42 Tahun Mati Suri, Stasiun Bringin Jadi Sarang Burung Walet

Mungkin stasiun ini tak setenar Tawang, Ambarawa atau Tugu, stasiun yang berada di daerah terkucil ini seperti hilang dari peradaban. Nama yang disandangnya pun tak lagi sekokoh perawakannya. Stasiun kecil bernama Bringin ini sekarang sudah tidak aktif dan terletak di Desa Bringin, Semarang. Baca juga: Serba Antik dan Terawat, Si Kecil Stasiun Bendono Punya Segudang Cerita Jika pertama kali melihat bangunan stasiun ini Anda akan mengatakan lebih cocok sebagai latar film horor. Sebab sejak tak lagi berfungsinya stasiun bringin bangunan berubah menjadi sarang walet. Tapi entah siapa yang mengubah bangunan stasiun dan rumah dinas kepala stasiun menjadi sarang walet.
Bangunan stasiun Bringin dan rumah dinas kepala stasiun yang berubang menjadi sarang walet (Jejak Kolonial)
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa kayu kusen daun pintu dan jendela stasiun ini pun raib entah kemana. Bagian jendela, pintu dan loket ditutup dengan tembok baru seolah menghilangkan keaslian dari stasiun. Padahal bangunan asli stasiun Bringin terbuat dari kayu jati dan papan nama stasiun Bringin sendiri juga sudah hilang entah kemana. Terlepas dari itu semua, pada masa jayanya stasiun yang berada dekat dengan pasar Bringin merupakan stasiun yang ramai. Selain itu fungsi dibangunnya stasiun ini juga untuk memperlancar usaha perkebunan pada masa pemerintahan kolonial Belanda masa itu yakni kopi, teh, tembakau dan lainnya. Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur Kedungjati-Ambarawa dan mulai beroperasi sejak 21 Mei 1873 dibawah operasional Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM). Dulu, stasiun ini juga ikut mengembangkan wilayah Bringin dan sekitarnya meski berada di wilayah terpencil karena lokasi yang cukup jauh dari jalan utama antarkota. Stasiun Bringin sendiri memiliki arsitektur bangunan yang agak mirip dengan stasiun Tuntang yang juga berada di jalur Kedungjati-Ambarawa. Hanya ada beberapa perbedaan pada detai bangunan dimana atap stasiun Tuntang berbentuk pelana sedangkan Bringin berbentuk perisai. Awal abad ke 20, stasiun ini di pugar oleh NIS yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan penumpang. Kini, meski kondisi bangunan rusak bentuk stasiun Bringin masih sedikit terlihat bentuknya dengan dua beranda, salah satunya bagian depan untuk membeli tiket dan belakang untuk peron dan ruang tunggu penumpang.
Alkmaar atau alat pengatur sinyal (WordPress)
Tiang kayu untuk menyanggah atap peron masih terlihat antik, lantai tegel khas stasiun kolonial Belanda masih membekas dan sebuah alat pengatur sinyal Alkamaar masih ada meski berkarat. Sayang sejak robohnya jembatan kereta api yang menghubungkan Kedungjati-Ambarawa, stasiun dan jalur ini kemudian ditutup tahun 1976. Baca juga: Stasiun Gondanglegi, Dari Jalur Trem Hingga Rumah Kapling Saat ini 42 tahun sudah stasiun Bringin mati suri, dan hampir sama dengan stasiun yang berada di jalur Kedungjati-Ambarawa menanti rencana pengoperasian kembali. Namun entah kapan realisasi perjalanan kereta ini akan kembali beroperasi.

