“Si Gombar” yang Tak Lagi Menghembuskan Uapnya

Lokomotif uap saat ini lebih banyak menjadi wahana wisata seperti di Sumatera Barat, Ambarawa, bahkan Solo. Salah satu lokomotif uap yang pernah melintasi rel di Tanah Air adalah si Gombar yang ada di jalur Priangan (Jawa Barat). Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman Lokomotif DD52 seri SS1200 atau si Gombar ini awalnya digunakan untuk menarik kereta barang melalui jalur Priangan yang terkenal ekstrem dan berbukit. Hingga akhirnya juga digunakan untuk menarik kereta penumpang yang juga mengangkut barang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa si Gombar sendiri identik dengan Garut. Nama si Gombar sendiri juga pemberian masyarakat Jawa Barat yang daerahnya dilalui oleh lokomotif uap DD52 tersebut. Jika dilihat dari dalam kamus bahasa Sunda, Gombar berasal dari manusia jahat pada tahun 1911 yang ada di film Amerika dengan badan besar dan tenaga kuat. Sehingga digunakan masyarakat Jawa Barat untuk menggambarkan hal-hal yang besar dan bertenaga besar pula salah satunya kereta api. Adapun rute-rute yang pernah di lalu si Gombar di tanah Priangan adalah berikut ini. – Jalur Bandung-Cianjur-Bogor – Jalur Bandung-Purwakarta-Cikampek – Jalur Bandung-Cibatu-Tasikmalaya-Ciamisn – Jalur Ciamis-Pangandaran – Jalur Bandung-Dayeuhkolot-Ciwidey – Jalur Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari – Jalur Dayeuhkolot-Majalaya – Jalur Cibatu-Garut-Cikajang Tetapi, sebelum menghembuskan uap terakhirnya karena penggantian lokomotif uap ke diesel, si Gombar pernah mengangkut kayu dan mengalami kecelakaan tertabrak truk hingga terguling keluar dari rel. Kejadian ini membuat jalur Soreang-Ciwidey di matikan dan stasiun Ciwidey juga ikut tutup tahun 1975. Namun, selain itu, jalur-jalur yang pernah di lalui si Gombar kini hanya tinggal kenangan. Sebab si Gombar menghembuskan uap terakhirnya di rute Cibatu-Garut-Cikajang pada pertengahan 1983. Kemudian si Gombar dan lokomotif uap lainnya digantikan lokomotif diesel CC200. Lokomotif diesel tersebut melaju melalui jalur yang masih aktif hingga kini yakni jalur selatan yang menghubungkan Jakarta, Cikampek, Purwakarta, Bandung, Cibatu (Garut), Tasik hingga ke Jawa tengah dan Jawa Timur. Baca juga: KA “Simandra,” Kereta Api Ekonomi Lokal Tanpa Sensasi Mandra Diketahui, awalnya lokomotif si Gombar tipenya DD52 seri SS1200 didatangkan dari tiga pabrikan berbeda yakni Hanomag (Jerman), Werkspoor (Belanda), dan Hartmaan (Jerman) sebanyak 10 unit. Kini jejak lokomotif si Gombar tipe DD52 seri SS1200 sudah tak lagi ada karena dua unit terakhir dilebur.

