Sering Naik Kereta? Kini Saatnya Anda Mengenal Jenis dan Karakter Peron di Stasiun

“Apapun keretanya, turunnya ya di peron,” kalimat diatas menggambarkan betapa kuat arti peron dalam sistem perkeretaapian, khususnya yang ada di stasiun. Jika merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peron memiliki arti tempat penumpang menunggu atau tempat turun naik kereta. Nah, jika Anda sedang berada di sebuah stasiun untuk menunggu kereta, coba perhatikan sekeliling Anda, bentuk peron di setiap stasiun ada yang sama dan banyak pula berbeda. Antara stasiun kecil dan stasiun besar mempunyai ciri peron tersendiri. Berikut, KabarPenumpang.com jabarkan empat jenis peron versi laman railsystem.net. Baca Juga: Hindari Berebut Masuk KRL, PT KCJ Buat Garis Batas Antrean di Stasiun Island Platform
Sumber: railsystem.net
Peron jenis ini ditempatkan di antara dua jalur kereta api, pemberhentian trem, atau persimpangan transitway. Dengan kata lain, peron ini mampu melayani dua jalur sekaligus. Island Platform juga dinilai berguna jika dipasang di stasiun-stasiun besar, karena dapat memudahkan operator kereta untuk memecah layanan kereta lokal dan ekspress dengan arah perjalanan yang sama. Peron jenis ini sangat populer di dunia perkeretaapian modern karena beberapa keuntungannya, salah satunya adalah memungkinkan pemasangan fasilitas penunjang seperti eskalator, lift, toilet, dan ruang tunggu yang dapat digunakan oleh penumpang dari kedua jalur tersebut. Penggunaan peron jenis ini juga meminimalisir timpangnya kepadatan penumpang di sebuah stasiun yang mengadopsi dua peron bersebrangan. Pada umumnya, layanan kereta menuju daerah perkotaan selalu ramai di pagi hari, begitupun sebaliknya. Biaya perawatan dari peron jenis ini juga dinilai lebih ekonomis karena cukup mengeluarkan biaya perawatan satu peron untuk dua jalur sekaligus, tidak seperti peron-peron lainnya. Anda dapat melihat peron jenis ini di stasiun-stasiun besar di Ibu kota, seperti Gambir, Manggarai, dan Jatinegara. Side Platform
Sumber: railsystem.net
Ini merupakan tipe platform yang biasanya ditemui di stasiun-stasiun kecil dengan dua lintasan, seperti stasiun Gondangdia, Tebet, dan Buaran. Sepasang peron di pasang di sisi stasiun dengan rel yang membelah keduanya. Peron tipe inilah yang selalu ramai di satu sisi ketika pagi, dan sisi lainnya di malam hari. Jika dilihati dari pengaplikasiannya di Ibu Kota, untuk menyebrang ke sisi lain peron, Anda harus melewati sebuah jembatan atau underpass, karena sangat berbahaya jika penumpang melintas dua jalur sekaligus. Split Platform
Sumber: railsystem.net
Peron jenis ini lebih dikenal dengan peron bertingkat, dimana antara satu peron dengan peron lainnya berada di satu garis vertikal sejajar. Biasanya, konfigurasi split platform digunakan di stasiun yang tidak terlalu luas secara horizontal, maka dari itu para otoritas lebih memilih untuk membangunnya secara vertikal, baik ke atas maupun ke bawah. Hanya ada satu stasiun di Indonesia yang menggunakan peron bertingkat, yaitu Stasiun Kampung Bandan, Jakarta.
Stasiun Kampung Bandan. Sumber: youtube.com
Baca Juga: Terowongan Stasiun Manggarai, Optimalkan Keselamatan Calon Penumpang Flow-Through Platform
Sumber: railsystem.net
Penggunaan peron ini memungkinkan penumpang yang hendak naik kereta menggunakan peron khusus dan penumpang yang hendak turun kereta menggunakan peron di sisi lain. Bisa dibilang, ini merupakan gabungan dari island platform dan side platform, dimana penumpang naik dari island platform dan turun menggunakan side platform. Keuntungan dari penggunaan peron ini adalah meminimalisir senggolan yang mungkin terjadi antara penumpang yang hendak naik dan turun kereta. Walaupun peron jenis ini jarang digunakan karena pertimbangan biaya operasional yang tinggi, namun peron ini terbukti dapat mengurai kepadatan yang terjadi di stasiun.

