Gunakan Armada ‘Sementara’, Menteri Transportasi Kamboja Resmikan Layanan Kereta Bandara

Tidak bisa dipungkiri, hadirnya layanan pemadu moda memang dapat memudahkan mobilitas penumpang yang hendak bertolak menuju prasarana transportasi satu dan lainnya, pun sebaliknya. Jika dari dalam negeri ada layanan JA Connexion milik Perum Damri, dimana salah satu rutenya menghubungkan Stasiun Gambir dan Bandara Internasional Soekarno Hatta, maka beda cerita dengan layanan yang ada di Kamboja. Baca Juga: Bus Bandara Kini Lewati Jalur Mall dan Hotel Jabodetabek Diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pada tanggal 10 April kemarin, Menteri Pekerjaan Umum dan Transportasi Kamboja, Sun Chanthol, secara resmi membuka layanan antar-jemput penumpang dari stasiun kereta utama yang berada di Monivong Boulevard, Phnom Penh menuju Phnom Penh International Airport. Sebagai ajang promosi Soft Launching, penumpang pun tidak akan dikenakan biaya hingga kereta ini mulai memasuki layanan penuh pada Juli 2018 mendatang.
Sun Chanthol. Sumber: voa
“Layanan kereta api (menuju) bandara akan membantu penumpang untuk melewati lalu lintas yang sibuk di jalan dari kota ke bandara,” tutur Sun Chanthol, dikutip dari laman khmertimeskh.com (10/4/2018). “Perjalanan sendiri diperkirakan memakan waktu 45 menit, dengan interval keberangkatan 20 menit sekali, 24 jam dalam sehari,” tambahnya. Perkara armada, Sun Chanthol mengatakan bahwa layanan ini akan digerakkan lokomotif diesel listrik dengan tiga unit gerbong, dimana dalam satu gerbong kereta dapat memuat 56 penumpang duduk, dan 45-50 penumpang berdiri. Ketika sudah memasuki layanan penuh Juli mendatang, Royal Railway selaku operator dari layanan ini pun akan mengganti armada kereta bandara ini dengan yang lebih canggih. Baca Juga: Mogok Dua Kali Saat Uji Coba, Inilah Sekilas Spesifikasi Kereta Bandara Soetta Adapun armada baru yang didatangkan langsung dari Meksiko ini dilengkapi dengan toilet, pintu otomatis, WiFi, televisi, dan dapat melaju hingga kecepatan 80 km per jam. Secara otomatis, estimasi waktu tempuh pun akan mengalami penyusutan menjadi 25 menit saja untuk menempuh jarak 9,6 km. Ketika ditanya mengenai harga yang kiranya akan diberlakukan layanan ini, baik Sun Chanthol maupun Kith Meng selaku pemilik dari Royal Group (induk perusahaan Royal Railways) enggan membubuhi komentar sepatah kata pun.

Adu Jotos Ketika Mabuk, Dua ‘Pegulat Amatir’ ini Nyaris Tertabrak Kereta!

