Sekedar Ingin Meregangkan Tubuh, Model dan Pelatih Yoga Terpaksa Turun dari Pesawat
Seorang model yang juga pelatih yoga asal Amerika Seriktat, Jen Selter dan saudaranya terpaksa diturunkan dari sebuah penerbangan. Wanita berusia 24 tahun dengan tubuh seksi ini diturunkan dari pesawat karenakan dirinya mencoba berdiri dan berbaring di lorong kabin pesawat American Airlines.
Baca juga: Terbang Nonstop Lebih dari 16 Jam, Ini Yang Mungkin Terjadi Pada Anda
KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (29/1/2018), bahwa saat itu Selter berdebat dengan awak kabin dan pilot pesawat tersebut. Kemudian anggota keamanan juga mendatangi dirinya untuk membawa Selter dan saudara perempuannya turun dari pesawat.
Diketahui, sebelum Selter dan saudaranya diturunkan dari pesawat, pada penerbangan American Airlines dari Miami ke New York pada Sabtu 27 Januari 2018 telah tertunda selama 90 menit. Penundaan penerbangan ini terjadi dikarenakan ada masalah teknis.
Saat itu sebenarnya Selter hanya ingin meregangkan tubuhnya dengan gerakan yoga. Dia berdiri dan meraih sesuatu di kompartemen atas setelah sebelumnya ada penumpang yang diizinkan ke toilet akibat penundaan penerbangan tersebut. Namun, awak kabin yang melihat itu meminta Selter untuk kembali duduk dan pertengkaran terjadi. Seorang awak kabin kemudian bertanya apakah Selter ingin turun dari pesawat, Selter menjawab ya.
Selter mengatakan, pertanyaan tersebut seperti menyindir dirinya. Kemudian turun bersama anggota keamanan dan menawarkan akomodasi namun ditolak. Bahkan ada penumpang lain yang akhirnya ikut turun dengan dirinya karena menganggap perlakuan kepada Selter dan saudaranya adalah hal yang tak pantas.
Sebenarnya, masalah yang terjadi terbilang sepele, dimana seorang penumpang hanya ingin meregangkan otot karena lelah duduk menunggu. Mungkin untuk awak kabin dan yang lainnya ini adalah hal yang bisa diterima dengan mudah. Tahun 2013 lalu kebijakan yoga dalam penerbangan bisa menjadi satu pilihan peregangan tubuh termasuk dalam menghindari Deep Vain Thrombosis (DVT).
Bahkan ada buku yang menuliskan tentang yoga di dalam pesawat dan tidak heran pose yoga ekstrem bisa terlihat di beberapa tempat dalam kabin. Bisa dikatakan melakukan yoga dalam pesawat semakin populer belakangan ini.
Diketahui, saat ini penerbangan yang berbasis di Amerika Serikat bermasalah dengan keputusan yoga dalam kabin, tetapi tidak untuk Cathay Pasific yang memutuskan untuk merangkul tren tersebut. Cathay bekerja sama dengan Pure Yoga mengembangkan serangkaian video yang bisa diikuti penumpang di monitor tempat duduk mereka. Cathay mengatakan, ada enam video yang mudah diikuti dan dibuat untuk dilakukan di kursi.
Baca juga: Lakukan Olahraga Selama Perjalanan, Hindari Keram dan Bantu Bakar Kalori
“Kita semua tahu, bahwa duduk dalam jangka panjang dan waktu yang lama bisa membuat tidak nyaman. Kebutuhan untuk bangun, bergerak dan memperlancar aliran darah dalam tubuh sangat penting selama penerbangan. Yoga adalah cara baru untuk melakukannya,” jelas Simon Cuthbert yang bekerja di departemen hiburan dalam penerbangan Cathay.
Jelang Pensiun, JR West Pamerkan Kereta Peluru Tematik, Shinkansen 500 EVA “Evangelion”
Bagi Anda para pecinta film anime, mungkin Anda tidak asing lagi dengan serial kartun Neon Genesis Evangelion. Film hasil garapan rumah produksi Gainax and Tatsunoko ini berkisah tentang interaksi seorang remaja bernama Shinji Ikari dengan makhluk bio mekanis bernama EVA. Shinji dituntut agar mampu mengendalikan EVA, yang merupakan satu-satunya senjata untuk melawan kedigdayaan musuh bernama Angel.
Baca Juga: Dari Rusia Hingga Singapura, Inilah Deretan Kereta Tematik Unik dari Seluruh Dunia!
