Molor dari Jadwal Awal, Bandara Soetta Siap Groundbreaking Runway 3 Dalam Waktu Dekat!

Mengingat pemintaan penerbangan yang meningkat pesat  beberapa waktu ke belakang, Bandara Internasional Soekarno-Hatta diketahui  tengah  melakukan  sejumlah persiapan untuk membangun  landas pacu ketiganya dalam waktu dekat ini. Hadirnya landas pacu tambahan ini dipercaya dapat mengimbangi tingginya angka permintaan perjalanan via udara. Baca Juga: Tak Ada Pembagian Daerah, Angkasa Pura II Kini Kelola Bandara Banyuwangi Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, runway ketiga bandara dengan kode CGK tersebut ditargetkan dibangun pada Maret 2018. “Tanggalnya belum dipastikan. Untuk progress-nya masih dalam persiapan groundbreaking,” tutur VP Corporate Communication PT Angkasa Pura II, Yado Yarismano, dikutip dari laman tribunnews.com (1/3/2018). Walaupun belum diketahui kapan pembangunan ini akan dimulai, namun Yado mempercayai bahwa estimasi  pembangunan runway ini akan memakan waktu 16 bulan. Bukan tanpa alasan, Yado menyebutkan bahwa pembangunan runway 3 bandara tersibuk di Indonesia ini dilandaskan pada perkiraan lonjakan penumpang yang menyentuh angka 100 juta penumpang pada tahun 2025 mendatang. Terlebih mengingat aktifitas penerbangan yang terjadi saat ini di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai angka 72 pergerakan (take off dan landing) per jam. Yado menjelaskan bahwa  pembangunan runway ini memerlukan lahan seluas 216 hektar, sedangkan hingga saat ini lahan yang berhasil diakusisi sudah mencapai 90 hektar. “Untuk saat ini tidak ada kendala apa – apa. Memang masih progress pelaksanaan. Target rampungnya di tahun 2019,” ucapnya. Dengan dimensi sebesar itu, bukan tidak mungkin runway baru ini mampu menampung pesawat berbodi besar seperti Boeing 777. Sedangkan untuk pendanaan runway berdimensi 3000m x 60m ini diperoleh dari Penyertaan Modal Negara (PMN). Senada dengan Yado, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa progress hingga saat ini masih berada dalam tahap pembebasan lahan. Namun, pembebasan lahan ditargetkan bisa rampung seluruhnya pada bulan April 2018. “Pembebasan tanah akan selesai April. Sekarang taxi way-nya sudah dibangun. Tinggal runwaynya bulan Juni mudah-mudahan. Panjangnya 3.000 meter,” tutur budi, dikutip dari laman terpisah. “Kita ingin memperbaiki movement di sini dengan melakukan berbagai hal. Kita nanti akan membangun runway ketiga, nanti kita akan mendapatkan keuntungan, mendapatkan movement yang jauh lebih tinggi di atas 100. Runway 3 itu sendiri tidak independen. Ada satu kondisi, jaraknya tidak lebih dari 250 meter. Tapi pada saat itu Soetta akan lebih baik, lebih safety terutama dari segi maintenance,” tambahnya. Baca Juga: April 2017, PT Angkasa Pura II Mulai Groundbreaking Pembangunan Runway Ketiga Bandara Soekarno Hatta Jika ditelusuri  lebih lanjut, sebenarnya rencana pembangunan runway ketiga ini sudah muncul sejak beberapa waktu  yang lalu. Pada 12 Februari 2017 silam, Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin mengatakan akan melakukan groundbreaking runway ketiga Bandara Internasional Soekarno Hatta pada bulan April 2017. “Runway ketiga dibangun di sisi utara bandara dan saat ini proyek tersebut tengah dalam proses procurement sehingga kami targetkan pada April 2017 dapat dilakukan groundbreaking?,” imbuhnya waktu itu. Jika tidak meleset dari perhitungan waktu kala itu, diproyeksikan landas pacu ini dapat mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2018.

