Setelah sukses dengan uji coba skala penuh perdana yang diadakan di Gurun Nevada pada bulan Maret 2017 silam, perusahaan transportasi futuristik yang bermarkas di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Virgin Hyperloop One diketahui baru saja merilis prototipe pod yang nantinya akan digunakan dalam pengoperasian hariannya.
Baca Juga: Uji Coba Perdana, Hyperloop One Sukses Meluncur 112 Km Per Jam
Sebelumnya, perusahaan yang baru saja menjalin kerja sama strategis dengan Virgin Group ini mempresentasikan visinya untuk rute yang menghubungkan kota-kota di Timur Tengah, termasuk pembocoran estimasi waktu tempuh antara Dubai dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab yang hanya memakan waktu perjalanan 12 menit saja.
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (27/2/2018), dirilisnya model prototipe ini diharapkan dapat memberi sedikit gambaran kepada masyarakat mengenai moda transportasi masa depan yang ide awalnya berasal dari entrepreneur kelas kakap, Elon Musk. Dalam pagelaran UAE Innovation Week yang dihelat beberapa waktu yang lalu, Virgin Hyperloop One memboyong serta prototipe moda futuristik ini.
Dapat dilihat deretan kursi searah laju kendaraan sudah terpasang rapi di dalamnya, lengkap dengan sabuk pengaman di setiap kursinya. Berbeda dengan kursi pesawat atau moda transportasi lainnya, kursi yang digunakan oleh Virgin Hyperloop One terlihat seperti kursi di dokter gigi, yang mungkin ini ditujukan untuk mengurangi hentakan terhadap penumpang ketika Hyperloop melaju kencang.
Sumber: newatlas.com
Untuk rute Dubai – Abu Dhabi sendiri, pihak Virgin Hyperloop One pertama kali menandatangani kerja sama dengan beberapa pihak terkait pada November 2016. Setahun berselang setelah penandatanganan kontrak kerja tersebut, Virgin Hyperloop One memaparkan sebuah gambaran jaringan yang lebih luas, dimana jaringan tersebut menghubungkan kota-kota di hampir seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk Kuwait City di Kuwait, Jeddah di Arab Saudi dan Muscat di Oman.
“Membangun jaringan Hyperloop yang membentang dari Jeddah ke Riyadh, ke Abu Dhabi, dan ke Dubai merupakan sebuah kesempatan yang menakjubkan. Hal ini berpotensi mengubah skema pengiriman barang, mobilitas warga, dan kami melihat di depannya akan ada banyak perubahan drastis pada perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut di kawasan ini,” ungkap CEO Virgin Hyperloop One, Rob Lloyd.
Rob menambahkan bahwa jarak 86 mil atau yang setara dengan 139 km yang membentang antara Dubai dan Abu Dhabi normalnya ditempuh dalam waktu satu setengah jam menggunakan mobil. Jika proyek Virgin Hyperloop One ini sudah terrealisasi nanti, maka waktu tempuh antar dua kota tersebut dapat dipangkas menjadi 12 menit saja. Tentu selisih waktu di antara dua metoda perjalanan di atas dapat dimanfaatkan oleh para penumpang untuk aktifitas produktif lainnya.
Baca Juga: Hyperloop One Ganti Nama Setelah Virgin Group Tanam Saham
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, dalam masa uji coba perdananya kemarin, kereta luncur itu “melayang” di atas jalur selama 5,3 detik dengan menggunakan levitasi magnetik, mencapai hampir 2G percepatan perjalanan menuju kecepatan target 70 mph (112 km per jam). Tim telah mengurangi tekanan di dalam tabung reaksi menjadi sekitar lima pascal, yang menjadikannya ruang vakum terbesar keempat di dunia dan yang terbesar di tangan swasta.
Kedepannya, Virgin Hyperloop One akan menguji coba modanya tersebut hingga pod menyentuh kecepatan 250 mph atau setara dengan 400 km per jam.
Anda masih ingat dengan penelitian di Inggris yang mengungkapkan bahwa di smartphone atau tablet terdapat lebih banyak kuman dan bakteri dibandingkan pada toilet duduk. Penelitian tersebut meneliti kurang lebih 90 perangkat dan menemukan bahwa pada perangkat-perangkat tersebut terdapat jumlah bakteri yang sangat banyak, termasuk bakteri E. Coli, yang bisa menyebabkan penyakit.
Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone
Dan, sudah barang tentu bagian terbesar yang terpapar bakteri di smartphone dan tablet ada di bagian layar (screen). Ini wajar mengingat layar adalah bagian yang paling aktif di sentuh untuk melakukan navigasi menu. Dan ada kabar lain yang dirilis dari situs thesun.co.uk (8/2/2018), yang menyebut bahwa mesin self service, seperti self check in counter dan self baggage drop di bandara ternyata juga menjadi ‘sarang’ berdiamnya banyak kuman.
Ya dibandingkan smartphone, sudah barang tentu layar sentuh pada mesin self service punya ukuran yang lebih besar. Parahnya mesin self service ini memiliki sekitar seribu bakteri lebih banyak dari pada tempat duduk umum di bandara.
Hal ini didapat dari studi yang dilakukan oleh Insurance Quotes dimana melakukan tes untuk mengukur jumlah unit pembentuk koloni atau colony forming units (CFU) atau bakteri per inci persegi di beberapa daerah yang sering digunakan. Dari hasil studi, ditemukan 256.875 CFU di satu buah layar check in mandiri.
(The Sun)
Hitungannya kini satu juta CFU per inci persegi, sehingga baiknya Anda membawa ekstra pencuci tangan untuk membersihkan dari kuman dan bakteri yang menempel. Tak hanya itu, tangan yang bertumpu pada kursi di bandara juga sangat kotor.
Di kursi diketahui 21.360 CFU dan tombol air keran rata-rata memiliki 19.181 CFU yang tersebar di sekitarnya. Sedangkan perbandingan perangkat yang ada di toilet hanya ada 172 CFY per inci perseginya dan hasil ini tidak buruk sama sekali.
Tak hanya ittu, flush toilet pesawat dan meja lipat di pesawat juga terdapat bakteri. Namun lebih sedikit dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini bisa membuat satu dari lima penumpang terjangkit flu setelah penerbangan.
Para ahli mikrobiologi yang telah meneliti pesawat terbang menemukan kuman ini bisa hidup dan dapat bertahan berjam-jam atau berhari-hari setelah penumpang membawa mereka masuk dalam kabin. Biasanya virus bakteri yang bisa tinggal lebih dari seminggu dalam kabin yakni MRSA dan E coli.
Tak hanya itu, kuman dan bakteri penyebab influenza serta penyebab penyakit kulit hingga gangguan perut juga mampu bertahan lama. Dari beberapa penelitian lain, kelembaban udara kabin yang rendah juga bisa membuat kuman menempel pada tubuh penumpang.
Hal ini terlihat dari kelembaban udara yang mengganggu sistem pembersihan Mucociliary. Sistem ini terdiri dari lapisan tipis lendir dan rambut halus di hidung yang bisanya menjebak virus serta bakteri agar masuk ke tenggorokan melalui hidung dan dihancurkan oleh cairan asam di perut.
Jika sistem ini berfungsi tidak baik, maka bakteri dan virus akan lebih mudah masuk ke paru-paru. Apalagi di dalam pesawat penumpang yang ada dari berbagai negara atau kota dan membawa kuman yang berbeda-beda.
Baca juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri
Sebenarnya untuk terhindar dari penyakit seperti influeza dan berbagai penyakit lain yakni tidak menyentuh mata, mulut dan hidung dengan tangan. Memang sulit, tetapi cara ini lebih baik.
Sehingga jika ingin menyentuh baiknya bersihkan tangan dengan mencuci menggunakan sabun dan air. Tak hanya itu Anda juga bisa menggunakan hand sanitaiser yang mengandung setidaknya 60 persen alkohol. bersihkan tangan sebelum dan sesegera setelah penerbangan.
Memberi rating atau nilai pada pengemudi online sudah sering dilakukan para pelanggan yang menggunakannya. Namun, apa jadinya jika Anda seorang pelanggan juga dinilai atau diberi rating oleh para pengemudi tersebut? Uber salah satu aplikasi taksi maupun ojek online ini sudah menambahkan layanan untuk memberikan nilai pada penumpang. Hal ini dilakukan agar pengemudi dan penumpang bisa sama-sama merasakan mendapat nilai alias tak hanya sebelah pihak saja.
Baca juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam BeroperasiKabarPenumpang.com merangkum dari laman businessinsider.sg, pemberian rating bagi penumpang ini sendiri sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Sebagai pelanggan, pastinya Anda juga mau mendapat nilai yang bagus dari pengemudi. Nilai ini akan diberikan bagi pelanggan baik itu yang baru pertama kali, atau yang sudah lama, bahkan yang hanya menggunakan aplikasi Uber satu kali saja. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa membuat Anda tetap berada di dekat nilai sempurna 5.0.