Misterius, MacBook Tiba-Tiba Terbakar dan Meledak Di Dalam Mobil

Sebuah MacBook dilaportkan terbakar dan meledak di kursi penumpang mobil saat pemiliknya dalam perjalanan menuju tempat kerja. Kejadian terbakarnya laptop tersebut membuat pengemudi menghentikan mobil dan keluar untuk menyelamatkan diri. Baca juga: Bawa Komputer Full Set, Wanita Ini Mendadak Viral Dilansir KabarPenumpang.com dari cornwalllive.com (21/9/2017), mobil tersebut dikendarai oleh Thomas Riches pada Rabu (20/9/2017) saat dirinya berangkat kerja dan mengemudi dari rumahnya di Paignton menuju Newton Abbot, Inggris. Ketika itu dia membawa Apple MacBooknya kemudian meletakkan di kursi penumpang dan tiba-tiba laptop yang berada di tasnya mengeluarkan asap. “Saya sedang mengemudikan mobil untuk bekerja ketika saya terlibat insiden dalam mobil sendiri, dimana mobil saya terbakar karena laptop tiba-tiba mengeluarkan asap,” ujar Riches.
MacBook yang terbakar (www.cornwalllive.com)
Menurut Riches, dirinya sangat beruntung dan bisa membuat orang lain sadar bahwa hal tersebut bisa menimpa siapapun dan kapanpun. Untungnya saat kejadian, Riches berhasil untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi dan menepikan mobilnya agar bisa keluar untuk menyelamatkan diri sambil mencari bantuan dan menelpon pemadam kebakaran. “Saat saya menepikan mobil, ada van putih yang melihat kejadian ini, pemilik van tersebut kemudian menepikan mobilnya dan mengeluarkan pemadam api. Beberapa menit kemudian, pemadam kebakaran juga tiba untuk memadamkan api di mobil,” ungkap Riches. Setelah api berhasil dipadamkan, pihak pemadam kebakaran menjelaskan sumber api berasal dari baterai laptop dan membakar semua dokumen kertas yang berada di dalam tas. Dia mengatakan, bahwa saat kebakaran terjadi, laptop berada dalam mode tidur (sleep mode) dimana dalam mode tersebut laptop hanya bekerja dengan daya rendah dan seharusnya tidak menyebabkan kebakaran. Baca juga: Ikuti Aturannya, Laptop Aman Digunakan Dalam Penerbangan “Untungnya ini terjadi di mobil, jika terjadi di rumah dan saat itu saya beserta ketiga anak kami tertidur siapa yang bisa tahu kalau terjadi kebakaran. Sekarang saya benar-benar tidak ingin berpikir terlalu rumit untuk masalah ini,” tambahnya. Seorang juru bicara Devon and Somerset Fire and Rescue mengatakan, ini adalah api yang melibatkan sebuah laptop di kursi penumpang mobil dengan penyebab yang tidak disengaja. Atas insiden ini, MacBook milik Riches dibawa ke kantor Apple untuk diketahui penyebab pasti laptop tersebut meledak dan terbakar.