Lagi, Calon Penumpang Kedapatan Selundupkan Emas ke Dalam Botol Suplemen Makanan

Setelah pada pemberitaan sebelumnya sekelompok orang di Jepang terpaksa diamankan pihak yang berwajib karena telah melakukan usaha penyelundupan emas batangan seberat lima kilogram senilai Rp 2,8 miliar, kini giliran Uni Emirat Arab yang memergoki kasus serupa. Perbedaannya hanya  terletak pada fisik emas dan jumlah pelakunya saja. Adalah petugas Bandara Internasional Sharjah yang berhasil memergoki aksi ilegal ini. Baca Juga: Selundupkan Emas di Toilet Pesawat, Warga Jepang Berusaha Hindari Pajak Barang Mewah Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman khaleejtimes.com (30/1/2018), seorang pria diamankan petugas bandara yang berkode SHJ tersebut karena kedapatan melakukan percobaan penyelundupan emas dalam bentuk bubuk senilai Dh100,000 atau yang setara dengan Rp372 juta ke dalam botol suplemen makanan. Direktur Kepolisian Sektor Bandara Sharjah, Letnan Kolonel Mattar Al Ketbi, menyebutkan bahwa tersangka yang ditengarai berdarah Asia tersebut ditangkap oleh petugas bea cukai saat ia berusaha keluar dari Uni Emirat Arab. Lebih lanjut, Letkol Mattar Al Ketbi menambahkan bahwa pria  ini hendak kembali pulang  ke negara asalnya. Para petugas bea cukai mencurigai botol suplemen makanan yang ‘bersembunyi’ di balik pakaian sang tersangka. Untuk memastikannya, petugas lalu melakukan pemeriksaan dan menemukan bubuk emas yang berada dalam botol tersebut. Alhasil, pria ini harus rela digelandang ke pos pemeriksaan guna diinterogasi dan mengakui perbuatan ilegal tersebut. Selama proses interogasi, pria yang identitasnya dirahasiakan ini bertindak kooperatif dengan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas kepolisian. Ia mengaku membeli serbuk emas tersebut dan menunjukkan bon pembeliannya. Kepada petugas, ia berdalih melakukan aksi ini karena enggan untuk membayar pajak barang mewah di negara asalnya. Baca Juga: Waspada! Sindikat Maling Koper Merajalela di Bandara Hong Kong Guna memberi efek jera kepada tersangka dan pelajaran bagi orang lain yang berusaha untuk melakukan hal serupa di masa yang akan datang, pria berdarah Asia ini harus mendekam di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Tidak lupa, kepolisian sektor bandara pun meperingatkan kepada semua lapisan masyarakat untuk tidak melakukan tindakan yang menentang hukum.

Di Bandara Schiphol, Calon Penumpang Bisa Pesan Makanan Online Yang Diantar via Kurir