Namun, yang kali ini akan kami bahas di sini bukanlah tentang film Neon Genesis Evangelion, melainkan sebuah kereta Shinkansen di Jepang yang bertemakan Evangelion. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman crunchyroll.com (28/1/2018), kereta peluru Shinkansen Type 500 EVA yang bertemakan Evangelion ini pertama dipamerkan ke hadapan publik pada tahun 2015 kemarin. Tak ayal, banyak pecinta kereta dan anime yang terperangah dengan kehadiran kereta yang dikelola oleh West Japan Railway Co. (JR West) ini.
Pada awalnya, kereta tematik ini hanya akan beroperasi dari November 2015 hingga musim semi 2016, tujuannya semata-mata hanya untuk promosi franchise. Namun di akhir masa pengoperasiannya, sang operator melihat kesuksesan besar-besaran dari kampanye ini dan mereka memutuskan untuk memperpanjang masa pengoperasian dari Shinkansen Type 500 EVA ini selama kurun waktu 18 bulan ke depan. Ramainya penumpang dari kereta yang mengular dari Hakata menuju Shin-Osaka ini menjadi tolak ukur operator apakah kereta ini meraih kesuksesan apa tidak.
Jika dihitung-hitung, masa pengoperasian kereta bernuansa ungu khas film kartun Neon Genesis Evangelion ini akan mengakhiri masa pengabdiannya pada musim semi tahun 2018 ini, tepatnya pada tanggal 13 Mei mendatang. Sebelum mengakhiri masa tugasnya, pihak Kyoto Railway Museum akan mengadakan pameran terhadap Shinkansen Type 500 EVA ini, yang dibuka tanggal 24 Februari hingga 7 Mei 2018 atau seminggu sebelum kereta ini memasuki masa pensiunnya.
Untuk bisa menikmati kereta ini untuk yang terakhir kalinya, pengunjung akan dikenai biaya 1.200 yen (sekitar Rp154.000) untuk dewasa, 1.000 yen (sekitar Rp128.000) untuk mahasiswa dan pelajar SMA, 500 yen (Rp64.000) untuk pelajar SMP, dan 200 yen (sekitar Rp26.000) untuk pelajar sekolah dasar.
Baca Juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang
Desain hidung kereta yang runcing, dengan balutan warna ungu yang identik dengan robot EVA-01 ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta kereta dan anime di Jepang. Kegilaan mereka akan dua hal tersebut seolah terjawab sudah dengan hadirnya Shinkansen Type 500 EVA, walaupun sebentar lagi mereka akan merasa kehilangan karena masa operasi kereta ini hanya tinggal menghitung hari saja.
Selain desainnya yang unik, Shinkansen Type 500 EVA ini juga dinobatkan sebagai kereta penumpang pertama di Jepang yang beroperasi dengan kecepatan maksimum 300 kilometer per jam.
PT MRT Jakarta Siap Jajal Pembangunan Fase 2, Tapi….
Belum selesai dengan fase pertama yang menghubungkan Lebak Bulus dan Bunderan HI, PT MRTJ sudah mulai mempersiapkan untuk pembangunan fase 2. Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P Sabandar mengatakan rencananya fase 2 ini akan mulai digarap pada akhir tahun 2018 mendatang. Menurut studi kelayakan yang diadakan pada tahun 2013 silam, rencananya pembangunan fase 2 ini akan mengular dari Sarinah (Thamrin) menuju Kampung Bandan yang masuk ke dalam territorial Jakarta Utara.
Baca Juga: Satu Tahun Jelang Peluncuran, Ini Dia Perkembangan Terbaru dari MRT Jakarta!
Berdasarkan hasil pantauan KabarPenumpang.com pada acara Forum Jurnalis dan Blogger MRT Jakarta, Selasa (27/2/2018), di bilangan Menteng Jakarta Pusat, William mengutarakan rencananya untuk melakukan groundbreaking fase 2 pada bulan Desember 2018. “Kita harap appraisal mission di Februari ini sudah dimulai. Agustus 2018 mulai tender. Dan November itu sudah contract signing untuk fase II dan Desember mudah-mudahan sudah bisa dilakukan groundbreaking,” paparnya.
Berbanding terbalik dengan fase 1 yang didominasi oleh elevated section, William menandaskan bahwa rute yang membentang dari Sarinah hingga Kampung Bandan akan didominasi oleh underground section. “Nantinya, hanya stasiun Kampung Bandan yang elevated, sisanya underground,” tukas William. Adapun stasiun-stasiun yang nantinya akan berada di bawah tanah maksud William adalah: Stasiun Sarinah, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok dan Stasiun Kota.