1. Jangan memaksa pengemudi
Jika Anda memiliki jalur yang lebih cepat dari GPS, bisa memberitahukan pada pengemudi dan jangan terlalu memaksa. Jangan juga pernah meminta turun di tempat yang tidak diperbolehkan atau menggunakan jalur yang bukan semestinya.
2. Bersiap sebelum pengemudi datang
Jangan buat pengemudi menunggu lama, jika memang pengemudi harus menunggu Anda jangan lebih dari lima menit. Ini akan membuat rating yang diberikan pengemudi turun untuk Anda.
3. Jangan mengotori mobil dan muntah
Saat berada di dalam mobil, jangan buang sampah Anda di jok atau sela-sela pintu. Karena akan membuat kotor mobil. Jika tidak di sediakan tempat sampah baiknya simpan sampah Anda dan buang ke tempat sampah setelah turun dari mobil. Di luar negeri, jika Anda muntah di dalam mobil Uber, penumpang akan dikenakan biaya pembersihan dan bisa saja hanya mendapat bintang satu dari pengemudi.
4. Hal kecil
Baiknya tidak membawa makanan yang berbau menyengat ke dalam mobil, tidak membanting pintu dan berisik atau gaduh dalam mobil. Hal ini bisa membuat pengemudi akan mengurangi pemberian bintang kepada Anda.
5. Beri bintang 5 untuk mendapatkannya
Cara mudah untuk mendapat bintang lima adalah Anda juga memberikan bintang lima pada pengemudi. Hal ini cukup terbukti karena biasanya pengemudi seperti timbal balik memberikan penilaian yang baik.
6. Tip untuk pengemudi
Tidak ada kewajiban untuk memberikan tips, tetapi memberikan sedikit tips dengan sopan, akan membuat pengemudi merasa dihargai.
Baca juga: Uber Tak Lagi Ilegal di Uni Eropa, Indonesia Kapan Bisa Terapkan Aturan Serupa?7. Periksa lokasi penjamputan
Biasanya maps atau tujuan penjemputan ini tidak akurat, sehingga penumpang harus memasukkan alamat dengan benar atau menghubungi pengemudi untuk menjelaskan titik akurat lokasi Anda.
8. Bersikap sopan
Sebagai seorang penumpang, perlakuan sopan akan membuat pengemudi senang. Memberi rating bagi pengemudi, tidak sembrono di dalam mobil atau tidak membuat keributan. Sikap seperti ini sangat disukai pengemudi. Biasanya pengemudi akan memberi bintang lima jika Anda bersikap sopan selama perjalanan ke tujuan.
Guna mengantisipasi lonjakan penumpang yang terjadi ketika libur Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Jumat (16/2/2018) kemarin, Bandara Internasional Macau sampai-sampai membangun sebuah terminal baru yang mampu untuk menampung lebih banyak penumpang yang hendak berkunjung atau keluar dari Cina. Namun sepertinya negara berjuluk Negeri Tirai Bambu ini kecolongan di sektor transportasi lain, yaitu moda darat.
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Penumpang Saat Imlek, Bandara Macau Operasikan Terminal Ekstensi Baru
Layaknya musim Mudik Lebaran di Indonesia, tumpukkan puluhan ribu kendaraan tampak di Pelabuhan Cina Selatan. Penumpukkan ini terjadi lantaran turunnya kabut yang memaksa operator pelabuhan untuk membatalkan semua perjalanan menggunakan ferry pada akhir Tahun Baru Imlek.
Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (22/2/2018), sekitar 10.000 mobil dan 50.000 wisatawan terjebak dan terpaksa menunggu kapal ferry yang bakal mengangkut mereka keluar dari pulau tropis yang populer, Hainan. Adapun panjang antrean tersebut mencapai 10 km.
Pulau Hainan sejatinya memang terkenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Cina. Libur Nasional selama tujuh hari yang diberlakukan oleh Pemerintah Cina untuk merayakan Tahun Baru Imlek ternyata tidak melulu membawa dampak positif kepada para warganya maupun para pelancong. Penumpukkan kendaraan yang terjadi di tiga penyeberangan utama di Pulau Hainan menjadi salah satu contoh nyata dari dampak libur panjang ini.
Laman sumber menyebutkan bahwa sekitar lima juta pengunjung memadati Pulau Hainan selama periode libur nasional tersebut, hampir setara dengan jumlah penduduk di Belgia. Sayangnya, liburan yang semula mengasyikan berubah menjadi petaka ketika kabut turun menghambat para pelancong Pulau Hainan yang hendak kembali menuju wilayah Cina daratan.