(Lagi) Kasus Ponsel Meledak, Kali Ini Dialami Air Canada Flight 101

Sebuah penerbangan Air Canada Flight 101 dari Bandara Internasional Pearson Toronto menuju Vancouver, Kanada, harus tertunda selama dua jam pada Kamis, 1 Maret 2018 kemarin. Hal ini dikarenakan sebuah ponsel milik penumpang dilaporkan meledak saat pesawat masih berada di apron. Baca juga: Tentang Kasus Power Bank Meledak di Kabin, Inilah Regulasi dari IATA Yang Wajib Dipatuhi! KabarPenumpang.com melansir dari laman ctvnews.ca (1/3/2018), juru bicara Air Canada Peter Fitzpatrick mengatakan, insiden tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 pagi waktu setempat. Dia menambahkan, pemilik ponsel mengalami luka bakar tingkat pertama tetapi masih bisa berjalan dari pesawat tanpa bantuan. “Api segera dipadamkan oleh awak kabin dan tidak ada kerusakan pada pesawat terbang,” ujar Fitzpatrick. Kebakaran ini sendiri terjadi di dalam kabin pesawat Boeing 787-9 dengan jumlah penumpang 266 orang menuju Vancouver. “Orang-orang melompat keluar dari tempat duduk mereka dan di lorong. Itu tampak seperti nyala api unggun berukuran kecil. Jika itu 20 menit kemudian, maka akan menjadi situasi yang sangat serius,” kata seorang penumpang Brandon Scott. Salah satu penumpang pesawat tersebut adalah seorang anggota dewan kota Toronto, Joe Cressy, ia mengatakan di dalam kabin tersebut terdengar teriakan sebelum adanya asap. “Ada keributan, kami mulai mendengar teriakan dan saya menengok ke belakang dan saya kira 15 atau 20 baris di belakang saya ada asap. Tapi terus terang, berkat aksi awak kabin Air Canada yang sangat profesional, kekhawatiran itu hilang dan kami dapat terbang dalam dua jam kemudian,” ujar Cressy. Baca juga: Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina Perhatian di dunia penerbangan adalah ketika baterai lithium dikirim dalam jumlah banyak dalam kargo, terutama saat barang tersebut tidak diumumkan. Sampai saat berita diturunkan, belum diketahui persisnya penyebab meledaknya ponsel tersebut. Juga tidak diketahui jenis ponsel yang meledak. Namun berkaca pada kasus-kasus terdahulu, adanya cacat manufaktur pada baterai lithium-ion telah diketahui menyebabkan ponsel memanas dan akhirnya terbakar.  

Angkasa Pura I Resmikan Airport Operation Control Center (AOCC) Pertama di Bandara Sepinggan