Penumpang yang terbang dari bandara Schiphol sekarang bisa lebih mudah untuk mendapatakan makanan saat menunggu di bandara. Hal ini bisa dilakukan penumpang tanpa harus ke restoran atau kedai makanan yang ada di terminal bandara yakni hanya dengan melalui smartphone mereka. Baca juga: Tak Perlu Periksa Keamanan Lagi, Penumpang dari Singapura Bisa Melenggang Saat Transit di Bandara Schipol Amsterdam KabarPenumpang.com melansir dari laman hospitalityandcateringnews.com (21/2/2018), bahwa baru-baru ini Bandara Internasional Schiphol bersama perusahaan pengirimanan makanan Deliveroo meluncur sebuah pengalaman baru memesan makanan. Dimana nantinya penumpang yang terbang dari concoures E bisa dengan mudah memesan makanan dan minuman melalui telepon genggam mereka. Dengan adanya cara mudah penumpang memesan makanan, menjadikan Schiphol bandara pertama di Eropa yang melayani delivery food di gerbang untuk penumpang perseorangan. CEO HMSHost International, Walter Seib mengatakan, pihaknya menciptakan tempat dan lingkungan dimana para tamu menjadi pusat perhatian. Selain itu penumpang juga bisa mendapat pengalaman, keramahan dan rasa nyaman.
Kurir pesan antar makanan Deliveroo di bandara Schiphol (www.hospitalityandcateringnews.com)
“Perkembangan teknologi yang inovatif membantu kami menjangkau semua tamu kami di lingkungan yang sibuk seperti bandara dan ini membuat proses perjalanan menjadi lebih mudah dan efisien,” ujar Seib. Dia mengatakan, dengan Food Delivery at the Gate yang dimiliki perusahaannya, juga bekerjasama dengan mitra bisnis di Schiphol dan sebuah cakupan di European Airports. Menurutnya, dengan cara ini, pihaknya mencoba menjangkau lebih banyak lagi pelancong yang ingin menikmati makanan mereka tanpa terburu-buru sebelum naik pesawat. “Kami juga memperhatikan dengan seksama kebutuhan para tamu kami. Makanya kami menciptakan Places To Be,” jelas Seib. Diketahui, pelancong bisa memesan berbagai makanan melalui aplikasi Deliveroo atau situs web setiap hari dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 20.30 waktu setempat. Makanannya disiapkan di Kebaya dan di The Market, The Grill and The Oven yang terletak di Pasar Makanan Street Schiphol, yang dikirim oleh HMSHost International. “Schiphol selalu mencari cara terbaik untuk melayani penumpangnya. Penumpang menghabiskan waktu yang relatif lama di pintu gerbang mereka. Inisiatif ini memungkinkan kami untuk memperluas layanan yang kami berikan kepada penumpang kami. Selain itu, ada sisi praktis dari inisiatif ini,” kata Tanja Dik, Direktur Consumer Products & Services. Selama bertahun-tahun Schiphol telah menyambut lebih banyak penumpang. Tahun lalu lebih dari 68 juta orang dari ratusan negara datang melalui bandara. Faktanya adalah ruang untuk gerai ritel dan F & B di terminal dan dermaga terbatas. Baca juga: Empat Bandara di Belanda Bersiap Manfaatkan Energi Angin “Itulah sebabnya kami mengemukakan konsep inovatif seperti ini dan terus memperhatikan tren perkembangan teknologi dan digital. Jika kita melihat peluang, kita kemudian akan menerapkannya dengan harapan bisa meningkatkan pengalaman penumpang lebih jauh lagi. Kami sangat ingin mendengar umpan balik penumpang kami,” ujar Tanjak.

Terdesak Isu Rasisme, Wanita Ini ‘Terpaksa’ Tarik Tombol Darurat di Kereta Bawah Tanah

Nampaknya aturan mengenai tempat duduk prioritas di moda transportasi umum, seperti kereta, berlaku di setiap negara, tidak terkecuali Inggris. Aturan ini menyebutkan bahwa kita harus memprioritaskan wanita hamil, manula, penyandang disabilitas, dan ibu yang tengah menggendong anak untuk duduk, walaupun bangku tersebut sudah terisi. Namun apa jadinya jika ada seseorang yang berusaha untuk menegakkan peraturan di atas, malah mendapatkan umpatan yang menjurus rasisme? Baca Juga: Pembunuh Rasis Beraksi Lagi di Kereta Komuter Portland Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (21/2/2018), seorang wanita yang tengah berada dalam layanan kereta bawah tanah London, Tube, terpaksa menarik tombol darurat ketika ia tengah berdebat dengan seorang pria. Perdebatan tersebut ditengarai karena sang pria melontarkan kata-kata kasar kepada wanita ini. Padahal, wanita bertopi ini sebelumnya meminta dengan halus agar si pria berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada seorang ibu yang tengah hamil. “Permisi, bolehkah Anda memberikan tempat duduk kepadanya (Ibu hamil),” tutur sang wanita sembari menepuk bahu si pria. Namun jawaban yang diterima oleh wanita ini sangatlah tidak layak. “Jangan sentuh saya,” jawabnya sembari menyisipkan kata-kata kasar. Alih-alih memberikan tempat duduknya, pria  ini malah melontarkan  kata-kata yang tidak sepantasnya kepada wanita berkulit agak gelap tersebut. “Dia menyebut saya monyet dan saya ingin memenjarakannya karena tidak berlaku sopan,” ungkap wanita yang identitasnya enggan dibongkar ini. Naik pitam, perdebatan di antara keduanya pun tak terelakkan.
Sembari menarik tombol darurat yang ada di gerbong tersebut, wanita ini terus menimpali setiap umpatan kasar yang dilontarkan si pria. “Saya ingin mereka (petugas) datang, menangkap Anda, dan mendeportasikan Anda!” ucap si wanita dalam rekaman yang berhasil diabadikan oleh salah seorang penumpang lain di dalam gerbong yang sama. Cekcok yang terjadi di antara keduanya berlangsung sengit dan menyita perhatian para penumpang lain. “Sayalah korbannya, bukan dia,” teriak si wanita dalam video yang berdurasi  kurang dari satu menit itu. Tidak tinggal diam, beberapa penumpang lain yang tidak terlibat dalam cekcok ini berusaha untuk mencegah si wanita ini untuk menekan tombol darurat, namun hasilnya sia-sia. Baca Juga: Bising, Masyarakat London Keluhkan Layanan Night Tube Dengan membawa beberapa buah kantong belanjaan, wanita ini terus berusaha untuk menghalau penumpang lain yang mencoba untuk mencegahnya menekan tombol darurat. Hingga saat ini, belum ada kejelasan tentang kelanjutan dari cekcok yang terjadi di Jubilee Line, jalur kereta bawah tanah yang menghubungkan Stratford di London timur dan Stanmore di pinggiran barat laut Inggris ini.

