Memiliki badan dengan bobot yang lebih besar dan ibu muda yang membawa bayi bersamanya dilarang memesan kursi bisnis pada pesawat milik maskapai Thai Airways. Larangan ini hanya ditujukan untuk naik ke kelas bisnis pesawat Thai Airways Boeing 787-9 Dreamliner terbaru.
Baca juga:Untuk Penumpang Obesitas, Perpanjangan Sabuk Pengaman Belum Jadi PrioritasKabarPenumpang.com melansir dari laman traveller.com.au (20/3/2018), bahwa larangan ini di sampaikan dan di jelaskan pada Jumat lalu (16/3/2018) oleh director of security and flight standard division, Penerbangan Letnan Pratthana Pattanasirim. Diketahui Thai Airways baru saja menerima dua 787-9 Dreamliner-nya pada September 2017 kemarin.
Dalam Boeing 787-9 Dreamliner ini sudah dilengkapi dengan kursi Cirrus Zodiac terbaru untuk kelas bisnis Royal Silk dalam konfigurasi 1-2-1 yang lebih luas. Kursi ini bisa dirubah menjadi tempat tidur datar dan memberikan privasi dan akses lorong kabin langsung pada penumpang.
Kursi pada kabin bisnis Thai Airways sendiri dipasang dengan sistem airbag yang baru dan sabuk pengaman dimana tidak bisa mengakomodasi penumpang yang memliki besar lebih dari 56 inci atau 142,24 cm. Sebab, ukuran kursi tersebut sudah disesuaikan dengan Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat.
Kursi ini juga mengesampingkan penumpang yang membawa anak dalam pangkuan mereka dan kini dipaksa harus menggunakan kelas ekonomi dari Bangkok ke Auckland dan Taipei. Pesawat Boeing 87-9 terbaru ini sendiri diperkenalkan memiliki teknologi yang lebih maju untuk kenyamanan penumpang dan membuka peluang untuk terbang dengan rute jarak jauh nonstop ke Amerika Utara.
Armada Boeing 787-9 ini merupakan armada tambahan dari Boeing 787-8 dan Airbus A350 yang sudah ada. Dua tipe armada milik Thai Airways ini sendiri beroperasi pada rute penerbangan Eropa, Melbourne dan Singapura.
Namun,Thai Airways bukanlah maskpai pertama yang mempermasalahkan berat badan. Tahun 2013 lalu Samoa Air adalah maskapai pertama yag di dunia yang membuat penumpang harus menyesuaikan berat badan mereka.
Maskapai yang kini sudah tak beroperasi tersebut dulu menambahkan 50 sen bagi setiap penumpang yang kelebihan satu kilogram dari bobot tubuh pada peraturan mereka. Ini juga termasuk dengan barang bawaan yang dimiliki.
Di Samoa sendiri menjadi negara dengan penduduk yang memiliki obesitas tertinggi di dunia dan hampir tiga perempat dari populasi dewasanya di anggap obesitas. Hawaiian Airlines juga mengenalkan kebijakan baru bagi penumpang yang akan terbang dari dan ke Pago-Pago, ibu kota Samoa.
Dimana penumpang tidak lagi diperbolehkan memilih tempat duduk secara online dan harus ditimbang sebelum naik pesawat. Ini dilakukan agar maskapai bisa melihat bobot kelebihan di dalam kabin.
Akhir 2017 lalu, Finnair juga mulai menimbang penumpang mereka karena mengikuti perkiraan berat rata-rata European Aviation Safety Agency (EASA). Dimana EASA memperkirakan rata-rata berat pria 84,6 kg dan perempuan 66,5 kg.
Baca juga: Kartu Kredit Bantu Prediksi Ukuran Tubuh Penumpang Pesawat, Kok Bisa?
Namun berat badan orang Finlandia sendiri cenderung lebih tinggi dimana pria 85 kg dan perempuan 70 kg. Pihak Finnair mensurvei dua ribu penumpang secara sukarela untuk mendapatkan lebih banyak data tentang berat penumpang.
Hal ini dilakukan untuk memperkirakan berapa banyak bahan bakar yang diperlukan untuk penerbangan. Sebab, semakin berat pesawat, semakin mahal biaya terbangnya dan keselamatan adalah faktor terpenting karena pesawat memiliki berat lepas landas yang maksimal.
Perkembangan yang terjadi di sektor teknologi seolah tidak pandang bulu, tidak hanya gadget saja yang semakin berkembang, bahkan dunia transportasi pun tidak bisa menampik perkembangan ini. Sebut saja kereta api, ketika di awal kemunculannya mereka masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar utamanya, kini sudah banyak kereta yang mengandalkan tenaga listrik dan bisa mengular dengan kecepatan yang fantastis, jauh mengungguli kecepatan di awal kemunculannya.
