Sematkan Sistem Peringatan Kecelakaan Dini, Inilah Trem Avenio M dari Siemens

Kehadiran sarana transportasi umum berbasis massal yang aman dan nyaman seolah menjelma menjadi impian setiap otoritas di berbagai negara di dunia. Campur tangan teknologi dan inovasi mutakhir pun mau tidak mau turut terjun guna mewujudkan impian tersebut. Hadirnya moda ini semata-mata dilandaskan pada satu tujuan, yaitu untuk menurunkan tingkat polusi udara yang semakin meradang belakangan ini. Baca Juga: Serba-Serbi Trem San Francisco yang Melegenda bin Ikonik Salah satu perusahaan multinasional yang berbasis di Jerman, Siemens, diketahui telah merilis Avenio M, salah satu varian terbaru dari keluarga Avenio, armada Light Rail Vehicle (LRV) yang mereka kembangkan. Moda berbentuk trem bersambung dengan bodi alumunium yang sepenuhnya dilas ini pertama kali diluncurkan dari pabrik Siemens di Wien pada bulan Desember 2017 silam, dimana SWU Verkehr dari Jerman menjadi yang pertama memesan trem ini pada bulan Mei 2015 kemarin. Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com, trem Avenio M ini sendiri merupakan moda dengan deck rendah yang akan menawarkan banyak keuntungan, salah satunya adalah untuk memudahkan mobilitas dari para penyandang disabilitas. Selain itu, di bagian dalam trem ini sendiri terdapat area multifungsi yang berukuran cukup besar, yang mampu menampung kursi roda, stroller bayi, hingga sepeda tanpa harus mengganggu kenyamanan dari penumpang lain.
Sumber: railway-technology.com
Bagian interior dari moda ini pun didesain sangat egronomis, yang juga dilengkapi dengan sistem pendingin ruangan pada gerbong penumpang dan kabin masinis, serta layar yang dapat menampilkan informasi perjalanan serta hiburan selama berkendara. Kenyamanan penumpang yang menggunakan trem ini akan ditunjang dengan empat buah pintu ganda yang dapat terbuka hingga 1,3m dan sebuah pintu tunggal yang berukuran 800mm. Kehadiran pintu-pintu ini ditujukan untuk melancarkan aliran keluar-masuk penumpang ke dalam gerbong. Layaknya armada jaringan KRL Jabodetabek, trem Avenio M ini sendiri memiliki dua kabin operator yang terletak pada bagian ujung depan dan belakang, guna menujang pengoperasian PP. Panjang dari trem Avenio M sendiri bervariasi, tergantung dari konfigurasi yang digunakan. Untuk konfigurasi tiga gerbong panjang trem ini mencapai 21m, sedangkan untuk konfigurasi tujuh gerbong, maka panjang trem dapat mencapai 43m. Jumlah penumpang yang dapat diangkut dalam sekali perjalanannya sendiri mencapai 297 penumpang dengan menggunakan konfigurasi tujuh gerbong. Baca Juga: Trem di Melbourne, Jaringan Terpanjang di Dunia dan Jadi Ikon Kota Soal keselamatan dalam berkendara, trem buatan Siemens ini tidak perlu diragukan lagi, karena resistensi penyerapan kecelakaan dari Avenio M ini sendiri telah sesuai dengan standar EN 15227. Avenio M pun telah dibekali dengan Advanced Driver-Assistance Systems (ADAS), sebuah sistem peringatan kecelakaan dini. Berbeda dengan para pendahulunya, Avenio M bisa dibilang cukup bandel, karena moda ini mampu beroperasi 35 persen lebih lama sebelum turun waktu untuk pemeliharaan. Untuk kerja sama yang dijalin bersama SWU Verkehr, Siemens menargetkan pengiriman sejumalh trem akan rampung pada pertengahan 2018 mendatang.