Penumpukkan yang terjadi di Pelabuhan Xiuying, Xinhai, dan Nangang sejak tanggal 19 Februari siang hingga tengah malam ini membuat harga penerbangan meningkat drastis, sekitar 20 kali harga normal. Penyeberangan menuju dataran Cina mulai dibuka kembali pada 20 Februari pagi. 30 kapal ferry yang beroperasi kala itu mengangkut kurang lebih sekitar tujuh ribu kendaraan dalam tenggat waktu 4,5 jam.
Baca Juga: Jembatan 55 Km Zhuhai – Macau Selesai, Tapi Kapan Dibuka?
Menanggapi hal ini, otoritas setempat mengatakan bahwa mereka membutuhkan waktu 1×24 jam untuk ‘membersihkan’ semua antrean yang mengular sejak semalam. Dilansir dari sumber lain, hingga tanggal 21 Februari sore, masih terdapat 10.000 kendaraan yang mengantri di penyeberangan tersebut.
Penumpukkan kendaraan seperti ini bukanlah hal baru di Cina. Tahun Baru Imlek tahun 2016 silam, antrean kendaraan tercatat mengular hingga 50 km di jalur bebas hambatan yang menghubungkan Kota Beijing – Hong Kong.
Tapi yang paling parah terjadi pada tahun 2010 silam, dimana antrean kendaraan terpantau mengular sepanjang 60 mil atau yang setara dengan 96,6 km di Beijing – Tibet Expressway. Antrean yang baru bisa diredam 10 hari berselang ini diakibatkan karena adanya perbaikan fasilitas jalan raya.
Tak ada yang berbeda dari Uber Eats, layanan pesan antar makanan dan minuman berbasis aplikasi ini tak ubahnya dengan Go-Food milik Go-Jek dan GrabFood milik Grab. Dan Uber Eats tak seperti layanan transportasi online Uber motor dan mobil, Uber Eats terbilang kalah populer gaungnya. Namun karena Uber Eats tak kunjung hadir di Indonesia, maka fitur dalam aplikasi Uber ini tak dikenal oleh publik di Tanah Air.
Walau ketinggalan langkah dari kompetitornya, pelan tapi pasti Uber Eats mulai merambah Asia Tenggara, terbukti Uber Eats telah hadir di Malaysia pada tahun lalu. Dan kabarnya, Uber Indonesia memang berencana menghadirkan Uber Eats di Indonesia.
Baca juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi
Namun sebelum itu, berita seputar Uber Eats diramaikan dengan aksi krimimal. Persisnya pada 19 Februari 2018, seorang pria bernama Ryan Thornton tewas akibat kekejian seorang pengemudi Uber saat mengantar makanan pesanannya. Pembunuhan ini berawal dari Ryan yang memesan makanan melalui aplikasi Uber Eats untuk diantarkan ke apartemennya di Buckhead dan pada pukul 11 malam waktu setempat, pesanan Ryan datang dan dirinya turun untuk mengambil pesanan tersebut.
Alih-alih bukan mendapat makanan, saat korban berbincang dengan pengemudi kemudian dirinya di berondong lima kali tembakan. Saksi mata di tempat kejadian, hanya menemukan korban yang sudah bersimbah darah sedangkan pengemudi kabur dengan mobilnya dan kini menjadi buronan.
Korban kemudian dibawa ke rumah sakit tetapi meninggal dalam perjalanan. Satu-satunya petunjuk hanyalah mobil Volkswagen putih yang digunakan oleh pengemudi.
Adanya pembunuhan ini, Uber mengucapkan belasungkawa terhadap keluarga korban melalui juru bicara mereka. Mereka juga mengatakan, pengemudi yang kini buron tersebut telah melanggar kebijakan pengemudi untuk tidak membawa senjata apa pun dalam kendaraan. “Kami terkejut dan sedih mendengar berita ini. Kami akan membantu polisi Atlanta dan mengucapkan duka sedalam-dalamnya untuk keluarga korban,” ujar juru bicara Uber.
Uber Eats sendiri merupakan satu layanan atau fitur yang ada di aplikasi Uber untuk memesan makanan ke sejumlah restoran melalui pengemudi Uber. Layanan Uber Eats sendiri saat ini sudah berkembang pesat dan digunakan sejumlah kota besar di Amerika Serikat.