PT Angkasa Pura I telah meresmikan pengoperasian Airport Operation Control Center (AOCC) di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan pada Jumat (2/3/2018) lalu sebagai bentuk inovasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional serta pelayanan kepada pengguna jasa bandara. Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Kini Dilengkapi AOCC Sebagai Command Center Real Time Pengoperasian AOCC di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan ini merupakan yang pertama di Indonesia. Pengoperasian ini adalah langkah awal dalam melakukan digitalisasi aktivitas operasional bandara dan implementasi smart airport secara menyeluruh di bandara-bandara yang dikelola AP I agar semakin menegaskan terwujudnya operational excellence dan service excellence. Pada 2018 ini, implementasi AOCC ditargetkan dilakukan pada sembilan bandara. “Peningkatan trafik dari tahun ke tahun berdampak pada dinamika operasional bandara yang makin beragam. Hal ini menuntut adanya pengawasan yang baik dan terintegrasi dalam suatu sistem berteknologi tinggi. Oleh karena itu dibangun Airport Operation Control Center atau AOCC sebagai wujud komitmen AP I untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan bagi pengguna jasa bandara melalui implementasi sistem teknologi informasi,“ kata Direktur Utama AP I Faik Fahmi. Sebagai informasi, total pergerakan penumpang pada 2017 di tiga belas bandara Angkasa Pura I sebanyak 89,7 juta orang, naik 5,9 persen dibanding total pergerakan penumpang pada 2016 yang sebanyak 84,7 juta orang. Sementara itu, total pergerakan pesawat pada 2017 sebanyak 791.387 pergerakan, naik 3,51 persen dibanding pergerakan pesawat pada 2016 yang sebanyak 764.531 pergerakan. Pertumbuhan trafik dari tahun ke tahun ini yang menegaskan perlunya AP I untuk mengimplementasikan AOCC untuk dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional bandara sehingga pada akhirnya meningkatkan kualitas pelayanan bagi pengguna jasa bandara. Secara umum, AOCC berfungsi sebagai suatu control center untuk mengawasi aktivitas operasional di sisi udara (airside) dan sisi darat (landside) serta mencakup seluruh aktivitas kedatangan dan keberangkatan di bandara. AOCC di Bandara Sepinggan Balikpapan merupakan wadah kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di bandara yang terdiri dari unsur 4A yaitu Airport Operator, Airline Operators, Air Navigation, dan Authorities seperti bea cukai, imigrasi, karantina, kepolisian, dan lainnya. Keberadaan seluruh perwakilan pemangku kepentingan dalam satu ruangan yang sama, berdampak positif terhadap pembuatan keputusan bersama mengenai berbagai hal operasional yang dapat diambil secara cepat dan tepat sebagai pelaksanaan Airport Collaborative Decision Making (A-CDM). “AOCC melibatkan seluruh pemangku kepentingan di bandara dengan mengintegrasikan sistem yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan agar dapat beroperasi secara efektif dan efisien. Integrasi dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam implementasi AOCC ini sehingga pewujudan pelayanan yang mengutamakan keselamatan dan keamanan serta sesuai dengan regulasi dapat lebih efektif dan efisien,“ kata Faik Fahmi. Pengaturan operasional bandara yang lebih terkontrol dalam satu kendali di AOCC dapat memaksimalkan layanan atas utilitas bandara padat yang dikelola Angkasa Pura I. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi operasional bandara seperti penghematan penggunaan lampu, pendingin ruangan, listrik dan lainnya melalui pengelolaan penumpang di boarding gate atau area check in secara efektif. Secara lebih rinci AOCC bertujuan: 1. Sebagai pusat kontrol, koordinasi, dan kolaborasi antar unit serta instansi dalam pengoperasian bandara; 2. Membangun kemampuan proses Airport Collaborative Decision Making (seluruh stakeholder pada end to end process operasional bandara untuk efektifitas operasional bandara untuk kondisi normal maupun khusus/ situasional. 3. Pencapaian KPI On Time Performance (OTP) sehingga kapasitas, sumber daya bandara dan ketersediaan slot time dapat digunakan secara efektif dan efisien yang pada akhirnya memberikan peningkatan kepuasan pengguna dan efisiensi di sisi penyelenggara jasa penerbangan. 4. Menjaga 3S + 1C (Safety, Security, Service & Compliance) yang diamanahkan pada UU no. 1 tahun 2009. AOCC di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan dilengkapi dengan Airport Operation Control System (AOCS) yang dalam perkembangannya akan menjadi sistem kebandaraudaraan yang terintegrasi. “AOCC diharapkan dapat meningkatkan kinerja operasional, service level agreement, dan key performance index bandara sebagai wujud komitmen Angkasa Pura I untuk terus meningkatkan kualitas layanan bagi pengguna jasa bandara,“ kata Faik Fahmi. Baca juga: PT Angkasa Pura I Lakukan Topping Off Terminal Apung Bandara Ahmad Yani Terlaksananya A-CDM membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, diperlukan kerangka regulasi nasional sebagai payung hukum. Sebagai salah satu komponen A-CDM, Angkasa Pura I sebagai pengelola bandara dan salah satu pemangku kepentingan yang terlibat dalam A-CDM, berinisiatif menyiapkan AOCC sebagai wadah dan tempat bagi para pemangku kepentingan dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing serta terintegrasi.

Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus

Dengan maraknya layanan maskapai dengan biaya murah menjadikan frekuensi penerbangan meningkat untuk beberapa kalangan. Otomatis ini diikuti dengan sering bepergiannya orang dari dan menuju ke bandara. Namun, meski pesawat sudah banyak digunakan untuk perjalanan, tahukah Anda dewasa ini sebagian dari kita mungkin masih sering menemui kendala dengan cara check in dan  tahapan keamanan di bandara. Baca juga: Tips – Sebelum Masuk ke Kargo Pesawat, Pastikan Koper Anda Cukup Kuat KabarPenumpang.com merangkum dari laman t3.com (28/2/2018), ada tiga hal yang yang harus dilalui oleh penumpang dan ini cukup memakan waktu lama jika tidak tahu cara praktisnya baik dari prosedur check in, pemeriksaan keamanan hingga di gerbang (gate) sebelum masuk pesawat. 1. Check in Untuk menghemat waktu, baiknya Anda sudah melakukan check in online. Sebab dengan check in online Anda hanya akan mendata diri kembali saat berada di konter. Biasanya ada beberapa maskapai juga yang sudah melayani boarding elektronik, sehingga tak lagi perlu memegang kertas untuk boardingnya. Jika Anda bukanlah orang yang rewel dalam pemilihin tempat duduk pesawat, dipastikan duduk di kursi manapun tidak akan meminta perubahan. Tetapi jika memang biasa memilih tempat duduk yang nyaman, saat check in online Anda bisa memilih tempat duduk yang diinginkan. Bila tidak sempat check in online, Anda bisa mengantri 20 menit sebelum check in dibuka. Yang jelas sebelum sampai di konter check in siapkan semua data baik tiket, paspor atau tanda pengenal dan barang bawaan yang akan masuk dalam bagasi untuk mempermudah Anda serta mempercepat antrian. 2. Pemeriksaan keamanan Setelah check in dan mendapat boarding pass, penumpang akan menuju ke bagian pemeriksaan keamanan. Lama waktu pemeriksaaan tergantung dari Anda. Biasanya, saat di bagian pemeriksaaan keamanan, jaket, ikat pinggang atau gesper, koin, telepon selular hingga laptop harus melalui pemeriksaan keamanan. Pada pemeriksaan kemanan, khususnya pada penerbagan rute internasional, laptop biasanya harus dikeluarkan dari dalam tas. 3. Gerbang keberangkatan Ini mungkin adalah tempat paling melelahkan apalagi harus menunggu pesawat. Jika waktu keberangkatan masih lama, baiknya Anda mencari kafe atau restoran untuk menenangkan diri sembari menunggu keberangkatan. Tapi, jangan sampai terbuai hingga panggilan terakhir dan membuat harus berlari-lari mengejar pesawat. Baca juga: Pangkas Durasi Security Check, Ini yang Dilakukan Beberapa Bandara dan Maskapai Sebelum masuk ke pesawat juga, penumpang harus mengantri di gerbang. Biasanya antrian ini cukup panjang jika Anda bukanlah jalur prioritas seperti kelas bisnis atau kelas satu. Meskipun sudah ada nomor kursi, tetap saja antrian ini cukup melelahkan. Selain itu, biasanya dalam satu gerbang keberangkatan berisi dua penerbangan bahkan lebih. Jangan menjadi satu dengan kelompok lain, baiknya cari tempat duduk yang kosong sambil menunggu untuk naik ke pesawat Anda.

Salah Duduk Usai dari Toilet, Penumpang Emirates Sampai Tak Makan Selama 8 Jam Penerbangan