Baca Juga: Jelang Pensiun, JR West Pamerkan Kereta Peluru Tematik, Shinkansen 500 EVA “Evangelion”
Menyinggung soal perkembangan kereta, nampaknya Indonesia masih harus berangan-angan untuk bisa menikmati jaringan kereta berkecepatan tinggi, setelah proyek pengadaan kereta cepat pertama di Indonesia yang menghubungkan Jakarta – Bandung mengalami berbagai kendala dan terancam terbengkalai. Berbeda dengan negara yang sektor perkeretaapiannya banyak dijadikan benchmark oleh negara lain, Jepang yang kini tengah mengembangkan salah satu armada kereta cepatnya, N700.
Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Central Japan Railway telah meluncurkan prototipe kereta N700S, sebuah kereta peluru yang dirancang khusus sehingga lebih ramah lingkungan dan dapat lebih memanjakan para penumpangnya. Kereta yang dapat melaju hingga menyentuh kecepatan 186 mph atau yang setara dengan 300 km per jam ini rencananya akan mulai beroperasi pada tahun 2020 mendatang.
Dengan desain moncong yang lebih lancip daripada pendahulunya, soket istrik disetiap bangku, dan rak bagasi ringai, N700S ini direncanakan akan mengular di Tokaido Shinkansen Line, yang menghubungkan Tokyo dan Shin-Osaka.
Sebenarnya, huruf S yang tersemat pada akhir nama kereta ini mengacu kepada kata ‘Supreme’, dimana layanan yang diberikan melalui kereta ini merupakan yang prima dan unggulan. Jadi tidak heran jika kereta yang rencananya akan diuji coba pada akhir bulan Maret ini dicanangkan sebagai kereta yang memberikan layanan mewah.
Dilihat dari segi kenyamanannnya, N700S memiliki ruang gerak kaki 15 persen lebih besar daripada para pendahulunya. Satu rangkaian N700S ini sendiri terdiri dari 14 gerbong penumpang dan dua lokomotif (pada bagian ujung-ujungnya), dengan daya tampung maksimal 1.323 penumpang dalam sekali jalan.
Baca Juga: Wow, Kereta Shinkansen Ada di Restoran Indonesia!
“Kami telah menghasilkan sebuah kereta api yang melambangkan era baru untuk Tokaido Shinkansen Line,” ungkap Masayuki Ueno, wakil dirjen Divisi Operasi Shinkansen di JR Tokai. “Seri N700S telah sepenuhnya didesain ulang, terutama pada fasilitas utama dan peralatan penunjangnya,” tandasnya. Jika tidak meleset dari agenda, kereta ini diperkirakan sudah bisa beroperasi ketika perhelatan Olimpiade Tokyo 2020.
Rangkasbitung salah satu kota metropolis di Lebak, Banten. Kota ini memiliki stasiun bernama Rangkasbitung yang beroperasi sejak 1 Juli 1900 dan menjadi satu-satunya stasiun terbesar di Provinsi Banten saat ini.
Baca juga:“Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar BudayaKabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun ini merupakan salah satu sarana transportasi kota Rangkasbitung sebagai kota industri di Banten pada masa kolonial. Tak hanya itu, stasiun ini juga menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Banten, dimana kelancaran perputaran transportasi untuk menjadi sarana pembawa hasil perkebunan dan pertanian ke Jakarta.
Stasiun ini juga menjadi jalur perjuangan dan pertempuran pada zaman perang kemerdekaan. Meski menjadi jalur pertempuran melawan penjajah kolonial pihak Djawatan Kereta Api (DKA) yang saat ini menjadi KAI masih mengoperasikan kereta api Rangkasbitung menuju Parungpanjang.
Hanya saja untuk melewati Parungpanjang menuju Serpong tidak bisa dikarenakan jalur kereta api dirusak pejuang untuk siasat pertempuran. Dari stasiun Rangkasbitung ini juga, ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno menapaki jalan pertamanya menuju Jakarta.
Soekarno di stasiun Rangkasbitung pada masa Kemerdekaan Indonesia
Menjadi saksi sejarah, berarti stasiun ini sudah cukup lama dan tua, berada di Muara Ciujung Timur, Rangkasbitung, Lebak. Sayangnya perkembangan stasiun ini cukup lamban, sebab setelah Indonesia Merdeka 70 tahun, jalur ini baru berkembang hingga stasiun Maja.