Dianggap Belum Layak, Peluncuran Kereta Cepat Yerusalem – Tel Aviv Bakal Tertunda

Masih ingatkah Anda tentang rencana pembukaan layanan  kereta cepat yang menghubungkan Tel Aviv dan Yerusalem? Ya, pada pemberitaan sebelumnya telah dijelaskan bahwa negara yang ‘gemar’ membuat konflik di Timur Tengah, Israel, memang tengah mempersiapkan beberapa sentuhan akhir demi menepati janjinya kepada masyarakat, yaitu membuka layanan kereta cepat ini pada Maret 2018. Baca Juga: Israel Bangun Jalur Keret Cepat Yerusalem – Tel Aviv, Mengular Mulai Maret 2018! Di awal kemunculannya, rencana pengadaan kereta cepat di kota yang disakralkan oleh Umat Muslim dan Nasrani ini sempat membuat suasana memanas, lantaran banyak yang mempertanyakan efektifitas dari layanan ini. Pasalnya, jarak yang terbentang antara Tel Aviv dan Yerusalem sendiri hanyalah 66 km. Pemberitaan terbaru yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman jpost.com (19/2/2018) menyebutkan bahwa Menteri Transportasi Israel, Yisrael Katz menganggap proses peluncuran layanan kereta cepat ini nampaknya akan mengalami keterlambatan. Hal ini merujuk pada proses pembangunan yang dinilai masih jauh dari kata rampung. Hal ini didukung oleh laporan audit terakhir dan penilaian lisan dari harian setempat, Globes yang menyebutkan bahwa jalur kereta ini belum dapat digunakan, paling tidak hingga awal Agustus 2018. Investigasi yang dilakukan oleh Globes menemukan bahwa banyak dari pekerjaan jalur ini yang masih tidak lengkap. Sebut saja pemasangan rel yang masih berlangsung, sistem komunikasi di terowongan yang baru beroperasi sebagian, hingga pemasangan elektrifikasi yang belum rampung menjadi penilaian Globes yang akhirnya menelurkan hipotesa bahwa jalur kereta cepat ini masih belum dapat dioperasikan. Senada namun tak sama, Badan Pengawas Keuangan Negara telah memperingatkan sebelumnya bahwa terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan proyek transportasi di depannya akan berdampak pada keselamatan penumpang. “Tidak ada kemungkinan bahwa proyek akan selesai tepat waktu tanpa melanggar peraturan keselamatan,” tutur salah seorang insinyur kelistrikan yang turut meneliti proyek ini bersama Globes. “Bahkan jika mereka menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, mereka harus menguji semua sistem selama beberapa bulan dan memastikan semua unsur keselamatan berjalan dengan baik,” imbuhnya. Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia Kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan Tel Aviv-Yerusalem, dianggap sebagai proyek terbesar Kementerian Transportasi, dimana megaproyek ini menelan dana sekitar US$1,8 miliar atau yang setara dengan Rp24 triliun di urs sekarang. Adapun kereta bertenaga listrik ini mampu melaju hingga kecepatan 160 km per jam dan dicanangkan dapat mengangkut hingga 1.000 penumpang dalam sekali perjalanan.

