Produksi Hidrogen Hijau untuk Bahan Bakar Pesawat, Airbus-Philips 66 Gandeng Plug Power

0
Airbus rilis tiga konsep pesawat hidrogen. Ditargetkan 2035 sudah mulai beroperasi penuh secara global. Foto: Airbus

Airbus dan Philips 66 resmi menggandeng Plug Power, perusahaan pengembang sistem sel bahan bakar hidrogen asal Amerika Serikat (AS). Ini merupakan langkah besar Airbus dalam mewujudkan target memproduksi pesawat bebas emisi menggunakan bahan bakar hidrogen pada 2035 mendatang.

Baca juga: Air New Zealand Gandeng Airbus Operasikan Pesawat Turboprop Bertenaga Hidrogen

Dikutip dari Bloomberg, Plug Power nantinya bertanggung jawab untuk merancang infrasturktur hidrogen hijau non-polusi di bandara. Bandara mana yang dimaksud itu tak dijelaskan secara rinci.

Selain itu, bersama Philips 66, Plug Power juga diplot untuk mengembangkan hidrogen rendah karbon dan meningkatkan penggunaan hidrogen hijau sebagai bahan bakar transportasi, tak hanya pesawat, tetapi juga kapal, mobil, motor, dan lainnya, guna membantu negara-negara di dunia meninggalkan penggunaan energi fosil.

Hidrogen hijau bisa diproduksi dengan berbagai cara. Adapun Plug Power memproduksi hidrogen hijau dengan mengandalkan energi terbarukan seperti matahari atau angin.

Hidrogen sendiri terbagi menjadi tiga jenis, abu-abu, biru, dan hijau. Dua jenis pertama, ini terbuat dari bahan bakar fosil seperti gas bumi atau batu bara. Bedanya, bila dalam proses produksi hidrogen abu-abu, emisi karbon atau CO2 langsung dilepas ke udara, emisi CO2 dalam proses produksi hidrogen biru ditampung di sebuah wadah sehingga jejak karbonnya lebih sedikit.

Akan tetapi, hidrogen hijau berbeda dari keduanya. Ini diproduksi dari air, termasuk matahari dan angin. Hanya inilah jenis hidrogen yang bisa disebut berkelanjutan. Air diurai menjadi oksigen dan hidrogen, dengan bantuan listrik yang bersumber dari energi angin atau matahari.

Sebab, jika listrik berasal dari batu bara atau gas, itu sama saja tidak sepenuhnya berkelanjutan alias semu dan tetap meninggalkan jejak emisi karbon. Inilah yang diinginkan oleh Airbus dalam kemitraannya dengan Philips 66 dan Plug Power.

“Semua hidrogen sama, karena punya molekul H2. Tapi proses produksinya yang berbeda-beda yang jadi penentu, seberapa besar emisi gas rumah kaca dan tingkat kebersihannya,” demikian dijelaskan ahli ekonomi energi Alexander Esser.

Baca juga: Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

Sebelumnya, dalam proses mengejar target produksi pesawat bebas emisi bertenaga hidrogen pada tahun 2035, Airbus sudah mulai membangun Pusat Pengembangan Tanpa Emisi (ZDEC) di Bremen, Jerman dan Nantes, Perancis, untuk membuat tangki bahan bakar hidrogen di pesawat.

Dalam laman resminya, Airbus mengatakan bahwa pembangunan ZDEC memerlukan waktu dan tak secepat kilat, mengingat butuh detail-detail berteknologi tinggi. Diperkirakan, itu baru bisa beroperasi penuh pada 2023 mendatang. Setelah beroperasi penuh, tangki bahan bakar hidrogen cair diproyeksi rampung dan melakukan uji terbang perdana pada 2025.