Tetapi layanan ini belum tahu kapan masuk ke Indonesia. Dari kabar yang tersiar ada yang mengatakan tahun 2017 lalu harusnya sudah masuk ke Indonesia. Sayangnya Managing Director Uber Indonesia Alan Jiang menampik akan hadir dalam waktu dekat di Indoensia.
Alan mengatakan, masih fokus di layanan transportasi karena kesempatan bisnis di transportasi bisa bertahan lebih lama. Saat ini Singapura juga sudah disinggahi Uber Eats.
Tak hanya itu sekitar 33 kota di delapan negara sudah menggunakan layanan Uber Eats untuk memesan makanan. Negara-negara tersebut yakni San Francisco Perancis dan London. Sedangkan Tokyo menjadi kota teranyar bagi Uber Eats.
Sayangnya di beberapa negara, Uber Eats sendiri banyak yang menimbulkan kerugian. Secara prinsipnya, layanan baru Uber Eats ini sendiri sebenarnya tidak jauh dengan layanan pesan antar makanan yang lain.
Baca juga:Uber Berbagi Hadiah dengan Pengguna dan Mitra di Bulan Kasih Sayang
Hanya saja yang membedakannya adalah konsumen bisa meminta uang kembalian dengan mudah dan ini justru dicurangi oleh konsumen sendiri sehingga layanan tersebut merugikan pihak Uber. Modus yang digunakan adalah konsumen memesan minuman yang murah seperti soda kalengan dan mengeluhkan kualitas pengantaran atau barang yang di beli.
Ketika keluhan itu sampai ke operator maka, konsumen akan mendapat kompensasi berupa voucer. Nilai voucernya sendiri bisa mencapai US$30 atau setara dengan Rp390 ribu sebagai bentuk permintaan maaf.
Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang dikelola oleh PT Angkasa Pura II (AP II) kini semakin melebarkan sayapnya. Saat ini selain Garuda Indonesia, AirAsia internasional dan beberapa maskapai lainnya sudah pindah di Terminal 3 ini. Sedangkan untuk maskapai internasional lain, semuanya akan pindah ke Terminal 3 pada Juni 2018 mendatang.
Baca juga: Demi Pembangunan Terminal 5, Bandara Changi Kutip Pajak Hingga S$15 Per Penumpang
Dengan semakin berkembangnya Terminal 3 ditambah dengan pelayanan dan fasilitas yang semakin mumpuni. Pihak AP II akan menaikkan tarif pelayanan jasa penumpang udara (PJP2U) atau Passanger Service Charge (PSC)/Airport Tax di Terminal 3 bandara Soetta mulai 1 Maret 2018 mendatang. Kenaikan ini dilakukan PT Angkasa Pura II (AP II) hanya untuk penerbangan internasional bukan penerbangan domestik.
Kenaikan pada tarif PSC sendiri pada penerbangan internasional tidak terlalu jauh dimana sebelumnya Rp200 ribu menjadi Rp230 ribu. Vice President Corporate Communication AP II Yado Yarismano mengatakan adanya kenaikan ini sendiri sudah melalui persetujuan dari Kementerian perhubungan (Kemenhub).
“Kenaikan tarif ini karena pelayanan dan fasilitas yang diberikan kepada penumpang di Terminal 3 bandara Soetta dan bukan karena hal yang lain,” ujar Yado saat dihubungi KabarPenumpang.com Selasa (27/2/2018). Dia menambahkan, sedangkan tarif penerbangan domestik tidak berubah yakni tetap Rp130 ribu.
Tarif PSC sendiri tidak akan dibayarkan saat berada di bandara melainkan sudah termasuk dalam tarif tiket yang penumpang beli. Sebelum bandara Soetta, akhir tahun 2017 kemarin, Bandara Internasional Changi Singapura sudah menaikkan tarif PSC-nya.
Kenaikan PSC di bandara Changi sendiri untuk membantu pembangunan Mega Terminal 5 yang akan dibuka pada 2030 mendatang dan juga untuk penambahan landasan pacu ke tiga. Selain itu juga digunakan untuk melengkapi fasilitas yang ada di bandara. Kenaikannya sendiri sekitar S$10-S$15 untuk penumpang yang berangkat dari Changi dan untuk yang transit dikenakan sekitar setengahnya yakni S$6.
Baca juga: Terminal 2 Bandara Soetta Diperluas, Mulai Juni 2018 Semua Penerbangan Rute Internasional Pindah ke Terminal 3
Tetapi, kenaikan tarif PSC di bandara Changi tak semuanya di tanggung penumpang, melainkan ada juga bantuan dari pihak pemerintah. Hal ini agar tidak semuanya diberatkan kepada penumpang. Diketahui, PSC sendiri merupakan tarif yang harus dibayarkan maskapai penerbangan ke pengelola bandara, dalam hal ini untuk Soetta yang dikelola oleh PT AP II.