Bocah Berteriak Selama 8 Jam di Pesawat, Mimpi Buruk Dalam Penerbangan Lufthansa

Biasanya ketika bepergian dengan pesawat terbang yang diharapkan penumpang adalah sebuah ketenangan. Apalagi jika perjalanan yang ditempuh lebih dari delapan jam. Penumpang akan berharap tak ada suara tangisan, berisik atau gangguan lainnya yang mengusik dalam perjalanan. Baca juga: Phobia Pada Bayi, Penumpang Delta Airlines Mengamuk di Kabin Tapi apa kabarnya jika selama delapan jam perjalanan Anda harus mendengarkan teriakan dan tangisan seorang di dalam pesawat? KabarPenumpang.com melansir dari laman mirror.co.uk (14/2/2018), dimana seorang anak laki-laki berteriak, memanjat kursi dan berlari di lorong sempit dalam penerbangan dari Jerman menuju Newark, New Jersey dengan maskapai Lufthansa. Sebenarnya penerbangan ini sendiri terjadi pada Agustus 2017 lalu, namun videonya baru viral dan kemudian mengundang berbagai komentar dari warganet. Dalam video terlihat seorang bocah laki-laki berambut pirang yang tiba-tiba menunjukkan tingkah menjengkelkan tak lama setelah pesawat lepas landas. Kemudian bocah tersebut berteriak-teriak sambil memukul dan ini berlangsung selama delapan jam penerangan. “Ini adalah mimpi buruk. Mendengar teriakan bocah selama delapan jam,” ujar seorang penumpang yang suaranya terekam video itu. Diketahui, saat itu ibu bocah tersebut juga meminta anaknya untuk duduk tetapi tidak digubris. Ibu anak tersebut mencoba untuk melakukan tindakan lain agar anaknya tetap tenang dengan mengatakan, “Kita cari WiFi agar bisa main iPad.” Ini dilakukan sampai si ibu bocah itu memanggil pramugari tetap tetap tidak berhasil. Viralnya video ini membuat warganet berkomentar yang baik dan buruk. “Saya rasa anak ini akan menjadi presiden suatu hari nanti. Ia melakukan apapun sesuka hatinya,” komentar seorang warganet. Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini Lainnya ada yang berkomentar hal ini cukup wajar dan bisa jadi anak laki-laki merasa tidak nyaman sehingga melakukan hal tersebut. Ada pula yang mengatakan, harusnya pesawat kembali ke bandara asal dan menurunkan orang tua serta anaknya itu karena perlakuan tersebut tidak bisa diterima. Hingga kini, pihak maskapai Lufthansa tak memberikan komentar apapun, meski kejadian pada pesawatnya tersebut sedang ramai dibicarakan.