Mengingat kemungkinan masalah pembangunan fase 2 akan datang dari faktor geografis, maka PT MRTJ sudah memperhitungkan segala sesuatunya agar proses pembangunan fase 2 ini dapat berjalan dengan lancar. “Nantinya untuk yang Sawah Besar dan Mangga Besar ini akan vertikal. Jadi tidak kiri dan kanan tapi atas dan bawah. Kira-kira ini kondisi yang kita siapkan,” ujar William. Hal yang dimaksud di sini merupakan eksistensi terowongan fase 1 yang dibuat vertikal, sedangkan terowongan fase 2 akan dibuat bertingkat (horizontal).
Penerapan terowongan bertingkat itu merupakan salah satu hasil kajian dari tim konsultan Basic Engineering Design yang sebelumnya digandeng PT MRT Jakarta. Tidak hanya itu, Stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar yang semula direncanakan berada di bawah sungai pun akan bergeser menjadi di bawah Jalan Gadjah Mada. “Ini untuk kemudahan konstruksi, sehingga tidak diperlukan pengalihan sungai,” ungkap William.
Baca Juga: Dinilai Punya Kinerja Terbaik, Sejumlah Kontraktor MRT Jakarta Raih SHES Award 2018
Menyinggung soal pendanaan yang sempat meradang di tubuh PT MRTJ, William menegakan bahwa saat ini pihaknya masih membahas mengenai kesepakatan pinjaman atau pendanaan dengan pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) yang juga akan menjadi salah satu sumber pembiayaan proyek MRT Jakarta fase 2. Dalam hal ini, William menyebutkan bahwa hal yang menghambat kesepakatan pendanaan adalah terkait soal pembebasan lahan. “Minggu ini delegasi JICA akan ke Jakarta. Diharapkan financial close akan selesai dalam beberapa bulan ke depan.” Tutupnya di akhir pertemuan.
Sementara itu, terkait penyelenggaraan Asian Games 2018 yang akan dihelat pada bulan Agustus mendatang, William menegaskan bahwa pembangunan MRT tidak akan mengganggu perhelatan akbar tersebut. “MRT (saat Asian Games) belum beroperasi. Tapi, kita memastikan bahwa bagian Sudirman-Thamrin itu tidak ada pekerjaan langsung selama Asian Games,” kata William.
Angkasa Pura I Dorong Sektor Pariwisata Solo Raya Untuk Pengembangan Berkelanjutan
Target pemerintah dalam kunjungan wisatawan mancanegara hingga 2019 mendatang adalah 20 juta orang. Dengan adanya target ini, PT Angkasa Pura I (AP I) bersama dengan pemerintah dan pemegang kepentingan industri pariwisata daerah melakukan Collaborative Destination Development (CDD) sejak 2015 lalu.
Baca juga: PT Angkasa Pura I Lakukan Topping Off Terminal Apung Bandara Ahmad Yani
Salah satu yang di ajak serius dalam mengembangkan industri pariwisata ini adalah kota Solo. Dimana Bandara Adi Soemarmo menjadi pintu masuk penerbangan internasional untuk daerah Solo dan sekitarnya.
“CDD bertujuan untuk mendukung pengembangan potensi pariwisata daerah di kawasan tengah dan timur Indonesia, sehingga sektor pariwisata dapat dijadikan sebagai motor pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP I Devy W. Suradji yang dikutip KabarPenumpang.om melalui siaran pers (28/2/2018).
Dia mengatakan pada tahun 2025 mendatang, ditargetkan 3,5 juta wisatawan datang ke Solo Raya dengan pembagian tiga juta orang wisatawan lokal dan 500 wisatawan mancanegara. Untuk mendukung ini, AP I menggelar rangkaian kegiatan CDD Solo Raya dengan berberapa fase.
Fase pertama pada November 2015 lalu yang menciptakan awareness terhadap pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan industri pariwisata Solo Raya. Fase kedua tahun 2017 lalu dengan adanya inisiasi pembuatan integrated travel dan tourism masterplan Solo Raya.
Untuk fase ketiga pada tahun 2018 ini, AP I bersama pemegang kepentingan industri akan fokus dalam pengembangan infrastruktur termasuk infrastruktur bandara, pengembangan SDM, destinasi dan aktivitas pemasaran wilayah. Devy menambahkan, dalam pengembangan infrastruktur penunjang pariwisata 2018, AP I melakukan beautifikasi terminal penumpang yang ditargetkan selesai pada akhir Februari 2018 ini.