Pownis, Mobil Kayu Berbahan Bakar Solar dan Bensin

Jika Bandung punya Bandros, Bangka juga tak mau kalah dengan memiliki Pownis yang sempat menjadi moda transportasi dari Pangkalpinang menuju Sungailiat a (Pinkong-Liatkong). Oto Pownis ini sendiri hadir di Pangkalpinang karena kondisi jalan dan jembatan yang ada di Bangka cukup memadai untuk perjalanan transportasi. Baca juga: Keliling Bandung Naik Bus Bandros Yuk! Di tahun 1970, 1980 hingga 1990 Pownis sendiri beroperasi sekitar 53 unit. Pownis ini sebelum mengangkut penumpang dan barang biasanya mengantri sesuai dengan nomor lambung masing-masing baik di terminal Pangkalpinang maupun di Sungailiat. Uniknya mobil ini sama seperti angkutan daerah lainnya yang tidak mengharuskan penumpang turun di terminal melainkan bisa turun di jalan dan kampung sepanjang rute Pangkalpinang-Sungailiat. Tak hanya sebagai angkutan penumpang dan barang pada masa jayanya, Pownis sendiri bisa di sewa untuk acara keluarga atau kegiatan lainnya. Dari fakta yang didapatkan KabarPenumpang.com saat pameran angkutan masa lampau, Pownis merupakan kendaraan paling unik dimana hampir keseluruhannya terbuat dari bahan kayu seperti tempat duduk, jendela hingga pintunya.
Pownis kini jadi angkutan City Tour Pangkal Pinang (KabarPenumpang.com)
Biasanya kayu yang digunakan adalah kayu Ubak atau Medang, Mentangir dan Menggris. Kaca jendela mobil ini bisa dinaik turunkan sesuai kondisi dan cuaca. Bagasi penumpang ada di bagian atas mobil. Pownis sendiri secara umum dicat warna merah untuk kepala mobil dan warna kuning gading untuk badan mobil. Pownis ini sendiri menggunakan bahan bakar solar dan bensin. “Pintunya saja berat, ini dibuat dari kayu juga. Tapi untuk bagian luar dari besi seperti mobil lainnya hanya lantai, pintu, kursi dan jendelanya yang kayu. Itu di jendela ada tralis seperti di rumah,” ujar Dista, staff museum Timah Bangka di pameran bus antik JI Expo yang ditemui KabarPenumpang.com, Jumat (23/3/2018). Sayangnya seiring masuknya kendaraan penumpang ukuran minibus sperti L-3000, Pownis pun perlahan tersisihkan sampai tahun 2000. Namun, Pownis sendiri masih beroperasi hingga tahun 2012 sekitar tujuh unit dan setelah itu hilang seperti ditelan bumi. Tetapi, Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, pada April 2016 lalu kembali memperkenalkan Pownis untuk kegiatan City Tour Pangkalpinang. Kini ada dua Pownis yang digunakan untuk City Tour supaya membangkitkan memori kolektif masyarakat Bangka akan masa lalu. “Kita sediakan mobil ini di museum Timah yang ada di kota Pangkalpinang. Gratis dan biasanya beroperasi pada Sabtu-Minggu atau saat liburan. Kita pernah bawa anak PAUD dan TK berkeliling dengan mobil ini. Pembiayaan operasional langsung dari PT Timah, sehingga bagi pengunjung yang ingin menikmati Pownis bisa langsung ke museum dan menikmati keliling Pangkalpinang secara gratis,” Jelas Dista. Baca juga: Sulap Bus Reyot, Ecotact Hadirkan Bus Toilet Berfasilitas Lengkap! Rute operasional Pownis dimulai dari museum Timah, masjid Jamik, rumah residen, taman sari, menara air, panti Wangka, RS Bakti Timah, Europeesce Lagere School dan Hollandisch Chineesche School. Kemudian berlanjut melalui GPIB Maranatha, pemakaman Belanda, House of Lay Nam Sen, Gereja Katedral St Yosef, wisma Timah Satoe, Resident Cantoor dan kembali ke museum Timah.

Di Malaysia, Jalur MRT Ini Justru Sepi Peminat

Tujuan utama dari hadirnya sarana transportasi berbasis massal adalah untuk penumpang yang lebih banyak dalam satu moda. Dengan begitu, diharapkan para pengguna jalan dapat meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah dan beralih menggunakan sarana transportasi umum. Namun apa jadinya jika sarana transportasi berbasis massal yang sudah disiapkan pemerintah tidak dimanfaatkan oleh masyarakat? Tentunya upaya pemerintah untuk mengentaskan kemacetan akan sia-sia. Baca Juga: Kendalikan Pikiran Anda, Cara Ampuh Atasi Dampak Stress dari Kemacetan Kasus ini sudah bukan jadi rahasia umum di Ibukota, dimana pertumbuhan kuantiti dari kendaraan pribadi terus melaju sedangkan pemerintah pun semakin gencar untuk melakukan penambahan sarana transportasi umum. Alhasil, kemacetan yang semakin meradang menjadi imbas dari kegagalan program pemerintah ini. Hal yang hampir serupa pun terjadi di negeri tetangga, Malaysia, dimana jaringan Mass Rapid Transit (MRT) Sungai Buloh – Kajang (SBK) pun dinilai gagal dalam urusan mengentaskan masalah kemacetan di Negeri Jiran. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman freemalaysiatoday.com (25/2/2018), sebuah laporan dari Financial Times (FT) menyebutkan bahwa masyarakat setempat kurang memanfaatkan hadirnya sarana transportasi berbasis massal seperti MRT. Padahal, pembangunan jalur MRT SBK ini mencapai angka RM23 miliar atau setara dengan Rp81 triliun, belum termasuk biaya pembebasan lahan dan konsultasi. Sebuah dana yang tidak sedikit untuk sebuah jaringan transportasi yang kurang dimanfaatkan oleh para pengguna jasa. Sebagaimana yang sudah direncanakan sejak awal pembangunan, jaringan MRT SBK ini memiliki kapasitas angkut maksimal 400.00 hingga 500.000 penumpang setiap harinya. Namun pada kenyataannya, Prasarana Malaysia selaku operator dari jalur ini mengatakan bahwa armadanya hanya mengangkut 150.000 penumpang setiap harinya pada pertengahan 2017 silam. Angka tersebut terus mengalami penyusutan hingga ke level 132.000 penumpang per hari pada Januari 2018 kemarin. “Angka pertumbuhan penumpang sangat lambat, bahkan cenderung merosot. Diperkirakan jalur MRT SBK ini tidak cocok untuk mengentaskan kemacetan,” tutur salah satu sumber dari Prasarana Malaysia. Kelangsungan layanan MRT SBK ini semakin buruk manakala lebih dari setengah responden survei FT Kuala Lumpur kuartal keempat tahun 2017 menyebutkan bahwa kondisi lalu lintas akan semakin parah di tahun 2018 ini meskipun jaringan MRT sudah jauh lebih baik. Baca Juga: Taksi Air, Jadi Solusi Kemacetan di Malaka “Hanya 16 persen yang mengatakan kondisi lalu lintas akan semakin membaik,” tandasnya. Ya, bisa dibilang ini merupakan imbas dari predikat negara dengan tingkat kepemilikan kendaraan roda empat tertinggi di Asia Tenggara yang disandang oleh Malaysia. Berdasarkan pada data resmi yang dimiliki oleh pemerintah setempat, setiap 1.000 orang di Malaysia diperkirakan memiliki 415 mobil pada tahun 2017 silam. Angka tersebut melebihi presentase dari Thailand yang diketahui sebagai hub manufaktur otomotif di kawasan Asia Tenggara. Data menyebutkan bahwa setiap 1.000 orang di Thailand memiliki 166 kendaraan roda empat, lebih dari setengah angka kepemilikan kendaraan roda empat di Malaysia.