Alami Kerugian, Garuda Bekukan Kiriman Armada dari Boeing dan Airbus

Maskapai penerbangan plat merah kebanggaan nasional, PT Garuda Indonesia Tbk. tengah dalam perbincangan serius dengan pihak manufaktur pesawat, Airbus SE dan Boeing Co. Diketahui, pihak Garuda berencana untuk menunda pengiriman 20 pesawat yang mereka pesan. Bukan tanpa alasan, pihak Garuda mengatakan akan berusaha untuk lebih memanfaatkan armada yang ada dan meminimalisir pengeluaran mereka saat ini. Baca Juga: Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman reuters.com (22/9/2017), Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, seharusnya telah menerima pengiriman pesawat tersebut selama dua tahun. “Hingga periode 2019,” ungkap Chief Executive Garuda Indonesia, Pahala Mansury, tanpa membeberkan detail tanggal untuk pengiriman unit baru. Garuda melaporkan kerugian bersih perusahaan yang meluas di paruh pertama tahun 2017, sebagian dari kerugian tersebut disebabkan oleh biaya untuk berpartisipasi dalam skema amnesti pajak yang diterapkan oleh pemerintah. Setelah menghitung kerugian tersebut, perusahaan yang dikendalikan oleh pemerintah ini juga meminta persetujuan untuk mengubah persyaratan tertentu pada obligasi sukuk global senilai $500 juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2020. Jika ditarik kesimpulan, mungkin penundaan pengiriman ini merupakan dampak dari kerugian yang mereka alami. “Kami ingin fokus pada optimalisasi armada yang ada,” kata Pahala. Lebih lanjut, Pahala masih memilih untuk bungkam ketika ditanya model pesawat apa yang ditunda kedatangannya oleh pihak Garuda. Namun,  juru bicara Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan mengatakan bahwa salah satu jenis pesawat yang akan ditunda pengadaaannya adalah Airbus A320 yang akan digunakan oleh Citilink. Baca juga: Airbus A320Neo – Tawarkan Kabin Lebih Senyap, Inilah Pesawat Terbaru Citilink Seorang juru bicara dari pihak Boeing mengatakan bahwa perusahaan tersebut menjalin kerja sama dengan banyak maskapai, salah satunya adalah Garuda Indonesia. Layaknya kebanyakan pelanggan mereka, Boeing seolah sudah paham betul tentang dalih mengoptimalkan armada yang dilontarkan pihak Garuda. Sedangkan rekanan Garuda lainnya, Airbus memilih untuk menutup mulut ketika ditanya soal diskusi yang mereka lakukan dengan pihak Garuda. Menurut buku pesanan Airbus dan Boeing, Citilink memiliki 25 pesawat A320neo dan Garuda memiliki 50 pesawat Boeing 737 MAX secara berurutan.

Gunakan Ballasted dan Non Ballasted Track, Panjang Rel MRT Jakarta Mencapai 36 Ribu Meter

Bentang rel MRT (Mass Rapid Transit) dari Stasiun Lebak Bulus hingga ke Stasiun Bunderan Hotel Indonesia nantinya mencapai 16 kilometer. Dan sampai saat ini, sudah 3 persen jalur rel yang terpasang, atau kurang lebih sekitar 1.300 meter. Tapi tahukah Anda, bahwa total panjang rel yang akan ditanamkan PT MRT Jakarta dalam pembangunan fase I ini mencapai 36 ribu meter. Baca juga: Sejak 2013, Proyek MRT Jakarta Telah Menyerap Dana Rp5 Triliun Silvia Halim, direktur konstruksi PT MRT Jakarta dalam acara Forum Jurnalis dan Blogger September 2017 menyebutkan, bahwa total panjang rel 36 ribu meter dibutuhkan untuk jalur rel utama sepanjang 16 ribu meter dan kebutuhan rel di depo Lebak Bulus yang mencapai 6 ribu meter. “Keseluruhan rel masih didatangkan dari Jepang, namun untuk bantalan rel 60 persen sudah dapat dipasok oleh industri di dalam negeri,” ujar Silvia Halim kepada KabarPenumpang di Balai Kota (28/9). Lebih jauh, wanita lulusan Nanyang Technological University Singapore jurusan Teknik Sipil ini juga memaparkan tentang jenis struktur track yang digunakan pada proyek MRT Jakarta. Dalam penjelasannya disebutkan ada tiga lokasi penempatan track, yakni di depot, struktur layar dan struktur bawah tanah. Untuk gelar track di kawasan depot mengadopsi ballasted track, serupa dengan adopsi rel yang telah digunakan pada jalur track milik PT KAI. Sementara yang berbeda ada di struktur layar dan struktur bawah tanah, yaitu mengusung non ballasted track. Yang disebut terakhir ini menjadi sesuatu yang baru di Indonesia, elemen track tanpa ballast ini terdiri dari rel, fastening system, insulator, rail pads, sleeper dan resilient yang terpasang pada struktur beton, dek beton (viaduct) atau pada stuktur beton bawah tanah (non ballasted track). Teknologi ini sudah diaplikasikan di Jepang sejak tahun 1980-an. Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti
ballasted track.
Sebaliknya untuk sistem ballasted track yang sudah umum dipakai PT KAI, balas berfungsi untuk meneruskan dan menyebarkan beban bantalan ke tanah dasar, mengkokohkan kedudukan bantalan dan meloloskan air sehingga tidak terjadi genangan air di sekitar area yang dapat mengakibatkan kerusakan struktur bawah jalan. Agar ada sinergitas dengan layanan moda berbasis rel milik PT KAI, lebar rel (gauge) atau lebar poros roda yang digunakan pada jalur MRT Jakarta adalah 1.067 mm.

