Anies: Bukan Sekedar Alat Transportasi, MRT Juga Pembentuk “Budaya” Baru di Jakarta

Tepat pukul 03.00 dini hari (12/4/2018) seluruh rangkaian kereta MRT Jakarta telah berhasil dipindahkan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Depo MRT di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sejak tiba pada Selasa, 4 April 2018 lalu, sampai saat ini satu set MRT yang terdiri dari enam gerbong kereta telah berhasil dirangkai dan di parkir dalam garasi khusus di Depo. Sementara enam kereta lainnya kini dalam proses integrasi untuk disatukan dalam satu set. Baca juga: Tiga Tes Siap Dilakukan Pada Dua Rangkaian Kereta MRT Jakarta Tuntasnya pengiriman dua set MRT pada gelombang pertama ini rupanya menarik perhatian petinggi Jakarta. Dan tepat pukul 07.00 WIB, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hari ini (12/4/2018) menyempatkan diri meninjau langsung rangkaian MRT di Depo Lebak Bulus. Anies yang berbicara dihadapan media menyebut, bahwa MRT di Jakarta bukan sekedar alat transportasi, “MRT saya harapkan bisa menjadi pembentuk budaya baru bagi warga Jakarta. MRT secara tak langsung mengajarkan pada warga pengguna untuk berlaku disiplin dan ketat dalam menjaga kebersihan, karena itulah standar dalam operasional MRT, termasuk budaya tersebut telah diterapkan selama ini oleh karyawan PT MRT Jakarta,” ujar Anies. Lebih lanjut Anies mengatakan MRT bisa menjadi wadah interaksi bagi penumpang multi strata. Ia menyebut nantinya mulai dari kelas direktur, karyawan sampai pelajar akan berkolaborasi sebagai penumpang MRT Jakarta. Untuk mewujudkan interaksi penumpang multi strata di MRT tentu bukan pekerjaan mudah. Seperti untuk menarik minat pengguna dari kalangan atas, maka harus dilakukan upaya lebih optimal untuk melakukan integrasi angkutan lintas moda. “Obsesi kami adalah meninggalkan kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Jurus penambahan rute bukan jawaban yang tepat, tapi yang terpenting adalah bagaimana angkutan umum dapat terintegrasi dan lebih manjangkau warga,” tambah Anies. Untuk itu mantan Menteri Pendidikan ini segera akan mengundang seluruh operator transportasi di Jakarta untuk membicarakan integrasi antar moda. Baca juga: Di Malaysia, Jalur MRT Ini Justru Sepi Peminat Rencananya Anies akan menggelar rapat dengan 25 operator transportasi pada Jumat (13/4/2018). “Untuk tahap awal kami akan shoping permasalahan dan melakukan mapping tentang kondisi yang dihadapi. Yang tak kalah penting, integrasi tersebut harus memastikan bahwa operator tidak rugi, salah kunci bisnis transportasi adalah sustainable,” kata Anies menutup pembicaraan. Dalam acara peninjauan Gubernur DKI di Depo Lebak Bulus, turut hadir Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kozo Honsei dan Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar.

Bawa Anak Autis Dalam Penerbangan? Ini Dia Tipsnya!