Diakuisisi Grab, CEO Uber: “Ini Taktik Untuk Tingkatkan Profit”

Kabar mengejutkan datang dari sarana transportasi berbasis online, dimana Grab mengakuisisi salah satu kompetitor terberatnya, Uber pada Senin (26/3/2018). Tidak tanggung-tanggung, Grab akan mengambil semua aset serta pangsa pasar Uber yang ada di Asia Tenggara, yang meliputi Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Secara otomatis, semua driver Uber harus melakukan ‘daftar ulang’ dan mengubah almamater kuning-hitamnya menjadi hijau milik Grab. Baca Juga: Travis Kalanick dan Garrett Camp, Dua Inovator Dibalik Nama Besar Uber Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pihak Uber akan menerima beberapa keuntungan nantinya, seperti kepemilikan 27,5 persen saham di Grab, “Dan CEO Uber, Dara Khosrowshaki akan bergabung dengan dewan direksi Grab,” tutur Group CEO dan Co-Founder Grab, Anthony Tan dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/3/2018). Dengan adanya akuisisi ini, Grab dan Uber akan bekerja sama untuk migrasi mitra pengemudi, pelanggan, rekanan pengantaran, hingga pedagang yang ada di aplikasi Uber ke aplikasi Grab. Bagi Anda yang hingga saat ini masih memiliki aplikasi Uber di gadget Anda, tidak perlu khawatir karena aplikasi ini masih akan berjalan seperti biasa hingga periode dua minggu ke depan. “Aplikasi Uber akan tetap beroperasi selama dua minggu ke depan untuk memastikan stabilitas para mitra Uber, di mana mereka dapat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai persyaratan pendaftaran mitra Grab secara online,” ungkap co-founder Grab, Tan Hooi Ling. Adapun pihak Grab memberikan tenggat wakktu hingga 8 April 2018 mendatang untuk menyelesaikan ‘migrasi’ pada masa transisi ini. “Pengemudi Uber harus mendaftarkan diri di Grab untuk kepastian mengemudi ke depannya setelah layanan Uber tidak aktif,” begitulah pernyataan dari pihak Grab yang menyatakan bahwa mereka siap menampung pengemudi Uber yang terancam kehilangan mata pencahariannya, dikutip dari laman resmi Grab. Dengan adanya proses akuisisi ini, maka Uber tercatat sudah kesekian kalinya ‘menggadaikan’ sahamnya. Tercatat, Didi Chuxing, sebuah perusahaan teknologi penyedia jasa transportasi asal Negeri Tirai Bambu, dan Yandex, sebuah perusahaan teknologi asal Rusia menjadi dua perusahaan yang pernah membeli saham Uber beberapa waktu yang lalu. Dara Khosrowshahi pernah mengungkapkan bahwa dengan menarik diri dari pasar di Asia Tenggara, Uber dapat meningkatkan profit perusahaan. Sebelumnya, pendapatan Uber bisa dibilang terjun bebas dengan kerugian yang mencapai angka US$10,7 miliar atau yang seharga dengan Rp146,9 triliun dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. Dara pun mulai memberi isyarat untuk melakukan penetrasi pasar di Jepang dan India untuk sektor Asia. Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun! Dengan penambahan kekuatan di masing-masing perusahaan berbasis online ini, maka persaingan di pasar diramalkan akan semakin ketat. Bagaimana tidak, Go-Jek sebagai salah satu pionir bisnis serupa di Indonesia telah mendapatkan berbagai cairan dana dari beberapa perusahaan asing. Sedangkan Grab sukses mengakuisisi Uber, dimana penambahan jumlah armada sudah pasti terjadi di tubuh Grab sendiri.

