Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

0
Lansia dituding rentan sebarkan virus corona. Foto: Asia One

Para ahli kesehatan dunia mengatakan sejumlah besar penumpang lansia (lanjut usia) membuat moda transportasi menjadi lebih rentan terhadap penyebaran penyakit menular. Mereka pun mengambil contoh dari kasus penyebaran virus corona atau Covid-19 di Diamond Princess, yang menjadi satu-satunya lokasi terbanyak di luar negara, dengan jumlah kasus 696 dan delapan orang di antaranya tewas.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Dikutip dari kantor berita dailymail.co.uk, Kamis, (12/3), dalam kasus tersebut, para ahli telah menyoroti sejumlah alasan mengapa kapal pesiar rentan terhadap penyebaran penyakit, termasuk sebagian besar penumpang tua sekalipun berada di ruang terbatas, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti penyakit jantung atau paru-paru.

“Diketahui bahwa infeksi tertentu dapat menyebar dengan cepat di kapal pesiar. Kapal pesiar membawa penumpang dan kru dari seluruh dunia, seringkali penumpang relatif tua, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam rumah bercampur dengan orang lain, dan kemudian mereka pergi untuk pulang atau melanjutkan liburan,” kata Paul Hunter, seorang profesor medis di University of East Anglia, Inggris.

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa sistem pendingin udara dapat menyebarkan virus dengan berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, seperti SARS. Dr Bharat Pankhania, seorang dosen klinis senior di Universitas Exeter, mengatakan bahwa lubang ventilasi hotel, saat itu, telah berkontribusi besar terhadap wabah SARS pada tahun 2002-03 silam. Jika Covid-19 bisa menyebar dengan cara yang sama, maka mengkarantina penumpang di Princess Diamond selama dua minggu adalah sebuah kesalahan.

“Sangat menarik bahwa ada begitu banyak kasus di atas kapal, dan yang jauh lebih mengkhawatirkan bahwa kasus-kasus ini muncul setelah pengisolasian di kapal,” katanya.

“Jika ini juga merupakan kasus di kapal, itu menunjukkan bahwa kapal itu bukan tempat yang cocok untuk menampung sejumlah besar kasus dengan sistem pendingin udara terpusat,” tambahnya.

Meningkatnya kasus virus corona setelah proses karantina berlangsung memang sangat dimungkinkan, mengingat, para pasien yang diduga terinfeksi tetap berada di sana, sekalipun dirawat dengan serius.

Pasalnya, sistem pendingin udara atau sirkulasi udara di sana tak seperti di rumah sakit bahkan di pesawat yang telah dilengkapi dengan teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) yang dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Dengan begitu, udara yang mengandung virus corona atau bakteri jahat lainnya bisa saja terhirup oleh orang yang sehat dan pada akhirnya ikut terinfeksi.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Udara kotor di sini bisa diartikan semacam bakteri, bau tak sedap, hingga virus. Tak terkecuali virus corona yang saat ini tengah menjadi sorotan dunia karena telah memakan begitu banyak korban jiwa dan telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO.

Dengan kondisi kapal pesiar yang penuh sesak, tidak adanya teknologi sejenis HEPA, tingginya interaksi antar penumpang, dan lemahnya sistem penanggulangan penyebaran virus yang tak se-ketat di moda transportasi atau bahkan di tempat lainnya, semisal bandara, membuat Covid-19 menyebar dengan ganas.

Leave a Reply