Selain itu juga pembangunan Kereta Api Bandara yang ditargetkan selesai Juli 2018, perluasan apron 148,5 meter persegi dengan target selesai November 2018 dan perluasan terminal penumpang 13 ribu meter persegi pada awal 2019 mendatang. Tak hanya itu, upaya pemasaran juga dilakukan AP I untuk menarik perhatian wisatawan agar mau datang ke Solo Raya dengan mengadakan kegiatan Airport Running Series (ARS) tahun 2015 dan fashion show Hari Batik pada September 2016 lalu.
Sementara itu, untuk menarik maskapai agar mau membuka atau menambah rute ke Solo yaitu dengan mengikuti event Asia Routes 2017 di Okinawa Jepang dan pemberian insentif bagi maskapai yang membuka rute baru atau menambah jumlah penerbangan. Sebagai informasi, CDD 2017 menghasilkan beberapa rekomendasi seperti kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam meningkatkan promosi yang lebih gencar untuk memasarkan Solo Raya sehingga maskapai yang sudah membuka rute-rute penerbangan baru ke bandara Adi Soemarmo dapat bertahan, menciptakan inovasi berupa pengembangan spot baru atau main attraction di Solo Raya sehingga dapat menarik wisatawan, membuat convention center berskala internasional untuk menampung berbagai event besar, kolaborasi dalam penyediaan infrastruktur akses jalan yang memadai dari bandara ke daerah-daerah wisata di Solo Raya.
Hasil rekomendasi dari CDD 2017 lainnya yaitu meningkatkan koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam upaya pengembangan pariwisata daerah, pengelolaan pariwisata Solo Raya di bawah satu badan khusus agar tidak ada lagi ego sektoral, usulan agar Walikota Solo mengumpulkan seluruh stakeholder untuk membentuk rapat koordinasi “Collaborative Tourism Project” guna membahas upaya pembukaan penerbangan dari luar negeri ke Solo. Sebagai informasi, trafik penumpang di Bandara Adi Soemarmo Solo pada 2017 mencapai 2,7 juta penumpang, naik 27 persen dibanding trafik penumpang pada 2016 yang sebesar 2,1 juta orang.
Baca juga: Masterplan Pariwisata Terintegrasi Solo Raya di Inisiasi oleh PT Aggkasa Pura I
Tingkat pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan tertinggi dibanding bandara-bandara lainnya yang dikelola oleh Angkasa Pura I.
“Melihat pertumbuhan penumpang beberapa tahun terakhir dan potensi ke depan, diharapkan dengan kolaborasi yang baik antara operator bandara, maskapai penerbangan, agen wisata, dan terutama pemerintah daerah, diharapkan pengembangan industri pariwisata Solo Raya akan terakselerasi lebih cepat sehingga berdampak positif terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Solo Raya,” kata Devy.
Enggan Tasnya Luput dari Pandangan, Wanita Ini Rela Masuk ke Dalam X-Ray Scanner!
Hadirnya mesin X-Ray sebagai salah satu perangkat pengamanan di pra-sarana transportasi ternyata bisa saja menjadi bahan pembicaraan warganet. Bukan melulu karena petugas keamanan menemukan barang-barang ‘unik’ di dalam tas penumpang, tapi malahan mereka menemukan penumpang di dalam mesin pemindai khusus barang tersebut! Tentu saja, kejadian yang terjadi pada awal Februari 2018 kemarin ini sontak menjadi hangat diperbincangkan khalayak ramai dari seluruh penjuru dunia.
Baca Juga: Cina Adaptasi Sistem Pembayaran Tiket Kereta Bawah Via Smartphone Android
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (14/2/2018), seorang penumpang wanita yang tidak disebutkan namanya ini tiba di Stasiun Kereta Dongguan, Provinsi Guangdong, Cina Selatan pada Minggu (11/2/2018) sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Layaknya kebanyakan penumpang, pada awalnya wanita ini tidak menunjukkan gerak-gerik yang mencuri perhatian para petugas keamanan di stasiun tersebut. Hingga pada akhirnya ia tiba di mesin pemindai barang bawaan.
Setibanya di sana, petugas keamanan stasiun meminta wanita ini untuk menaruh tas yang ia bawa di mesin pemindai guna memeriksa isinya menggunakan teknologi X-Ray. Alih-alih menuruti peraturan yang berlaku, ia malah bersikukuh bahwa terlalu beresiko jika meninggalkan tasnya begitu saja di mesin pemindai. Wanita yang enggan memasukkan tasnya ke dalam mesin pemindai ini sempat beradu argumen dengan petugas keamanan.