Ibu Hamil Berdiri, Penumpang Sehat Duduki Kursi Prioritas di Kereta

Kursi prioritas sebenarnya dikhususkan untuk ibu hamil, lansia dan penyandang disabilitas. Kursi ini bisa di temukan dalam kereta commuter (KRL) bahkan di di dalam bus. Di Jakarta, kursi proritas yang ada di angkutan umum ini jika di KRL maupun di bus TransJakarta berada di dekat pintu. Baca juga: Wanita Hamil Viralkan Video di MRT dan Jadi Bahan Pembicaraan Netizen Singapura Hal ini untuk memudahkan penumpang prioritas mendapatkan tempat duduk mereka. Baru-baru ini di Brisbane beredar foto dimana penumpang yang sehat menduduki kursi prioritas sedangkan ada orang tua dan ibu hamil yang membutuhkan kursi tersebut. KabarPenumpang.com melansir dari laman couriermail.com.au (14/3/2018), seorang penumpang Rail Queensland, Jayda Chapman, sedang hamil memfoto para penumpang yang duduk di kursi prioritas dan mengunggahnya ke laman Facebook. “Tidak ada yang lebih buruk saat hamil 27 minggu dan bahkan saat bertemu dengan petugas kereta api Queensland tidak memberikan kursi yang ditujukan untuk wanita hamil, lansia dan penyandang disabilitas. Betapa tidak sopan duduk di sana bersama pasangannya saat saya sendiri seorang wanita hamil dan orang tua berdiri!! Itu sangat salah!!,” unggah Chapman di halaman Facebooknya.
Penumpang yang duduk di kursi prioritas (www.couriermail.com.au)
Dia juga mengambil foto seorang wanita yang duduk di kursi prioritas dengan tas tangannya serta mouse sembari memainkan laptopnya. Menurut Chapman itu sangatlah mengerikan ketika dirinya harus berdiri, setelah lelah bekerja di kantor dan kaki bengkak di penghujung hari. Saat itu dirinya hanya ingin duduk dan kereta penuh serta tergeser sana sini. “Memiliki rasa hormat dan melihat sekeliling Anda, saya pikir karena saya hamil, maka saya lebih butuh kursi itu dibandingkan orang-orang lain. Ini benar-benar menganggu saya. Terkadang saya bertanya kepada orang yang duduk apakah keberatan memberi saya duduk. Beberapa dari mereka melihat seperti mengatakan betapa tidak sopannya Anda,” ujar Chapman. Dia mengatakan, bila berdiri sungguh tidak nyaman karena kehamilannya apalagi menggantungkan tangan dan punggung akan terasa begitu sakit. Namun, tetap saja penumpang lain tidak menggubris dan berpikir sama saja tanpa mmberi duduk. “Saya hanya ingin membuat mereka sadar ini tidak dapat di terima. Wanita yang membawa anak, orang tua dan ibu hamil, ini cukup sulit dan mereka yang lai tidak peduli sama sekali,” tuturnya. Karena adanya unggahan dan cerita yang dituliskan Chapman tersebut, Chief Executive Officer Queensland Rail, Nick Easy mengatakan, kecewa mendengar pertemuan Chapman dengan petugas QR dan meminta maaf dengan tulus atas hal tersebut. “Ini tentunya bukan standar etiket yang kami harapkan dari para karyawan kami. Kami akan mengambil langkah yang tepat untuk menegaskan kembali standar yang kami miliki kepada karyawan,” ujar Easy. Baca juga: Teganya Penumpang Kereta Bikin Seorang Ibu Menyusui Sambil Berdiri Seorang juru bicara QR mengatakan, dua foto yang di ambil Chapman merupakan kursi prioritas yang paling dekat dengan pintu keluar kereta. “Tempat duduk prioritas disediakan di semua kereta api Queensland Rail dan kami meminta agar orang-orang memperhatikan lingkungan mereka serta mengosongkan kursi tersebut untuk sesama penumpang baik itu lansia, ibu hamil, ibu membawa anak ataupun penyandang disabilitas,” jelasnya.