Teknologi airbag atau kantong udara sebagai bantalan pengaman di dalam mobil ternyata sudah berusia 30 tahunan di dunia otomotif. Selama itu pun tidak banyak yang berubah dari desain dasar airbag. Airbag sendiri biasanya digunakan untuk mengamankan penumpang dan pengemudi yang duduk bagian depan jika terjadi kecelakaan sehingga tidak membentur dashboard ataupun setir mobil.
Baca juga: Guardian Optical Techonologies, Solusi Selamatkan Anak Yang “Tertinggal” di Dalam Kendaraan
Namun, terkadang juga ada airbag yang berada di sisi mobil ataupun bagian lutut tempat duduk penumpang. KabarPenumpang.com melansir dari laman thedrive.com (21/2/2018), bahwa secara khusus airbag penumpang bisa mengacu sebagai sistem penahan tambahan, yang artinya menjaga sabuk pengaman dan menambahkan airbag serta ada beberapa sistem tambahan yang dikembangkan sebagai pengganti kantung udara yang tidak dapat ditemukan.
Menurut Mercedes Benz bukan hanya airbag yang merayakan kesuksesannya dalam 30 tahun, melainkan airbag yang berada di jendela sudah berusia 20 tahun. Mercedes mengatakan, pertama kali pihaknya meluncurkan airbag tahun 1981 untuk pengemudi, yang kemudian menyusul airbag untuk penumpang pada musim semi 1988 lalu dalam rangkaiaan model S-Class 126 nya.
Hingga akhirnya pihak Mercedes mengakui dan mengerti akan teknologi dalam pengembangan airbag-nya. Sebenanrnya pegembangan airbag milik Mercedes ini sudah dimulai tahun 1966, tetapi mereka baru mendaftarkan hak patennya pada 1971.
Bentuk dan desain airbag sendiri selama 30 tahun ini belum banyak perubahan. Airbag dilengkapi dengan sensor unit pemicu yang bisa mencatat untuk mengaktifkan mekanisme pengembangannya.
Adanya sistem ini membuat wajah pengemudi dan penumpang yang duduk di depan tidak terkena kain dan bender fender kecil. Untuk menggembungkan airbag sendiri sebenarnya sudah diisi dengan nitrogen yang ada di kain poliamida dengan tambahan bahan karet di dalamnya.
Baca juga: Pentingnya Sarung Tangan Saat Berkendara
Jika terjadi benturan kencang atau kecelakaan, biasanya airbag akan keluar dari dalam kompartemen untuk menyelamatkan penumpang dari benturan. Biasanya saat terjadi kecelakaan pada mobil, maka airbag akan mengembang dan bagian dalam mobil seperti kapal pecah karena airbag yang mengembang dari segala sisi.
Tak ingkar janji, Pemerintah Arab Saudi yang pada tahun lalu menyebutkan rencananya untuk membuka layanan kereta mewah bagi para Jamaah Haji tinggal selangkah lagi menuju realisasi. Nantinya, Jamaah Haji dan Umrah dari seluruh penjuru dunia dapat menikmati perjalanan dari Jeddah menuju Makkah dan sebaliknya dengan menggunakan kereta super mewah, lengkap dengan instalasi teknologi yang serba canggih.
Baca Juga: Kereta Cepat Haramain Siap Layani Tamu Allah Akhir Tahun Ini
Dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kereta ini dilengkapi dengan kafetaria, fasilitas WiFi onboard, hingga tempat duduk yang nyaman khusus untuk para Tamu Allah. “Dari bandara, jamaah haji dan umrah dapat langsung menuju stasiun kereta api di Jeddah yang mewah pula dengan fasilitas yang disediakan untuk mereka yang akan menikmati pelayanan serba elektronik dengan teknologi mutakhir,” kata Manajer Proyek stasiun kereta api Jeddah, Faisal Alghamdi, dikutip dari laman antaranews.com (25/2/2018).
Kereta mewah ini akan diberangkatkan dari stasiun yang berlokasi di King Abdulah Economic City, Jeddah menuju Makkah dengan memakan waktu tempuh yang jauh lebih singkat ketimbang naik bus. “Perjalanan sepanjang kurang lebih 450 kilometer dari Jeddah ke Makkah ini akan memakan waktu sekitar satu setengah jam,” lanjut Faisal Alghamdi.
