang dibangun kembali penting bahwa Aliansi ScotRail terus berbicara dengan penumpang tentang perbaikan dan memastikan staf siap untuk membantu,” ujar kepala eksekutif Transport Focus Anthony Smith.
Diketahui, bukan hanya stasiun yang buruk tetapi ada juga stasiun yang memiliki kepuasan tertinggi. Empat stasiun teratas tersebut adalah London King’s Cross, London St Pancras, Birmingham New Street dan Reading, yang semuanya memiliki peringkat kepuasan di atas 90 persen.
Seorang penumpang mengklaim tasnya rusak dan seluruh isi yang ada didalamnya hancur pada liburan Paskah lalu. Diduga tas itu rusak karena terjatuh dari mobil pembawa kendaraan barang-barang kargo pesawat sebelum ke klaim bagasi di bandara.
Baca juga: Koper Dirusak Oknum Tidak Dikenal, Penumpang ini Sebut Bandara I Gusti Ngurah Rai Jadi Lokasi PerusakkanKabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (10/5/2018), bahwa Melissa Chung penumpang yang mengklaim tasnya rusak saat menggunakan pesawat Qantas dengan rute domestik dari Melbourne ke Perth. Insiden kerusakan tas yang berisikan pakaian, kosmetik dan laptop tersebut diperkirakan membuat Melissa rugi senilai £1600 atau sekitar Rp30,5 juta.
Hal ini membuatnya tidak memiliki apa-apa dalam perjalanannya tersebut. Kemudian sebulan setelah kejadian itu, dia pun masih berjuang untuk mendapatkan respon dari Qantas. Sayangnya, perusahaan penerbangan Australia tersebut menolak memberikan kompensai untuk laptop dan kosmetik tersebut.
“Saya berharap ada penyelesaian yang baik. Apa gunanya terbang dengan Qantas dibanding maskapai berbiaya rendah lain ketika pelayanan pelanggang mengerikan seperti ini?” ujar Melissa.
Melissa mengatakan, tasnya berada di dalam kantong plastik besar saat di claim bagasi. Saat dia mengambilnya ternyata semua dalam keadaan tak utuh lagi seperti tersangkut di bawah roda.
“Gaun dan pakaian robek dengan kondisi tas compang-camping dan hampir tidak utuh. Laptop saya pun hancur, kosmetik yang ada didalam tas pun rusak,” jelasnya.
Saat melakukan klaim awal, staf Qantas mengatakan untuk mengambil asuransi, namun Melissa tidak mengambil asuransi dikarenakan penerbangan domestik. Sehingga jika terjadi apa-apa dengan barangnya asuransi bisa mengklaim hal tersebut.
“Staf Qantas di Perth tidak terlalu membantu dan berkata saya harus mengklain pada asuransi. Tetapi saya gunakan penerbangan domestik sehingga tidak memiliki asuansi. Saya pikir tidak masuk akal untuk mengharapkan orang-orang memiliki asuransi perjalanan untuk penerbangan domestik. Mereka telah meminta saya untuk memberikan kwitansi asli untuk tas itu, tetapi saya tidak membawa dan mereka mengatakan bahwa mereka sedang memeriksanya sehingga dapat diperbaiki, yang menurut saya merupakan tekanan besar karena sudah rusak,” kata Melissa.
Baca juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya
Melissa sempat diberitahu jika Qantas tidak akan bertanggung jawab atas laptonya, karena tidak diperbolehkan di dalam bagasi. Kebijakan tersebut juga mengingatkan agar penumpang tidak mengemas barang mereka yang rapuh dan mudah rusak, barang berharga seperti uang, perhiasan, dokumen berharga atau bisnis serta peralatan elektronik tidak dimasukkan dalam bagasi kargo.
Juru bicara Qantas mengatakan terkait hal klaim kerusakan barang yang di alami Melissa, pihaknya akan menyelidiki kerusakan tersebut. “Kami menyesal tentang kerusakan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” ujar juru bicara tersebut.