Tingkatkan Keselamatan Penerbangan, Lion Air Group Gandeng Ideagen Coruson

Sebagai salah satu penyedia layanan penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group diketahui tengah berusaha untuk meningkatkan manajemen keselamatan penerbangannya. Dalam usahanya tersebut, Lion Air Group menggaet Ideagen, sebuah perusahaan yang menelurkan perangkat lunak berbasis cloud, Ideagen Coruson dari Inggris. Baca Juga: Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman enterpriseinnovation.net (21/9/2017), nantinya perangkat lunak ini akan diimplementasikan sebagai solusi keselamatan, pelaporan masalah, dan manajemen risiko secara menyeluruh. Ideagen Coruson akan memberikan Lion Air Group wewenang pengawasan di enam Air Operator’s Certificate (AOC) yang berafiliasi dengannya dan memberikan data kinerja secara terperinci. Data tersebut berisikan himbauan agar perusahaan terkait segera menyoroti kelemahan dan resiko keamanan potensial, seperti yang terkait dengan kasus faktor kebugaran pilot atau insiden selama penerbangan. Coruson akan menggantikan sistem pendahulunya, membantu memperkokoh budaya keselamatan penerbangan melalui fungsi kekinian, seperti smart form, penandaan GEO, dan penggunaan aplikasi seluler untuk pelaporan terperinci. “Ideagen Coruson akan menjadi solusi keamanan yang berkualitas dan akan melayani fungsi yang dapat memperluas jangkauan area di suatu daerah, terutama pelaporan keselamatan dan manajemen resiko,” ungkap Jose Fernandez, Group Safety and Quality Director Lion Air Group. “Sistem kami saat ini tidak menawarkan cara mudah untuk mengukur kinerja keselamatan di seluruh afiliasi kami, yang mengakibatkan kesulitan saat mencoba menilai kinerja maskapai secara keseluruhan. Ideagen Coruson merupakan jawaban dari semua kekurangan tersebut,” imbuh Jose. Diketahui, Lion Air Group sendiri memiliki lebih dari 182 rute penerbangan, baik dalam maupun luar negeri. Untuk penerbangan luar negeri, perusahaan yang berbasis di Jakarta ini membuka jalur menuju Singapura, Malaysia, Australia, India, Cina, dan Arab Saudi. Baca Juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan “Coruson dapat diukur dan nilai utama yang akan kita lihat dari sistem ini adalah skalabilitas dan kemudahan penyebarannya di tiga negara dan enam AOC yang kami miliki saat ini,” kata Jose. Sehubungan dengan perkembangan penerbangan di dalam negeri yang terus berkembang dengan pesat, Jose mengatakan pihak Lion Air Group akan berusaha untuk mengimbangi laju perkembangan tesebut. “Jumlah layanan yang bisa kami tawarkan akan terus bertambah karena pasar penerbangan di Indonesi terus berkembang,” tuturnya. “Kami rasa, perangkat lunak ini akan cocok dengan rencana pertumbuhan Lion Air Group yang ambisius.” Tutup Jose. Diketahui, Ideagen saat ini memiliki lebih dari 300 klien penerbangan di seluruh dunia, termasuk Emirates, International Airlines Group, Ryanair, Thomas Cook, Flybe dan KLM. Selain Lion Air Group, maskapai AirAsia dari Malaysia diketahui juga menggunakan jasa aplikasi dari Ideagen Coruson.

Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Otoritas layanan transportasi di Cina baru-baru ini kembali meluncurkan kereta peluru yang beroperasi antara Beijing dan Shanghai pada Kamis lalu. Kecepatan kereta ini mencapai 350 kilometer per jam atau 217 mil per jamnya. Dilansir dari rt.com (21/9/2017), kereta ini disebut Fuxing atau peremajaan kembali dan menawarkan fitur baru yang melengkapi kursi kereta seperti port listrik, port USB dan jaringan WiFi gratis. Baca juga: “Drone” Jatuh di Lintasan Rel, Kereta Cepat 300 Km Per Jam Aktifkan Rem Darurat “Kereta ini sangat sangat populer sehingga tiket untuk pelayanan hari ini terjual habis seminggu yang lalu,” ujar salah seorang pejabat Cina Railway Corporation (CR), Huang Xin. Kereta ini menghubungkan Ibu Kota Cina di Utara yakni Beijing dengan pusat bisnis utama di Selatan yaitu Shanghai dengan penumpang sekitar 100 juta orang per tahunnya. Fuxing sendiri menempuh jarak 1.200 kilometer hanya dalam waktu empat setengah jam dan lebih cepat dua jam bila dibandingkan dengan kereta peluru generasi sebelumnya. “Kereta api berkecepatan tinggi Beijing – Shanghai ini dibangun dengan standar tertinggi di dunia. Kereta Fuxing dirancang untuk perjalanan pada kecepatan 350 kilometer per jam. Mengoperasikan Fuxing pada rute ini dengan kecepatan 350 km per jam tanpa adanya pertanyaan keamanan, kehandalan dan kenyamanan,” ujar General Manager CR, Lu Dongfu. Diketahui, kereta ini akhirnya kembali beroperasi setelah enam tahun lalu pengoperasiannya di batasi, karena pada Agustus 2008, saat pertama dioperasikan dengan kecepatan 350 km per jam, terjadi tabrakan dua kereta yang menewaskan 40 orang. Sehingga tahun 2011, kereta ini hanya bisa berjalan dengan kecepatan 250 – 300 km per jam. Baca juga: The Dolphin Blue dan Golden Phoenix, Kereta Peluru Terbaru Tembus 400Km Per Jam Tidak hanya dibatasi kecepatannya saja, perusahaan pembuat kereta api terbesar kedua Cina yaitu China CNR Corp Ltd menarik kembali 54 kereta api cepatnya dengan alasan keamanan penumpang. Saat ini, Cina sudah memiliki layanan kereta cepat dengan jalur khusus lebih dari 20 ribu km dan tahun 2020 mendatang ditargetkan akan menambah 10 ribu kilometer. Hingga kini, dari kabar yang beredar di media lokal, Cina telah menjual kereta berkecepatan tinggi ini ke Rusia, Iran dan India. Pihak CR sendiri mengklaim bahwa kereta Fuxing ini dapat digunakan di iklim yang ekstrem, sehingga membuat mereka lebih kompetitif di pasar global. Kabarnya CR juga akan memasok kereta cepat untuk jalur Jakarta – Bandung.