Warga London yang berada di jaringan kereta bawah tanah Victoria Line, tepatnya di stasiun Green Park, menyaksikan secara langsung adegan perkelahian persis seperti yang ditayangkan pada film-film action. Bagaimana tidak, dua orang pria yang disinyalir tengah berada di bawah pengaruh minuman keras saling beradu bogem mentah sebelum akhirnya mereka berdua nyaris jatuh ke rel. Baca Juga: Dua Pria Terlibat Duel Sengit di Gerbong SMRT, Kepolisian Masih Selidiki Penyebabnya Lebih parahnya lagi, kedua pria ini hampir saja kehilangan nyawanya karena tepat beberapa saat setelah mereka terjatuh, sebuah kereta melintas. Untungnya, para penumpang lain yang turut menyaksikan aksi barbar tersebut berhasil menarik mereka ke tempat yang aman. Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (5/4/2018), kejadian ini sendiri terjadi pada tanggal 1 April 2018, pukul 01.30 dini hari waktu setempat. Adalah Boguslaw Rybski (34 tahun) dan Przemyslaw Zawisza (26 tahun), dua ‘pegulat amatir’ yang berhasil diidentifikasi pihak kepolisian setempat. Para saksi mata sendiri awalnya melihat mereka beradu argumen di tepian rel sebelum akhirnya saling melayangkan kepalan satu sama lain. Mereka pun meyakini bahwa kedua pria ini tengah mabuk parah karena tutur bahasa yang mereka lontarkan mencerminkan bahwa mereka sedang dalam kondisi tidak sadar. https://www.youtube.com/watch?v=IHc4EPurhcc Dapat disaksikan sendiri, dalam rekaman yang berhasil diabadikan salah seorang saksi mata dalam kejadian tersebut, tampak keduanya saling ‘mengunci’ sebelum akhirnya tergelincir ke rel. Beruntung, Londoners (sebutan untuk warga London) yang menyaksikan kejadian tersebut dengan sigap menarik mereka ke tempat yang aman sebelum akhirnya sebuah kereta dengan kecepatan tinggi melintas. Tak pelak, penumpang yang menyelamatkan nyawa dari dua pria ini mendapat pujian dan tepuk tangan karena responnya yang cepat dan dianggap sebagai pahlawan. “Boguslaw Rybski, berusia 34 tahun dari Aboyne Drive, Wimbledon dan Przemyslaw Zawisza, berusia 26 tahun dari Park Lane Tottenham, sama-sama dituduh telah membahayakan keselamatan seseorang atau lebih, sebagaimana yang dilaporkan oleh petugas kereta api,” tutur pihak kepolisian yang menangani kasus ini. “Mereka dipastikan akan hadir di Pengadilan Westminster Magistrates sebelum tanggal 19 April,” tandasnya. Baca Juga: Salah Paham, Penumpang IndiGo Airways Adu Jotos dengan Petugas di Apron Sementara itu, Direktur Kebijakan Transportasi untuk Transport for London (TfL), Steve Burton mengatakan bahwa tindakana yang telah dilakukan oleh kedua orang ini sangat berbahaya. “Tindakan nekat ini tidak dapat ditoleransi dan polisi akan mengambil tindakan yang tepat.” Ungkap Steve.

Dipecat dan Difitnah, Mantan ‘Eksekutor’ David Dao Layangkan Tuntutan Ke United Airlines dan CDA

Masih ingatkah Anda dengan insiden yang menimpa Dr. David Dao, seorang penumpang United Airlines yang diseret paksa keluar dari kabin? Ya, lama tak tersiar kabar, kini kasus tersebut kembali mencuat setelah salah seorang petugas yang menyeret Dr. David Dao melayangkan gugatan kepada pihak maskapai yang terkenal akan tindakan kontroversialnya ini. Baca Juga: Duh! Dokter ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa ya? Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, adalah James Long, salah seorang petugas yang turut menyeret Dr. David Dao ini dibuat bingung bukan kepalang setelah dirinya dipecat dari Chicago Department of Aviation (CDA). Tepatnya pada Selasa, 10 April 2018 kemarin, James melayangkan gugatan atas pemutusan hubungan kerja yang dinilai tidak adil tersebut. Mantan pegawai di CDA ini berdalih bahwa beberapa saat setelah video penyeretan Dr. David Dao menyebar, dirinya dipecat secara tidak hormat. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga mengatakan bahwa Komisioner dari Chicago Aviation, Ginger Evans telah memfitnahnya di media sosial. “Petugas telah melakukan hal yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tutur James. “Pernyataan palsu ini menyiratkan bahwa James Long tidak bertindak dalam kapasitasnya sebagai seorang perwira polisi,” tulis James dalam surat gugatannya itu. Selain menuntut keadilan, James yang sudah bekerja pada CDA sejak Januari 2015 ini pun menuntut ganti rugi berupa dana kompensasi yang tidak diturunkan oleh pihak perusahaan. Tidak hanya CDA, James pun melayangkan tuntutannya pada pihak United. James mengatakan, semisal United telah memanggil pihak kepolisian ke dalam kabin, maka United harus menerima konsekuensi jika ada kontak fisik yang mungkin saja menciderai yang bersangkutan. Guna menguatkan gugatannya tersebut, James pun mengatakan bahwa baik pihak United dan CDA tidak memberikannya pelatihan yang memadai untuk menangani penumpang yang melakukan tindakan tidak pantas. James pun tidak menyangkal bahwa dirinya telah menggunakan ‘kekuatannya’ untuk menyingkirkan David Dao, namun ia rasa tindakan tersebut perlu dilakukan karena sudah menjadi salah satu tujuan dipanggilnya petugas kepolisian ke dalam kabin. Baca Juga: Minta Maaf Dua Kali, United Airlines Berdamai Dengan David Dao Sekedar mengingatkan kembali, Dr. David Dao terpaksa diseret keluar dari kabin setelah empat petugas United Airlines harus ikut dalam penerbangan menuju Louisville, Kentucky, Minggu (9/4/2017). Sebelum insiden kekerasan ini terjadi, pihak United telah meminta kepada penumpang untuk mengikhlaskan bangkunya dan akan diupahi US$800 sebagai biaya kompensasi, namun tidak ada yang menggubrisnya. Karena dikejar waktu, pihak United dan sejumlah kru CDA lalu memilih penumpang secara acak, dimana Dr. David Dao menjadi salah satu diantaranya.