“Nilai Kredit Sosial” Rendah, Cina Batasi Warga Gunakan Pesawat maupun Kereta Api

Apa jadinya jika setiap warga negara tak lagi bebas bepergian baik dengan pesawat maupun kereta api? Hal ini bakal segera terealisasi di Cina pada 1 Mei 2018 mendatang dan akan berlangsung selama satu tahun. KabarPenumpang.com melansir dari laman theverge.com (16/3/2018), rencana ini adalah pikiran dari presiden Xi Jinping yang berdasarkan prinsip sekali tidak dipercaya maka akan selalu di batasi. Hal tersebut nantinya akan ada pemberian peringkat pada setiap warga dengan sistem kredit sosial. Baca juga: Buang Stigma Jorok, Cina Lakukan Revolusi Toilet di Kereta Api Ini dimana setiap warga negara Cina yang memiliki peringkat rendah akan berada dalam zona bahaya selama satu tahun. Mereka tidak akan bisa membeli tiket kereta api maupun pesawat terbang untuk bepergian. Nantinya dengan sistem kredit sosial ini, pemerintah Cina akan melakukan penilaian terhadap warga negaranya. Adapun penilaian tersebut akan meliputi perilaku kriminal dan kelakuan buruk keuangan seperti halnya apa yang mereka beli, katakan dan lakukan. Penilaian tersebut juga termasuk dimana warga memberikan inormasi palsu tentang terorisme, menyebabkan masalah pada penerbangan, menggunakan tiket kadaluarsa hingga tertangkap merokok di kereta api. Warga negara yang memiliki nilai rendah tersebut akan berurusan dengan hukum dan pembatasan. Versi lengkap tentang sistem ini akan diluncurkan pada 2020 dan versi awal sudah ada. Pembatasan baru untuk perjalanan adalah tambahan terbaru tentang isu sosial yang sedang berkembang di Cina saat ini dan telah menjatuhkan hukuman lebih dari tujuh juta warganya. Diketahui rencana ini sendiri merupakan salah satu pernyataan yang sudah ditandatangani oleh delapan kementerian termasuk regulator penerbangan negara. Sistem ini juga akan memungkinkan badan-badan pemerintahan lainnya untuk berbagi informasi tentang kepercayaan warga negaranya dan mengeluarkan hukuman berdasarkan apa yang di sebut nilai kredit sosial. Baca juga: Perayaan Imlek di Cina, Ratusan Juta Orang Mudik Padati Berbagai Moda Transportasi “Otoritas pemerintah China jelas berharap untuk menciptakan kenyataan di mana kepicikan birokrasi dapat secara signifikan membatasi hak-hak orang,” tulis Maya Wang seorang peneliti senior LSM Human Rights Watch. Pada awal 2017 lalu, Mahkamah Agung Cina membeberkan bahwa ada 6,15 juta warga Cina yang dilarang melakukan penerbangan karena kesalahan sosial.