Itupun dari Parungpangjang menuju Maja masih satu rel meski sudah dibangun double track. Tetapi pengoperasiannya sempat mangkrak, padahal jika berjalan baik, bisa mengurangi kemacetan Tol Merak-Jakarta.
Stasiun ini terletak pada ketinggian +22 meter dan masuk dalam Daerah Operasional I. Stasiun Rangkasbitung juga menjadi salah satu Benda Cagar Budaya berdasarkan UU No.5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten.
Semua kereta api yang melintasi jalur kereta api Tanahabang-Merak pasti berhenti di stasiun ini. Keberadaan jalur ini sangatlah strategis karena bukan saja menghubungkan Jakarta dengan kota Rangkasbitung tapi jalur ini juga menghubungkan pelabuhan Merak. Sehingga jalur ini terintegrasi dengan moda penyebarangan laut.
Sebab pada era tahun 70 hingga awal 80-an, PJKA (Perusahan Jasa Kereta Api) kala itu juga menyediakan fasilitas kapal penyeberangan menuju pulau Sumatra. Di stasiun ini juga terdapat dipo kereta dan dipo lokomotif yang menyimpan serta merawat gerbong KA Lokal Merak dan lokomotif jenis CC201, CC203 atau CC206 yang didatangkan dari Dipo lokomotif Jatinegara dan Tanahabang.
Dulu, terdapat jalur kereta api menuju Labuan melewati Pandeglang. Jalur ini sudah tidak aktif sejak tahun 1984. Pada jalur ini terdapat percabangan jalur kereta api di Saketi menuju Bayah. Jalur ini dibangun oleh tawanan perang Jepang yang lebih dikenal sebagai romusha pada masa pendudukan Jepang saat Perang Dunia II. Ribuan orang meninggal karena perlakuan tentara Jepang yang tak berperikemanusiaan.
Baca juga: Jalur Kereta di Sulawesi, Nyaris Tak Terdengar Tapi Ada Bukti Jejak Sejarahnya
Sempat beredar kabar, jalur mati ini akan dibuka kembali karena banyaknya peminat kereta api yang berasal dari Pandegalang dan sekitarnya. Pada 1 April 2017 kemarin, stasiun ini sudah melayani KRL Commuter Line Green Line dengan relasi Rangkasbitung-Tanahabang PP setelah adanya pemasangan kabel listrik aliran atas di halur lintas Maja-Rangkasbitung.
Selama ini, banyak anggapan ketika naik pesawat dan ada yang sakit pernafasan seperti batuk atau influenza di dalam pesawat akan menularkan ke seluruh pesawat. Namun, ternyata anggapan itu terbantahkan dengan kesimpulan dari sebuah studi baru yang dilakukan oleh para penelliti.
Baca juga: Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya!KabarPenumpang.com merangkum dari laman livescience.com (19/3/2018), bahwa virus penyakit pernapasan tidak akan menyebar kepada penumpang lain, selain yang duduk sebaris, satu kursi di depan dan belakang penumpang yang terinfeksi penyakit tersebut. Hal ini baru saja dipublikasikan di jurnal Prosiding National Academy of Sciences.
Juru bicara Infectious Disease Society of America, dokter Amesh Adalja mengatakan, laporan yang ada di media belum tentu informasi akurat terkait risiko penularan infeksi di dalam kabin pesawat terbang. Sebab virus tidak akan menyebarkan ke semua orang, kalaupun terkena, orang tersebut berada di sekitaran pembawa virus infeksi.
Hal ini dibuktikan dengan tim peneliti yang melakukan uji coba dan terbang dengan sepuluh penerbangan lintas negara yang berbeda di Amerika Serikat saat musim flu. Penerbangan yang dilakukan peneliti berkisar 3,5-5 jam dengan pesawat penuh serta hanya memiliki satu lorong.
Para peneliti juga mencatat seberapa sering penumpang meninggalkan tempat duduk mereka dan berinteraksi dengan orang lain. Tak hanya itu, mereka juga sebelum dan setelah penerbangan mengumpulkan sampel dari udara di pesawat dan permukaan yang sering tersentuh seperti sabuk pengaman, meja lipat hingga pegangan pintu kamar mandi.
Sample yang didapat ternyata tidak menunjukkan adanya 18 virus pernafasan umum. Para peneliti menggunakan data pada gerakan penumpang dan kru untuk membuat model komputerisasi yang mensimulasikan risiko penularan flu dari penumpang terinfeksi yang duduk di kursi lorong di tengah pesawat.