Qantas Selipkan Cerita Unik di Balik Penerbangan Jarak Jauh Non-Stop Perdananya

Dapatkah Anda bayangkan bagaimana rasanya ‘terperangkap’ di dalam kabin selama lebih dari 17 jam bersama orang-orang yang mayoritas belum Anda ketahui sebelumnya? Tentu bagi sebagian orang, menempuh perjalanan selama ini non-stop akan sangat membosankan. Namun bagi sebagian lainnya, menempuh perjalanan jarak jauh dalam sekali penerbangan dianggap lebih efisien dalam soal waktu tempuh. Baca Juga: April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London Ya, hal seperti itulah yang dirasakan oleh sejumlah penumpang maskapai Qantas Airlines yang baru saja melakukan direct flight perdananya dari Australia menuju Inggris dalam beberapa waktu ke belakang. Diketahui, ini merupakan penerbangan jarak jauh paling lama kedua sepanjang sejarah aviasi global. Momen pendaratan Boeing 787-9 Dreamliner milik Qantas di London pun digalang-galang sebagai salah satu hari bersejarah di dunia penerbangan. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, penerbangan jarak jauh non-stop perdana itu sendiri dimulai dari Bandara Internasional Perth pada Sabtu (24/3/2018) pukul 11.00 waktu setempat, dan tiba di Bandara Internasional Heathrow pada Minggu (25/3/2018) pada pukul 04.03 waktu setempat. Ya, armada dengan nomor registrasi QF9 ini sukses mengarungi angkasa selama 17 jam 2 menit dan mendaratkan penumpang yang mayoritas berisikan politisi, jurnalis, dan wisatawan tersebut. Armada Boeing 787-9 Dreamliner milik Qantas Airlines ini sendiri memang dirancang untuk mengakomodasi perjalanan jarak jauh dan telah disebut-sebut sebuah sebagai anugerah bagi industri pariwisata Australia. Dikutip dari laman abc.net.au, Menteri Pariwisata Federal Steve Ciobo mengatakan rute Perth – London akan bertindak sebagai “gerbang” menuju negara bagian Australia Barat dan akan memberikan manfaat bagi negara-negara lain di Australia. “Bagi banyak wisatawan internasional, tempat-tempat destinasi unggulan pariwisata di Australia Barat masih sulit terjangkau, bukan karena kawasan itu tidak tersedia bagi mereka, tetapi karena terlalu sulit untuk dijangkau karena sebelumnya destinasi wisata difokuskan pada kawasan di pantai timur,” tegasnya. “Tidak pernah semudah ini bagi orang-orang dari Inggris atau lebih luas lagi di Eropa untuk datang ke Australia. Kami memiliki sekitar 730.000 turis yang datang ke Australia dan saya bertekad untuk meningkatkan pengeluaran mereka dan menumbuhkan jumlah mereka,” imbuh Steve. Di lain pihak, CEO Qantas, Alan Joyce mengatakan bahwa dirinya merasa bangga dengan diluncurkannya rute baru ini dan memiliki pandangan tersendiri terhadap rute penerbangan Perth – London. “Saya pikir, ini akan menjadi bagus sekali untuk pariwisata di negara bagian Australia Barat, karena kami selalu tahu bahwa ketika Anda memiliki layanan penerbangan langsung, akan ada peningkatan lalu lintas (kunjungan wisatawan) yang signifikan,” tuturnya optimis. Baca Juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia Selain menarik perhatian karena rekor penerbangannya, ternyata armada Qantas yang mengudara antar dunia ini juga menyelipkan cerita unik. Adalah Martina Dewberry dan suaminya, John, berada dalam penerbangan QF9 bersama dengan dua anak mereka, Isabelle, 5 tahun, dan Sam, 3 tahun. Lucunya, Drew yang sama sekali tidak ada niatan untuk mencicipi sensasi penerbangan jarak jauh ini. “Agen perjalanan saya bertanya kepada kami ‘apakah Anda ingin berpergian dengan penerbangan non stop atau ingin transit dulu?’ Kami berkata ‘kami akan mengambil penerbangan nonstop’,” tuturnya. Ketika Drew mengabarkan rencana keberangkatannya kepada sang Ibu, ia malah terkejut ketika Ibunya mengatakan bahwa ia menaiki penerbangan jarak jauh non-stop perdana dari Qantas. “Ketika saya berbicara dengan ibuku dia berkata ‘kapan kamu berangkat, tanggal 24? Yah, itu adalah penerbangan jarak jauh nonstop pertama ke London’,” kenangnya.