23 April 2018, Garuda Indonesia Buka Penerbangan Langsung Denpasar – Mumbai

Setelah meluncurkan penerbangan Jakarta – Mumbai via Bangkok pada 12 Desember 2016, masih dengan tujuan yang sama, kini Garuda Indonesia kembali membuka rute baru, Denpasar – Mumbai yang rencananya akan dimulai penerbangan perdananya pada 23 April 2018. Baca juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London Dengan adanya rute baru ini diharapkan jumlah wisatawan India ke Indonesia akan meningkat. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, rute Denpasar – Mumbai ini hadir dengan melihat potensi wisatawan asal India ke Indonesia yang cukup besar, apalagi ke Bali yang memiliki budaya sama dengan India. Dalam setahun tercatat 500 ribu wisatawan asal India yang berkunjung ke Indonesia. “Artinya dalam sehari ada seribu orang datang. Jadi aneh sekali kalau datang ke Indonesia tidak direct flight,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya. Sebelumnya pada penerbangan Jakarta-Mumbai dilaksanakan dengan transit di Bangkok, Thailand. Penerbangan tersebut menggunakan pesawat narrow body Boeing 737-800 NG yang berkapasitas 156 tempat duduk (12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi). Sementara pada penerbangan Denpasar-Mumbai akan dilakukan secara direct flight dengan menggunakan pesawat wide body Airbus A330-300. Untuk tarif yang ditawarkan Garuda Indonesia dalam mengawali rute ke India sekitar Rp4,7 juta untuk PP (return). Tarif tersebut adalah promo yang diberikan selama satu bulan sampai Mei 2018 mendatang. “Untuk harga promo awal Rp4,5 juta. Sedangkan tarif normal yang kita berikan Rp6 juta untuk pulang pergi,” ujar Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan. Harga ini juga tergantung dari subclass yang dipilih penumpang untuk perjalannya. Diketahui, rencana penerbangan rute Denpasar-Mumbai ini akan dilakukan dua kali dalam seminggu. Selain itu rute tersebut juga akan menjadi percobaan untuk membuka rute lainnya menuju India. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso mengatakan, jika respon pada rute ini cukup tinggi, maka akan menambah rute baru dari India menuju kota lain di Indonesia. “Nanti kalau sudah berkembang seperti apa, kita kembangkan lagi. Kita kan selalu evaluasi ini. Jadi kita kembangkan potensi-potensi wisata selalu kita evaluasi. Biasanya kita coba buka dulu,” ujar Agus. Dia menegaskan, pemerintah juga berencana membuka penerbangan langsung dari Bandara Silangit – Mumbai, tapi rencana tersebut masih menunggu hasil evaluasi penerapan rute Denpasar-Mumbai. Baca juga: Garuda Indonesia Resmikan Penerbangan Denpasar ke Xi’an dan Zhengzhou “Kan dulu Presiden minta untuk buka Silangit, tadinya tidak ada demand, begitu ada airline langsung dipenuhi penumpang. Dengan infrastruktur dibangun, rute airline ditambah jadi dua, itu membuat ada demand,” tandasnya.  

Urai Konsentrasi Kepadatan Lalu Lintas Darat, Phnom Penh Hadirkan Layanan Taksi Air Perdananya!

Bila Jakarta gagal dalam mengimplementasikan program taksi air, maka lain halnya dengan Kamboja. Ibukota negara ini, Phnom Penh malah menghadirkan taksi air pertamanya yang diketahui mulai beroperasi pada Jumat (6/4/2018) kemarin. Adapun pengadaan moda transportasi ini akan membawa orang-orang yang berada di bagian Selatan Kota Takhmao di Provinsi Kandal. Baca Juga: Taksi Air, Jadi Solusi Kemacetan di Malaka Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman khmertimeskh.com (9/4/2018), sebanyak tiga taksi air akan beroperasi sejak pukul 06.00 hingga pukul 18.00 waktu setempat, dimana layanan antar-jemput ini akan berlabuh di enam titik di sepanjang rute. Diketahui pula, layanan taksi air yang berada di bawah manajemen Kementerian Pekerjaan Umum dan Transportasi Kamboja ini tidak akan dikenakan biaya sepeser pun hingga akhir Juli 2018 mendatang. Setelah melewati batas waktu tersebut, Kementerian pun akan mulai memasang tarif untuk layanan taksi air ini, yang diperkirakan mencapai angka 5.400 riel (US$ 1,30) atau yang setara dengan Rp18.000 untuk 25 km pertama. “Ini merupakan sejarah baru bagi Kamboja dimana kami mengoperasikan layanan taksi air,” ungkap Menteri Transportasi, Sun Chanthol. “Kami juga rencananya akan melipatgandakan jumlah armada menjadi enam perahu dan mulai memasuki layanan penuh, dimana masing-masing perahu dibanderol dengan harga US$200.000 (Rp2,7 miliar),” tambahnya. Masing-masng perahu sendiri sudah dilengkapi dengan sistem pendingin udara memiliki kapasitas angkut hingga 60 penumpang. “Kami meluncurkan layanan taksi perahu hari ini untuk memungkinkan orang menggunakan layanan sebelum Tahun Baru Khmer seperti yang dijanjikan pemerintah,” tutur Sun Chanthol. Dalam menghadirkan layanan taksi air ini, pemerintah tidak berjalan sendiri, melainkan sudah terlebih dahulu menjalin kerja sama dengan PiPay, aplikasi pembayaran seluler di Kamboja, dimana tugasnya adalah untuk melakukan penjualan tiket ketika masa pengoperasian cuma-cuma sudah berakhir. Hadirnya taksi air sendiri akan memberikan alternatif transportasi bagi masyarakat selain bus kota, tuk-tuk, dan kendaraan lainnya. Memiliki visi yang sama dengan moda transportasi futuristik, hadirnya taksi air ini dicanangkan pemerintah sebagai pemecah konsentrasi kepadatan lalu lintas di darat. “Akan membantu mengurangi kemacetan di jalan,” ungkap Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. Baca Juga: Soal Keselamatan Penumpang, Moda Laut Seperti Dianaktirikan Kendati masih sangat baru, namun Sun Chanthol mengatakan bahwa jajarannya akan memperluas jaringan dari layanan ini. “Kami berencana untuk memperluas layanan hingga ke distrik Saang dan Pelabuhan Otonom Phnom Penh di distrik Kean Svay, Provinsi Kandal,” tukasnya. “Jika permintaan untuk layanan taksi perahu meningkat, kementerian akan membangun lebih banyak pemberhentian di distrik Saang dan Koh Thom dan di Pelabuhan Otonom Phnom Penh,” imbuh Sun.