Sebanyak 13 gerbong akan mengangkut para jemaah haji dan umrah dalam sekali perjalanan dari Jeddah ke Makkah, namun jumlah rangkaian nantinya akan ditambah menjadi 26 gerbong kereta api yang diimpor dari Spanyol. Tidak hanya sarananya saja yang memenuhi aspek modernisasi, pra-sarananya pun tak luput dari perkembangan teknologi. Sebut saja untuk sistem tiket yang sudah mulai terjamah digitalisasi.
Mengingat Arab Saudi merupakan destinasi religi umat Muslim, maka tidak heran jika operator menyediakan fasilitas ibadah seperti Masjid yang mampu menampung ratusan Jamaah. Pembangunan stasiun tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Visi 2030 Saudi Arabia yang antara lain memberi perhatian kepada kepentingan para jemaah haji dan umroh dari berbagai bangsa di seluruh dunia.
Baca Juga: Al Mashaaer Al Mugaddassah Metro, MRT Unik di Kota Suci Makkah
Visi tersebut yang telah diperkenalkan oleh Putra Mahkota Kerajaan Saudi Arabia, Muhammad bin Salman, mengandung tiga pilar yaitu membuat Saudi Arabia menjadi pusat Arab dan Islam dunia, membuat kerajaan tersebut pusat investasi global dan membuat negara tersebut sebagai pusat yang menghubungkan tiga benua yaitu Asia, Eropa dan Afrika.
Seperti yang sudah diberitakan sebeumnya, kereta mewah ini mampu mengular hingga kecepatan maksimum mencapai 320 km per jam. Pihak Saudi Railways Organization (SRO) selaku operator kereta ini sudah melakukan uji coba perdananya pada 25 Juli 2017 kemarin. Kereta berlari dari Rabigh, Jeddah menuju Madinah dengan kecepatan 330 km per jam, dan waktu tempuh sekitar 1 jam 15 menit, lebih cepat 15 menit dari estimasi awal.
Kesan mistis dan angker seolah sulit terlepas dari kuburan. Nampaknya selalu ada beberapa pasang mata yang mengawasi setiap gerak-gerik kita selama berada di tempat peristirahatan terakhir ini. Tapi tahukah Anda, ternyata kuburan itu tidak melulu diperuntukkan bagi manusia lho!
Baca Juga: The Boneyard, Inilah Tempat Bersemayam Para Pesawat Setelah Pensiun dari Masa Tugasnya
Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, bahwa di Tucson, Arizona, Amerika Serikat terdapat sebuah lahan luas bernama The Boneyard. Area seluas 1.052 hektar ini merupakan tempat bersemayamnya para pesawat pasca masa operasi mereka.
Berbeda dengan The Boneyard, di Belgia ternyata ada juga lokasi khusus yang kerap kali dijuluki sebagai kuburan mobil. Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, sebuah hutan di Chatillon, sebuah desa di bagian utara Belgia, terdapat parkiran luas yang isinya mobil-mobil tua sisa peninggalan Perang Dunia kedua. Menurut catatan sejarah, mobil-mobil ini merupakan kendaraan pasukan Amerika Serikat pada masa perang akbar tersebut.
Ada beberapa versi yang melatarbelakangi hadirnya kuburan massal ini,namun yang paling santer beredar adalah mobil-mobil yang ada di sini dulunya milik tentara Amerika. Pasca Perang Dunia Kedua meredam, tentara Amerika yang hendak pulang ke kampung halamannya dibuat bingung oleh kepemilikan mobil mereka di Belgia. Pasalnya, ongkos kirim yang dikenakan untuk mengirimkan mobil kala itu tergolong sangat mahal.
Maka dari itu, serdadu Amerika ini sepakat untuk memarkirkan sekaligus menyembunyikan mobil-mobil yang mereka punya di sebuah hutan, dengan tujuan agar kelak mereka bisa membawa pulang kembali kendaraan mereka dengan menggunakan kapal laut. Namun karena satu dua hal, hingga kini serdadu Amerika tersebut tidak pernah kembali untuk mengambil mobil-mobil tersebut.
Mobil-mobil beragam jenis tersebut dibiarkan terbengkalai begitu saja, hingga lapuk termakan usia. Semula kendaraan yang memiliki nilai jual tinggi lengkap dengan body-nya yang kokoh, kini hanya menyisakan kerangka yang diselimuti karat. Kaca-kaca yang tidak lagi mampu menahan terpaan angin, mulai tergantikan dengan tumbuhan rambat nan tinggi menjulang.