Citilink Punya Rute Baru Jakarta-Penang, Negara Kedua Penerbangan Internasional Setelah Timor Leste

Melebarkan sayap di Asia Tenggara menjadi salah satu impian Citilink. Kemarin, tepatnya Minggu 25 Maret 2018, Citilink perdana mengudara dari Jakarta menuju Penang. Dengan penerbangan perdana dari Indonesia ke Malaysia tersebut sebagai awal ekspansi ke sejumlah negara di Asia Tenggara sekaligus untuk memperkuat konektivitas masyarakat ekonomi ASEAN. Baca juga: Q1 2018: Citilink Buka Rute ke Kuala Lumpur “Penerbangan perdana Citilink Indonesia dari Jakarta-Penang ini merupakan perluasan ekspansi penerbangan maskapai berbiaya hemat kebanggaan Indonesia, sekaligus memperkuat konektivitas di langit ASEAN sehingga mendukung mobilitas masyarakat ASEAN yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan,” ujar Pelaksana Harian Direktur Utama Citilink Indonesia, Fransetya Hutabarat. Fransetya mengatakan langkah selanjutnya setelah ini adalah menerbangi sejumlah negara ASEAN lainnya yang memiliki destinasi ramai dan potensi besar dalam memberikan manfaat bagi pertumbuhan pelancong serta perdagangan. “Namun demikian, sebagai satu masyarakat kawasan yang sedang tumbuh, tentu juga memiliki tingkat persaingan yang ketat, terutama dalam memberikan manfaat layanan kepada para penumpangnya, tidak terkecuali dalam industri penerbangan. Penumpang sudah semakin sadar akan layanan yang berkualitas, dengan beragam pilihan dan juga aksesbilitas yang baik,” kata Fransetya. Tak hanya itu rute ini memberikan pilihan penerbangan bagi pelancong Indonesia maupun Malaysia baik untuk liburan, bisnis maupun aktivitas medis yang banyak tersedia di Penang. Vice President Corporate Communications Citilink Benny S Butarbutar mengatakan, tujuan Penang ini dikarenakan adanya keseimbangan antara bisnis, wisata hingga medis atau pengobatan. Benny menambahkan, adanya pemilihan penerbangan tersebut juga dilihat dari jenis penumpang yang akan menuju wisata di luar negeri seperti ke Penang. “Ekspansi ke ASEAN karena bisnis, atau wisata kuliner dan lainnya. Penang di anggap seimbang dengan semuanya, 20-30 persen untuk bisnis dan sisanya untuk medis atau berwisata. Untuk ke negara lain kami masih kaji pasar yakni di mobilitasnya seperti jenis penumpang yang akan pergi ke negara tersebut,” ujar Benny yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (26/3/2018). Diharapkan, dengan adanya pilihan terbang yang lebih banyak, penerbangan Jakarta-Penang ini dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di kedua destinasi dimana Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat pertumbuhan jumlah wisatawan asal Malaysia ke Indonesia sebanyak 11,30 persen pada tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016. Selain itu, penerbangan Jakarta-Penang ini juga menunjukan komitmen Citilink Indonesia dalam mendukung program pemerintah ‘Visit Wonderful Indonesia 2018’ yang digagas Kementerian Pariwisata untuk dapat mendatangkan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 15 persen dari total target 2018 sebanyak 17 juta, atau 20 juta wisatawan mancanegara hingga akhir tahun 2019. Baca juga: Nekad Merokok di Kabin Sebelum Mengudara, Ini Tanggapan Pihak Citilink Indonesia Penang menjadi destinasi penerbangan internasional kedua setelah Dili, Timor Leste yang dibuka pada Mei 2017, serta merupakan salah satu langkah strategis Citilink Indonesia untuk “Go Regional” dalam melakukan ekspansi bisnisnya ke kawasan ASEAN, menyusul diraihnya penghargaan sebagai maskapai LCC Bintang Empat dari Skytrax. Penerbangan rute internasional Jakarta-Penang akan dilayani setiap hari dari Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng dan mendarat di Bandara Internasional Penang, Malaysia. Penerbangan dari Jakarta dilaksanakan pukul 09.55 WIB dan tiba di Penang pukul 13.25 waktu setempat.