Sebab, lokasi tempat duduk ini memiliki potensi terbesar untuk berbagi infeksi karena orang ini akan memiliki lebih banyak kontak dengan penumpang lain saat bergerak melalui kabin dan penumpang di kursi lorong lebih sering meninggalkan kursi mereka.
Analisis menunjukkan bahwa penumpang yang duduk di kedua sisi orang yang terinfeksi flu, serta mereka yang duduk satu baris di depan dan satu baris di belakang individu ini, memiliki sekitar 80 persen kemungkinan sakit. Tapi penumpang lain sebagian besar aman dari infeksi. Karena mereka memiliki kurang dari tiga persen kemungkinan terkena flu.
“Penelitian tersebut menggunakan pengukuran yang ketat dan menunjukkan pola kontak dan pergerakan penumpang serta anggota awak pesawat, yang dapat memfasilitasi atau menghambat transmisi virus pernafasan. Ketika bepergian selama musim flu, cara terbaik yang mungkin dapat dihindarkan oleh para penumpang adalah dengan melakukan suntikan flu,” kata Adalja.
Baca juga: Didera Sinus Saat Berada di Pesawat? Ambil Langkah Ini Agar Derita Tak Bertambah
Jika Anda terjebak di samping seseorang yang sakit, kemungkinan besar, Anda tidak akan dapat mengubah tempat duduk. Tapi masih ada beberapa langkah yang bisa di ambil untuk mengurangi kesempatan tertular penyakit. Bila berada dekat penumpang yang batuk atau bersin, berpaling dari mereka. Ini dilakukan untuk meminimalkan paparan kuman Anda, hindari menyentuh wajah dan mata Anda, batasi kontak dengan permukaan bersama dan gunakan pembersih tangan.
Ada beberapa keterbatasan dalam studi baru ini. Itu tidak mengevaluasi penerbangan yang lebih pendek dari 3,5 jam atau lebih lama dari 5 jam, dan itu hanya terlihat di satu lorong pesawat. Selain itu, para peneliti membangun model mereka menggunakan data hanya dari 10 penerbangan. Para peneliti juga mengakui bahwa beberapa penyebaran infeksi pernafasan bisa terjadi saat penumpang menunggu di bandara atau saat mereka naik dan keluar dari pesawat.
Jika pesawat penumpang terbesar saat ini dipegang oleh Airbus A380 dan Antonov AN-72 Mriya digadang sebagai pesawat kargo terbesar di dunia saat ini, lalu bagaimana dengan mesin jet terbesar di dunia? Bukan Rolls Royce atau Pratt & Whitney, melainkan General Electric (GE) dengan varian GE9X disebut-sebut sebagai mesin jet terbesar di dunia. Nah, baru-baru ini, mesin jet terbesar di dunia tersebut diketahui baru saja mengudara untuk pertama kalinya di atas Gurun Mojave, California.
Baca Juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal
Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman sejumlah laman sumber, mesin GE9X ini rencananya dikembangkan untuk pesawat jet wide-body, Boeing 777X Next-Generation. Dengan menggunakan pesawat uji coba khusus dari basis Boeing 747-400, mesin ini berhasil mengudara pada Selasa (13/3/2018) silam. Jika dibandingkan dengan ukuran mesin-mesin pendahulunya, GE9X jelas unggul jauh dari berbagai aspek.
Sumber: newatlas.com
Ukuran baling-baling depannya tercatat sebagai baling-baling mesin pesawat terbesar, dengan diameter 11 kaki atau yang setara dengan 3,35m. Mesin GE9X juga dilengkapi fuel nozzle yang terbuat dari teknologi additive manufacturing (3D printing), dan sebagian besar komponennya terbuat dari material super ringan dan tahan panas bernama Ceramic Matrix Composites (CMC).
Dengan menggunakan teknologi 3D printing yang mencetak komponen dari bawah ke atas, memungkinkan para insinyur untuk merancang bentuk-bentuk bagian dalam yang kompleks, yang hampir tidak mungkin dicapai sebelumnya.
“Lorong-lorong dan celah-celah kecil ini adalah kunci dari kemampuan teknologi kami,” ungkap juru bicara GE Aviation, Rick Kennedy, dikutip dari laman gereports.co.id. “Bentuk-bentuk ini yang menentukan bagaimana bahan bakar mengalir melalui mulut pipa dan semprotan di dalam ruang pembakaran,” imbuhnya.