Sebagai penumpang biasa yang memiliki kesehatan mental yang baik, juga pernah merasakan cemas saat berada di bandara dan penerbangan. Hal ini diwajarkan karena terbang selalu membuat penumpangnya cemas meski penerbangan merupakan transportasi paling aman. Baca juga: Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat Namun, apa jadinya jika orang tua bepergian dengan anak mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti autisme? Mungkin beberapa diantara orang tua akan berpikir anak mereka akan ketakutan saat menghadapi antrian keamanan dan kerumunan penumpang lainnya. Bahkan, pengeras suara, permintaan untuk melepas sepatu dan sentuhan spontan bisa membuat panik anak autis. KabarPenumpang.com melansir dari laman offspring.lifehacker.com (10/4/2018), bahwa ada tips yang dibagikan seorang ibu di media sosial untuk membantu para orang tua yang membawa anak autis mereka dalam penerbangan. Angie Solis seorang ibu dengan anak memiliki kebutuhan khusus yakni autis mengatakan, untuk memudahkan dalam keamanan hingga masuk dalam penerbangan baiknya hubungi TSA (Transportation Security Administration) Cares. Dia mengatakan, untuk mendapat bantuan TSA Cares tersebut, penumpang dengan kebutuhan khusus bisa menghubungi tiga hari sebelum keberangkatan. Hal ini agar saat tiba di bandara penumpang bisa lebih mudah untuk mendapatkan pelayanan dari pihak TSA Cares. Solis yang saat itu mendapat bantuan dari TSA Cares menulis surat kepada TSA yang isinya ucapan terima kasih atas pengalaman yang diberikan selama di bandara saat bersama putra autisnya. Dia menjelaskan, saat sampai dibandara sempat khawatir dengan ratusan orang yang menunggu pemeriksaan keamanan. Namun, kekhawatirannya menghilang ketika Alicia, seorang petugas TSA Cares hadir membantunya. “Alicia hadir dan membantu kami, kemudian mengangkat pembatas, memberi kami petunjuk dan mengantar kami ke barisan terdepan. Kami melalui pemeriksaan keamanan dengan tenang dimana petugas tidak meletakkan tangannya pada kami. Bahkan kami tak perlu melepas sepatu,” tulis Solis. Dia menambahkan, saat masuk dan melalui keamanan hingga ruang tunggu, waktu yang dihabiskan hanya selama 14 menit. Diketahui, TSA Cares hadir sejak tahun 2011 lalu. Sayangnya, banyak para pelancong yang tidak mengetahui bahwa ada TSA Cares ini. TSA Cares sendiri membantu penumpang dengan kebututuhan khusus seperti autis, disabilitas hingga yang membutuhkan perawatan medis. Meski mendapat bantuan dari TSA Cares, tidak ada perbedaan dalam pemeriksaan keamanan. Sebab Solis dan putranya tetap melalui pemindai, bahkan tas mereka juga di pindai. Berikut ini ada beberapa kiat lain untuk terbang dengan anak autis: 1. Persiapkan anakmu Bandara Shannon memiliki beberapa video untuk menunjukkan kepada wisatawan apa yang akan datang, mulai dari tiba di bandara hingga mendarat. 2. Lakukan latihan Program Wings’s Arc untuk Autisme memungkinkan penumpang autis melakukan latihan di bandara sebelum penerbangan mereka. Minta prioritas naik pesawat. Saat Anda membuat reservasi, beri tahu maskapai bahwa Anda menginginkan tempat duduk prioritas, dan informasikan kepada personel gerbang permintaan Anda saat Anda tiba. Baca juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang? 3.Cetak dan isi Kartu Pemberitahuan Cacat ke TSA Ini memungkinkan agen TSA mengetahui kebutuhan spesifik Anda. 4.Bawa barang-barang yang nyaman. Jika anak Anda sensitif terhadap suara keras, pastikan untuk mengemas headphone peredam bising.

Dua Pria Terlibat Duel Sengit di Gerbong SMRT, Kepolisian Masih Selidiki Penyebabnya

Tingkah laku penumpang yang kita temui ketika menggunakan sarana transportasi umum memang tidak bisa diprediksi. Seperti yang terjadi di Singapura, dimana dua orang penumpang jasa layanan Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) terlibat cekcok hebat sebelum akhirnya kedua pria ini saling melayangkan gebok mentah. Sontak, penumpang lain yang berada di dalam gerbong yang sama menjauh dari kedua pria ini karena takut terkena imbas dari perkelahian tersebut. Baca Juga: Makan Es Krim di Dalam Bus Berujung Adu Jotos Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman channelnewasia.com (9/4/2018), kejadian ini terjadi pada Minggu, 8 April 2018 silam dan pihak kepolisian setempat langsung mengambil langkah untuk melakukan investigasi. Kejadian ini semakin cepat menyebar setelah salah satu penyiar dari Mediacorp Radio Ria 89,7 FM, Dzar Ismail menyebarkan video yang berhasil ia abadikan di laman jejaring sosial Facebook miliknya. Hingga saat ini, video perkelahian tersebut telah ditonton lebih dari 320.000 kali dan dibagikan lebih dari 7.600 kali. Dalam video tersebut, nampak dua orang penumpang SMRT berjenis kelamin laki-laki ini tengah berdiri persis di tengah gerbong. Tak lama berselang, kedua pria yang sama-sama mengenakan baju berwarna hitam ini terlibat adu cekcok, dan tensi diantara keduanya pun semakin meningkat. Kedua pria ini mulai mengancam satu sama lain dengan cara menggenggam kerah rivalnya. Sejurus sesaat, keduanya mulai saling mendorong satu sama lain, dan perkelahian pun tak dapat dihindari. Tidak jarang, penumapang lain yang berada di sekitarnya turut menjadi imbas dari perkelahian yang hingga kini masih belum diketahui rimbanya ini. Dikhawatirkan semakin membabibuta, maka sejumlah penumpang yang menyaksikan perkelahian itu pun mencoba untuk melerainya. Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, hingga saat ini, pihak yang berwenang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut guna mencari akar dari perkelahian brutal tersebut. Baca Juga: Terlibat Adu Jotos di Dalam Kabin, Penumpang Ini Terpaksa Diturunkan Secara mengejutkan, dalam kolom komentar pada postingan yang diunggah oleh Dzar Ismail tersebut, ada seorang pengguna Facebook bernama Roshan Raja yang mengaku menjadi salah satu dari ‘pegulat’ tersebut. Dalam komentarnya, Roshan mengaku pihak keluarga sangat terkejut dan terpukul dengan apa yang menimpa dirinya.