Sejak 2013, Proyek MRT Jakarta Telah Menyerap Dana Rp5 Triliun

Proyek pembangunan jalur MRT (Mass Rapid Transit) oleh PT MRT Jakarta sudah dimulai sejak tahun 2013. Dengan segala hiruk pikuknya, warga Jakarta pun sepakat bahwa inilah proyek megastruktur terbesar yang pernah dilangsungkan di DKI Jakarta. Dan secara terbuka, manajemen PT MRT Jakarta dalam Forum Jurnalis dan Blogger hari ini (26/9) menyebutkan bahwa secara keseluruhan proses pembangunan infrasktur sudah mencapai 80,1 persen. Dan akan dikejar hingga level 90 persen sampai akhir tahun ini. Baca juga: Merespon Tanggapan Masyarakat, MRT Jakarta Gandeng Qlue Indonesia Hal tersebut diungkapkan direktur utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar. Lebih detail Ia mengakatan pencapaian 80,1 persen terdiri dari dua elemen, yakni pengerjaan elevated section, di permukaan tanah dan jalan layang mencapai 70,16 persen. Dan selanjutnya pengerjaan underground section, yang terdiri dari jalur terowongan dan stasiun bawah tanah yang sudah mencapai 90,22 persen. Dengan besarnya pencapaian yang telah dilakukan, tentu menjadi pertanyaan menarik, berapa dana yang telah digelontorkan untuk menggarap mega proyek ini? Kesan ‘wah’ memang terasa, mengingat sebagian besar komponen pada proyek ini masih harus diimpor, terutama rangkaian kereta (rolling stock) dan rel yang masih harus didatangkan langsung dari Jepang. “Semenjak proyek MRT ini berjalan di tahun 2013, sampai saat ini dana yang telah terserap mencapai Rp5 triliun, dan sampai akhir tahun ini kami akan menyerap hingga mencapai Rp8 triliun,” ujar William P. Sabandar. Ia menambahkan secara keseluruhan pada pembangunan jalur di fase I dibutuhkan dana sampai Rp16 triliun. Sumber pendanaan MRT Jakarta sendiri berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pada kesempatan temu media, William dan jajarannya berkomitmen untuk mulai mengoperasikan MRT pada Maret 2019. Baca juga: Lintasi Tol JORR, Inilah “Special Bridge,” Jembatan Unik di Jalur MRT Fatmawati Di pembangunan fase II yang akan menghubungkan antara Stasiun Bunderan HI sampai Stasiun Kampung Bandan, gelontoran dana yang dibutuhkan akan lebih besar lagi, yakni mencapai total Rp25,1 triliun, mengingat jalur ini secara keseluruhan di bangun di bawah tanah, dan penggarapan terowongan kereta sebagian besar berada di bawah Sungai di Jalan Gajah Mada.

Aktivitas Magma Gunung Agung Meningkat, Angkasa Pura I Siap Antisipasi Dampak Erupsi

Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas magma Gunung Agung di Karangasem, Bali terus mengalami peningkatan, ditandai dengan aliran magma menuju ke permukaan. Menyikapi kondisi tersebut, PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai telah menyatakan kesiapannya dalam mengantisipasi dampak erupsi Gunung Agung. Baca juga: Operasional Bandara Ngurah Rai di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Gunung Agung Salah satunya yaitu manajemen Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai telah menggelar rapat koordinasi mitigasi potensi dampak erupsi Gunung Agung bersama dengan pemangku kepentingan terkait pada tingkat lokal di Bali sejak 22 September 2017 ketika status ‘awas’ diberlakukan. Rapat koordinasi ini melibatkan antara lain Kepolisian Daerah Bali, TNI AU Lanud Ngurah Rai, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Perum LPPNPI Bali, dan Otoritas Bandar Udara Wilayah IV. “Jika potensi terjadinya erupsi Gunung Agung makin tinggi dan kondisi mendesak, Bandara I Gusti Ngurah Rai akan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi dampak, seperti menyiapkan posko tanggap darurat bencana di bandara, menyiapkan fasilitas dan penunjang seperti layanan hotline contact center, help desk airlines untuk penumpang maskapai, media center untuk media massa, dan menyiapkan kendaraan bus atau roda empat untuk mengantar penumpang jika ingin mengganti rencana perjalanan via darat atau laut,” ujar Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero) Israwadi, dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com hari ini. Bentuk kesiapan lainnya, lanjut Israwadi, adalah prosedur operasional standar Airport Disaster Management Plan (AMDP) yang disosialisasikan kepada anggota Airport Emergency Committee (AEC) yang terdiri dari pemangku kepentingan terkait seperti TNI, Perum LPPNPI, Kepolisian Daerah setempat, maskapai, imigrasi, karantina, dan ground handling. “Sosialisasi ini memberitahukan mengenai tugas dan tanggung jawab agar apabila terjadi bencana, semua pihak sudah paham hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak,” imbuh Israwadi. Selanjutnya jika teridentifikasi muncul volcanic ash atau abu vulkanik, maka Bandara I Gusti Ngurah Rai akan ditutup dan penerbangan akan dialihkan (divert) ke bandara sekitar, seperti Bandara Juanda Surabaya yang dapat menampung 12 slot penerbangan, Bandara Internasional Lombok yang dapat menampung 2 penerbangan, dan Bandara Adi Soemarmo Solo yang dapat menampung 30 slot penerbangan. Baca juga: Abu Vulkanik, Musuh Besar Dalam Dunia Penerbangan Selain Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Internasional Lombok juga telah melakukan sosialiasi AMDP kepada anggota AEC Lombok pada Senin (25/9/2017) pagi, sebagai lanjutan dari kegiatan koordinasi penanggulangan bencana yang sebelumnya pada 19 September 2017. Namun kali ini dengan penambahan ditambah pengecekan fasilitas penunjang dan simulasi latihan kejadian.