Seorang pria berusia 71 tahun asal Nigeria mengklaim dirinya ditinju, mulut ditutup dan diikat oleh awak pesawat Emirates Airlines. Hal itu dirasakannya selama delapan jam selama penerbangannya dari Dubai menuju Chicago. Saat itu, pria tersebut berangkat untuk bertemu dengan istri serta anak-anaknya yang sudah bermigrasi ke Ameriika Serikat empat bulan lalu. Baca juga: Salah Paham, Penumpang IndiGo Airways Adu Jotos dengan Petugas di Apron KabarPenumpang.com melansir dari laman news.com.au (1/2/2018), pemicu adanya masalah ini berawal dari David Ukesone menduduki kursi yang salah dan awak kabin memintanya untuk pindah. Diketahui, dalam penerbangan dengan Emirates, Ukesone awalnya duduk di kursi 35D. Selama penerbangan diduga Ukesone ke toilet tetapi saat kembali lupa dan duduk bukan kursi 35D. Saat itulah seorag awak kabin mendekatinya dan meminta untuk pindah dan membuat Ukesone bingung. Dia mengatakan ini adalah tempat duduknya yang benar. Ukesone sendiri sebenarnya bisa berbicara dan mengerti bahasa Inggris, namun terkadang sulit memahami selain aksen orang Nigeria. “Dia diminta untuk pindah dan dia ingin membawa tasnya ke kompartemen di atasnya. Mereka mengatakan kepadanya bahwa dia berada di kursi yang salah dan mereka menanganinya untuk memindahkan Ukesone tetapi disitu emosi sudah meningkat,” ujar pengacara Howard Schaffner. Karena tidak ada tanggapan, pengacara mengklaim bahwa ada seorang awak kabin yang memukul kliennya tersebut dan meninggalkan luka di wajah. Schaffner juga mengatakan, kliennya tersebut tidak diberi makan selama delapan jam penerbangan, sebab mulutnya ditutup plester. Akibat kejadian ini, Emirates Airlines kemudian mengonfirmasi dan mengatakan Ukesone tidak bisa diatur, sehingga awak kabin terpaksa menahannya. Emirates mengatakan melalui sebuah pernyataan, pihaknya bisa memastikan penumpang EK235 penerbangan dari Dubai ke Chicago pada 23 Januari harus diamankan oleh awak kabin karena perilaku penumpang yang tidak baik selama penerbangan. Penumpang itu kemudian diserahkan ke pihak berwenang saat tiba di Chicago. “Keamanan penumpang dan kru kami sangat penting dan tidak akan terganggu. Kami ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada penumpang lain dalam penerbangan untuk memahami mereka, khususnya individu-individu yang telah membantu awak kapal kami dalam penerbangan,” ujar pernyataan tersebut. Setelah tiba di Bandara Internasional Chicago O’Hare, Ukesone kemudian dibawa pihak kepolisian Amerika Serikat dan perbatasan untuk diamankan. Kemudian dibawa ke rumah sakit untuk perawatan dari luka yang didapatnya di pesawat. Keluarga Ukesone yang menunggu di bandara tidak diberitahu hingga beberapa jam kemudian. Setelah mendapat informasi, mereka menemui pria 71 tahun itu dirawat dirumah sakit. Baca juga: Selundupkan Emas di Toilet Pesawat, Warga Jepang Berusaha Hindari Pajak Barang Mewah Schaffner menegaskan, saat terjadi insiden dalam pesawat, kliennya sama sekali tidak menggunakan obat apapun, tidak meminum alkohol dan tidak memiliki riwayat penyakit jiwa. Dia menambahkan, kliennya juga tidak menuntut atas perlakuan di dalam pesawat. “Tidak ada pernyataan kami akan mengajukan tuntutan hukum,” ujar Schaffner.

Jelang Asian Games 2018, Pekerjaan MRT Jakarta Dibekukan Sejenak

Ketika PT MRT Jakarta (PT MRTJ) tengah disibukkan dengan penyelesaian fase I yang rencananya akan diluncurkan pada Maret 2019 mendatang, nampaknya agenda tersebut akan sedikit terganggu oleh perhelatan olahraga terbesar se-Asia, Asian Games. Tahun lalu, perusahaan yang tengah menghadirkan sistem metro pertama di Indonesia ini sempat optimis bahwa MRT dapat digunakan ketika ajang Asian Games 2018 berlangsung. Baca Juga: Satu Tahun Jelang Peluncuran, Ini Dia Perkembangan Terbaru dari MRT Jakarta! Sebagaimana pantauan KabarPenumpang.com pada acara Forum Jurnalis dan Blogger MRT Jakarta yang diadakan Selasa (27/2/2018) kemarin, Diretur Utama PT MRTJ, William P Sabandar mengatakan bahwa proyek MRT tidak akan mengganggu keberlangsungan ajang Asian Games 2018 yang rencananya dihelat pada bulan Agustus mendatang. Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Willy tersebut mengaku akan ‘membekukan‘ sementara proyek pembangunan MRT. “MRT belum beroperasi. Tapi, kita memastikan bahwa bagian Sudirman-Thamrin itu tidak ada pekerjaan langsung selama Asian Games,” tutur William. “Kita ingin memastikan bahwa Asian Games tidak dihambat oleh pekerjaan MRT Jakarta,” imbuhnya. William juga menambahkan bahwa pihaknya akan membongkar semua seng-seng penutup proyek selama perhelatan Asian Games 2018 berlangsung. Tidak hanya itu, trotoar yang selama ini turut terkena imbas dari proyek ini pun akan dirapikan. Semua itu dilakukan semata-mata demi mengharumkan nama Jakarta yang menjadi tuan rumah perhelatan akbar ini. Perlu digaris bawahi, ‘pembekuan’ proyek MRT Jakarta ini tidak berlaku di keseluruhan jalur. Hanya proyek yang berlangsung di daerah Sudirman – Thamrin saja yang diliburkan untuk sementara waktu. Hingga saat ini, kesiapan fase I MRT Jakarta yang membentang dari Lebak Bulus – Bunderan HI ini sudah mencapai angka 91,86 persen. Jika semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah diagendakan sebelumnya, William optimis peluncuran MRT Jakarta fase I ini tidak akan ngaret. Baca Juga: PT MRT Jakarta Siap Jajal Pembangunan Fase 2, Tapi…. Pada kesempatan itu juga, William memaparkan tentang armada yang nantinya akan digunakan oleh MRT Jakarta. Ia mengatakan bahwa dua rangkaian kereta yang akan beroperasi di rute Lebak Bulus – Bunderan HI berada dalam status siap kirim dan sesuai agenda, kereta tersebut akan tiba di Jakarta pada akhir Maret 2018 mendatang. Kita tunggu saja!