Kendati Futuristik, Namun Masih Banyak yang Meragukan Pod Otonom

Rencana pengadaan pod otonom di ranah moda transportasi masa depan memang menghadirkan pro dan kontra. Sebagian percaya bahwa moda ini dapat membantu mobilitas mereka dan tetap menjunjung tinggi konsep ramah lingkungan (karena mayoritas dari kendaraan ini menggunakan tenaga listrik). Sedangkan sisanya menganggap moda ini hanya akan menambah rumit jaringan transportasi yang sudah ada sebelumnya. Kendati pod otonom masih dominan berada di pusat uji coba, namun para peneliti seolah enggan berhenti untuk terus ‘membedah’ moda sejenis ini. Baca Juga: Pod Otonom: Upaya Greenwich Kurangi Tingkat Polusi Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa pod otonom semacam ini bisa saja mengambil alih sebagian besar jalanan di kota-kota besar di masa yang akan datang. Pasalnya, moda futuristik ini menawarkan beragam keuntungan dan kemudahan. Sebut saja tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh kendaraan ini sangatlah rendah, terpadu, dan mampu bermanuver di tengah keramaian kota, ambil contoh London. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (26/3/2018), sejak awal April 2017 silam, London telah menguji coba pod otonom ini dengan menggunakan pendanaan dari konsorsoium swasta dan institusi publik yang dikenal sebagai Gateway Project. Adapun tujuan dari proyek ini adalah untuk mengetahui bagaimana teknologi moda otonom dapat terintegrasi dengan baik di kota-kota di Tanah Britania, dimana sebagian besar menggunakan pod sebagai ‘kerangka’ dari teknologi ini. Lalu, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh masyarakat awam tentang kehadiran moda ini? Apakah mereka akan ragu untuk mengendarai pod otonom, atau bahkan kebalikannya? Dalam sebuah uji coba yang dilakukan oleh Greenwich Gateway, mereka mengikutsertakan 1000 orang dalam sebuah uji coba kendaraan otonom. Dimana bukan hasil dari modanya saja yang jadi tolak ukur, melainkan lebih kepada respon dari para penggunanya. Hasilnya pun bisa dibilang cukup mengejutkan, dimana 43 persen dari jumlah koresponden memberikan respon positif, 11 persen tidak menyukai kendaraan ini. Sementara sisanya (46 persen) masih ragu akan teknologi mutakhir ini, dimana keselamatan selama berkendara jadi alasan utama keraguan mereka. Baca Juga: Kerumunan Pods Modular Siap Gantikan Peran Kendaraan Pribadi di 2020 Beberapa saran pun terbit tak lama berselang setelah uji coba ini, salah satu yang paling vokal adalah soal akselerasi moda yang tergolong lambat (hanya sekitar 16km/jam). Terlepas dari itu semua, banyak lapisan masyarakat yang lalu bertanya-tanya soal efisiensi dari pod otonom semacam ini. Efisiensi yang dimaksud di sini adalah tentang kapasitas moda, dimana ada banyak moda transportasi lain yang menawarkan kapasitas angkut lebih banyak ketimbang pod otonom. Kendati futuristik, namun pod semacam ini hanya mampu menampung penumpang di bawah 10 orang, tidak seperti bus tingkat yang mampu dijejali oleh puluhan penumpang, atau jaringan kereta cepat yang mampu mengangkut ratusan orang dalam sekali perjalanannya. Pertanyaannya adalah, “Dibutuhkan berapa pod otonom untuk dapat mengangkut jumlah penumpang yang setara dengan sebuah bus atau kereta cepat?”