Rangkul Bank Mandiri, DAMRI Siap Adaptasi Metode Pembayaran Non-Tunai pada Layanan JA Connexion

Penyebaran metode transaksi non-tunai atau yang dikenal sebagai cashless kini semakin menyebarluas. Baru-baru ini, Perum DAMRI menelurkan pernyataan yang mengisyaratkan bahwa salah satu badan usaha milik pemerintah tersebut akan segera menerapkan metode pembayaran ini di dalam pelayanannya. Demi melancarkan penerapannya, DAMRI menggandeng Bank Mandiri sebagai mitra kerjanya. Baca Juga: Akhir Maret 2018, Bus Damri Bandara Soekarno-Hatta Mulai Uji Coba Pembayaran Tiket Cashless Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, General Manager Perum DAMRI Cabang Angkutan Khusus Bandara Soekarno-Hatta, Irwanto mengungkapkan bahwa pemberlakuan metode pembayaran cashless ini merupakan arahan direksi dan dewan pengawas Perum DAMRI. “Pengguna jasa DAMRI bandara nantinya dapat membayar dengan menggunakan e-money, kartu kredit dan kartu debit Bank Mandiri,” terangnya, dikutip dari laman aksi.id (26/3/2018). Sebelum memberlakukan metode pembayaran modern ini, Perum DAMRI rencananya akan memberlakukan uji coba terlebih dahulu di rute Stasiun Gambir – Bandara Internasional Soekarno-Hatta (JA Connexion). “Pada uji coba ini, penumpang dapat membayar non-tunai di loket. Tinggal gesek. Nantinya seluruh trayek bus bandara kami akan menggunakan transaksi serupa yakni non-tunai,” tandas Irwanto. Sama seperti penyedia jasa lainnya, pemberlakuan metode pembayaran non-tunai ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh oleh Perum DAMRI untuk meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasa. “Kami juga secara gradual mengganti armada dengan bus yang lebih anyar dan berfasilitas lebih keren,” ungkapnya. Seperti yang diketahui bersama, sarana transportasi umum yang melayani rute bandara tidaklah JA Connexion sendiri. Ada Kereta Api (KA) Bandara Soetta yang dioperasikan oleh PT Railink yang menjadi rival terbaru dari JA Connexion. Dalam upayanya untuk memenangkan persaingan layanan dengan KA Bandara, JA Connexion pun memperluas jaringan dengan menambah rute baru. Baca Juga: Wujudkan Transaksi Cashless, Telkomsel Luncurkan TCASH Pass Untuk BRT Semarang “Kami juga membuka trayek-trayek baru melalui kerja sama dengan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Paling baru adalah jalur Kemang Pratama, Bekasi, dan D-Mall, Depok,” paparnya. Irwanto mengatakan bahwa hingga saat ini, layanan JA Connexion mengoperasikan 230 armada di 24 trayek yang berbeda dengan jumlah penumpang rata-rata 19ribu penumpang per hari. Trayek Gambir, Bogor, dan Bekasi merupakan penyumbang keuntungan terbesar Perum DAMRI di sektor angkutan bandara.

Jaring Penumpang Lebih Banyak, PT Railink Canangkan Perpanjangan Jalur Hingga Bekasi

Kehadiran kereta bandara yang menghubungkan Stasiun BNI City (sebelumnya Sudirman Baru) – Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta) ternyata memiliki tone positif. Layanan yang berada di bawah naungan PT Railink (anak perusahaan PT KAI) ini rencananya akan memperpanjang rute pengoperasiannya pada April 2018 mendatang. Baca Juga: PT Railink Patok Dua Skema Tarif Untuk Kereta Bandara Soekarno-Hatta Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman detik.com (26/3/2018), Direktur Utama PT Railink, Heru Kuswanto mengatakan bahwa hingga saat ini, dirinya bersama jajaran lain tengah mengkaji lebih lanjut mengenai rencana perpanjangan jalur hingga Stasiun Bekasi. Ia mengungkapkan, ada beberapa kendala teknis yang harus diuji terlebih dahulu sebelum akhirnya rencana pengoperasian layanan baru ini dikomersialkan. “Kita akan tarik kereta bandara itu sampai ke Bekasi. Itu sedang kita godok,” ujar Heru, Jumat (23/3/2018). Kendati dirundung masalah teknis yang mungkin saja menyandung langkah PT Railink, Heru optimis rencana perpanjangan jalur tersebut sudah matang sekitar 70 persen. “Kami inginnya 1 April, tapi karena ada beberapa hal teknis, rencana itu masih 70 persen lah, jadi masih harus dimatangkan, jadi belum bisa dipastikan (untuk tanggal 1). Yang pasti bulan April, hanya tanggalnya belum bisa diketahui,” tandasnya. Pun ketika disinggung soal perkiraan tarif yang dikenakan. Heru sendiri masih belum bisa membocorkan tentang besaran tarif yang akan dikenakan kepada para penumpang. Namun apabila mengacu pada harga yang berlaku pada rute Stasiun BNI City – Bandara Soetta (Rp70.000), diperkirakan ongkos yang dipatok PT Railink untuk baru ini berkisar antara Rp100.000 hingga Rp120.000. Agar tidak mengganggu layanan Commuter Line Jabodetabek yang sebelumnya sudah terlebih dahulu beroperasi di jalur ini, maka PT Railink masih membatasi jadwal perjalanan dari layanan baru ini. “Ini (jadwal masih) minimalis ya, sementara waktu ini di dalam non peak hour-nya KRL, jadi sekitar jam 09.00 WIB sampai jam 15.00 WIB sore. Itu saja. Untuk sekarang masih di luar jam sibuk,” terang Heru. Baca Juga: Belum Genap Satu Bulan Beroperasi, KA Bandara Soekarno-Hatta Angkut 75 Ribu Penumpang Sebelumnya, jalur kereta bandara yang mulai beroperasi sejak 26 Desember 2017 silam diketahui sudah sukses mengantarkan 75 ribu penumpang dalam periode waktu yang cukup singkat, yaitu satu bulan saja. Padahal dalam berita yang tersebar, kereta bandara ini isa dibilang cukup sepi penumpang. “Mungkin yang dimaksud sepi itu di jam-jam yang tidak favorit seperti subuh atau malam hari,” ujar Humas PT Railink, Diah Suryandari menampik pemberitaan yang beredar.

