NIS 171 – Konsep Lokomotif Futuristik Hindia Belanda untuk Rute Semarang-Yogyakarta

Masa kolonial Belanda identik dengan masa kejayaan kereta dengan lokomotif uap. Dan dari beragan jenis lokomotif uap yang saat ini kita kenal di berbagai Museum, sejatinya di masa lalu Pemerintah Hinda Belanda pernah mengupayakan hadirnya lokomotif uap futuristik. Disebut futuristik lantaran desainnya tak lazim pada saat itu, lokomotif uap ini mengusung desain yang aerodinamis. Benar-benar beda dengan lokomotif uap konvensional dan lokomotif ini tak sekedar tampil beda, namun dipersiapkan bakal menjadi lokomotif tercepat.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

Yang dimaksud tak lain adalah konsep lokomotif NIS 171. Disebut konsep lantaran desain lokomotif ini belum sampai ke tahap pembuatan prototipe. Mengutip dari mp-produktie.nl, disebutkan rancangan lokomotif dengan livery hijau ini sengaja dipesan oleh perusahaan kereta api Belanda di Indonesia – Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS) Maatschappij pada tahun 1939.

Mengutip dari akun Facebook Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia, dikatakan gagasan yang dimunculkan dari hadirnya lokomotif NIS 171 adalah untuk melayani kereta cepat, yaitu pada rute Semarang – Yogyakarta. Berbeda dengan bentang rel pada kereta saat api saat ini, NIS 171 dirancang mengular pada gauge 1435 mm. Meski tidak dilansir spesifikasi NIS 171, tapi dari keterangan yang ada menyebutkan level kecepatan tinggi di dapatkan lantaran bentuk yang ramping, sehingga akan lebih sedikit mengalami hambatan udara, alhasil secara keseluruhan dapat menghemat energi.

Foto: Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Baca juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Namun sayang disayang, desain lokomotif rancangan Werkspoor ini hanya mentok sampai pembuatan model saja. Meletuskan Perang Dunua Kedua menjadi alasan tak diteruskannnya proyek NIS 171. Meski begitu, model lokomotif NIS 171 masih dapat Anda lihat di Museum Kereta Api (Spoorwegmuseum) di Utrecht, Belanda. Pasca Perang Dunia Kedua NIS pun kemudian dilikuidasi dan dilebur menjadi Djawatan Kereta Api (DKA).