Kebut Persiapan Asian Games 2018, PT INKA Mulai ‘Cicil’ Pengiriman LRT Palembang

Ajang olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018 sudah semakin mendekati ‘titik start’, maka tidak heran jika sejumlah otoritas terkait tengah disibukkan dengan mematangkan persiapan untuk menunjang kelancaran pesta olahraga akbar ini, tidak terkecuali PT INKA. Anak perusahaan PT KAI ini diketahui baru saja memulai pengiriman terhadap beberapa rangkaian kereta Light Rail Transit (LRT) ke Palembang, Sumatera Selatan, dimana kereta tersebut akan dioperasikan sebagai moda transportasi pendukung kegiatan Asian Games 2018. Baca Juga: Jelang Asian Games 2018, LRT Palembang Mulai Uji Coba Maret Mendatang Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Senior Manager Secretary, Public Relations, and CSR PT INKA, Cholik Mochamad Zam Zam mengatakan terdapat delapan rangkaian yang akan dikirimkan secara bertahap. “Mulai awal April ini akan dikirim sebanyak empat trainset. Saat ini baru dua trainset yang sudah terkirim dan akan menjalani uji dinamis di lintas,” ujarnya, dikutip dari laman cnnindonesia.com (10/4/2018). PT INKA sendiri menerima total 24 rangkaian, dimana mereka mengatakan akan merampungkan semua pengiriman pada bulan Juni mendatang. Nantinya, LRT buatan PT INKA ini akan menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin menuju kawasan Sport City Jakabaring, dimana lokasi tersebut merupakan venue utama pada perhelatan Asian Games 2018. Tidak berhenti sampai situ saja, namun jaringan LRT ini akan berujung pada Depo yang berada di Ogan Permai Indah. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumsel, Nelson Firdaus, mengatakan bahwa uji coba terhadap kereta LRT ini dipastikan akan sesuai dengan jadwal yang sebelumnya telah ditentukan. “Persiapan juga diperlukan untuk mengangkut trainset ke Depo Jakabaring. Walau jeda waktunya panjang dari kedatangan gerbong, 13 April tapi uji coba tetap sesuai dengan jadwal,” tutur Nelson, dikutip dari sumber lain. Di sisi lain, Sekertaris Proyek Manajemen Unit (PMU), Wahidin mengatakan untuk pengujian nantinya tidak akan dilakukan di seluruh stasiun, sebab pengujian hanya dimaksudkan untuk mengecek apakah performa kereta serta track dan sistem elektrinya berfungsi dengan baik. “Uji coba jalur dan kereta akan dilakukan dari Depo Jakabaring hingga stasiun OPI Mall sepanjang kurang lebih 3 km,” jelasnya. Pada kesempatan sebelumnya, Cholik pun sempat mengatakan bahwa armada LRT untuk Palembang ini sudah sangat canggih dan modern, dimana pertimbangan utama PT INKA dalam mengembangkannya adalah keselamatan dan kenyamanan penumpang. “Yang jelas futuristik, stainless steel, dan ringan,” paparnya. Baca Juga: Jelang ASIAN Games 2018, Palembang Datangkan LRT Produksi PT INKA Adapun lebar jalan rel (gauge) dari LRT Palembang ini adalah 1.067 mm dengan axle load hingga 12 ton. Kecepatan direncanakan untuk kereta ringan ini adalah 100 km per jam, dengan kecepatan maksimum 85 km per jam. Konstruksi jalur berupa slab track, yaitu penggunaan pelat beton sebagai tiang penyangga dari jalur LRT, keuntungannya adalah jalur ini mampu menahan beban yang lebih berat layaknya tiang penyangga di jalan tol. Persinyalan adalah fixed block dengan cap signal (ETCS Level 1). Sistem electrical dengan third rail system 750 VDC.