Pergerakan Penumpang Pesawat, Bisa Jadi Faktor Penyebaran Infeksi Pernafasan

Penumpang dengan pembawa influenza atau infeksi pernapasan lainnya bisa menularkan ke penumpang lainnya melalui tetesan cairan dari bersin atau saat batuk dan menutup mulut menggunakan tangan. Apalagi penularannya juga tidak akan mungkin ke semua penumpang dalam satu pesawat tetapi hanya yang berada di sekitaran penumpang sakit tersebut atau bersentuhan melalui benda yang di pegangnya. Baca juga: Saat Ada Penumpang Flu di Kabin, Maka Virusnya Tak Menyebar Pada Semua Orang Profesor Vicki Hertzberg dari Nell Hodgson Woodruff School of Nursing di Universitas Emory dan Howard Weiss yang memimpin penelitian mengatakan, pengembangan model untuk melihat penularan infeksi pernafasan atau influenza menggabungkan perkiraan infektivitas dan pola-pola kontak atau berhubungan di antara penumpang. KabarPenumpang.com merangkum dari futurity.org (21/3/2018), seperti kontak awak kabin dengan penumpang, hal ini bisa memungkinkan terkena infeksi. Anggota tim FlyHealthy yang melakukan penelitian ini, memantau area khusus kabin penumpang dan melakukan lima perjalanan dari East ke West Coast. Perjalanan tersebut dilakukan untuk melihat dan mencatat pergerakan penumpang dan awak kabin. Selain itu, para peneliti tersebut juga mengumpulkan sample udara dan mengambil dari permukaan yang terpapar mikroba. Para peneliti ini memanfaatkan data dari pergerakan untuk menciptakan ribuan skenario penerbangan seperti simulasi dan kemungkinan terkena paparan langsung penyakit pernapasan yang ditularkan melalui percikan cairan di permukaan dan udara. “Penyakit pernapasan sering menyebar dalam populasi melalui kontak dekat. Kami ingin menentukan jumlah dan durasi kontak sosial antara penumpang dan kru, tetapi kami tidak dapat menggunakan teknologi pelacakan reguler kami di pesawat terbang. Dengan pengamat terlatih kami, kami dapat mengamati di mana dan kapan kontak terjadi di penerbangan. Ini memungkinkan kita untuk memodelkan bagaimana transmisi langsung mungkin terjadi,” jelas Hertzberg. Hertzberg mengatakan, pihaknya menjadi tahu tentang bagaimana penumpang bergerak di dalam penerbangan. Mereka membuat ilustrasi dimana 40 persen penumpang tidak pernah meninggalkan tempat duduknya, 40 persen lainnya bangun satu kali selama penerbangan. Sedangkan sisa 20 persen lainnya bangun dua kali atau lebih. Jarak ke lorong kabin juga menjadi salah satu alasan pergerakan para penumpang pesawat. Sekitar 80 persen penumpang bergerak biasanya berada di dekat lorong, 60 persen dari kursi tengah dan 40 persen berada di kursi dekat jendela. Mereka rata-rata beranjak dari kursi sekitar lima menit. Para peneliti juga menunjukkan transmisi paparan virus yang tetap pada permukaan tertentu seperti meja lipat, sabuk pengaman, dan pegangan toilet sebagai kemungkinan tambahan penyumbang untuk penularan penyakit. Mereka memberikan rekomendasi kesehatan masyarakat untuk membantu mencegah penyebaran penyakit menular. “Kami menemukan bahwa penularan penyakit langsung di luar area satu meter dari penumpang yang terinfeksi tidak mungkin,” jelas Weiss. Sebab, infeksi pernapasan juga dapat ditularkan secara tidak langsung melalui kontak dengan permukaan yang terinfeksi. Ini bisa terjadi jika penumpang yang sakit batuk di tangan mereka dan kemudian menyentuh permukaan kamar kecil atau tempat sampah. Baca juga: Mesin Self Service di Bandara Ternyata Jadi ‘Sarang’ Kuman dan Bakteri  “Penumpang dan awak kabin dapat menghilangkan risiko penularan tidak langsung ini dengan melatih kebersihan tangan dan menjauhkan tangan mereka dari hidung dan mata mereka,” kata Hertzberg. Penelitian ini hanya mengevaluasi potensi penyebaran agen infeksi pada pesawat terbang. Penularan juga bisa terjadi pada titik-titik lain dalam perjalanan seorang penumpang, menggarisbawahi kebutuhan untuk mempertahankan kebiasaan sehat. Temuan lengkap dari penelitian ini muncul dalam Proceedings of National Academy of Sciences. Diketahui, pendanaan untuk penelitian tersebut berasal dari Boeing.