Lalu apa yang ia lakukan setelahnya? Ia tetap memegang tasnya erat dan naik ke scanner’s conveyor belt. Petugas keamanan stasiun yang melihat tingkah konyolnya ini sudah mencegah si wanita untuk tidak melakukan tindakan tersebut. Namun peringatan tersebut seolah tidak diindahkan oleh si wanita, dan ia tetap masuk ke dalam mesin pemindai berteknologi X-Ray yang dipenuhi oleh barang bawaan penumpang ini.
Dengan posisi menungging, wanita ini ‘menjelajahi’ mesin pemindai tersebut hanya karena ia tidak ingin tas bawaannya luput dari pengawasan. Alhasil, penampakan yang sedikit menyeramkan dari tubuh si wanita ini menghiasi layar petugas keamanan Stasiun Kereta Dongguan untuk beberapa saat. Bagi petugas keamanan di seluruh pra-sarana transportasi, kejadian unik seperti ini bukanlah hal aneh bagi mereka. Terlebih ketika peak season seperti Libur Nasional Tahun Baru Imlek yang jatuh beberapa minggu yang lalu.
Baca Juga: Tak Hanya di Imigrasi Bandara, Restoran Cepat Saji Mulai Adopsi Pemindai Wajah Untuk Pemesanan
“Anda akan melihat hal aneh setiap harinya,” ujar salah satu petugas keamanan yang menyaksikan kejadian ini. Sementara wanita ini bisa melewati perjalanan di mesin pemindai dengan selamat, petugas keamanan yang berada di sana memperingatkan kepada seluruh penumpang agar tidak mencontoh tindakan yang dilakukan oleh wanita ini.
Satu Tahun Jelang Peluncuran, Ini Dia Perkembangan Terbaru dari MRT Jakarta!
Waktu peluncuran layanan MRT Jakarta semakin dekat, maka tidak heran jika perusahaan yang digawangi William P Sabandar sebagai Direktur Utamanya ini tengah disibukkan dengan segala persiapan menuju hari H. Untuk urusan track, PT MRT Jakarta (MRTJ) bisa dibilang tinggal membubuhkan beberapa sentuhan akhir hingga menuju kata rampung.
Baca Juga: Siap Dikirim ke Indonesia, PT MRT Jakarta Lakukan Final Check Armada Kereta di Jepang
Sebagaimana pantauan KabarPenumpang.com di lapangan, William memaparkan secara langsung perkembangan yang telah dicapai oleh PT MRTJ dalam Forum Jurnalis dan Blogger MRT Jakarta. “Overall (perkembangan) sudah mencapai 91,86 persen, dengan rincian underground section berada di angka 95,76 persen, dan elevated section berada di angka 87,99 persen,” ungkap William, Selasa (27/2/2018).
Walaupun dari segi kesiapan PT MRTJ sudah melebihi angka 90 persen, namun pionir jaringan Mass Rapid Transit di Indonesia ini mengaku masih kekurangan tenaga kerja yang kompeten. Melalui Direktur Operasional, Agung Wicaksono, PT MRTJ mengatakan akan membuka kembali lowongan kerja untuk sekitar 289 orang yang nantinya akan ditempatkan di jalur Lebak Bulus – Bunderan HI.
“Bulan Maret ini juga akan datang lagi tenaga tenaga muda. Ada sebagian yang menjadi staff stasiun kita. Ada sebagian dari staff posisi kita yang ada di depo yang akan mengendalikan keluar masuknya kereta. Kemudian ada tambahan juga masinis,” papar Agung.
Dari segi modanya sendiri, William dan beberapa dewan direksi sudah melakukan pengecekkan langsung ke pabrik rolling stock MRT yang ada di Jepang, Nippon Sharyo. Setelah merasa puas dengan moda yang nantinya akan beroperasi dari Lebak Bulus – Bunderan HI ini, William mengatakan dua rangkaian pertama kereta MRTJ ini sudah berada dalam status siap kirim. “Semua masih on target. Kereta pertama kita akan datang di (Jakarta) akhir Maret tahun ini,” ujar pria yang akrab disapa Willy ini.