Keluar Bandara Ini, Wisman Dilarang Menggunakan Kantong Plastik, Kenapa Ya?

Jika Anda berencana untuk berkunjung ke Kenya, bersiaplah untuk menghadapi salah satu peraturan unik di sana, yaitu pelarangan penggunaan kantong plastik. Tercatat, Kenya merupakan salah satu negara di Afrika yang menganut peraturan pelarangan tersebut, lainnya adalah Rwanda, Kamerun, Guinea-Bissau, Mali, Tanzania, Uganda, Ethiopia, dan Malawi. Ini merupakan bentuk tindak lanjut dari upaya pencegahan pencemaran lingkungan, karena sifat plastik sendiri yang sulit diurai. Baca Juga: Yang Tabu Saat Anda Berada di Bandara Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman the-star.co.ke (28/8/2017), Otorita Lingkungan dan Manajemen Nasional mengatakan bagi setiap wisatawan yang datang ke Kenya dan ketahuan membawa kantong plastik, maka mereka wajib meninggalkannya di bandara. Yang dimaksud adalah Jomo Kenyatta International Airport yang berlokasi kota Nairobi. Hal ini mengikuti putusan pihak Pengadilan Tinggi yang melarang penggunaan kantong plastik yang dinilai kurang efektif di negara tersebut. Pelarangan ini tidak berlaku di daerah yang berada di luar teritori negara Kenya. Keputusan tersebut membuat Kenya menjadi negara terakhir di Afrika yang memperkenalkan larangan penggunaan kantong plastik setelah Mauritania, yang diketahui memberlakukan peraturan serupa sejak tahun 2013 silam. Selain itu, ini merupakan kali ketiga pemerintah mengeluarkan peraturan yang sama, setelah sebelumnya gagal di tahun 2007 dan 2011. Meski begitu, Kenya Association of Manufacturers mengatakan larangan tersebut belum berdampak signifikan pada perputaran roda produksi. “Kami ingin mengklarifikasi bahwa, sebagai asosiasi produsen, kami tidak pernah menentang maksud dari larangan tersebut, yaitu untuk membersihkan negara kita, untuk meningkatkan kualitas hidup semua warga negaranya,” ungkap CEO eksekutif pabrik, Phyllis Wakiaga dalam menanggapi hasil putusan pengadilan tersebut. “Kami hanya berbeda dengan cara pelaksanaannya saja, yang tidak memperhitungkan hasil konsultasi dengan pemangku kepentingan secara memadai,” imbuhnya. Ironi mulai muncul manakala isu tentang pergantian kantong plastik dengan tas ramah lingkungan. Banyak yang beranggapan bahwa tas ramah lingkungan tersebut akan menjadi tidak higienis ketika digunakan berulang kali untuk membuang sampah, hal tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan masalah sosial baru di Kenya. Untuk memastikan kelancaran transisi dari kantong plastik, pihak pabrikan yang tergabung dalam sebuah asosiasi tersebut meminta pemerintah untuk melibatkan mereka dalam mengembangkan langkah-langkah yang bisa menjadi alternatif. Sebagai alternatif pelarangan, asosiasi tersebut telah mengembangkan dan mempresentasikan solusi pengelolaan limbah kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam. Baca Juga: 85% Kecelakaan Lalu Lintas di Kenya Karena Human Error Proposal tersebut mencakup strategi bagaimana mengelola limbah di negara tersebut dan juga proses menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Kenya. “Kami meminta Kementerian Lingkungan untuk meninjau proposal ini karena potensinya akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutur Phyllis. Diketahui, saat ini terdapat lebih dari 176 perusahaan manufaktur plastik di dalam negeri, yang secara langsung mempekerjakan 2,89 persen dari seluruh warga Kenya atau lebih dari 60.000 orang. Jika pelarangan penggunaan plastik ini diterapkan, maka secara otomatis roda produksi akan terhenti dan karyawan di manufaktur tersebut akan kehilangan pekerjaannya. Tidak hanya karyawan, pendapatan negara juga otomatis akan berkurang karena penutupan manufaktur kantong plastik.