Koper Dirusak Oknum Tidak Dikenal, Penumpang ini Sebut Bandara I Gusti Ngurah Rai Jadi Lokasi Perusakkan

Apa yang akan Anda lakukan jika barang bawaan yang Anda masukkan ke dalam bagasi pesawat rusak? Tentu hal ini akan menyulut emosi Anda, bukan? Ya, kejadian inilah yang menimpa salah satu penumpang Singapore Airlines, dimana dirinya menyadari bahwa koper yang ia bawa dirusak oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kejadian ini ia ketahui sesaat setelah dirinya melakukan klaim bagasi. Baca Juga: Ini Alasan Pentingnya Plastik Wrap Untuk Barang Bawaan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (2/3/2018), seorang pemain biola, Katei Chang menemukan kopernya dalam kondisi yang sudah rusak pada bagian gembok ritsletingnya, Jumat (2/3/2018). Sontak, Katei yang kaget mengetahui hal tersebut langsung mengecek apakah ada barang yang hilang dari dalam kopernya. Beruntung, tidak ada satupun barang yang rusak maupun hilang. Diketahui, Katei melakukan transit di Bali terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan penerbangan menuju Changi International Airport. “Saya turun di Bali dan terbang menuju Singapura dengan menggunakan Singapore Airlines,” ungkap Katei di dalam laman jejaring sosial Facebook. “Ketika saya mengambil koper di claim baggage, saya sadar kunci gemboknya sudah dibuka secara paksa dan koper saya menjadi rusak karenanya,” lanjutnya. Menyadari hal tersebut, Katei langsung melaporkan kejadian tersebut ke bagian keamanan bandara dan bagian Lost and Found. Kendati begitu, Katei merupakan salah satu penumpang yang beruntung, karena tiga orang lainnya yang berada dalam penerbangan yang sama pun mengalami kejadian yang lebih buruk. Katei menuturkan bahwa ketiga penumpang tersebut mengaku koper mereka rusak dan sebagian dari barang mereka ada yang hilang. Menanggapi hal tersebut, pihak Singapore Airlines pun tidak tinggal diam dan menawarkan bantuan sebagai bentuk pertanggungjawaban. “Kami akan membantu mereka,” ujar salah satu petugas Singapore Airlines. Sebenarnya, ketakutan terbesar Katei bukan pada barang-barang yang hilang, namun pada tindakan fitnah. “Bagaimana jika ada oknum yang tidak bertanggungjawab menaruh obat-obatan terlarang atau bom di tas saya?” terang Katei. Ia pun bersikeras bahwa kopernya rusak pada saat dirinya transit di Bali, dan sayangnya asumsi Katei tersebut ia tuliskan di Facebook. Tak ayal, postingan Katei tersebut diberondong komentar netizen yang membacanya. “Bagaimana mungkin Anda yakin hal tersebut (koper rusak) terjadi di Bali? Bagaimana jika kejadiannya ternyata setelah Anda mendarat di Singapura?” tanya salah satu pengguna Facebook. Pertanyaan lain pun hampir mirip, yang pada intinya mereka bertanya-tanya, “Mengapa Katei sangat yakin bahwa kopernya dirusak ketika ia tengah transit di Bali.” Baca Juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya Setelah serentetan pertanyaan pada akun Facebooknya tersebut, Katei langsung mengklarifikasi pernyataannya. “Kejadian seperti ini bisa menimpa siapa saja dan dimana saja,” tulisnya bijaksana. Walaupun hingga kini masih belum diketahui secara pasti dimana tindakan vandalisme ini terjadi, namun pihak Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pun turut mengulurkan tangannya untuk membantu Katei menemukan oknum yang merusak kopernya. “Kasus ini masih kami selidiki,” ungkap salah satu petugas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.