Kelahiran seorang anak pastinya sangat ditunggu oleh kedua orang tuanya dan biasa waktu sang istri melahirkan, suami akan ada di sisinya untuk menemani. Namun apa jadinya jika tak bisa menemani istri lahiran karena keterlambatan pesawat yang akan ditumpangi?
Baca juga: Terjadi Kecelakaan, 20 Lebih Penerbangan di Bandara Heathrow London Tertunda
Hal ini terjadi pada seorang tentara yang mengalami penundaan penerbangan pada 5 Mei 2018 kemarin. Brooks Lindsey terlihat duduk di lantai Terminal B Bandara Internasional Dallas Fort Worth (DFW) dan mengeluarkan ponselnya.
KabarPenumpang.com merangkum dari laman people.com (10/5/2018), mungkin saat seseorang mengeluarkan ponsel karena terlambat biasanya menonton Youtube atau memainkan permainan yang ada di ponselnya. Tetapi tidak dengan Lindsey dimana dirinya menyaksikan sesuatu yang mengubah hidupnya yakni kelahiran seorang putri yang ditunggu dirinya dan sang istri.
(Facebook Tracey Dover)
Melihat Lindsey dengan perasaan emosionalnya membuat hati penumpang lain di bandara termasuk Tracey Dover mengabadikan momen istimewa tersebut melalui ponselnya.
“Saya melihat ke atas dan saya melihat dia duduk di sana dan dia sedang berbicara di telepon. Lalu saya mendengar suara yang berasal dari telepon yang terdengar seperti dokter dan perawat, dan seseorang yang memiliki bayi. Saya lihat, ‘ Ya ampun, istrinya sedang tidur di telepon! ’Dia duduk di sana menyeka matanya dan hati saya patah. Saya ingin memperbaikinya begitu buruk baginya, dan tidak ada yang bisa kami lakukan selain membiarkannya memiliki waktu,” ujar Dover.
Kemudian semua penumpang yang melihat Lindsey tetap tenang memberikan waktu untuk sang tentara itu untuk menikmati masa-masa bahagianya.
“Begitu dia selesai, dia melompat dan kami semua bersorak. Kami berpelukan. Semua orang memeluknya dan menepuk pundaknya. Semua orang berbicara dengannya dan dia berseri-seri. Dia hanya memiliki senyum yang besar dan dia hanya berseri-seri dan semua orang bersemangat untuknya,” kenang Dover.
Keesokan paginya, Dover kemudian mengunggah foto-foto Lindsey yang masih menggunakan seragam Angkatan Daratnya ke media sosial. Hal ini dilakukan Dover, karena dia berharap agar masyarakat tahu pengorbanan anggota militer untuk negara mereka.
Brook Lindsey dengan Haley dan Millie sang putri (Facebook)
“Itu benar-benar memaknai hati, selama ini kami sangat fokus pada hal-hal negatif dan itu benar-benar semua yang pernah kami lihat,” katanya. “Kami melupakan orang-orang ini dan apa yang mereka lakukan untuk kami dan apa yang mereka korbankan untuk kami,” kata Dover.
Dengan postingan Dover di lama Facebooknya, membuat foto Lindsey menjadi viral dan mendapatkan lebih dari 124 ribu dibagikan dan 228 ribu reaksi. Diketahui saat itu Lindsey berusaha secepatnya berangkat dari pangkalan di Texas kembali ke Brandon di Mississippi karena istrinya Haley sedang hamil tua dan mengalami induksi darurat yang disebabkan tekanan darah tinggi serta preeklampsia.
Baca juga: Beberapa Mitos Seputar Hak Calon Penumpang Pesawat
Lindsey sendiri merupakan anggota dari Batalyon 2, Resimen Artileri Lapangan 114 dari Angkatan Darat Amerka Serikat. Saat itu dirinya hanya memiliki empat hari dengan putrinya yang baru lahir dan diberi nama Millie.
Dover mengatakan dia telah melakukan kontak dengan Lindsey dan Haley sejak fotonya menjadi viral dan dia bahkan memiliki rencana untuk bertemu dengannya di kemudian hari.