Tengok ‘Kerusuhan’ yang Terjadi di Dapur BSFS, Jasa Katering Halal Sejumlah Maskapai Dunia

Jika perkeretaapian Indonesia yang berada di bawah naungan PT KAI lebih memilih untuk menggunakan PopSo sebagai penganan penangkal lapar penumpang selama perjalanan, dan Garuda Indonesia tetap mengandalkan olahan dari Aerofood Catering Services-nya (ACS), lalu bagaimana dengan yang terjadi di luar negeri sana? Baca Juga: Chef Vindex Tengker, Sosok Dibalik Lezatnya Hidangan di Kabin Garuda Indonesia Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my, adalah Brahim’s SATS Food Services’ (BSFS) muncul sebagai nama penyedia jasa layanan katering dari beberapa maskapai terkemuka, seperti Malaysia Airlines, AirAsia X, Qatar Airways, ANA All Nippon Airways, Emirates, hingga Cathay Pacific. Setiap harinya, 11 koki, 164 juru masak, dan lebih dari 1.300 staf dapur berkutat di dapur BSFS untuk memastikan perut 50.000 penumpang dari sejumlah maskapai tersebut terisi. Mengemban tugas berat, rasanya tidak heran jika BSFS memiliki dapur yang besarnya hampir menyaingi ukuran dari empat lapangan sepak bola, dengan daftar belanja mencapai satuan ukur ton. Executive Chef dari BSFS, Graeme Laws Pullen menjabarkan bahwa setiap makanan yang keluar dari dapur dapat dipastikan memiliki kualitas yang sangat terjaga. “Proses pengolahan, suhu, dan kualitas makanan kami awasi secara ketat,” terang Graeme sembari membeberkan fakta yang terjadi sehari-hari di balik dapur BSFS. “Yang paling penting adalah makanan yang disajikan kepada penumpang harus berada dalam kondisi segar,” imbuhnya. Hebatnya lagi, makanan yang dihasilkan oleh BSFS ini dipastikan halal. Menyoal penganan halal, asisten koki eksekutif, Zainuddin Md Isa menyebutkan bahwa setiap makanan yang disiapkan oleh BSFS telah terlebih dahulu disertifikasi oleh Malaysian Islamic Development Department (Jakim). “Misalnya, penerbangan yang datang dari luar negeri mungkin telah menyajikan makanan non-halal. Untuk memastikan makanan kami tetap halal, semua barang pecah-belah dan peralatan dari pesawat akan melewati proses samak (ritual pembersihan),” katanya. Zainuddin menambahkan bahwa prosesi samak ini sendiri bahkan menggunakan tanah liat impor, guna memastikan prosesi tersebut telah sesuai dengan syariah seperti yang ditentukan oleh Jakim. “Saya akan secara acak mencicipi kue atau hidangan untuk menentukan apakah itu dapat diterima atau perlu diulang,” katanya sembari menjelaskan proses Quality Control yang berlaku di BSFS. Ketika disinggung soal teknis pelayanan, Zainuddin mengatakan bahwa pesanan yang dipesan oleh pihak maskapai harus diselesaikan 16 jam sebelum penerbangan. “Makanan yang disiapkan akan dimuat dua jam sebelum take-off,” terang Zainuddin. “Pengaturan jadwal yang cermat menjadi sangat penting agar makanan bisa tetap segar ketika disajikan,” tandasnya. Baca Juga: Tiru Kehigienisan Reska, PT ASDP Coba Peruntungan Tawarkan PopSo di Kapal Ferry Menimpali pernyataan Zainuddin, Graeme mengatakan BSFS menyiapkan rata-rata antara 45.000 hingga 55.000 makanan setiap harinya untuk sekitar 270 penerbangan yang meninggalkan Kuala Lumpur International Airport. “Ketika puncak musim libur, angka tersebut tentunya akan bertambah,” jelasnya.

