Pesawat Punya Kecepatan Jelajah dan Kecepatan Maksimum, Apa Bedanya?

0
Ilustrasi kecepatan jelajah pesawat. Foto: Tangkapan layar YouTube Channel LouB747

Bagi Anda yang kerap mencari tahu informasi detail pesawat, umumnya akan menemui dua jenis kecepatan pada pesawat, yakni kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum. Misalnya, Boeing 787 Dreamliner, di laman modernairliners.com, tertuang bahwa kecepatan jelajah (cruise speed) pesawat mencapai Mach 0.85 atau 903 km per jam pada ketinggian 10.700 meter. Sedangkan kecepatan maksimum pesawat (maximum speed) mencapai Mach 0.90 atau 954 km per jam di ketinggian yang sama.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Sekalipun menggunakan mesin yang sama, kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum masing-masing pesawat tentu berbeda-beda, tergantung bobot pesawat itu sendiri serta faktor lainnya. Contoh, kecepatan jelajah Airbus BelugaXL mencapai Mach 0.69 atau 737 km per jam. Sedangkan Airbus A330 memiliki kecepatan jelajah mencapai Mach 0.82 atau sekitar 870 km per jam. Padahal, keduanya sama-sama menggunakan mesin rolls-royce trent 700.

Namun, terlepas dari dua contoh di atas, sebetulnya, apa perbedaan antara kecepatan jelajah dengan kecepatan maksimum?

Dikutip dari quora.com, kecepatan jelajah adalah kecepatan rata-rata yang ditempuh pesawat saat di udara. Adapun kecepatan maksimum adalah kecepatan tertinggi yang mampu ditempuh pesawat saat di udara.

Pada prakteknya, sebuah pesawat amat jarang mencapai kecepatan maksimum saat beroperasi. Sebab, konsumsi bahan bakar cenderung lebih boros. Padahal, antara kecepatan maksimum dengan kecepatan jelajah, perbedannya tidak terlalu mencolok. Namun, konsumsi bahan bakar kedua kondisi itu berbeda jauh. Itu sebabnya, pesawat lebih cenderung dioperasikan di kecepatan jelajah.

Kecepatan jelajah antara mesin jet dan mesin turboprop berbeda. Untuk mesin jet pesawat komersial jarak jauh, umumnya kecepatan jelajah yang ditempuh mencapai 878–926 km per jam di ketinggian 10.000–12.400 meter, jauh lebih cepat dan lebih tinggi dibanding pesawat turboprop yang umumnya menempuh kecepatan jelajah di angka 550–670 km per jam pada ketinggian 6.000–7.600 meter.

Dari segi benefisitas, setidaknya, terdapat tiga keuntungan yang didapat bila mengoperasikan pesawat dengan kecepatan jelajah.

Pertama, konsumsi bahan bakar lebih rendah seiring ketinggian maksimum pesawat. Hal itu dikarenakan semakin tinggi pesawat, semakin kecil tekanan yang didapat.

Kedua, bukan sekedar irit, ketinggan jelajah pesawat akan mendorong peningkatan kecepatan jelajah pesawat. Singkatnya, pesawat mampu mencapai kecepatan jelajah yang lebih tinggi dengan daya dorong yang lebih sedikit. Tentu ini menjadi sebuah keuntungan besar untuk mencapai penerbangan singkat dengan konsumsi bahan bakar yang tetap rendah.

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

Ketiga, konsumsi bahan bakar per satuan jarak penerbangan menjadi lebih rendah. Keuntungan ini merupakan buah dari dua keuntungan sebelumnya. Dengan tarikan mesin yang rendah, otomatis konsumsi bahan bakar per satuan jarak penerbangan menjadi lebih rendah. Sebab, borosnya konsumsi bahan bakar berbanding lurus dengan tarikan mesin saat pesawat dioperasikan.

Itu mengapa, pesawat lebih boros saat melakukan take off. Dalam posisi tersebut, pesawat cenderung diajak untuk mencapai kecepatan maksimum agar bisa mendapat gaya angkat yang lebih besar dan cepat.

Leave a Reply