Ngeri! Kereta Hantu Terekam CCTV ‘Melintas’ di Stasiun Baotou

Masih ingatkah Anda tentang garbarata berhantu? Ya, video berdurasi 31 detik yang sempat jadi bahan pembicaraan beberapa waktu yang lalu ini menampilkan sebuah garbarata yang dipenuhi oleh makhluk tak kasat mata yang terlihat berlarian seperti tengah mengejar sesuatu. Video yang mendadak jadi viral di sejumlah laman jejaring sosial ini pun tak pelak mengundang kontroversi, ada yang percaya ada pula yang tidak. Baca Juga: Video Garbarata Berhantu di Phuket Menjadi Viral di Media Sosial Nah, kali ini kejadian yang hampir serupa terjadi di sebuah stasiun kereta, dimana kamera CCTV menangkap bayangan kereta yang sangat mencurigakan. Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kejadian mengerikan ini terjadi di Stasiun Baotou, Cina pada 10 Maret 2018 kemarin. Video yang berhasil mencuri perhatian warganet ini diunggah ke laman YouTube empat hari berselang setelah kejadian (14 Maret 2018). https://www.youtube.com/watch?v=7BGIEo9LYmg Seperti yang bisa Anda lihat sendiri, sebuah bayangan putih berbentuk menyerupai sebuah kereta nampak berhenti tepat di bawah pengawasan kamera CCTV Stasiun Baotou. Layaknya kereta yang tengah beroperasi, lengkap dengan dua buah lampu lokomotif, papan informasi, dan sambungan gerbong, bayangan putih tersebut pun tampak seperti tengah menaik-turunkan penumpang. Padahal, kondisi stasiun kala itu sangatlah sepi tanpa ada satu orang pun yang terekam kamera. Tak berselang lama, kereta hantu itu pun kembali melanjutkan perjalanannya. Rasa penasaran warganet akan kereta hantu dari Tiongkok ini pun menjadikan video yang berdurasi kurang dari dua menit ini sudah ditonton lebih dari 2,7 juta pengguna akun YouTube. Spekulasi pun mulai berdatangan seiring pertumbuhan angka penonton di video yang diunggah oleh pemilik akun bernama The Hidden Underbelly 2.0 ini. Sebagian besar warganet yang sudah menyaksikan klip ini tidak mempercayai bahwa bayangan putih tersebut merupakan sebuah kereta hantu. “Bisa jadi itu refleksi dari kaca,” tulis salah satu pengguna Youtube di kolom komentar. “Sepertinya itu hasil rekaman yang tergandakan,” timbal akun lain. Namun tidak sedikit juga pengguna yang mempercayai bahwa itu merupakan sebuah kereta hantu. Baca Juga: Inilah 12 Stasiun Angker di Dunia! Hingga kini, tidak ada yang dapat memastikan keaslian dari video kereta hantu dari Stasiun Baotou tersebut, dan tetap menjadi teka-teki yang belum terpecahkan.