Citilink Raup Penjualan Rp3,99 Miliar di GATF Fase II

Dalam ajang Garuda Indonesia Airlines Travel Fair (GATF) fase dua yang digelar 22-24 September 2017 kemarin, dikabarkan bahwa anak perusahaan Garuda Indonesia, yakni Citilink berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp3,99 miliar. Jumlah ini lebih besar dari fase pertama tanggal 10-12 Maret 2017 lalu, yang mencatatkan penjualannya sebesar Rp3,27 miliar. Baca juga: Garuda Indonesia Travel Fair Fase II, Roadshow ke 22 Kota Sebagai maskapai low cost carrier (LCC), Vice President Corporate Communication Citilink Indonesia Benny S Butarbutar mengatakan, pencapain ini meningkat 22 persen dari fase pertama. “Nilai transaksi penjualan periode kedua ini mengalami peningkatan 22 persen dari GATF periode pertama, yang menunjukan peningkatan minat masyarakat untuk bepergian menggunakan Citilink Indonesia sebagai pilihan transportasi udara,” ujar Benny S Butarbutar yang dikutip KabarPenumpang.com dari tribunnews.com (25/9/2017). Dari dua fase GATF 2017 yang diselenggarakan jumlah total penjualan tiket Citilink sebesar Rp7,26 miliar. Tujuan penerbangan yang laris pada fase kedua ini adalah Denpasar, Medan dan Yogyakarta. Sedangkan pada fase pertama pengunjung banyak membeli tiket Citilink tujuan Denpasar, Lombok, Yogyakarta, Medan dan Malang. Pada GATF fase kedua ini Citilink menawarkan promo seperti diskon 15 persen dan juga menawarkan keanggotaan Supergreen Garuda Miles yang terintegrasi dengan Garuda Indonesia serta promo lainnya seperti paket perjalanan dan jaringan hotel di Indonesia. Melalui pencapaian Citilink ini, target untuk megangkut 14,7 juta penumpang sepanjang tahun 2017 pastinya bisa tercapai. Tak hanya itu juga dengan jumlah armada yang terus bertambah dan ekspansi rute ke kawasan timur Indonesia serta regional akan menjadi kekuatan Citilink untuk mencapai target tahun 2017. Baca juga: Dorong Potensi Wisata, Citilink Buka Rute Baru Medan-Yogyakarta Penambahan armada baru Citilink Indonesia yakni enam pesawat Airbus A320 dimana ada lima unit A320Neo dan satu unit A320Ceo. Dengan penambahan enam pesawat ini melengkapi jajaran Armada Citilink menjadi 50 unit. Diketahui jumlah pengguna jasa angkutan udara pada tahun 2017 diproyeksikan akan sedikit lebih baik dibanding tahun 2016, meski laju pertumbuhan ekonomi nasional 2017 diprediksi sebesar 5,1 persen atau sama dengan target akhir tahun 2016. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah penumpang angkutan udara mengalami kenaikan paling besar dibandingkan mode transportasi lainnya. Jumlah penumpang penerbangan domestik tercatat mencapai 80,4 juta Orang atau naik 16,97 persen dibanding tahun 2015.