CMC sendiri mulai beroperasi ketika suhu mesin sudah menunjukkan angka 2,400 derajat Fahrenheit. Bagian inilah membantu insinyur untuk tetap menjaga temperatur bagian dalam mesin sembari mengurangi pembakaran bahan bakar dan emisi. “Semakin panas mesin, semakin efisien ia bekerja,” tandas Rick.
Mesin ini juga menggunakan 16 bilah kipas carbon-fiber 4th Gen yang terletak di muka mesin, yang bertugas untuk mengalirkan udara ke dalam kompresor. Patut diketahui, GE9X dirancang untuk menghasilkan daya dorong sebesar 100.000 pon, hampir satu pertiga dari daya dorong pesawat ruang angkasa yang mencapai 375.000 pon.
Baca Juga: Kenali Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat Yuk!
Hingga saat ini, tercatat sudah lebih dari 700 pesanan GE9X yang masuk, termasuk dari Emirates, Lufthansa, Etihad Airways, Qatar Airways dan Cathay Pacific. Sekedar informasi, General Electric membanderol GE9X di harga $29 miliar atau yang setara dengan Rp399,2 triliun. Wow!
Dalam banyak hal Australia memang lebih maju dari Indonesia, tapi toh tak melulu Indonesia tertinggal dari apa yang ada di Negeri Kangguru. Sebagai buktinya untuk urusan transportasi di wilayah urban, justru Australia baru saja memperkenalkan layanan yang boleh dikata mirip ojek online di Tanah Air.
Baca Juga: Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney
Sebagaimana yang telah ramai diwartakan, otoritas berwenang di Australia berpendapat bahwa ojek online merupakan sebuah inovasi guna menurunkan jumlah kendaraan pribadi di jalanan. Nah, dalam menyingkapi ketertarikannya tersebut, sebuah layanan ride-sharing berbasis sepeda motor kini hadir di Melbourne, Australia.
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman timeout.com (20./3/2018), layanan bernama Scooti ini diketahui sebagai layanan ride-sharing berbasis skuter pertama di Australia. Seorang juru bicara dari Scooti menyebutkan bahwa melakukan perjalanan dengan menggunakan layanan ini akan lebih hemat biaya dan emisi karbon yang dihasilkan pun jauh lebih sedikit ketimbang menggunakan mobil. Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa bepergian dengan menggunakan sepeda motor akan lebih cepat dan bisa terhindar dari kemacetan.
Mengingat Scooti merupakan layanan yang masih sangat baru di Australia, maka hingga saat ini perusahaan tersebut masih melakukan pencarian sekitar 50 driver sebelum akhirnya mereka membuka layanannya pada bulan April mendatang. Tidak hanya mencari driver, Scooti juga diketahui tengah mencari investor guna melancarkan rencanannya tersebut.
Pihak Scooti pun tidak membatasi para driver yang ingin menggunakan sepeda motornya sendiri, asalkan kendaraan tersebut sudah memenuhi standar berkendara di Australia. Berbeda dengan layanan serupa yang ada di Indonesia, Scooti akan menggunakan sepeda motor bertenaga listrik dalam pengoperasiannya kelak. Maka dari itu, mereka menyebutkan bahwa berkendara dengan menggunakan Scooti dapat mengurangi tingkat pencemaran lingkungan.
Pendiri dan CEO Scooti, Cameron Nadi mengatakan bahwa pihaknya akan memprioritaskan harga patokan dan penghargaan terhadap semua drivernya. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh benua tetangga Indonesia ini bisa dibilang cukup inovatif, dengan menggunakan sepeda motor bertenaga listrik. Dengan begitu, program pengurangan polusi udara pun bisa berjalan perlahan.
Baca Juga: Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?
Tidak seperti di Indonesia, khususnya Jakarta, dimana keberadaan ojek online yang terlalu merajalela. Alih-alih menawarkan solusi berkendara bagi setiap orang, layanan ini malah terkesan semakin memperkeruh kemacetan yang sebelumnya sudah memerah. Bagaimana tidak, hampir setiap saat, puluhan hingga ratusan pengemudi ojek online mangkal di setiap stasiun yang ada di Ibukota. Alhasil, kondisi seperti ini malah memperkeruh suasana.
Pesawat Spirit Airlines yang melayani penerbangan dari bandar Detroit Metro di Michigan tujuan ke Orlando di Florida harus mengalami penundaan beberapa saat. Hal ini karena ada insiden seorang penumpang pria yang tiba-tiba berhenti bernafas sebelum lepas landas.