Jejak Sejarah Stasiun Muntilan, Kini Berubah Jadi Terminal Bus Prajitno

Muntilan adalah kota kecil yang menjadi salah satu jalur wisata dari Yogyakarta menuju Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Kota yang dikenal dengan tape ketannya ini dulu merupakan kota perdaganagn yang penting. Dimana dataran luas nan subur terbentang dari Merapi-Merbabu hingga Menoreh dan Sumbing. Baca juga: KA Taruna Express, Kenangan Kereta Khusus Pesiar Taruna Akademi Militer Magelang Muntilan sendiri merupakan kawasan pertanian yang kaya raya dengan berbagai komoditas handal baik padi, palawija, sayur hingga berbagai macam buah-buahan. Sebenarnya, komoditas endemik Muntilan sendiri adalah klembak yang merupakan campuran rokok kretek dan filter. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa, dengan kekayaan pertanian sejak masa lalu membuat pemerintahan Hindia Belanda membangun jalur kereta api untuk mengangkut komoditas ini ke luar daerah. Di masa jayanya dulu, kota ini memiliki stasiun kereta api yang cukup besar dan memiliki nama sama dengan kota tersebut yakni Muntilan.
Stasiun Muntilan jaman dulu
Kejayaan stasiun Muntilan sendiri masih bisa dirasakan hingga akhir tahun 1970-an. Stasiun Muntilan berada di Jalan Pemuda, Magelang dan merupakan bagian dari Daerah Operasional VI Yogyakarta. Dibangun tahun 1898 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api Hindia Belanda saat itu. Tahun 1945, atau masa kemerdekaan Indonesia, operasional stasiun ini kemudian di ambil alih oleh perusaah kereta api yakni Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKA). Stasiun ini cukup ramai hingga tahun 1970-an oleh penumpang dan pada tahun yang sama penumpang stasiun juga menurun drastis karena kereta api berjalan sangat pelan. Selain itu juga sering mengakibatkan kecelakaan karena rel yang berada di pinggir jalan raya. Hal ini membuat penumpang memilih transportasi lainnya seperti bus dan mobil pribadi. Pada 1976 kemudian stasiun Muntilan dan stasiun-stasiun lainnya yang berada di lintas Yogyakarta-Secang-Kedungjati dinonaktifkan karena alasan terjadinya bencana alam. Ya, akibat banjir lahar dingin dari Gunung Merapi mengantam Jembatan Krasak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta pada Desember 1976, maka berakhirlah jalur kereta dan stasiun Muntilan. Termasuk layakan kereta yang ikut tenggelam adalah KA Taruna Express. Rel kereta, persinyalan, wesel serta lainya kemudian di pindahkan dari stasiun-stasiun itu dan sisanya masih ada beberapa yang terlihat. Kemudian Perusahaan Djawatan Kereta Api menutup stasiun Muntilan dan menjadikannya terminal bus yang bernama drs Prajitno Muntilan. Baca juga:  Pembangunan (Kembali) Jalur KA Yogyakarta – Magelang, Hidupkan Nostalgia Era 70-an Beberapa waktu lalu, pemerintah sempat berwacana jika stasiun-stasiun di jalur Yogyakarta – Magelang akan kembali diaktifkan tetapi hingga kini tak terealisasi. Pemerintah berpendapat sangat sulit untuk membangun kembali jalur KA tersebut, terlebih jika mengacu ke jalur utama. Secara teknis memang tidak ada masalah, namun ketika menggunakan jalur lama, masalah sosial dan masalah hukumnya bakal jauh lebih besar, mengingat jalur lama sudah padat penduduk dan sudah digunakan untuk fungsi lain. Ada hal unik lainnya yang bisa ditemukan ketika memasuki kawasan bekas stasiun yang kini jadi terminal, yakni alamat kios-kios yang masih menggunakan nama PJKA Muntilan.

Dukung Promosi Kendaraan Elektrik, India Hadirkan Stasiun Pengisian Daya di Dua Stasiun Kereta