Karena berpotensi pada masalah keselamatan dalam penerbangan, maka pisau, gunting dan benda tajam lainnya tak diizinkan dibawa dalam tas jinjing penumpang pesawat. Apalagi dengan pistol lebih tidak diperbolehkan lagi, karena senjata api yang satu ini dianggap berbahaya bahkan si empunya bisa saja di anggap teroris.
Baca juga: Gigih Lawan Petugas Keamanan Bandara, Penumpang American Airlines Diamankan Polisi MiamiKabarPenumpang.com melansir dari laman foxnews.com (8/5/2018), seorang penumpang wanita diamankan di Bandara Internasional Richmond setelah petugas Administrasi Keamanan Transportasi atau Transportation Security Administration (TSA) menemukan sebuah pistol berwana merah muda di dalam tas jinjingnya. Pistol 9 milimeter tersebut bermuatan delapan peluru dan terdeteksi saat tas melalui mesin pemindai di pemeriksaan keamanan TSA.
Wanita yang tidak disebutkan namanya tersebut diketahui memiliki tiket tujuan Bandara Internasional John F Kennedy di New York saat kedapatan membawa senjata merah muda itu. Dengan kedapatan pistol ini, pejabat TSA kemudian mengingatkan kembali pada para penumpang melalui Twitter, bahwa pistol dengan warna apapun tetap tidak diizinkan masuk melalui pos pemeriksaan TSA.
“Hey lady, pistol hot pink Anda mungkin berwarna-warni, tetapi masih tidak diizinkan melewati pos pemeriksaan @TSA! Dilarang memakai warna pink! Pistol yang terisi penuh dan peluru berujung pink ini terlihat di tas jinjing di Bandara Richmond Int’l kemarin. Hasilnya: musafir itu ditangkap. @ Flack4RIC”,” ujar TSA melalui akun Twitternya.
Sebenarnya pistol diizinkan dibawa bepergian tetapi harus dikemas dalam kotak yang terkunci, masuk dalam tas yang akan dibawa ke bagasi kargo, memiliki sertifikat atau terdaftar dan terpisah dengan amunisi atau pelurunya. Peraturan ini jelas ada di situs web milik TSA untuk pembawa senjata.
Baca juga: Buat Simbol “Red Raider” Mahasiswi Cantik Digelandang Petugas Bandara
Diketahui, ternyata penemuan pistol sudah keempat kalinya terjadi dan disita oleh petugas TSA di pos pemeriksaan keamanan bandara Richmond tahun 2018 ini. Nantinya jika senjata ditemukan dalam tas atau barang lain maka penumpang akan dikenakan denda hingga US$13 ribu atau sekita Rp18,3 juta. Tak hanya itu jika penumpang membawa senjata dan tidak memiliki izin jelas maka bisa dikenakan sanksi hukuman penjara.
Ternyata pada April 2018 kemarin, seorang pria juga diamankan petugas TSA karena membawa pistol di tas jinjingnya di Bandara Internasional Bradley. Matthew English ditangkap polisi Negara Bagian Connecticut setelah TSA menemukan kaliber Sig Sauer 0,40 dengan peluru yang dimuat saat pemeriksaan pos keamanan.
Sejak tahun 2012 lalu, Kementerian Perhubungan, Kementerian Riset dan Teknologi serta Kemneterian BUMN memasang persinyalan kereta api Computer Based Interlocking (CBI) alias SIL-03 pertama di Indonesia. Pemasangan sistem persinyalan ini pertama kali di gunakan di stasiun Gumilir, Cilacap, Jawa Tengah.
Baca juga:Stasiun Sruweng, Ternyata Punya Musik Berbeda dari Stasiun Lainnya Loh!
Diketahui, sistem CBI ini sendiri merupakan sistem persinyalan paling modern saat ini. KabarPenumpang.com mendapatkan data bahwa, pemilihan stasiun Gumilir sendiri karena berada di percabangan jalur KA strategis ke arah stasiun Cilacap yang dekat dengan kilang minyak Pertamina RU IV Cilacap dan stasiun Karangtalun yang berada dekat pabrik semen PT Holcim Indonesia serta stasiun Maos yang merupakan persinggahan KA lintas selatan Bandung-Solo-Surabaya.