Baca juga:Pramugari Emirates Lompat dari Pesawat, Akhirnya Tewas Sehari Setelah Jalani PerawatanKabarPenumpang.com melansir dari laman nypost.com (15/3/2018), bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat. Penumpang penerbangan melihat seorang pria yang tiba-tiba ambruk dan langsung memberikan pertolongan pada pria tersebut.
“Seseorang baru saja berkata panggil 911. Anda pasti tidak akan pernah berharap mendengar itu di dalam pesawat,” ujar salah seorang penumpang yang juga perawat bernama Sue Kneehouse.
Sue mengatakan, bahwa jantung pria tersebut telah berenti. Selain itu pria tersebut juga dalam kondisi aritmia, dimana terjadi masalah pada irama organ jantung ketika berdetak terlalu cepat, terlalu lambat atau tidak teratur. “Dia sedang dalam aritmia. Dia pergi dan tidak memiliki denyut nadi,” tambah Sue lagi.
Dengan pikirannya yang cepat, Sue kemudian menggenggam defibrillator atau alat kejut jantung yang ada di pesawat. Sementara itu tim medis EMT melakukan CPR atau teknik kompresi dada dan pemberian napas buatan untuk orang-orang yang detak jantung atau pernapasannya terhenti.
Sue kembali mulai mencoba untuk menyadarkan pria tersebut dengan bantuan orang lain. “Semua orang yang bisa mencoba membantu. Semua orang tidak yakin betapa tenangnya itu sebenarnya,” ujar Felipe Capusano seorang penumpang yang melihat insiden tersebut.
Baca juga: Ceroboh! United Airlines Salah Terbangkan Anjing yang Tengah Sakit
Seorang anak usia 11 tahun, Kanada Nina Capusano mengatakan, jantungnya mulai kembali berdetak dan orang-orang mulai tenang. “Defibrillator membawanya kembali dan semua orang mulai bertepuk tangan, lalu mereka membawanya keluar,” ujar Nina.
Setelah bantuan sederhana tersebut, paramedis yang tiba, kemudian mendorong pria tersebut keluar dari pesawat. Dia kemudian di bawa ke Rumah Sakit Metro Detroit dan dilaporkan sudah pulih pada hari itu juga. Pesawat kemudian lepas landas meski terlambat dari jadwal semestinya.
Belum lama ini, di kereta bawah tanah kota New York dikejutkan dengan adanya anak manusia serigala atau werewolf yang digendong seorang pria. Werewolf tersebut mengenakan pakaian yang mirip dengan pemiliknya.
Baca juga: Menyoal Kepadatan Penumpang Kereta di Inggris, Desainer ini Adopsi Konsep Kursi Bar dan Jemuran
Werewolf kecil yang digendong pemiliknya ini, kemudian menjadi sorotan seorang penumpang kereta bawah tanah dan menggunggahnya ke Twitter bernama The Korns. Dalam unggahannya baik video singkat maupun foto terlihat bayi werewolf tersebut mengenakan jaket tentara lengkap dengan sepatu ketsnya.
KabarPenumpang.com melansir dari laman metro.co.uk (8/3/2018), dalam video dan foto yang diunggahnya tersebut banyak warganet lainnya menyarankan The Korns untuk bertanya dan mencari tahu apakah itu asli atau tidak. Tetapi Korns menolak dan menuliskan,”Pria tersebut dan bonekanya duduk diseberang saya dalam kereta ini. Saya tidak dapat bertanya mengapa dia membawanya dengan cara apapun,” tulis Korns lagi di akun Twitternya.
Namun, dalam tweet tersebut warganet menjawab dan mengatakan dirinya pernah melihat makhluk seperti itu dan terkejut ketika akan mengambil videonya. Kemudian, Korns kembali memberikan kabar terbaru dengan mengungkapkan pria tersebut kemudian melilit serta menutupi werewolf dengan selendang.
“Dia sepertinya sadar akan perhatian yang didapatkannya,” tulis Korns lagi.
Kemunculan ini kemudian memicu adanya diskusi publik yang meluas tentang makhluk tersebut asli atau tidak. Beberapa ada yang mengklaim bahwa werewolf tersebut adalah mainan khusus buatan WerePup.
“Di dearah Asia (New York), memang ada yang menjual mainan atau boneka werewolf ini seharga US$150-US$1000, karena banyak yang menyukai werewolf dan ingin memilikinya. Sehingga mainan ini dibuat dan pemiliknya bisa menggendong bayi werewolf tersebut,” ujar WerePup di situsnya.
Baca juga: Kwek-Kwek! Bebek ini Bikin Heboh Subway di Brooklyn
Pembuatan bayi werewolf yang seperti aslinya ini dibuat dengan tangan dan sesuai dengan keinginan pemiliknya. Sehingga karena tingginya permintaan saat ini sudah ada daftar tunggu hingga sepuluh bulan kedepan.