Video Ground Crew Lempar Bagasi Menjadi Viral, AirAsia Minta Maaf

Rabu, 21 Maret 2018 lalu, petugas darat (ground crew) di Bandara Internasional Kaohsiung yang menangani penerbangan berbiaya rendah AirAsia tertangkap kamera sedang melemparkan bagasi milik penumpang. Isi bagasi tersebut adalah sebuah sepeda dan video rekaman kedua petugas tersebut menjadi viral di dunia maya. Baca juga: Urat Malu Putus, Penumpang AirAsia Ini Kekeh Pindah Ke Bangku Premium KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (22/3/2018), seorang penumpang bernama Fen Lim mengunggah video saat petugas melempar bagasi tersebut ke permukaan apron. Dalam postingan di Facebook tersebut, Lim juga mengunggah foto sepedanya yang rusak. Diketahui, Lim terbang dari Bandara Internasional Kaohsiung di Taiwan Selatan menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. “Terimaksaih AirAsia, kalian telah merusak sepedaku. Ini di videokan saat kami masih duduk di dalam pesawt AK171 dari Kaohsing ke KLIA2,” tulis Lim di laman Facebooknya. Video berdurasi 30 detik tersebut mendapat respon dari 16 ribu pengguna Facebook kurang dari satu hari. Viralnya, video tersebut membuat para petinggi AirAsia bereaksi untuk menanggapi hal tersebut di hari Kamis. CEO AirAsia Riad Asmat mengatakan, maskapai akan membebaskan semua biaya untuk pengangkutan sepeda pada bulan April 2018. “Sebagai seorang pengendara sepeda, saya sendiri sangat terganggu ketika melihat tindakan staf kami. Yakinlah, kami sudah mengambil tindakan. Kami melihat masalah ini dengan sangat serius dan tindakan tegas akan diambil,” ujar Raid. CEO Group AirAsia Tony Fernandes memposting ulang video milik Lim tersebut dan mengatakan, bahwa sebenarnya penanganan jasa oleh ground crew dilakukan oleh perusahaan gabungan yang disebut GTR. “Tapi kami bertanggung jawab penuh. Setelah bertemu dengan semua petugas yang menanganani pintu rampa (rampi door), saya merasa benar-benar kecewa,” ujar Fenandes di Facebooknya. Fernandes kemudian menjawab komentar pada postingan yang menyarankan bahwa maskapai harus meninjau kebijakan penanganan manual untuk barang-barang berat. “Tidak berat, tetapi kami melihat ke titik itu. Kami membawa ratusan barang,” Tulis Fernandes lagi. Mendapatkan tanggapn positif, Lim kemudian menulis di Facebook, “Terimakasih Sir Tony Fernandes karena telah mengakui dan mengambil tindakan.” Baca juga: Aturan Berhijab di Bandara Aceh, AirAsia Tampilkan Awak Kabin Pria Sebenarnya, masalah penanganan tas oleh ground crew merupakan masalah umum di bandara seluruh dunia. Pada video yang diunggah ke Facebook 15 Februari 2018 lalu, Fernandes mengatakan kepada stafnya untuk lebih berhati-hati dalam menangani check-in dan loading bagasi.  