Pemasangan CBI ini juga merupakan wujud dukungan sepenuhnya dari Kemenhub sebagai pengguna teknologi untuk mendorong teknologi nasional dan meningkatkan peran industri perkeretaapian dalam negeri dan pengembangan produk persinyalan yang lebih kompetitif. Hadirnya CBI sendiri untuk meneruskan program pengembangan di bidang persinyalan kereta api dalam rangka mencapai target perjalanan kereta api zero accident atau nol kecelakaan.
Menteri Perhubungan E.E Mangindaan saat itu mengatakan alat ini tidak pernah mengantuk karena sistem mekanik dampaknya lebih kelihatan dari sistem operasi kereta itu sendiri dan keamanan lebih terjamin dari pada manusianya. Sistem CBI ini merupakan buatan anak bangsa yang dikembangkan oleh PT LEN dan digunakan oleh PT KAI bukan CBI yang diimpor dari luar negeri.
Stasiun Gumilir sendiri bukanlah stasiun besar melainkan stasiun kereta api kelas III atau kecil dan berada di ketinggian +7 meter. Stasiun tersebut masuk dalam Daerah Operasional V Purwokerto dan memiliki dua jalur kereta dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah Maos dan Cilacap sedangkan jalur 2 merupakan sepur lurus arah Karangtalun.
Baca juga: Setelah Baso, Butuh, dan Tanggung, Kapas Juga Ternyata Nama Stasiun Kereta!
Setelah adanya sistem persinyalan baru ini diganti dengan persinyalan elektrik tersebut, jalur stasiun Gumilar bertambah menjadi empat. Sejak 1 Agustus 2015, KA Purwojaya sebagai satu-satunya KA penumpang yang melewati jalur KA Maos-Cilacap tidak berhenti lagi melayani penumpang di stasiun ini.
Hal tersebut dikarenakan, stasiun ini dinilai masih belum steril dari para penumpang gelap yang dulunya sering naik-turun KA tersebut tanpa memiliki tiketnya. Otomatis sejak saat itu stasiun ini hanya melayani KA barang dan persilangan atau persusulan antarkereta api saja.
Jepang selalu memiliki cerita unik yang berkaitan dengan salah satu moda transportasinya yang mendunia, yaitu kereta. Kali ini bukan berita tentang perkembangan teranyar dari jaringan kereta di Negeri Sakura atau inovasi terbaru yang berkaitan dengannya, melainkan berkaitan dengan penumpang dan hewan liar. Ya, baru-baru ini, jejaring sosial Twitter dihebohkan dengan seekor burung gagak yang mencoba untuk ‘mendampingi’ seorang penumpang yang hendak membeli tiket perjalanan.
Baca Juga: Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman nextshark.com (9/5/2018), seorang pengguna Twitter dengan nama akun @kinoshi42155049 mengunggah sebuah video pendek yang menunjukkan seekor burung gagak yang hinggap di mesin pembelian tiket. Di awal video, tampak burung yang identik dengan warna hitamnya tersebut asyik mematuk-matuk layar sentuh pada mesin tersebut hingga si layar berpindah menu beberapa kali.
Tak lama setelah asyik dengan mainan barunya tersebut, ia bergeser ke mesin sebelahnya, dimana seorang wanita berbaju abu-abu hendak memasukkan kartu kreditnya ke dalam mesin tersebut. Tanpa diduga-duga, si burung gagak merebut kartu tersebut dan sontak si empunya kartu kaget. Uniknya, si burung tersebut tampak mengerti apa yang harus ia lakukan agar mendapatkan tiket perjalanan.
Setelah berhasil mengambil kartu kredit wanita berbaju abu-abu itu, ia kembali ke mesin yang semula ia hinggapi dan mencoba memasukkan kartunya ke dalam. Sayangnya, si burung gagak kurang terlatih untuk melakukan hal tersebut. Tidak menyerah, ia terus mengupayakan beragam cara agar kartu kredit yang ia curi bisa masuk ke dalam mesin pembelian tiket, namun sayangnya ia selalu gagal.