MRT Jakarta Adopsi Teknologi CBTC, MRT di Jepang Justru Belum

Dua rangkaian kereta MRT Jakarta telah tiba di Jakarta dan kini berada di Depo Lebak Bulus untuk melanjutkan tahapan integrated and commissioning. MRT dengan tenaga listrik produksi Nippon Sharyo ini dilengkapi beragam fitur canggih di kelas moda komuter, bahkan ada satu teknologi di MRT Jakarta yang justru belum diterapkan pada rangkaian MRT di Jepang. Tentu ini menarik perhatian, justru MRT Jakarta lebih unggul daripada MRT yang dioperasikan di Jepang. Baca juga: Anies: Bukan Sekedar Alat Transportasi, MRT Juga Pembentuk “Budaya” Baru di Jakarta Teknologi yang dimaksud adalah Communication Based Train Control (CBTC). Persisnya ini merupakan teknologi persinyalan kereta generasi terbaru yang dirancang untuk jaringan kereta bawah tanah dan moda transportasi modern lain. Dengan basis sistem nirkabel, CBTC dapat mengumpulkan informasi tentang kereta secara realtime, seperti informasi posisi kepada pusat kendali lewat send back control signals. Manfaat lain dari adopsi CBTC yakni dapat mengurangi penempatan peralatan pendukung di sepanjang lintasan rel. Dengan adanya CBTC, maka pusat kendali kereta atau Operation Control Center (OCC) yang berada di Depo Lebak Bulus dapat melakukan pengendalian trafik kereta secara lebih presisi, efektif dalam mengendalikan kecepatan, serta efisiensi dapat ditingkatkan berkat pemantauan kereta secara terpadu. Sementara pada kabin masinis, terdapat Driver Machine Interface (DMI) yang berfungsi untuk memunculkan indikasi terkait sinyal yang ditampilkan oleh sistem CBTC. Dengan menggunakan moving block dimungkinkan blok kereta yang fleksibel, berubah-ubah, dan bergerak sesuai dengan pergerakan kereta dan parameternya sehingga operator dapat mengetahui lokasi kereta dengan lebih akurat dan mengatur jumlah kereta yang beroperasi. Dibanding teknologi selama ini yang mengandalkan sistem sinyal konvensional, CBTC dipandang lebih aman dan akurat dalam mengeloka lalu lintas kereta. Sebagai teknologi yang berbasis nirkabel, CBTC mengadopsi frekuensi 2,4 Ghz yang tidak memerlukan lisensi. Frekuensi yang biasa digunakan pada WiFi (wireless fidelity) ini juga memudahkan implementasi oleh banyak operator kereta di dunia. Walau ada di frekuensi 2,4 Ghz, namun CBTC dirancang cukup kuat untuk mencegah interferensi dari sinyal yang dipancarkan perangkat lain. Dan CBTC sudah dipersiapan untuk diterapkan dalam kondisi kritis. Baca juga: Samsung Electronics Luncurkan LTE Railway Perdana di Korea Selatan Lebih dari 30 jaringan kereta di dunia telah mengadopsi CBTC, sebagai contoh MRT di Singapura sejak 2009 sudah menggunakan CBTC. Sementara pemasok teknologi CBTC yang terkenal adalah Alstom, Thales, Siemens, Bombardier, Invensys dan Nippon Signal.