Nuansa angker di sini bertambah kuat manakala ratusan kendaraan yang terparkir rapi di tengah hutan ini seolah sedang terjebak macet selama puluhan tahun. Bak masing-masing kendaraan saling bercengkarama satu sama lain, hanyalah pepohonan yang setia menyertai ratusan mobil di Hutan Chatillon.
Baca Juga: Kuburan Tak Selalu Seram, Stasiun Purwakarta Saksinya
Sayangnya, tidaklah semua kondisi mobil-mobil di sini dalam keadaan sempurna. Kegilaan para kolektor mobil kerap kali membuat mereka buta, tidak sedikit dari mereka yang ‘mempereteli’ onderdil mobil yang kebetulan serupa dengan miliknya. Sebut saja dashboard hingga emblem logo merek tidak luput dari incaran para kolektor untuk mengkanibalisasi mobil mereka.
Sejak tahun 2010 lalu, pemerintah setempat telah membersihkan area ini karena dianggap merusak lingkungan. Meskipun hanya menyisakan beberapa saja dan tidak sebanyak dulu, namun kesan angker tempat ini seolah enggan menjauh dan lebih memilih untuk tetap bertahan di sana.
Walaupun bandara terkenal dengan sistem keamanannya yang ketat, namun hal tersebut seolah tidak bisa dijadikan jaminan amannya perjalanan para penumpang. Kembali ke tahun 2001, dimana seorang warga negara Inggris bernama Richard Reid mencoba meledakkan sebuah pesawat yang terbang dari Paris ke Miami dengan menggunakan bahan peledak yang ia sembunyikan di dalam sepatunya. Hebatnya, Richard sukses menyusupkan bahan peledak tersebut melewati pemeriksaan keamanan di bandara.
Baca Juga: Kombinasi Teknologi dan Pemanfaatan SDM Jadi Kunci Turunnya Antrean di Bandara
Richard dibekuk oleh awak kabin dan penumpang maskapai American Airlines setelah beberapa dari mereka melihatnya tengah berusaha untuk menyalakan bom yang ia pasang di sepatunya. Atas ulahnya tersebut, Richard dituntut dengan tuduhan menyerang awak pesawat, dan diancam hukuman penjara setinggi-tingginya 20 tahun, ditambah denda. Guna menghindari kejadian tersebut terulang kembali, sebuah sistem pemindai sepatu dikembangkan oleh perusahaan asal Derbyshire, Inggris dan diharapkan dapat meningkatkan keamanan di dunia aviasi global.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (24/2/2018), alat pemindai revolusioner ini dikembangkan oleh Departemen Transportasi Inggris dengan dana mencapai £1,8 juta atau yang setara dengan Rp34,4 miliar. Diketahui, prototipe dari alat pemindai ini juga sudah siap untuk diuji coba dalam jangka waktu satu tahun ke depan.
Menteri Penerbangan Inggris, Baroness Sugg mengatakan bahwa kucuran dana segar ini diinvestasikan untuk pengembangan sistem keamanan inovatif yang akan memberikan dampak positif pada para penumpang perjalanan udara. “Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa aman bagi para penumpang. Selain itu, hadirnya teknologi pemindai sepatu ini juga dapat menunjang kelancaran antrean penumpang,” tutur Baroness.
“Keamanan para penumpang yang bepergian dengan menggunakan semua moda transportasi adalah prioritas utama kami dan program Future Aviation Security Solutions ini hanyalah salah satu contoh dari hal penting yang kami tinjau dan suguhkan untuk menunjang keamanan penumpang,” tandasnya.
Di sisi lain, Menteri Keamanan Ben Wallace mengungkapkan bahwa pihaknya bertekad untuk terus memanfaatkan kemajuan jaman dan teknologi untuk meningkatkan keamanan perjalanan para penumpang, khususnya yang menempuh jalur udara. “Kami bertekad untuk memanfaatkan kekuatan inovasi dan program ambisius ini akan membantu kami untuk terus menggunakan teknologi terbaik sebagai bagian dari peningkatan keamanan penerbangan kami,” ungkap Ben.
Baca Juga: Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah
Tidak hanya di Inggris, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi asal Negeri Kincir Angin Belanda pun mengembangkan hal serupa. Adalah Delta R Scanner yang dikembangkan oleh State Gate (SG) 11 dapat mendeteksi bahan peledak hingga narkoba sekalipun. Dengan dikembangkannya alat pemindai oleh perusahaan yang berbasis di dekat Schiphol, mungkin kejadian lolosnya Richard Reid hingga ke dalam maskapai tidak akan terjadi.