Pertama Kalinya, Korean Air Minta Pramugari Cuti Tanpa Dibayar Hingga Setahun Mendatang

0
Pesawat Korea Airlines (skift.com)

Flag carrier Korea Selatan, Korean Air telah memberlakukan kebijakan cuti tanpa dibayar untuk para pramugari mulai 1 Juli mendatang. Cuti tanpa dibayar itu akan berlaku dengan durasi hingga enam sampai satu tahun ke depan.

Baca juga: Regulasi Sudah Disahkan Sejak 2008, Ternyata Masih Banyak Penumpang Korean Air yang Nekat Merokok di Ketinggian 36.000 Kaki!

Keputusan itu juga diteken perusahaan berbarengan dengan proposal kebijakan perpanjangan cuti tanpa dibayar hingga 17 Juni mendatang bagi para pramugari yang telah bekerja setidaknya selama dua tahun.

Dilansir pulsenews.co.kr, langkah maskapai terbesar di Korea Selatan ini merupakan pertama kalinya sepanjang sejarah perusahaan berdiri. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi virus corona yang telah membuat industri penerbangan di dunia anjlok.

Bayangkan saja, dari 110 rute internasional, maskapai yang bermarkas di Seoul ini hanya menerbangakan sebanyak 25 rute saja atau sekitar 20 persen dengan frekuensi penerbangan sebanyak 115 dalam seminggu. Itu baru dari segi frekuensi terbang. Dari segi penumpang dan pergerakan pesawat, Korean Air mengalami penerunan penumpang internasional sampai 96 persen dan 324 pesawat dari 374 tetap mangkrak di bandara.

Sejak April lalu, seluruh karyawan Korean Air telah dirumahkan dengan tetap mendapat bayaran. Belakangan, angka tersebut menurun menjadi hanya 70 persen atau sekitar 20 ribu karyawan untuk tetap cuti tanpa dibayar; termasuk pilot asing.

Korean Air telah mengkonfirmasi bahwa semua eksekutifnya akan melepaskan sebagian dari gaji mereka sebagai tanggapan terhadap ekosistem bisnis yang memburuk karena wabah Covid-19. Gaji wakil presiden eksekutif dan di atasnya akan dikurangi 50 persen, wakil presiden senior sebesar 40 persen, dan wakil presiden 30 persen. Hal ini telah mulai berlaku sejak April 2020.

Beruntung, dengan posisi Korea Selatan sebagai salah satu pemasok perlengkapan medis di dunia (dalam menghadapi wabah virus corona), Korean Air jadi kebanjiran penerbangan hanya kargo untuk diekspor ke berbagai negara, selain juga impor bahan baku dari sejumlah negara.

Hari Kamis lalu, bahkan maskapai sampai harus memuat 252 kilogram per tiga kursi penumpang untuk memaksimalkan kapasitas di kabin utama yang ditinggal para penumpang. Dengan begitu, setidaknya maskapai masih mempunyai bekal untuk perputaran uang.

Baca juga: Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot

Akan tetapi, hal itu dinilai belum cukup. Oleh karenanya, maskapai yang berdiri sejak tahun 1962 ini sampai harus berencana menjual asset berupa tanah kosong di pusat Kota Seoul, semata untuk mendapatkan uang tunai.

Hanya saja, sepertinya rencana tersebut bakal mandek mengingat otoritas kota dikabarkan berubah pikiran dari semula mengizinkan tanah tersebut untuk dijadikan kawasan komersial menjadi taman kota. Padahal, bila berhasil laku, maskapai diperkirakan akan mampu meraup uang tunai dari hasil penjualan sampai $418,5 juta atau hampir Rp6 triliun (kurs 1 dollar = Rp14.489).

Leave a Reply