Nekad Merokok di Kabin Sebelum Mengudara, Ini Tanggapan Pihak Citilink Indonesia

Dunia aviasi Indonesia sempat menjadi sorotan publik dunia beberapa waktu yang lalu. Sayangnya, bukan pemberitaan positif yang berhasil mencuri perhatian global, melainkan pemberitaan yang kurang mengenakkan. Pemberitaan ini dilandaskan pada sebuah video berdurasi pendek yang menampilkan seorang penumpang maskapai Citilink diciduk petugas keamanan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta karena kedapatan merokok di dalam kabin. Baca Juga: Pertama di Asia, Citilink Raih “Four Stars Low Cost Airline” dari Skytrax Sebagaimana lansiran KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, peristiwa yang terjadi pada Minggu (25/2/2018) ini melanda maskapai dengan nomor penerbangan QG 156 dengan rute Bandara Internasional Halim Perdanakusuma – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali sekitar pukul 25.35 WIB. “Menurut laporan yang kami terima, saat keluar dari boarding gate menuju pesawat terbang, penumpang yang bersangkutan terlihat merokok bahkan diteruskan saat menaiki tangga pesawat,” tutur VP Corporate Communication Citilink, Benny S. Butarbutar, Kamis (1/3/2018). Dalam video berdurasi singkat yang tersebar luas di dunia maya tersebut, terlihat seorang pria beradu argumen dengan sejumlah petugas keamanan  bandara yang berusaha untuk menurunkannya dari kabin. Pria berkacamata tersebut tetap pada pendiriannya bahwa merokok di dalam kabin itu tidak akan berdampak apa-apa. Petugas keamanan bandara yang semula bersikap persuasif mulai meningkatkan nada pembicaraannya ketika pria ini terus bersikukuh dengan statemennya. “Ini semua delay karena bapak, loh. Kita udah ngomong baik-baik,” begitu tutur salah satu petugas bandara yang turun tangan menyelesaikan masalah tersebut. Selang beberapa waktu, akhirnya si penumpang tersebut mau turun dari pesawat dengan pengawalan dari petugas. Dengan begitu, secara otomatis ia mengurungkan niatnya untuk menyambangi Pulau Dewata malam itu. Menurut Benny, kondisi tersebut sangat membahayakan penerbangan, khususnya keselamatan dan keamanan para penumpang yang berada dalam kabin. Terlebih, pria yang disinyalir bernama Iwan Limau ini merokok ketika pesawat tengah mengisi bahan bakar. Walaupun terlapis dinding kabin yang sangat tebal, namun hal tersebut tetap melanggar aturan di dunia penerbangan global. Baca Juga: Perluas Segmen Pasar, Citilink Gandeng Ikatan Alumni Universitas “Yang bersangkutan tidak sadar bahwa perbuatan yang ia lakukan berdampak dan jika terjadi (kecelakaan), akan sangat berbahaya,” tambahnya via telepon. “Perilakunya jelas-jelas dapat mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan. Dalam industri penerbangan, kami harus bisa memastikan tidak ada satupun aturan keselamatan yang dilanggar sehingga operasional penerbangan dapat berjalan dengan aman, lancar dan nyaman,” ungkap Benny. Disinggung soal hukuman apa yang diberlakukan kepada Iwan, Benny enggan berkomentar lebih jauh soal itu. “Kita edukasi saja, belum ke hukuman,” tutupnya singkat. Ada-ada saja ya!

Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Jetlag atau penyesuaian terhadap zona waktu biasanya terjadi pada penumpang dalam penerbangan jarak jauh. Biasanya jetlag berlangsung satu hingga dua hari setelah sampai di tujuan. Hal ini terkadang tak bisa dihindari para pelancong sehingga banyak dari mereka yang memilih penerbangan malam untuk menghindari jetlag. Baca juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik Namun terkadang jetlag juga tetap terjadi meski menggunakan penerbangan malam atau dengan waktu istirahat yang cukup dalam perjalanan. Baru-baru ini Qatar Airways memperbaharui pesawatnya uuntuk penumpang ekonomi, bisnis maupun kelas satunya. Pesawat Airbus A350-1000 milik Qatar Airways ini pertama kali mengudara dari Doha menuju ke London pada Sabtu, 24 Februari 2018 kemarin. KabarPenumpang.com melansir dari laman mentalfloss.com (27/2/2018), bahwa Qatar Airways telah membuat perubahan besar dalam pesawat ini untuk membuat penumpang nyaman dalam penerbangan jarak jauh. Di kelas satu dan bisnis diberikan peningkatan yang besar dan kelas ekonomi mengalami perombakan dengan teknologi tinggi. Di dalam kabin A350-1000 milik Qatar Aiways ini akan diberikan pencahayaan amient 16 juta LED yang bisa meminimalisir efek jetlag dengan membuat penumpang merasa terjaga dan mengantuk pada saat yang tepat. Pesawat ini juga akan memiliki tekanan dan kelembaban kabin yang lebih baik, sehingga para penumpang tidak akan kekurangan cairan atau dehidrasi selama penerbangan. Selain itu juga diberikan pebagian zona suhu kabin, dimana akan ada pembagian suhu yang akan dirasakan penumpang dalam kabin seperti bagian depan akan mendapat suhu tinggi dan semakin kebelakang menghangat. Tak hanya itu, Qatar Airways juga memberikan filter udara kelas rumah sakit bagi penumpang yang sakit saat melakukan perjalanan dengn A350-1000 nya. Nantinya, udara tersebut akan steril guna membersihkan kuman yang tersebar di udara. Baca juga: Jurus Awak Kabin Emirates Taklukan Si Kecil di Penerbangan Jarak Jauh Namun, perubahan terbanyak dan terbaik adalah pada kelas bisnis yang akan membawa pengalaman baru pada para penumpang. Dimana di dalam kabin bisnis pun, penumpang yang duduk berdampingan bisa membuat tempat tidur double dengan melepas panel privasi mereka.

Remajakan Armada, MRT Singapura Adopsi Kursi Lipat Guna Antisipasi Lonjakan Penumpang