Lebaran 2018: Garuda Indonesia Tingkatkan Kapasitas Penerbangan Hingga 8 Persen

Tak terasa Bukan Ramadhan akan berlangsung satu bulan lagi, dan umat Muslim sudah bersiap hati dan diri. Bahkan mungkin hampir semua perantau sudah membeli tiket untuk mudik ke kampung halaman mereka masing-masing. Hal ini terbukti dari animo masyarakat yang rela mencari tiket murah untuk mudik pada lebaran tahun ini. Baca juga: Garuda Indonesia Citi Card Tambahkan Bagasi 20 Kg Untuk Pelanggan Garuda Indonesia Apalagi lebaran tahun ini sama dengan tahun lalu yang berbarengan dengan liburan anak sekolah. Direktur Utama PT Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansury mengatakan, pihaknya akan melakukan penambahan kapasitas tujuh sampai delapan persen dari penerbangan reguler yang ada untuk lebaran tahun ini. “Kita tingkatkan itu dengan Bigger Aircraft atau extra flight. Destinasi-destinasinya sendiri akan kita lihat, karena libur lebaran ini juga berdekatan dengan libur sekolah,” ujar Pahala yang ditemui KabarPenumpang.com di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis (12/4/2018). Dia menambahkan, pihaknya akan menyiapkan peningkatan produksi dikarenakan dua momen yang berdekatan. Sehingga destinasi yang disiapkan bukan hanya domestik saja, tetapi destinasi yang memang tinggi kebutuhannya. “Seperti wilayah Jawa, Denpasar dan lainnya kita tingkatkan dengan Bigger Aircraft. Beberapa destinasi Asia Tenggara juga kita siapkan,” lanjut Pahala. Direktur Marketing dan IT PT Garuda Indonesia Nina Sulistyowati mengatakan, biasanya peningkatan libur lebaran dan sekolah ini ada dua destinasi yang tinggi peminatnya yakni Denpasar dan Medan. “Kalau ke Denpasar itu lebih ke destinasi liburan keluarga. Untuk Jawa spesifikasinya Yogyakarta, Solo, Semarang dan Surabaya,” ujar Nina. Nina menambahkan, momen Garuda Travel Fair (GATF) yang berlangsung kemarin dan Garuda Online Travel Fair (GOTF) pada Mei 2018 mendatang bisa dimanfaatkan untuk mendapat promo tiket murah dari Garuda Indonesia. “GATF dan GOTF ini sangat dimanfaatkan sekali oleh mereka untuk mendapat tiket promo untuk lebaran dan liburan tahun ini. GOTF nanti akan berlangsung pada Mei dan Oktober 2018 ini,” tuturnya. Tak hanya momen lebaran dan liburan sekolah. Momen ibadah Haji pun sudah disiapkan sejak dini oleh pihak Garuda Indonesia. Pahala mengatakan, untuk kesiapan Haji 2018, Garuda Indonesia sendiri sudah menyiapkan 14 pesawat untuk mengangkut Jemaah Haji. “Kita gunakan enam Airbus, tiga Boeing 777 dan tambahan lima Boeing 777,” kata Pahala. Dia mengatakan, Jemaah Haji tahun 2018 ini jumlahnya kurang lebih sama dengan tahun sebelumnya. Pahal menyebutkan tahun 2018 sekitar 107.959 Jemaah Haji. Saat ini ada 278 kloter dari sembilan embarkasih. Baca juga: Buat Pemburu Diskon Tiket Penerbangan, Garuda Indonesia Kembali Gelar GATF 2018 Phase I di Jakarta Terkait dengan Bandara Kertajati di Majalengka yang juga akan digunakan sebagai bandara pengangkut Jemaah Haji, Pahala mengatakan, pihaknya masih melakukan diskusi dengan Kemenhub dan Kemenag. “Ini yang salah satu sedang kami diskusikan. Bagaimana Jemaah Haji dari Jabar khususnya Sumedang dan Majalengka. Apakah akan diberangkatkan dari Kertajati atau seperti apa, masih kita bicarakan,” tutup Pahala.

Nyaris Celakakan 1.000 Penumpang, Tujuh Petugas Kereta Api India Diganjar Sanksi Berat!