Untuk diketahui harga pocket pup werewolf ukuran tinggi lima inci atau 12,7 cm akan dihargai US$100 atau Rp1,4 juta. Sedangkan untuk ukuran 25 inci atau 63,5 m meter seharga US$1000 atau sekitar Rp13,8 juta rupiah dan sudah dilengkapi dengan pakaian dan popoknya.
Setelah melakukan serangkaian persiapan guna melancarkan peluncuran dari kereta cepat yang menghubungkan Mekkah dan Madinah, Saudi Public Transport Authority (PTA) mengaku pihaknya belum menentukan harga yang akan dikenakan kepada para penumpang Haramain Express. Kendati demikian, otoritas transportasi tersebut mengatakan tengah melakukan penjajakan untuk menemukan harga tiket yang tepat.
Baca Juga: Kereta Cepat Nan Mewah Siap Layani Jamaah Haji dan Umroh di Rute Jeddah – Makkah
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman arabnews.com (6/2/2018), PTA menekankan bahwa pihaknya akan memberlakukan harga yang sesuai dengan layanan yang tersedia di dalamnya. Seorang juru bicara PTA, Abdullah Sail mengatakan bahwa pihaknya akan melanjutkan pembahasan tentang kereta cepat Haramain dalam beberapa bulan ke depan.
Lebih lanjut, Abdullah memaparkan bahwa jajarannya akan mengajak beberapa orang penumpang untuk melakukan perjalanan menggunakan kereta cepat ini dan merasakan secara langsung layanan yang tersedia di dalam Haramain Express. Namun, uji coba perjalanan Haramain Express ini hanya berlaku selama akhir pekan dan beberapa perjalanan khusus saja.
“Perjalanan ini direncanakan akan meningkat secara bertahap hingga suatu saat nanti layanan komersial dari Haramain Express akan dibuka secara menyeluruh,” tukas Abdullah. Haramain Express sendiri rencananya akan mulai mengular secara komersial pada pertengahan tahun 2018 ini. Pengoperasian komersial dari kereta cepat pertama di Arab Saudi ini akan dimulai seiring dengan rampungnya stasiun yang ada di bandara Jeddah dan King Abdul Aziz.
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, para penumpang dapat merasakan layanan Wifi OnBoard dan tempat duduk yang sangat nyaman. Tidak hanya itu, para Tamu Allah ini juga dapat menikmati beragam teknologi canggih yang terpasang di dalam kereta Haramain Express.
“Dari bandara, jamaah haji dan umrah dapat langsung menuju stasiun kereta api di Jeddah yang mewah pula dengan fasilitas yang disediakan untuk mereka yang akan menikmati pelayanan serba elektronik dengan teknologi mutakhir,” ungkap Manajer Proyek stasiun kereta api Jeddah, Faisal Alghamdi. “Perjalanan sepanjang kurang lebih 450 kilometer dari Jeddah ke Makkah ini akan memakan waktu sekitar satu setengah jam,” tandasnya.
Baca Juga: Kereta Cepat Haramain Siap Layani Tamu Allah Akhir Tahun Ini
Jalur kereta listrik tersebut didesain untuk melayani 60 juta penumpang setiap tahunnya dengan menggunakan 35 kereta. Untuk melancarkan proyek kereta cepat tersebut, otoritas setempat membangun 138 jembatan layang yang difungsikan sebagai jalur kereta, hingga 12 perlintasan mandiri untuk lalu lintas unta di berbagai kawasan gurun.
Pemandangan dari atas pesawat terkadang bisa sangat menakjubkan dan biasanya penumpang senang sekali mengabadikannya termasuk Anda. Namun, sayangnya meski tersambung dengan WiFi pesawat, saat memposting foto tersebut di media sosial tidak bisa memberikan posisi Anda saat itu.
Baca juga: SeatGuru, Aplikasi ‘Pendeteksi’ Tersedianya WiFi dan Stop Kontak di Dalam Penerbangan
Memang, saat di udara, Anda tidak akan tahu sedang berada di atas kota, negara bahkan laut apa. Sebab, tidak jelas terlihat di GPS apalagi dalam perjalanan penerbangan dan biasanya hanya pilot yang tahu pesawat Anda ada dimana.
Tenang saja kini sudah ada aplikasi yang membantu Anda untuk men-share lokasi saat mempostig foto di dalam pesawat. KabarPenumpang.com merangkum dari laman kplr11.com (12/3/2018), aplikasi tersebut bernama Inflighto.