Jika Indonesia masih disibukkan dengan proses pembangunan jaringan Mass Rapid Transit (MRT) pertamanya, berbeda dengan negara lain yang sudah melakukan beberapa inovasi terharap moda transportasi berbasis massal ini. Sebut saja salah satu negara yang menjadi pionir hadirnya MRT, Singapura kini tengah mengakali bagaimana caranya untuk mengatasi lonjakan penumpang ketika peak hours. Karena tidak bisa dipungkiri, MRT menjadi moda andalan warga Singapura untuk mobilisasi. Baca Juga: Versi Terbaru SMRConnect, Mampu Informasikan Kepadatan Penumpang di Jalur MRT Singapura Dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (28/2/2018), sebanyak 12 rangkaian tengah disiapkan oleh pihak SMRT sebagai armada pertama yang memiliki kursi lipat. Adapun tujuan dari pengadaan moda ini adalah untuk menciptakan lebih banyak ruang untuk berdiri ketika kereta tengah mengular di jam sibuk. Dengan begitu, masalah terkait kepadatan penumpang di jam-jam khusus diharapkan dapat diatasi. Diketahui, kereta yang nantinya akan beroperasi di North-South dan East-West Lines (NSEWL) ini memiliki empat deret kursi lipat berkapasitas tiga penumpang. Tentu tidak semua kursi di dalam gerbong SMRT bisa dilipat, dengan eksistensi penumpang prioritas padajam sibuk sebagai pertimbangan utamanya. Jika semua kursi di desain dapat dilipat, dapat dibayangkan jika ada seorang tua renta atau ibu hamil yang dipaksa berdiri berdesak-desakan selama perjalanan. Tentu hal tersebut akan menurunkan ‘nilai’ dari SMRT itu sendiri. Kursi inovatif ini pun hanya akan dilipat pada periode puncak jam sibuk, yaitu pagi  dan sore. Sebagai penumpang, Anda tidak bisa sembarangan melipat atau menurunkan kursi ini, hanya orang-orang tertentu seperti masinislah yang dapat mengubah mode dari kursi ini. Tidak hanya itu, SMRT juga kini akan dilengkapi dengan logo Land Transport Authority (LTA) untuk pertama kalinya, dimana kereta ini akan dihiasi oleh garis merah dan hijau yang selama ini menjadi  warna identitas dari NSEWL, dengan latar belakang warna putih. Adapun ke 12 rangkaian kereta baru ini tengah dirakit oleh Kawasaki Sifang Consortium yang ada di Cina. Pihak LTA sendiri mengatakan telah menempatkan sejumlah insinyurnya di pabrik di Qingdao untuk memastikan apakah produkyang mereka hasilkan telah memenuhi tingginya kriteria standar secara konsisten selama masa perakitan dan pengujian kereta api. Baca juga: Muat Lebih Banyak Penumpang di Jam Sibuk, Kereta Komuter di New York Adopsi Kursi Lipat Menurut informasi dari laman sumber, kereta tersebut telah dikirim ke Singapura untuk dilakukan uji coba lanjutan. Jika tak ada aral melintang, kereta ini akan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2018 ini. Tidak hanya mendatangkan kereta baru, LTA juga akan menarik sejumlah kereta yang sudah beroperasi lebih dari 30 tahun, guna melakukan  peremajaan.

Hadirkan Aksi Baku Tembak, Facebook Minta Maaf Atas Promosi Game VR “Bullet Train”

Facebook belum lama ini menyatakan meminta maaf karena telah menunjukkan demo sebuah permainan baku tembak untuk perangkat Oculus Rift di Konferensi Aksi Politik Konservatif. Demo dari game VR (Virtual Reality) berjudul Bullet Train (kereta peluru) ini dinilai beberapa pihak kurang pantas untuk menjadi bahan konsumsi publik, terlebih lagi di kala Amerika Serikat sedang dirundung situasi duka akibat peristiwa penembakan sekolah di Florida belum lama ini. Baca juga: Indonesian Train Simulator, Rasakan Sensasi Menjadi Masinis Kereta Indonesia Dalam sebuah pernyataan resmi, VP Facebook divisi VR, Hugo Barra meminta maaf dan mengatakan pihaknya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak mana pun. “Mengingat peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Florida, kami memutuskan untuk menyingkirkan demo ini demi menghormati korban dan keluarga mereka,” tulis Barra melalui akun Twitter pribadinya. Dalam tweet lainnya juga menuliskan pesan yang sama. Barra menambahkan dengan jelas “Kami menganggap ini keliru.” Industri game sering berjuang secara internal untuk memasarkan dan menampilkan video game kekerasan menyusul penembakan massal di dunia nyata. Setelah adanya penembakan klub malam Pulse tahun 2016 lalu, presiden Asosiasi Perangkat Lunak Hiburan, Mike Gallagher mengatakan kepada Ars bahwa penerbit di Electronic Entertainment Expo telah mengambil langkah untuk bersikap peka terhadap suasana hati nasional saat ini dan jenis-jenis itu. Baca juga: Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality Namun,perbandingan internasional untuk pengeluaran per kapita pada permainan kekerasan dan pembunuhan terkait senjata menunjukkan korelasi negatif antara keduanya. Dimana analisis meta tentang studi kekerasan video game tidak menemukan kaitan nyata antara kekerasan layar khayal dan perilaku agresif yang sebenarnya. Studi longitudinal jangka panjang terhadap anak-anak dari tahun 90-an hanya menunjukkan peningkatan kecil dalam masalah perilaku bagi anak-anak yang bermain video game kekerasan. Namun penelitian lain menunjukkan bahwa pemain video game kekerasan benar-benar menjadi tidak peka terhadap kekerasan, setidaknya dalam jangka pendek.