Sebanyak kurang lebih 1.000 penumpang yang tengah berada di kereta api India hampir saja menjadi korban dalam sebuah kecelakaan tunggal. Kuat dugaan, kereta tersebut mengalami masalah pada bagian rem sehingga si ular besi tidak bisa mengendalikan laju. Untungnya, kejadian yang terjadi pada Sabtu, 7 April 2018 kemarin ini tidak menelan korban sama sekali, baik korban luka maupun jiwa. Baca Juga: Tahun 2025, India Jamin 25 Persen Sumber Tenaga Kereta Berasal dari Energi Terbarukan Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (9/4/2018), adapun kejadian ini menjadi viral setelah salah seorang saksi yang melihat kejadian tersebut mengabadikan dan mengunggahnya ke jejaring sosial. Dalam video tersebut, diketahui kereta ini bertolak dari Gujarat yang terletak di sebelah Barat India menuju Odisha yang berada di sebelah Timur India. Tanpa mengurangi kecepatan, kereta tersebut terus melaju melintasi stasiun demi stasiun. Akhirnya, kereta tersebut bisa berhenti setelah beberapa petugas kereta api melintangkan kayu di rel. “Akibat insiden ini, kereta terlambat dua jam dari jadwal,” ungkap Jaideep Gupta, manajer kereta api cabang timur Indian Railways. Kendati pihak perkeretaapian masih belum mengetahui persis berapa jumlah penumpang yang berada di dalam rangkaian kereta tersebut, namun JP Mishra selaku Humas dari East Coast Railway mengatakan bahwa ada ratusan penumpang yang saat itu berusaha untuk menyelamatkan diri sebelum kereta berhenti. “Sekitar 500 penumpang mencoba lompat dari kereta,” tandasnya ketika ditanya soal jumlah penumpang yang telah menyelamatkan diri. Guna memberikan efek jera, pihak East Coast Railway pun memberikan sanksi berat sebanyak tujuh karyawan kereta api yang dinilai bertanggung jawab atas insiden ini. “Bagi kami, keselamatan penumpang adalah yang utama,” ungkap Jaideep. “Tidak ada kompromi soal keamanan dan keselamatan,” imbuhnya. Sementara itu, Menteri Utama di Odissa mengatakan bahwa dirinya turut prihatin dengan kondisi perkeretaapian India dan menghimbau kepada otoritas terkait untuk segera mengambil langkah. “Perkeretaapian harus mengambil tindakan untuk mengatasi penyimpangan yang mungkin akan terjadi, dimana hal tersebut dapat membahayakan penumpang,” tuturnya. Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern Pihak perkeretaapian India sendiri meyakini bahwa insiden ini terjadi karena kelalaian petugas ketika memasangkan mesin baru ke gerbong penumpang. Diketahui, tahun lalu, Perdana Menteri Narendra Modi mengalokasikan dana lebih dari 8,5 triliun rupee atau yang setara dengan US$134 miliar untuk meningkatkan keseluruhan layanan sistem perkeretaapian India, termasuk US$20 miliar hanya untuk peningkatan di sektor keselamatan penumpang.

Akibat Ancaman Bom Palsu, Pesawat Scoot Dikuntit F-15SG dan Tunda Penerbangan Ke Thailand

Pesawat Boeing 737 Scoot Airline dari Singapura menuju Hat Yai, Thailand mau tak mau harus kembali ke Bandara Internasional Changi pada Kamis, (5/4/2018) sore hari. Apalagi saat akan kembali ke Changi ternyata ada dua pesawat jet tempur milik Republic Singapore Air Force (RSAF) F-15SG terbang di samping pesawat yang baru meninggalkan Singapura pukul 13.20. Baca juga: Dibawah Pengaruh Narkotika, Penumpang Mabuk Sukses Hadirkan Jet Tempur F-22 Raptor Penumpang yang melihat hal tersebut dari jendela pesawat tidak panik bahkan suasana di kabin tenang seperti tak terjadi apa-apa. Pesawat Scoot tersebut membawa 173 penumpang dan enam orang awak kabin. KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (6/4/2018), bahwa kejadian ini tidak diberitahukan kepada penumpang. Salah seorang penumpang yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, penumpang di dalam bingung tapi tak khawatir dan tidak mengetahui jika ada pesawat jet menjadi salah satu langkah keamanan ancaman bom yang dibuat oleh salah seorang penumpang. “Awak kabin tak memberi jawaban ketika di tanya apa yang terjadi,” ujar penumpang tesebut. Penumpang tersebut awalnya berpikir ada kesalahan pada radio pilot yang menyebabkan kehilangan kontak dengan kontrol udara atau pilot tanpa sadar salah melalui jalur penerbangan. Namun ternyata adanya hal tersebut karena ada seorang penumpang pria pesawat TR634 tersebut yang mengatakan kepada awak kabin ada bom di dalam tas tangannya. Saat akan mendarat pilot mengatakan, “Kami akan segera mendarat di tujuan,” ujar penumpang tersebut mengikuti pilot. Dia mengatakan, tahu kembali ke Singapura setelah melihat Batam dari jendela pesawat dan jet tempur Singapura yang hanya bisa terbang di wilayah udara negara tersebut. “Kami berada di landasan, tapi pilot tak mengatakan apapun. Kami juga tidak boleh berpindah atau bergerak meski hanya ke toilet. Jadi semua penumpang harus duduk,” kata penumpang tersebut. Tak lama, petugas keamanan masuk ke dalam pesawat dan seorang pria 41 tahun yang diyakini sebagai warga Singapura bersama kedua temannya kemudian ditahan saat pesawat kembali ke Changi dan mendarat pukul 14.23. Pria tersebut diamankan karena membuat klaim palsu bahwa tindakan teroris telah sedang atau akan dilakukan. Jika ditemukan bersalah, maka akan dihukum penjara paling lama sepuluh tahun dan denda yang harus dibayar tak lebih dari S$500 ribu. Menurut pihak kepolisian, tersangka mengatakan kepada awak kabin membawa bom di bagasi kompartemennya. Karena adanya hal tersebut, awak kabin melapor kepada pilot dan pilot diam-diam mengatakan kepada menara kontrol tentang hal tersebut serta memutuskan kembali ke Singapura. Saat sampai di Changi, pihak kemanan langsung mencari dan memeriksa kompartemen atas milik tersangka dan dua temannya. Sayangnya tidak ditemukan sama sekali bom yang dikatakan tersangka tersebut. “Awak kabin ingin memindahkan tasnya, tetapi dia mengatakan tidak karena ada bom di tas itu,” ujar penumpang yang menolak disebutkan namanya tersebut. Baca juga: Rajai Pasar Low Cost Carrier, Tigerair Kini Satu Naungan Dengan Scoot Atas kejadian ini, penerbangan tertunda 5,5 jam secara keseluruhan dan berangkat kembali pada 18.30 pada hari yang sama setelah pesawat dinyatakan aman. Penumpang kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Hat Yai dan Scoot menawarkan kepada semua penumpang voucer penerbangan S$50 karena keterlambatan yang dialami penumpang.

