NIS 107, Jejak Lokomotif Tertua di Indonesia Yang Terlupakan

0

Pernahkah terlintas di benak Anda tentang lokomotif tertua di Indonesia? Mungkin yang pertama kali terlintas dibayangan Anda adalah kepala kereta yang sudah karatan dan tidak dapat dioperasikan kembali. Gambaran itu semua memang benar adanya, namun inilah yang menjadi cikal bakal adanya kereta api di Indonesia. Dioperasikan oleh  Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang merupakan salah satu perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Lokomotif NIS 107 didaulat menjadi salah satu lokomotif  tertua yang terdapat di Indonesia.

Lokomotif produksi Hanomag, Jerman pada tahun 1901 ini memiliki sumber tenaga yang berasal dari uap air hasil dari pembakaran kayu bakar maupun batu bara. NIS 107 memiliki kecepatan maksimum hingga 40 km per jam dengan berat kosong kurang lebih 16,5 ton. Pada awalnya, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij telah berhasil membangun jalur rel yang menghubungkan Semarang – Tanggung – Kedung Jati – Solo – Yogyakarta dengan total jarak 166 km dan jalur rel rute Kedung Jati – Tuntang – Ambarawa dengan total jarak 37 km, sebelum akhirnya membuat rute kereta menuju selatan Yogyakarta karena terdapat banyak pabrik gula di sana.

Pihak pabrik-pabrik gula yang menginginkan kemudahan dalam membawa hasil produksinya kemudian memberikan konsesi atau mengizinkan Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij untuk membuat jalur kereta di daerah selatan Yogyakarta tersebut. Pada tahun 1895, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij mulai membangun jalur kereta rute Yogyakarta-Palbapang sejauh 25 km. Dua puluh satu tahun berselang atau tepatnya pada tahun 1916, rute kereta Yogyakarta-Palbapang pun rampung dan mulai dioperasikan. Adapun jalur lain yang turut dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij pada waktu itu yaitu rute Ngabean-Pundong dengan jarak kurang lebih sejauh 27 km dan mulai dioperasikan pada tahun 1919.

Demi menunjang sarana yang telah dibangun, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij lalu mengimpor lokomotif dengan seri NIS 105, NIC 106, dan NIS 107 langsung dari produsen lokomotif kenamaan asal Jerman, Hanomag.  Dari sinilah lokomotif seri NIS 105, NIS 106, dan NIS 107 mulai menunjukkan eksistensinya di tanah air. Berperan sebagai “kurir”, lokomotif ini setiap harinya mengangkut tidak hanya hasil produksi gula dari seputaran Yogyakarta bagian selatan, namun juga mengangkut para buruh dari pabrik-pabrik gula tersebut, seperti diantaranya Pabrik Gula (PG) Kedaton Pleret, PG Barongan Jetis, PG Bambanglipuro, dan masih banyak lagi.

Selain sebagai saksi dari beberapa pabrik gula yang pernah Berjaya pada masanya, lokomotif NIS 106 juga pernah dikonversi menjadi lokomotif panser oleh pemerintahan Belanda dibawah arahan dari IR. J. C. Jonker, yang merupakan mantan kepala dipo traksi Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij pada masa itu. Konversi lokomotif panser ini dimaksudkan untuk membantu militer Belada dalam menghalau serangan dari serdadu Jepang yang kala itu menduduki Republik Indonesia. Namun sayangnya, ketika pemerintah Belanda belum sempat menyelesaikan “transformasi” si lokomotif pengangkut gula ini, serdadu Jepang telah terlebih dahulu masuk dan menduduki pantai utara Jawa pada tahun 1942.

http://loeqmansepur.blogspot.co.id/2013/11/lokomotif-nis-107.html
http://loeqmansepur.blogspot.co.id/

Salah satu dampak dari penjajahan Jepang yang masih bisa kita lihat sampai saat ini adalah ukuran rel di hampir seluruh pulau Jawa dan Sumatera dibawah naungan PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Pada jaman pemerintahan Belanda, gauge atau lebar jalur kereta api yang digunakan adalah 1435 mm (ukuran standar), namun sejak jaman penjajahan Jepang, semua lebar jalur kereta tesebut diganti ke angka 1067 mm, dan itu masih berlaku hingga saat ini. Kini, nasib salah satu lokomotif tertua di Indonesia ini bisa kita lihat di halaman depan SMK Negeri 2 Yogyakarta, dan itupun hanya bagian rangka luar (chassis) dan ketel uapnya (boiler) saja.

Selain di SMK Negeri 2 Yogyakarta, ada tempat lain dimana kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan lokomotif NIS ini, yaitu di Balai Yasa Manggarai. Namun, di sini yang tersisa hanyalah bagian bogie saja, atau salah satu bagian dari kereta yang terletak di bagian bawah kereta yang berfungsi untuk meningkatkan kapasitas muat, memudahkan kereta pada tikungan, dan meningkatkan kecepatan dan kenyamanan pada kereta.

Leave a Reply