Bell Tampilkan Desain Teknologi Taksi Udara

Taksi udara, merupakan gagasan teknologi yang semakin lama semakin nyata. Bahkan beberapa perusahaan sudah membuat prototipe dan mencobanya terbang. Taksi udara yang dibuat ini biasanya dijalankan secara otonom atau tanpa pengemudi. Salah satu perusahaan yang ikut andil dalam pembuatan taksi udara ini adalah Bell. Baca juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom! Bell Helicopter yang kini telah berubah nama menjadi “Bell” menampilkan teknologi terbarunya untuk masa depan di festival tahunan South by Southwest (SXSW) di Austin. Perusahaan ini menjelaskan tentang ambisi yang mereka miliki untuk memproduksi taksi udara perkotaan dengan tenaga listrik di masa depan. “Pengubahan merek ini bukan hanya tentang logo baru. Kami memilih untuk melakukan ini karena kami melihat diri kami di garis depan teknologi. Kami percaya penyegaran ini mewujudkan gagasan bahwa kita dapat membuat dimensi vertikal lebih mudah diakses,” kata Presiden dan CEO Bell, Mitch Snyder. KabarPenumpang.com melansir dari laman rotorandwing.com (13/3/2018), Direktur inovasi Bell, Scott Drennan kemudian menjawab produksi taksi tersebut dengan replika Bell Air Taxi pada vertiport simulasi. Dalam pengembangan taksi udara ini, Hillwood sebagai mitra pembangunan resmi dan infrastruktur untuk program Uber Elevated mencatat bahwa pihaknya berencana untuk mengembangkan vertiport di seluruh wilayah Texas utara. Menurut Hillwood lokasi pertama vertiport adalah Frisco dan Dallas atau Fort Worth (DFW) International Airport. “Kami membayangkan tiga hingga lima vertiports pada 2020 di DFW, tetapi pada akhirnya akan didorong pasar. Ini bisa menjadi permukaan tanah atau di atas struktur yang ada seperti bangunan atau garasi,” ujar juru bicara Hillwood. Untuk pilihan daya geraknya terhadap konsep taksi udaranya di masa depan, Drennan mengatakan, pihaknya tengah melakukan eksplorasi pada beberapa pilihan termasuk pada propulsi hybrid dan listrik. Apalagi saat ini kelayakan teknis dari semua taksi udara bertenaga listrik adalah tentang diskusi pada Heli-Expo bulan lalu. Baca juga: Didukung Intel Capital, Joby Aviation Siap Ramaikan Industri Taksi Udara “Kami merancang demonstran #BellAirTaxi pertama kami untuk menjadi otonom, tetapi kami percaya ketika pesawat datang ke pasar akan ada petugas pilot keselamatan dan misi di kapal,” kata Drennan. Lebih lanjut Drennan menjelaskan, bahwa ketika taksi udara mereka menjadi sepenuhnya otonom, itu akan memungkinkan penumpang yang memasuki pesawat untuk memasuki tujuan mereka dan terbang secara otonom ke vertiport yang diinginkan.

