Pilihan Pengadaan Pesawat, Mengapa Maskapai Pilih Airbus dan Boeing?

Dalan dua dekade belakangan, jagad penerbangan komersial seolah tertuju pada dua merek besar sebagai manufaktur pesawat jet wide body dan narrow body. Tak lain dan tak bukan, Airbus dan Boeing adalah pilihan utama maskapai dalam tiap program akuisisinya. Merek lain tentu ada, tapi porsi pasarnya terbilang kecil dan tak bisa dibandingkan dengan Airbus dan Boeing. Pertanyaannya kemudian, mengapa daya pikat Airbus dan Boeing sedemikian besar dalam perspektif maskapai?

Baca juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Untuk menjawabnya perlu dipahami bahwa akuisisi jenis pesawat membutuhkan beberapa pertimbangan yang kompleks, tak sebatas urusan spesifikasi teknis dan harga, terlebih bagi maskapai yang menyandang sebagai flag carrier. Berikut adalah poin-poin dari alasan mengapa nama Airbus dan Boeing masih bertengger dalam program akusisi dan pengembangan armada maskapai dunia.

1. Citra Maskapai
Citra maskapai tak melulu berpatok pada senyum ramah awak kabin, menu makanan dan fasilitas hiburan di kursi. Bagi maskapai mengoperasikan pesawat dari merek papan atas (Airbus dan Boeing) adalah citra positif yang dibutuhkan untuk image dan promosi. Tak heran bila antar maskapai besar seolah berlomba dalam mengakuisisi pesawat dengan tipe terbaru dan tercanggih dari Airbus dan Boeing.

2. Kepercayaan dari pengguna jasa
Industri penerbangan komersial erat kaitannya dengan unsur kepercayaan dari pengguna jasa. Dan salah satu kepercayaan yang penting adalah penggunaan jenis pesawat yang dimaksud. Dalam hal kepercayaan, nama Airbus dan Boeing sampai saat ini masih begitu kuat. Meski citra dan kepercayaan pada Boeing runtuh di segmen narrow body di seri 737 MAX, namun Boeing masih sangat dipercaya dalam kelas pesawat wide body untuk penerbangan rute jarak sedang dan jauh (seri 777 dan 787 Dreamliner).

3. Dukungan perbaikan dan pemeliharaan
Program akuisisi pesawat dengan nilai jutaan dollar sudah barang tentu bukan sekedar mendatangkan dan mengoperasikannya semata. Lebih dari itu maskapai perlu mempertimbangkan bagaimana dukungan suku cadang dan sistem perawatan pesawat setelah beroperasi. Kerja sama Airbus dan Boeing dengan pihak Garuda Maintenance Facility bisa menjadi poin contoh disini.

Perbaikan dan pemeliharaan pesawat merupakan kegiatan yang membutuhkan biaya besar. Dalam beberapa kasus untuk pesawat baru, proses seperti overhaul (pemeliharaan berat) harus dilakukan di luar negeri. Untuk yang satu ini, lagi-lagi Airbus dan Boeing punya jaringan perbaikan bertingkat di setiap regional.

4. Kelancaran ekspansi rute
Harapan akuisisi pesawat baru salah satunya guna menunjang ekspansi pada rute baru, atau bisa juga melayani rute eksisting dengan pesawat yang lebih ekonomis. Untuk membuka layanan penerbangan ke suatu bandara, pesawat yang akan dijalankan oleh maskapai harus mendapat sertifikasi layak pendaratan di bandara tujuan.

Semisal saat Citilink berencana membuka penerbangan ke Frankfurt, maka hal tersebut dilandasi (salah satunya) karena Airbus A330-900NEO telah mendapat sertifikasi dan standar pengoperasian di Frankfurt. Poin kompabilitas pesawat dengan bandara-bandara besar tak pelak menjadi keunggulan dari nama besar Airbus dan Boeing.

Baca juga: Buka Rute Ke Frankfurt, Citilink Datangkan 2 Unit Airbus A330-900NEO di Oktober 2019

5. Dukungan dari leasing
Leasing menjadi salah satu strategi maskapai untuk menambah armadanya. Dan pilihan pada nama besar seperti Airbus dan Boeing lebih disukai oleh pihak leasing internasional.

6. Harga jual kembali
Meski tak ada jaminan harga jual kembali akan baik, namun akuisisi pada beberapa jenis pesawat yang laris di pasaran, kelak akan memudahkan dalam proses penjualan kembali kepada pihak lain.