Si burung pun tiada henti memandangi sekelilingnya guna mendapatkan bagaimana cara untuk memasukkan kartu tersebut. Namun upayanya tersebut sia-sia dan si burung malah meletakkan kartu tersebut di antara satu mesin dan mesin lainnya. Menganggap hal ini bukanlah sebuah gangguan, orang yang mengantri di belakang si burung gagak pun tetap sabar menunggu hingga burung yang kerap kali disangkutpautkan dengan kematian ini selesai melakukan transaksi pembelian tiketnya.
Baca Juga: KFC Jepang Hadirkan Varian Ayam Tak Beraroma Tajam untuk Komuters
Alih-alih menggebah untuk mengusirnya, si penumpang yang mengantri di belakang burung gagak ini mencoba untuk meminta kembali kartu wanita yang sebelumnya ia rebut. Mungkin burung ini sudah lelah berusaha, akhirnya ia mau memberikan kartu kredit yang sebelumnya ia ambil tersebut. Tidak ada keterangan lebih lanjut yang menyebutkan lokasi persis dari kejadian ini, namun video yang diunggah pada tanggal 1 Mei 2018 kemarin ini sudah disaksikan lebih dari 2,8 juta pengguna Twitter di seluruh dunia.
Masih ingatkah Anda dengan pertemuan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-In dan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un pada bulan April kemarin? Ya, peristiwa bersejarah tersebut menjadi tonggak penting hubungan bilateral antara kedua negara tersebut yang diketahui tidak akur sejak gencatan senjata terakhir pada 1953. Setelah menarik kesimpulan untuk berdamai dan melanjutkan proses denuklirisasi Semenanjung Korea, kedua negara sepakat untuk saling membangun satu sama lain.
Baca Juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara
Tidak terkecuali pembangunan bersama di sektor transportasi, Moon ingin melakukan perjalanan melalui eks negara komunis tertutup tersebut untuk mendaki Gunung Baekdu. Namun sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman citylab.com (4/5/2018), respon Kim menanggapi permintaan Moon tersebut sungguh di luar nalar.
“Jaringan transportasi kami (Kora Utara), jujur, tidaklah nyaman,” tukas Kim. Orang nomor satu di Korea Utara tersebut pun tidak canggung untuk memuji sistem kereta cepat di Korea Selatan. Jelas, pernyataan Kim tersebut bertentangan dengan propaganda rezim Korea Utara yang mahsyur dengan kealotannya. Secara tidak langsung, pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa Kim ingin meningkatkan ‘derajat’ jaringan perkeretaapian di negaranya. Sebagai bentuk kerja sama, Moon pun mendukung penuh rencana Kim tersebut.
Moon sendiri memiliki rencana “Peta Ekonomi Baru Semenanjung Korea”, dimana modernisasi kereta yang lebih dari sekadar proyek infrastuktur termasuk di dalamnya. Ia menambahkan bahwa rencana tersebut dapat menghubungkan Korea Utara dengan dunia yang selama ini terisolasi.
Sebagai langkah awal, proyek kereta api yang digariskan dalam Deklarasi Panmunjom akan menghubungkan kereta api dari Seoul ke Pyongyang, melewati Kaeseong di Utara. Pada akhirnya, itu akan berakhir di Shinuiju, Korea Utara, yang menghubungkan di perbatasan dengan Dandong, Tiongkok. Namun rencana pembaruan jaringan kereta di antara dua negara tersebut versi Korea Selatan bisa dibilang jauh lebih ambisius.
Mereka mencanangkan jalur tambahan untuk kereta berkecepatan tinggi dari Seoul ke Shinuiju melalui Pyongyang, berbarengan dengan modernisasi enam rel kereta api lainnya yang melintasi Korea Utara. Saat ini, rel di Korea Utara sudah sangat tua sehingga kereta hanya bisa mencapai rata-rata 50 kilometer per jam, dan dikhawatirkan rel akan patah ketika melintas dengan beban berat.