Ponsel Keluarkan Asap, 80 Penumpang MTR Hong Kong Terpaksa di Evakuasi

Tak hanya di pesawat, insiden yang melihatkan baterai ponsel juga melanda jaringan kereta. Seperti kepanikan yang melanda setelah asap dari sebuah ponsel memenuhi salah satu rangkaian MTR (Mass Transit Railway) di Hong Kong dan membuat 80 penumpangnya harus di evakuasi. Baca juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia KabarPenumpang.com melansir dar laman scmp.com (6/4/2018), bahwa insiden ini diduga disebabkan oleh baterai ponsel yang terlalu panas. Insiden ini terjadi pada jam sibuk Jumat (6/4/2018) sekitar pukul 09.00 waktu setempat, setelah kereta South Island Line yang berada di Admiralty meninggalkan stasiun South Horizon. Seorang juru bicara MTR Corporation mengatakan insiden tersebut diberitahukan oleh seorang penumpang kepada staf di pusat kendali operasi melalui sistem komunikasi darurat. “Staf di atas kereta dikerahkan untuk menyelidiki dan menemukan ponsel yang rusak di lantai. Penumpang memberi tahu kami bahwa ponsel mengeluarkan asap, dan penumpang lainnya menggunakan alat pemadam untuk menyemprot ponsel tersebut,” ujar juru bicara MTR. Dengan adanya insiden tersebut petugas mengambil tindakan pencegahan untuk keamanan dimana semua penumpang kereta MTR di evakuasi dari tiga kereta setelah tiba di stasiun Lei Tung. Juru bicara MTR mengatakan ada sekitar 80 penumpang dalam kereta tersebut. Juru bicara itu menambahkan, kereta kemudian ditarik ke depo untuk dilakukan pemeriksaan dan penumpang yang terdampak menggunakan kereta berikutnya. Pihak kepolisian mengatakan, bahwa dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa dan semua penumpang selamat. “Penyelidikan awal menemukan tidak ada yang mencurigakan dan baterai yang terlalu panas adalah penyebab dugaan dari insiden tersebut,” ujar salah seorang juru bicara kepolisian. Baca juga: Alami Masalah Kelistrikan, Kereta Cepat di Cina Terbakar Hebat! Kejadian ini hampir mirip dengan yang terjadi di Manila, Filipina Januari 2018 lalu. Dimana asap tiba-tiba keluar dari bawah kursi kereta MRT-3 dan membuat 600 orang penumpangnya panik serta membuat mereka memaksa membuka pintu kereta dan berjalan sepanjang jalur pada sore hari itu. Asap tersebut datang dari gerbong tengah kereta tersebut. Masalah ini dikarenakan dari listrik sehingga ada asap yang keluar dan tidak ada api sama sekali. Ini membuat perjalanan MRT lainnya terhambat.

Stasiun Sukacinta, Menjadi Besar Karena Tambang Batu Bara di Dekatnya

Cinta sebuah perasaan yang membuat dua insan saling mengasihi dan menyayangi. Namun, apa jadinya jika kata suka dan cinta di jadikan satu? Mungkin yang ada di benak Anda adalah sebuah hubungan antar dua insan manusia. Baca juga: Jalur Kereta Lampung-Palembang, Sinergikan Lintasan Penumpang dan Batubara Tapi sayangnya, ini bukanlah berkaitan dengan hal tersebut, melainkan nama sebuah stasiun yang berada di Sumatera Selatan. Stasiun ini bernama Sukacinta dan biasa di singkat SCT atau CINTO dalam komunikasi para pegawainya melalui Handy Talkie (HT). KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun ini berada di desa Suka Marga, kecamatan Merapi Barat, kabupaten Lahat, Sumatera Selatan dengan ketinggian +78 meter. Stasiun ini masuk Divisi Regional III (Divre) Palembang. Meski menjadi salah satu stasiun kecil dan dulunya nyaris sulit ditemukan di peta bahkan tak pernah terdengar namanya. Namun, kini sudah berbeda jauh, apalagi ternyata stasiun Sukacinta berada dekat dengan tambang batu bara dan melayani kereta api pengangkut batu bara. Kereta batu bara ini juga bernama sama dengan stasiunnya yakni kereta api batu bara Sukacinta. KA Sukacinta sendiri merupakan sebutan KA pengangkut batu bara milik dua perusahaan swasta yaitu PT Bara Alam Utama (PT BAU) dan PT Bara Multi Sugih Sentosa (PT BMSS). Kedua perusahaan ini bekerja sama dengan PT KALOG sejak 2011 dan 2012 lalu. KA pengangkut batu bara tersebut dari Suka Marga menuju arah dermaga Kertapati untuk di ekspor ke luar negeri. Meski stasiun kecil di masa lalunya, kini stasiun Sukacinta sudah menjadi stasiun besar. Dimana kini ada jalur sepur belok di jalur 1 dan 3 sepanjang 600 meter. Selain itu peninggian jalan kereta api untuk keperluan bongkar muat, pemasangan wesel, tiang listrik baru hingga pembuatan rumah sinyal. Baca juga: D52, Lokomotif Uap Modern Pasca Kemerdekaan Indonesia KA SCT memiliki frekuensi perjalanan dengan relasi dari stasiun Sukacinta menuju Kertapati atau stasiun Simpang sebanyak 12 kali. Rata-rata panjang rangkaiannya berjumlah 60 gerbong data dengan berat maksimum dari PT INKA 50 ton. Stasiun Sukacinta juga menjadi salah satu stasiun persilangan dan terkadang kereta penumpang yang menuju stasiun Lahat berhenti jika ada kereta lain akan melintas.