Inflighto bisa menambah pengalaman dengan pelacakan yang tepat, seperti tempat menarik serta info cuaca secara real time. Aplikasi tersebut dibuat oleh pilot Australia John Hopkins dan Christopher Smyth yang mengatakan, saat ini maskapai tidak memadai untuk pemetaan bagi para pengguna pesawat terbang. “Harus ada cara dan solusi lebih baik dari peta tradisional yang berada di monitor kursi belakang atau monitor bagian depan kabin,” ujar Smyth. Sedangkan Hopkins mengatakan, konsep Inflighto ini hadir untuk membantu penumpang melihat secara real lokasi mereka berada.
“Mereka telah melihat sesuatu di luar jendela yang menggelitik minat mereka, satu-satunya cara bagi mereka untuk mengetahuinya adalah benar-benar mengirim pesan melalui awak kabin yang mengetuk pintu kokpit dan harus bertanya kepada kapten atau petugas pertama tentang apa itu Mereka terbang beberapa menit yang lalu,” ujar Smyth.
Keduanya menganggap aplikasi tersebut menjadi jalan bagi pilot berkomunikasi langsung dengan penumpang. Keduanya juga menyadari sistem PA atau mikrofon pesawat cukup membatasi pilot yang bisa melihat banyak hal menarik di luar jendela kokpit.
“Banyak hal menarik di luar jendela kokpit dan mungkin ingin memberi tahu penumpang bahwa mereka akan menyukai hal itu seperti aurora di langit utara. Mungkin ini adalah saat yang tidak menyenangkan selama penerbangan saat sebagian besar sedang tidur atau menonton film. Kru penerbangan mungkin tidak ingin mengganggu setiap orang untuk membiarkan mereka tahu ada sesuatu untuk dilihat di luar jendela,” ujar Smyth.
Uniknya tampilan dari Inflighto terlihat mirip dengan Google Maps. Aplikasi ini juga menambahkan fitur chat yang bisa digunakan dalam penerbangan, dimana pengguna bisa berkomunikasi dengan pilot, keluarga bahkan teman untuk melacak penerbangan dari darat.
Namun, hal itu semua bisa terlaksana jika pilot maupun keluarga Anda menggunakan Inflihto juga. Tetapi yang disayangkan adalah untuk menggunakan Inflighto tidak diperlukan registrasi sehingga pilot tidak tahu persis siapa yang berhubungan dengan mereka.
Selain itu, Inflighto juga bisa melacak turbulensi, sehingga penumpang bisa mengetahui jika akan terjadi turbulensi dan bersiap menghadapinya.
“Teknologi ini ada untuk memasuki sistem radar cuaca yang sangat canggih yang dimiliki meteorologi di seluruh dunia dan kami tahu bahwa kami dapat memanfaatkannya dan mendapatkan citra satelit langsung dan radar cuaca langsung ke aplikasi kami,” ujar Smyth.
Fitur radar cuaca juga akan memberikan tampilan dari luar kabin 360 derajat atau penerbangan secara keseluruhan. Smyth menambahkan, dengan adanya ini sebenarnya bermanfaat untuk maskapai penerbangan mengalihkan beban pemberian hiburan kepada penumpang.
Hal ini dikatakan Smyth, dimana maskapai tidak terlalu tertarik untuk memasang layar monitor dibelakang kursi. Sebab hal tersebut di anggap lampau dibandingkan dengan teknologi baru yang dihasilkan Inflighto.
“Pastilah langit adalah batasnya, jika Anda akan memaafkannya kita akan mencapai jarak yang cukup jauh. Apa yang kita pikirkan adalah kesempatan yang sangat menarik untuk menghidupkan kembali hiburan dalam penerbangan. Kurasa kita pikir kita menghidupkannya kembali, memikirkannya kembali, mengganggu paradigma yang ada karena harus terikat dengan apa yang ada di kursi di depan Anda,” kata Smyth.
Baca juga: Delapan Aplikasi Ini Bisa Pantau Pergerakan Pesawat via Smartphone
Aplikasi Inflighto tersedia di Apple App Store dan Google Play dan bisa di unduh secara gratis. Untuk mengakses fitur premium termasuk radar cuaca dan pengguna obrolan dalam pesawat dapat mengakses upgrade berbayar dengan Ekonomi Premium adalah $0,99 per bulan atau $6,99 per tahun. Untuk semua fitur, akses Kelas Bisnis seharga $2,99 per bulan atau $28,49 per tahun.