Tiga Tes Siap Dilakukan Pada Dua Rangkaian Kereta MRT Jakarta

Hingga kini sudah ada sembilan gerbong atau trainset Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang tiba di rel depo Lebak Bulus setelah keterlambatan tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada akhir pekan lalu. Besok pagi, Kamis (12/4/2018) tiga gerbong sisanya untuk menyempurnakan 12 kereta akan tiba didepo Lebak Bulus. Baca juga: Satu Hari Lebih Cepat, Rangkaian MRT Jakarta Tiba Hari Ini di Tanjung Priok Dengan tibanya dua rangkaian kereta ini, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang di dampingi Direktur Konstruksi MRT Silviana Halim melakukan pengecekan begitu 12 kereta tersebut tiba di pelabuhan. Tibanya kereta ini, Budi Karya mengatakan, gerbong-gerobong tersebut akan dilakukan uji coba secara bertahap. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa bila tidak ada masalah, proses uji coba tahap pertama kereta MRT tersebut akan berlangsung bulan April 2018 ini. “MRT sudah datang dan ada tiga proses uji coba yang akan direncanakan,” ujar Budi Karya. Tiga proses yang dimaksudkan ialah tes statis, dinamis dan uji coba lintasan. Namun tiga tes ini tidak akan dilakukan secara bersamaan melainkan secara bertahap. Budi mengatakan, pihaknya akan melakukan tes statis atau tes diam di tempat. Oktober 2018 mendatang akan ada uji tes dinamis. “Tes dinamis ini, nantinya MRT akan mulai bergerak. Setelah itu mungkin akhir Desember real tes di lintasan,” ucapnya. Budi Karya berharap, dengan adanya serangkaian uji coba terhadap kereta MRT ini, maka MRT akan bisa mulai beroperasi pada 2019 mendatang seperti yang diinginkan Presiden Joko Widodo. Saat ini, pembangunan konstruksi proyek MRT sudah mencapai 92,50 persen. Perkembangan pembangunan tersebut mencakup lintasan dan stasiun baik di jalur layang maupun bawah tanah. MRT fase I sendiri ditargetkan akan beroperasi pada Maret 2019 mendatang dari Lebak Bulus hingga ke Bundaran HI yang melalui 13 stasiun. Untuk kedatangan 14 rangkaian kereta lainnya dari 16 yang ada akan dilakukan pada Juni 2018 ini. Budi Karya sebelumnya menekankan kepada operator untuk melakukan proses tes dengan baik serta mempersiapkan sumber daya manusia karena MRT akan menjadi angkutan massal. Baca juga: Progres MRT Jakarta Tak Terlalu Signifikan, Rolling Stock Terlambat Tiba Karena Kendala Cuaca “Saya tekankan PT MRT dan tim agar benar-benar melakukan proses tes dengan baik karena ini akan digunakan secara massal. Saya juga minta kepada PT MRT untuk mempersiapkan SDM sesuai dengan teknologi yang ada (kereta). Pekerja untuk maintenance harus memiliki kompetensi serta dedikasi yang baik,” tutur dia. Dengan beroperasinya MRT, Budi Karya berharap nantinya akan menjadikan angkutan massal dan dapat mengurangi kemacetan. “Harapannya ini menjadi tonggak baru angkutan massal di Indonesia menjadi sebuah realita yang akan mengurangi kemacetan,” tutur Budi Karya.

Inilah “Hendrik”, Terowongan Kereta Terpendek di Indonesia

Membahas Pangandaran di Jawa Barat seperti tak kehabisan cerita, beragam hal unik bisa didapat melalui pantai, bandara, hingga pemandangan menarik lainnya yang tersebar di wilayah Pantai Selatan Jawa ini. Apalagi jika membahas tentang jalur kereta apinya yang dulu sempat berjaya dan kini mati serta hanya tersisa terowongan hingga jembatannya saja. Baca juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran KabarPenumpang.com kemudian menelusuri jejak perkeretaapian di Pangandaran ini dan menemukan ada tiga terowongan kereta api. Salah satunya yang pernah dibahasa adalah Wilhelmina terowongan kereta terpanjang di Indonesia. Kemudian terowongan Juliana dan terowongan Hendrik yang dimana terowongan-terowongan ini semua menembus bukit kapur di bawah desa Empak dan Bagolo di kecamatan Kalipucang, kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kali ini yang akan dibahas tentang salah satu dari ketiga terowongan tersebut yakni terowongan Hendrik. Terowongan ini letaknya di desa Pamotan, Pangandaran. Nama terowongan ini sendiri diambil dari nama suami ratu Wilhelmina yakni Duke Heinrich Wladimir Albrecht Ernst of Mecklenburg-Schwerin. Hendrik diketahui menjadi Pangeran Belanda tahun 1901-1934. Terowongan ini juga dikenal dengan nama terowongan Cikacepit oleh warga sekitar karena posisinya diapit oleh dua bukit. Terowongan ini sendiri berada di jalur kereta Banjar-Cijulang yang mengangkut hasil pertanian melimpah di Priangan tenggara dan lembah Parigi. Mungkin jika dibandingkan dengan terowongan Wilhelmina, terowongan Hendrik tak ada apa-apanya. Bahkan panjangnya hanya 105 meter dan jauh berbeda dari terowongan Wilhelmina yang memiliki panjang lebih dari satu kilometer. Terowongan Hendrik sendiri diketahui menjadi terowongan kereta api terpendek yang ada di Indonesia. Namun, meski jaraknya pendek, setelah terowongan Hendrik, ada jembatan kereta Cikacepit yang menawarkan pemandangan indah. Baca juga: 10 Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia, Ada Dimana Saja Ya? Untuk mencapai ke terowongan terpendek ini, tak jauh karena terletak dekat jalan raya. Kini keberadaannya digunakan warga sebagai jalan pintas baik mobil, motor bahkan truk pun sering melalui terowongan ini. Meski tak lagi terlihat bekas rel di dalamnya, tetapi terowongan ini masih berdiri kokoh hingga kini. Diketahui, pembangunan terowongan Hendrik bersamaan dengan dua terowongan lainnya yakni sekitar tahun 1913-1916 silam.