Ditendang Penumpang Cilik, Wanita Ini Keluhkan Regulasi Delta Airlines

Seorang penumpang maskapai asal Negeri Paman Sam, Delta Airlines melayangkan protes keras kepada pihak manajemen penerbangan tersebut lantaran dirinya menderita cidera selama mengudara. Cidera pada area sekitaran dada tersebut didapatkan setelah ditendangi oleh seorang anak yang duduk tepat di sampingnya. Tidak hanya itu, respon dari awak kabin Delta sendiri pun dianggap kurang sopan dan tidak memberikan solusi. Baca Juga: Phobia Pada Bayi, Penumpang Delta Airlines Mengamuk di Kabin Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (9/4/2018), Sally Canario, seorang penumpang asal Amerika Serikat yang tengah berada dalam penerbangan dari Los Angeles menuju Minneapolis pada 2 April 2018 kemarin. Sally yang duduk di samping jendela mulai mencoba untuk menyandarkan kepalanya di kaca dan berusaha untuk tidur. Namun beberapa saat kemudian, seorang anak yang duduk persis di sampingnya mulai mengganti posisi duduknya. “Seorang putri mencoba untuk tidur di pesawat dengan kepala di pangkuan ibunya, dan kakinya di pangkuan saya,” tutur Sally. Tampaknya, anak tersebut merasa tidak nyaman dengan tempat ia tidur dan malah meronta-ronta sendiri.
Foto yang diambil Sally yang menunjukkan kaki si anak. Sumber: news.com.au
Tanpa sengaja, anak tersebut menendang keras Sally berkali-kali. “Ia menjerit, menangis, dan menendang ketika ia berusaha untuk tidur,” kenang Sally. “Namun pihak maskapai tidak mengakomodasi saya untuk pindah ke tempat yang lebih tenang,” tandasnya. Sally yang merasa semakin tidak nyaman lalu berusaha untuk meminta bantuan pramugari. Alih-alih mendapatkan solusi, Sally malah dibuat terkejut dengan respon si pramugari ketika ia melaporkan cidera yang diderita akibat tendangan itu. “Saya bukan babysitter, Anda berdua (Sally dan Ibu dari si anak) perlu menyelesaikan masalah ini sendiri,” tutur Sally seraya menirukan gaya bicara sang pramugari. Tidak berhenti sampai di situ, Sally pun dituduh telah mengganggu ketenangan keluarga tersebut. “Pramugari itu bilang: Saya tidak menerima laporan cidera, dan Anda pun tidak terluka. Saya dengar Anda telah membuat masalah dan melecehkan keluarga yang ada di sebelahmu,” ungkapnya. Untungnya, Ibu dari anak yang menendang Sally ini membantah tuduhan si pramugari tersebut. Dari sini, Sally sadar bahwa kesalahan terletak pada regulasi pihak Delta yang menggabungkan penumpang last minute dengan penumpang yang sudah memesan tiket dari jauh-jauh hari. Hingga kini, Sally masih menyerukan pihak Delta untuk mengatur ulang peraturannya tersebut. Sejak kejadian itu, Sally mengaku mengalami cidera yang cukup serius pada bagian tulang rusuknya sebagai dampak dari tendangan anak tersebut. Baca Juga: Delta Airlines Tawarkan Akses Chatting Gratis via WiFi di Smartphone “Dokter mendiagnosa tulang rusuk saya menjadi asimetri dan membutuhkan waktu hingga satu minggu lebih untuk menyembuhkannya,” jelas Sally. Menanggapi hal ini, pihak Delta lalu meminta maaf atas insiden tersebut dan berjanji untuk mengusut tuntas kasus ini. “Kami menyesal mengetahui pengalaman dan impresi buruk yang dirasakan oleh penumpang itu (Sally), dan kami akan mengumpulkan informasi lebih banyak terkait insiden ini,” terang salah satu juru bicara Delta.