Dengan adanya perkuatan tersebut, maka diperkirakan kereta mampu melaju hingga kecepatan 100 kilometer per jam dan mampu melintas kendati membawa beban yang berat sekalipun. Diperkirakan, keseluruhan proyek tersebut akan menelan dana sekitar US$35 miliar atau yang setara dengan Rp493 triliun.
Baca Juga: Lakukan Perjalanan ke Beijing, Beginilah Kelebihan dari Kereta yang Bawa Kim Jong-un
Dampak yang paling signifikan dengan pengaplikasian rencana pembaruan dan pengadaan jaringan kereta tersebut adalah memungkinkan Korea Utara untuk menjadi jembatan antara kawasan Asia Timur dan Eropa. Pasalnya, persimpangan Shinuiju-Dandong merupakan pusat perdagangan Korea Utara dengan Cina, dimana dengan penambahan jalur kereta berkecepatan tinggi akan sangat membantu untuk memfasilitasi lebih banyak jalur perdagangan, dimana Korea Selatan pun turut berpartisipasi di dalamnya.
Tidak mau kalah dengan Bandara internasional Soekarno Hatta di Cengkareng, Bandara Adi Soemarmo yang berada di Solo pun akan menggunakan infrastruktur tambahan, yaitu kereta bandara. Nah, guna melancarkan pengadaan moda berbasis rel ini, otoritas terkait pun melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, seperti TNI Angkatan Udara dan masyarakat.
Baca Juga: Masterplan Pariwisata Terintegrasi Solo Raya di Inisiasi oleh PT Aggkasa Pura I
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa TNI AU akan menjadi tugas pemerintah pusat, sedangkan untuk masyarakat sendiri akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Budi melanjutkan bahwa pengadaan kereta bandara ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung konektivitas dan memenuhi kapasitas pengembangan infrastruktur.
“Bandara Adi Soemarmo pada tahun lalu naik 30 persen jumlah penumpangnya, tahun depan bisa naik 30 persen lagi, PT Angkasa Pura I sudah berencana membangun Bandara Adi Soemarmo menjadi bandara dengan kapasitas yang lebih besar, menjadi 3 juta penumpang persen tahun,” tutur Budi, dikutip dari laman liputan6.com (7/5/2018). “Saya tadi habis rapat mengenai KA Bandara Solo sekarang proses penyelesaian tanah. Untuk tender sudah selesai. Paling lambat Februari 2019 selesai,” imbuhnya.
Sementara itu, KabarPenumpang.com melansir dari sumber lain, PT INKA sendiri sebagai pihak penyedia rolling stock mengaku telah menyelesaikan pembuatan dua rangkaian Kereta Rel Diesel (KRD) yang dipesan oleh PT KAI guna ditempatkan di bandara berkode SOC tersebut. “Rencananya akan diresmikan (penggunannya oleh) Menteri Perhubungan di Solo pada Jumat (11/5/2018),” ujar General Manager Corporate Secretary PT INKA, I Ketut Astika, dikutip dari laman Kompas.com (8/5/2018).
I Ketut Astika sendiri menambahkan bahwa satu rangkaian kereta terdiri dari empat gerbong yang sudah diuji terlebih dahulu dan siap untuk digunakan. “Tinggal dikirim ke Solo untuk diresmikan,” tandasnya. Dengan rampungnya perakitan dua rangkaian kereta bandara Solo ini, maka perjanjian pengadaan rangkaian KRD dari PT KAI senilai Rp148 miliar (termasuk satu rangkaian untuk Bandara Internasional Minangkabau) sudah rampung.
Baca Juga: Ditargetkan Rampung di 2018, Presiden Jokowi Lakukan Ground Breaking Kereta Bandara di Solo
Untuk masalah pengiriman dari Madiun sendiri, PT INKA tinggal menunggu konfirmasi dari PT KAI. “Bila ada konfirmasi, kami langsung mengirimkannya ke Solo,” ujar I Ketut Astika. Ia membocorkan, setiap gerbong tersebut mampu menampung sekitar 100 penumpang dan dapat melaju hingga kecepatan maksimal 120km/jam.