Lion Air Group Beli 50 Unit Boeing 737 Max 10 Senilai Rp858 Triliun

Lion Air Group kembali membuat ‘hentakan’ dalam bisnis penerbangan, pasalnya grup maskapai terbesar di Indonesia ini diwartakan telah melalukan penandatanganan pembelian 50 unit pesawat terbaru Boeing 737 Max 10 Jet senilai US$6,24 miliar atau sekitar Rp858 triliun. Baca juga: Terima Boeing 737 MAX 9, Thai Lion Air Bakal Layani Rute Jarak Jauh Pesawat Boeing 737 Max 10 ini akan berfokus pada penerbangan jarak jauh. Pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana mengatakan, pembelian ini juga sejalan dengan peningkatan lalu lintas penumpang yang mencapai 300 juta per tahunnya. Dia mengatakan, pihaknya melihat masa depan tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia. Kini, Lion Air Group juga sudah mengoperasikan pesawatnya di Malaysia dan Thailand. “Di Malaysia dan Thailand, kami telah mengoperasikan pesawat besar. Di masa depan kami akan melihat potensi negara lain juga,” ujar Rusdi yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber (11/4/2018). Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, jet Boeing 737 Max 10 ini akan menghasilkan lebih banyak keuntungan dan memangkas biaya operasional karena efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi. Dia mengatakan, Boeing 737 Max 10 adalah kombinasi sempurna pesawat lorong tunggal dan akan menjadi pesawat yang ideal untuk strategi pertumbuhan Lion Air Group. “Boeing 737 Max 10 ini mampu terbang selama tujuh jam dengan maksimal delapan jam. Nantinya pesawat ini akan bergabung dengan Max 8 dan Max 9 sebelumnya yang sudah dioperasikan oleh Lion Air Group,” ujar Edward. Edward optimis bahwa jet Max 10 akan mejadi solusi bagi perusahaan untuk memperluas bisnis dan layanannya terutama di Asia Tenggara. Pembelian bari ini juga merupakan tindak lanjut dari komitmen antara Boeing dan Lion Group di Paris Show 2017. Senior Vice President Asia Pasifik & India Penjualan Boeing Commercial Airplanes, Dinesh Keskar, menyatakan bahwa Lion Air Group telah menjadi pelanggan peluncuran 737 Max 8 dan Max 9. “Dengan 737 Max 10, Lion Air Group akan memiliki daftar pilihan armada yang efisien dan dapat diandalkan untuk mengoptimalkan jaringannya guna melayani penumpang dan meningkatkan laba juga,” tambahnya. Duta Besar AS Joseph R Donovan mencatat bahwa pembelian 737 Max 10 akan membantu dalam meningkatkan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat. Donovan mengatakan, penjualan akan memungkinkan Lion Air untuk mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di Indoneia dan membangun perekonomian di wilayah kepulauan Indonesia. Baca juga: Singapore AirShow 2018: Resmi Tampilkan Konfigurasi, Boeing 737 Max 10 Siap Mengangkasa di 2020 Boeing 737 Max 10 menawarkan konfigurasi 130 hingga 230 kursi, dengan kisaran 3.850 mil lautatau sekitar 7.130 km. Max 10 menggabungkan teknologi terbaru CFM International LEAP-1B engine, winglets Teknologi Terdepan, Boeing Sky Interior, dek layar penerbangan besar, dan peningkatan lain untuk menghadirkan efisiensi, keandalan, dan kenyamanan penumpang tertinggi di pasar lorong tunggal.