Garuda Indonesia Citi Card Tambahkan Bagasi 20 Kg Untuk Pelanggan Garuda Indonesia

Garuda Indonesia memberikan penambahan manfaaat melalui Garuda Indonesia Citi Card (GICC) yang diperkuat dengan kerja sama dengan Citi Indonesia. Penambahan manfaat yang diberikan melaui GICC kali ini adalah bagasi 20 kg di luar dari ketentuan bagasi yang diberikan maskapai Garuda Indonesia sendiri. Baca juga: 23 April 2018, Garuda Indonesia Buka Penerbangan Langsung Denpasar – Mumbai Ketentuan bagasi ini bisa digunakan pelanggan baik kelas ekonomi maupun bisnis dengan hanya menunjukkan GICC yang dimiliki. Bring More Home merupakan tagline yang digunakan untuk GICC ini dimana pelanggan bisa membawa lebih banyak barang dan suvenir tanpa harus khawatir mengeluarkan biaya tambahan karena kelebihan bagasi. CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi mengatakan, dalam rangka 50 tahun dedikasi Citi di Indonesia tahun ini dengan bangga kami menambahkan Garuda Indonesia Citi Card dengan beragam keuntungan tambahan yang atraktif bagi nasabah sendiri. Hal ini merupakan bentuk komitmen berkelanjutan dari Citi untuk senantiasa menghadirkan produk inovatif serta layanan terbaik sesuai dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang. Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Pahala Nugraha Mansury mengatakan, upaya berkelanjutan peningkatan layanan Garuda Indonesia untuk memberikan nilai tambah bagi para pengguna jasa melalui berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh GICC tersebut. “Sebagai salah satu bank yang memiliki jarigan nasabah kartu kredit terbesar di Indonesia, Citi Indonesia merupakan salah satu mitra terbaik kami dalam memberikan layanan lebih kepada para pengguna jasa. Dengan jumlah pengguna Garuda Miles lebih dari 1,7 juta saat ini tambahan layanan tersebut diharapkan dapat menarik segmen market baru pengguna jasa maupun GarudaMiles Members, khususnya yang berasal dari masyarakat kelas emerging affluent dengan mobilitas tinggi,” ujar Pahala yang ditemui KabarPenumpang.com di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis, (12/4/2018). Tak hanya mendapat tambahan bagasi 20 kg, pengguna GICC ini bisa check in melalui konter khusus di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Domestik Terminal 3 Ultimate dan check in konter GarudaMiles Gold di bandara lainnya di Indonesia bagi pelanggan dan satu teman seperjalanan dengan kode booking tiket yang sama. Selain itu, pelanggan juga bisa mendapatkan hemat lima persen jika membeli di kantor Garuda Indonesia dan website resmi Garuda dengan memasukkan kode promo GICC. Baca juga: Garuda Indonesia Rilis Program “Surprise Deal” Lewat Platform Website dan Mobile Apps “Kami percaya bahwa kemitraan kami dengan Garuda Indonesia melalui Garuda Indonesia Citi Card memberikan nilai lebih sekaligus value proposition yang unik kepada para nasabah kami di Indonesia,” jelas Batara. Hadirnya GICC terbaru, Batara mengatakan, karena saat ini segment traveling, kuliner meningkat. Animo masyarakat untuk mencoa makanan dan jalan-jalan di dalam negeri atau luar negeri menjadi gaya hidup saat ini di bandingkan yang lain.