Penyebaran Electric Vehicle (EV) alias kendaraan elektrik kian hari terus menjamur, dan pelan tapi pasti mulai menggeser popularitas pasar kendaraan konvensional. Bukan hanya perusahaan dan kuantitas modanya saja yang makin menjamur, melainkan infrastruktur pendukung kendaraan masa depan ini pun mulai menunjukkan eksistensinya di sekitar kita. Sebut saja stasiun pengisian daya yang mulai ditempatkan di beberapa fasilitas publik, seperti stasiun kereta api guna menjalin sebuah sinergitas antar moda. Baca Juga: Tahun 2025, India Jamin 25 Persen Sumber Tenaga Kereta Berasal dari Energi Terbarukan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gadgetsnow.com (20/2/2018), perkeretaapian India merencanakan untuk menyediakan ruang untuk stasiun pengisian daya EV di tempat parkir stasiun kereta. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh promosi terhadap penggunaan energi hijau di masa yang akan datang. Rencananya, tempat parkir yang ada di stasiun New Delhi dan Nizamuddin akan menjadi tempat yang nantinya dipasang stasiun pengisian daya EV ini. “Kami sedang menyiapkan segala sesuatunya agar pemasangan dan pengoperasiannya kelak bisa berjalan dengan lancar,” ujar salah satu pejabat Kementerian Perkeretaapian senior. Tidak hanya satu, melainkan akan ada lima titik pengisian daya EV yang memiliki kemampuan untuk mengisi daya dengan cepat. Tidak hanya itu, stasiun pengisian daya ini juga mampu melakukan pengisian ulang terhadap 10 mobil sekaligus. Jika stasiun pengisian daya biasa membutuhkan waktu enam jam hingga kendaraan terisi penuh, maka Anda hanya membutuhkan waktu 40 menit hingga satu jam saja agar kendaraan Anda terisi penuh dayanya. Menurut pejabat Kementerian Perkeretaapian, titik pengisian di kedua stasiun tersebut akan disiapkan oleh BSES – Rajdhani Power Ltd (BRPL). “Infrastruktur pengisian yang efektif diperlukan untuk menciptakan ekosistem agar EV beroperasi dengan lancar. Sementara itu jika fasilitas pengisian daya tidak memenuhi kuantitas yang diperlukan, niscaya akan menghambat pertumbuhan kendaraan bermotor di kota,” tutur pejabat tersebut. Baca Juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya Tidak hanya mendukung promosi EV di negaranya, tapi perkeretaapian India juga ingin berperan serta secara aktif untuk meminimalisir penyebaran polusi udara di negara yang terkenal dengan produksi film Bollywoodnya ini. Menurut pejabat tersebut, perkeretaapian India juga akan melakukan revolusi terhadap armadanya secara bertahap. Mereka akan mulai mengganti lokomotif diesel menjadi lokomotif listrik. Jika dilihat dari efektifitasnya, para pengguna kendaraan listrik bisa saja meninggalkan kendaraannya di stasiun pengisian daya lalu meninggalkannya ke dalam stasiun, untuk mengantarkan rekannya atau membeli tiket perjalanan. Ketika ia kembali ke kendaraannya, maka daya moda tersebut sudah kembali terisi dan bisa melanjutkan perjalanannya kembali.

Kembangkan Bus Listrik, Nissan Siap Turun Tangan Entaskan Masalah Polusi

Sebagai salah satu negara yang kerap dijadikan benchmark oleh sejumlah negara lain dalam bidang otomotifnya, Jepang seolah tiada hentinya mengembangkan kendaraan masa depan yang diyakini ramah lingkungan, ya, Electric Vehicle (EV). Salah satu perusahaan automobile asal Jepang yang bermarkas di Yokohama, Nissan tengah disibukkan dengan persiapan uji coba proyek kendaraan listrik terbarunya. Bukan kendaraan kecil, melainkan bus. Baca Juga: Nissan Leaf, Mobil Listrik Favorit Perusahaan Taksi dan Pengguna Pribadi Dilansir KabarPenumpang.com dari laman autocarpro.in (25/1/2018), salah satu varian dari Nissan Leading, Environmentally friendly, Affordable, Family car (LEAF) ini nantinya akan dipergunakan sebagai angkutan umum tanpa emisi yang akan diuji coba pada bulan  Februari ini. Tidak berdiri sendiri, Nissan menggaet sejumlah partner, salah satunya yang sekaligus memimpin proyek bus tanpa emisi ini adalah Universitas Kumamoto. Diketahui, kerja sama yang ini merupakan bagian dari keterlibatan universitas yang sedang berlangsung dengan proyek Kementerian Lingkungan Hidup Jepang yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan CO2 dan emisi lainnya dari kendaraan yang lebih besar seperti bus dan truk. Uji coba ini sendiri pun rencananya akan di helat di kota Kumamoto, Jepang Barat. Nissan pun menyebutkan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh perusahaan sejenis dalam mengembangkan kendaraan bertenaga listrik adalah tingginya biaya pengembangan dan suku cadang, termasuk baterai dan motor listrik. Namun, dengan menggunakan teknologi mutakhir yang sudah disempurnakan oleh Nissan, maka biaya pembuatan kendaraan listrik ini bisa sangat ditekan. Bus yang bernama Yoka ECO ini akan menggunakan tiga buah baterai, tiga motor listrik, dan sebuah inverter dari Nissan LEAF. Nissan juga mengembangkan gearbox khusus untuk bus dan menawarkan dukungan teknis. Nissan berharap, dengan dikembangkannya bus listrik ini dapat membantu meminimalisir pencemaran lingkungan di masa yang akan datang, dan turut meramaikan bus ramah lingkungan di dunia transportasi umum di Jepang. Baca Juga: Cina Rajai Populasi Bus Listrik di Seluruh Dunia “Kami berharap dapat memperbaiki lingkungan Jepang dengan membakukan pembuatan bus EV dengan bantuan pengetahuan dari produsen mobil seperti Nissan ini,” ungkap Toshiro Matsuda, seorang profesor di Universitas Kumamoto yang juga pemimpin proyek ini. “Tujuan kami adalah mengembangkan bus EV yang seimbang dalam hal ramah terhadap lingkungan dan memiliki biaya pengembangan rendah,” tandasnya.