Tolak Terbangkan Penumpang ke Beijing, Pihak Qantas Dipaksa Bayar Penalti US$1000!

Dua orang penumpang asal Inggris Ian dan Jane Swann, terpaksa mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke Beijing karena tidak memiliki visa. Padahal, peraturan baru yang diberlakukan oleh otoritas Negeri Tirai Bambu tersebut mengijinkan setiap pelancong untuk menetap di Beijing maksimal 144 jam (enam hari) terhitung sejak tanggal kedatangan. Baca juga: Wakil Dubes Australia: Permohonan Visa Bagi Wisatawan Indonesia Kini Dipermudah Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (9/4/2018), cerita ini dimulai ketika Ian dan Jane yang tengah berada di Christchurch, Selandia Baru untuk mengunjungi anaknya, hendak memesan tiket Qantas menuju Cina. Mereka berencana untuk menghabiskan waktu lima hari di Cina. Alih-alih mendapatkan tiket penerbangannya, Ian dan Jane malah tidak diijinkan untuk pergi karena tidak memiliki visa. Padahal, aturan baru yang berlaku sudah dengan jelas menyebutkan bahwa pelancong yang tidak memiliki visa sekali pun tetap dapat mengujungi Cina, asalkan tidak melebihi tenggat waktu yang diberikan (144 jam atau enam hari). Petugas Qantas yang berada di Christchurch Airport tetap bersikukuh bahwa pasangan ini tidak bisa mengujungi Cina selama mereka tidak memiliki visa. “Mereka (Petugas Qantas) mengatakan kami tidak memiliki visa dan mereka menghimbau agar kami memiliki visa yang valid terlebih dahulu untuk bisa terbang ke Cina,” tutur Ian. Setelah mencoba bernegosiasi, akhirnya Ian dan Jane memutuskan untuk terbang terlebih dahulu menuju Australia. Kendati pasangan Swann ini memiliki ijin untuk masuk ke Negeri Kangguru, namun pihak Qantas tetap tidak mengijinkan pasangan ini untuk keluar dari Selandia Baru. Setelah mereka menghabiskan waktu seharian di bandara untuk mengurus masalah ini, akhirnya mereka memutuskan untuk merogoh kocek mereka lebih dari US$2100 (kurang lebih sekitar Rp29 juta) untuk terbang langsung menuju London menggunakan Emirates dan mengurungkan niat mereka untuk berlibur di Beijing. “Kami menghabiskan sekitar 54 jam perjalanan kembali menuju London. Sungguh perjalanan yang melelahkan, stress, dan mahal bagi kami,” tandas Ian. Menanggapi kejadian ini, pihak Qantas pun lalu meminta maaf karena salah satu pihaknya telah menghambat rencana perjalanan mereka. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi pada keluarga Swann yang ditolak perjalanannya dari Christchurch menuju Beijing karena diduga tidak memiliki visa yang diperlukan,” tutur juru bicara Qantas. “Kami akan memastikan kepada petugas check-in agar kejadian seperti ini tidak terulang dan kami telah berusaha untuk menghubungi pihak korban untuk menawarkan kompensasi,” lanjutnya. Keluarga Swann sendiri mengaku telah dihubungi oleh pihak Qantas yang berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dan menawarkan biaya kompensasi masing-masing US$250. “Tidak masuk akal, tidak memadai, dan tidak dapat diterima,” terang Ian. Baca Juga: Qantas Airways – The “Flying Kangaroo” Rajai Maskapai Teraman di Dunia Peraturan penerbangan di Eropa sendiri menyebutkan bahwa jika pihak maskapai menolak penerbangan jarak jauh yang diajukan penumpang dan kesalahannya terletak di maskapai tersebut, maka pihak maskapai diharuskan untuk membayar empat kali lipat dari biaya kompensasi yang diajukan oleh Qantas. “Insiden ini menarik perhatian publik karena kurangnya perlindungan konsumen untuk penumpang di maskapai penerbangan Australia,” tulis salah satu media Inggris.