Virgin Galactic Sukses Terbangkan (Kembali) Pesawat Bertenaga Roketnya ke Antariksa

Virgin Group melalui anak perusahaannya,Virgin Galactic kembali memberikan gebrakan di sektor aviasi global. Diketahui, perusahaan besutan Sir Richard Brenson ini baru saja meluncurkan VSS Unity, pesawat ruang angkasa bertipe subordital yang dirancang untuk pariwisata antariksa. Dengan bantuan dari pesawat WhiteKnightTwo, VSS Unity ini ‘ditembakkan’ dari Gurun Mojave, California pada Jumat (6/4/2018) pagi. Baca Juga: Virgin Galatic Uji Coba Pesawat Luar Angkasa Komersial Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari sejumlah sumber, pesawat ini mengudara bersama dengan pilot uji Mark “Forger” Stucky dan Dave Mackay pada pukul 08.02 waktu setempat. Sang pesawat induk, WhiteKnightTwo, membawa VSS Unity hingga ketinggian 46.500 kaki (14.175 meter) di atas permukaan tanah sebelum akhirnnya melepaskan pesawat yang diketahui pernah mengalami insiden masif pada 31 Oktober 2014 silam. Ketika sudah mencapai ketinggian tersebut, VSS Unity yang memiliki panjang 18 meter ini berhasil mengarungi angkasa dengan kecepatan 2.290 km per jam (Mach 1.87) dalam 30 detik setelah menyalakan mesinnya. Tidak tanggung-tanggung, VSS Unity pun berhasil menanjak hingga sudut 80 derajat.
Sumber: newatlas.com
Uji coba penerbangan tersebut pun bisa dibilang mulus dan tidak menemukan kendala yang berarti. Hingga akhirnya VSS Unity bersama dua pilot yang mengendalikannya berhasil menembus ketinggian 84.271 kaki (25.700 meter) di atas permukaan tanah, sebelum akhirnya sang pilot memutuskan untuk mengaktifkan “Feather” system yang akan memudahkan mereka kembali menuju permukaan bumi. Twin tail dari pesawat ini pun berganti arah 60 derajat dari badan pesawat, dimana hal tersebut akan membuat hidung pesawat yang semula menghadap ke udara berbalik arah dan menukik menuju bumi. Cara kerja dari “Feather’ system ini bisa dibilang hampir mirip dengan sebuah shuttlecock yang biasa digunakan dalam permainan bulutangkis. Setelah menukik turun sejauh 50.000 (15.240 meter) menuju permukaan bumi, twin tail VSS Unity pun kembali ke posisi semula dan membuang sisa oksidator saat meluncur kembali menuju runway di Gurun Mojave, California. Uji coba penerbangan ini pun sukses dan menghasilkan data tentang kinerja pesawat selama pembakaran mesin serta selama transisi dari kecepatan subsonik ke supersonik. Baca Juga: Yuk Intip Aktivitas Awak Kabin Virgin Atlantic “Kami menggabungkan mekanisme keamanan tambahan yang diadopsi setelah kecelakaan penerbangan uji VSS Enterprise pada tahun 2014 silam,” tuang Virgin Galactic dalam keterangan tertulisnya. Tentu saja, uji coba penerbangan pesawat bertenaga roket ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan. Jika dalam beberapa uji coba lanjutan di masa yang akan datang, Virgin Galactic tidak menemukan masalah, maka bukan tidak mungkin dalam waktu dekat ini mereka akan mulai menjajakan tiket perjalanan wisata menuju ruang angkasa.