Strategi Marketing, Beberapa Maskapai Ini Harumkan Kabin Dengan Aromaterapi

Walaupun tergolong sebagai salah satu sarana transportasi yang dipandang bergengsi oleh sebagian kalangan, namun tidak menutup kemungkinan kabin penumpang di pesawat dipenuhi oleh bebauan yang tidak akrab dengan hidung Anda. Mengingat ruang kabin tersebut yang bersifat kedap udara, maka tidak heran jika di kebanyakan maskapai memberlakukan pelarangan membawa benda-benda berbau tajam. Baca Juga: Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina Berbeda dengan moda transportasi lain seperti kereta api dan bus yang notabene tidak kedap udara, peraturan yang terkait dengan bebauan di dunia penerbangan ini bisa dibilang sangat ketat. Terlebih dengan kejadian pendaratan darurat yang dilakukan oleh maskapai Transavia Airlines pada awal bulan Februari kemarin. Pendaratan ini dilatarbelakangi oleh penumpang yang buang angin dan mengganggu kenyamanan penumpang lain yang berada di dalam penerbangan tersebut. Nah, bicara seputar indera penciuman, ada beberapa maskapai global yang memanfaatkan wewangian aromaterapi, demi untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpangnya. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thenewdaily.com.au (8/9/2017), Delta Airlines memperkenalkan sebuah sabun aromaterapi yang diberi nama “Calm”, dimana wangi yang dihasilkan dari sabun ini merupakan kombinasi dari aroma lavender dan chamomile. Dijamin, Anda akan merasakan sensasi relaksasi ketika menghirup wangi yang dihasilkan. Berbeda dengan maskapai kontoversional asal Negeri Paman Sam, United Airlines. Flag Carrier Amerika ini menggunakan wewangian yang mengkombinasikan aroma kulit jeruk, bergamot, teh hitam, cendana, dan beberapa bahan lain yang akan memenuhi kabin penumpang dengan aroma yang menenangkan jiwa. Lain halnya dengan Turkish Airlines yang menggunakan wewangian bernama TK 1933. Wangi yang dihasilkan dari Flag Carrier Turki ini dipercaya akan memancarkan nuansa tenang, damai, dan kesenangan ketika menghirupnya. Seorang dosen senior dan peneliti dari Deakin Business School, Dr. Paul Harrison menyebutkan bahwa penggunaan wewangian ini merupakan salah satu strategi marketing yang dilakukan oleh pihak maskapai untuk meraup penumpang lebih banyak. “Semuanya merupakan langkah strategis yang dilakukan oleh direktur pemasaran,” tutur Dr. Paul. Baca Juga: KunKun – Alat Pendeteksi Bau Badan, Seperti Apa Cara Kerjanya? Untuk membuktikan hipotesa tersebut, Dr. Paul mengadakan sebuah studi dan hasilnya menunjukkan hipotesa Dr. Paul tentang strategi marketing tersebut terbukti. “Kami melakukan beberapa percobaan, dan kami menemukan bahwa hal itu mengubah perilaku dan sikap konsumen,” paparnya. “Hubungan yang kuat antara apa yang mereka (penumpang) rasakan dan perspektif emosional mereka.” Tutupnya.