“Untuk train set 1-2 sudah completed. Kemudian untuk pengangkutan dari pelabuhan Toyohasi mulai 23 Februari hingga 3 Maret 2018, sedangkan untuk kapal pengangkut train set 1-2 berangkat menuju pelabuhan Tanjung Priok pada tanggal 7 Maret dan dijadwalkan tiba pada akhir Maret 2018,” lanjutnya. Untuk mempersiapkan kedatangan kereta, PT MRTJ telah melakukan serangkaian simulasi guna melancarkan pengiriman pada hari H. Pada simulasi tersebut, PT MRTJ kembali menemukan masalah dimana salah satu pintu tol yang berada di daerah Jakarta Barat tidak cukup tinggi agar truk pengangkut kereta bisa lewat.
Sesampainya di Jakarta, kereta tersebut akan diangkut menggunakan truk pada malam hari sehingga tidak mengganggu lalu lintas yang akan dilewatinya. Nantinya, dua dari total 16 rangkaian kereta yang dipersan oleh PT MRTJ ini masih harus melewati sergangkaian proses, seperti uji coba ulang yang dilakukan oleh sejumlah otoritas terkait dan akan diberi identitas oleh Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. “Setiap kereta akan diberikan identitas oleh Ditjen Kereta Api untuk memberikan penomoran. Dan, kita sudah bersurat ke mereka,” paparnya.
Baca Juga: Upayakan SDM dan Manajemen Kelas Dunia, PT MRT Jakarta Rangkul MTR Academy Hong Kong
Sementara untuk 14 armada sisanya, William memaparkan bahwa semuanya akan berjalan secara bertahap. “Untuk rangkaian ketiga hingga ke-10, statusnya masih assembling, rangkaian ke-11 dan ke-12 statusnya masih preparing parts, sedangkan untuk rangkaian ke-13 sampai ke-16 masih belum digarap. Semuanya dilakukan secara bertahap.” Tutupnya.
Stasiun Kotawinangun, Cagar Budaya yang Masih Setia Melayani Penumpang
Stasiun tua dengan nilai sejarah tinggi memang selayaknya menjadi cagar budaya, dan dari sekian banyak yang sudah tak aktif lagi, toh yang masih lebih banyak stasiun tua yang kini masih aktif melayani penumpang. Daintaranya adalah Stasiun Kotawinangun, stasiun kecil yang berada di Provinsi Jawa Tengah.
Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya
Stasiun Kotawinangun adalah stasiun kelas II atau biasa disebut dengan stasiun kecil. Berada di ketinggian +13 meter, stasiun Kutowinangun berada di desa Kuwarisan, kecamatan Kutowinangun, kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Letaknya cukup strategis yakni sekitar 450 meter dari Jalan Raya Kutowinangun. Tak jauh dari stasiun ini, ada kantor Camat dan makam Bupati Kebumen dan merupakan stasiun yang masuk dalam Daerah Operasional V Purwokerto.
Stasiun Kutowinangun sendiri memiliki bentuk bangunan memanjang dengan cat khas warna PT Kereta Api Indonesia. Pintu masuk kedalamnya berada dibagian tengah dan jika dilihat dari luar bangunan, tepat di atas pintu masuk ada tonjolan di bagian atasnya.
Ruang tunggu penumpang dulunya berada dibagian timur stasiun ini, dan kemudian dipindah dekat loket tiket kereta api saat masih aktif. Sedangkan ruang tunggu lama kini digunakan untuk ruang kerja Distrik Jalan Rel dan ruang dinas petugas stasiun Kutowinangun.
Di jalur kereta stasiun Kutowinangun ini memiliki perlintasan sebidang yang berbatasan dengan jalanan. Palang perlitasan pun dinaik turunkan secara manual langsung oleh petugas dari ruang PPKA.
Meski hanya stasiun kecil, stasiun Kutowinangun yang masih aktif ini melayani persilangan dan persusulan kereta api. Stasiun ini memiliki tiga jalur rel kereta api dengan panjang emplasemen 432 meter yang merupakan jalur utama dan mampu menampung 23 rangkaian kereta.
Baca juga: Stasiun Cirebon, Bernilai Strategis dan Menyandang Bangunan Cagar Budaya
Sedangkan jalur 2 dan 3 digunkan sebagai jalur persilangan dan mampu menapung 17 rangkaian kereta. Di stasiun ini sempat ada insiden dimana padda 23 September 2007 lalu kereta api Pasundan anjlok 500 meter di timur stasiun Kutowinangun. Untungnya tidak ada korban dalam kejadian ini, namun ratusan penumpang terlantar dan baru bisa melanjutkan perjalanan mereka setelah empat jam.
