Pulau Morotai, Ditinggalkan Garuda Indonesia Kini Dilayani Wings Air

Pulau Morotai. Sumber: istimewa

Menyandang predikat sebagai salah satu pulau yang berada di ujung Utara Indonesia, banyak yang mengasosiasikan Kabupaten Pulau Morotai ini dengan sebutan “Morotai Pulau Kenangan”. Wajar saja, pulau ini menyimpang banyak keindahan alam khas Indonesia dan juga sarat akan sejarah yang berkenaan dengan Perang Dunia II. Sebagai salah satu langkah untuk menunjang destinasi wisata di sini, salah satu member dari Lion Air Group, Wings Air kabarnya akan segera membuka rute penerbangan dari Manado menuju Morotai pada 22 September mendatang.

Baca Juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar

Usut punya usut, Wings Air ini merupakan maskapai perdana dan satu-satunya yang membuka rute penerbangan dari Manado menuju Morotai. Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, pihak maskapai kini masih dalam tahap menyiapkan penerbangan berjadwal tiga kali dalam seminggu – Rabu, Jumat, dan Minggu (PP).

“Wings Air bernomor IW-1180 akan mengudara dari Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara (MDC) pukul 06.40 WITA dan dijadwalkan mendarat di Bandar Udara Leo Wattimena, Morotai, Maluku Utara (OTI) pada 09.00 WIT,” tulis Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro dalam siaran pers.

Bandara Leo Wattimena dulunya bernama Bandara Pitu. Bandara ini punya panjang landasan 2.400 meter dan lebar 30 meter yang dilengkapi dengan apron panjang 285 meter dan lebar 80 meter, sementara taxy way punya panjang 130 meter dan lebar 25 meter. Sehingga ideal untuk didarati pesawat sekelas ATR-72 500/600.

“Penerbangan di hari yang sama untuk rute kembali, Wings Air menggunakan nomor IW-1181 akan terbang dari Morotai pada 09.20 WIT dan diperkirakan tiba di Manado pukul 09.40 WITA,” tambahnya.

Namun berbicara soal Morotai agaknya kurang lengkap jika tidak membahas soal sejarah yang ada di pulau ini. Perang Morotai terjadi pada 15 September 1944, dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya dalam kampanye melawan Jepang.

Singkat cerita, jumlah pasukan Jepang yang telah terlebih dahulu menduduki Morotai yang sedikit terpaksa diluluh-lantakkan oleh sekutu yang beranggotakan sejumlah negara besar (Amerika Serikat, Australia, Belanda, dan Inggris).

Tujuan yang bertolak belakang antara Jepang dan sekutulah yang pada akhirnya membuat peperangan ini pecah. Pulau Morotai merupakan wilayah yang penting bagi militer Jepang ketika mulai mengembangkan pulau-pulau di Halmahera sebagai titik fokus untuk mempertahankan pendekatan selatannya ke Filipina. Sedangkan sekutu melihat Morotai sebagai lokasi strategis untuk pangkalan udara dan fasilitas angkatan laut yang diperlukan untuk mendukung pembebasan Mindanao, pulau terbesar kedua yang ada di Filipina.

Pada akhirnya, pihak sekutu berhasil mengusir Nippon dan yang kini tersisa hanyalah sebuah Museum Perang Dunia II Motorai.

Baca Juga: Laba Kian Mengering, Garuda Indonesia Terpaksa Hentikan Sejumlah Rute

Terlepas dari sejarahnya, ternyata sebelumnya maskapai plat merah Garuda Indonesia juga pernah melakukan penerbangan terjadwal menuju Morotai, namun karena masalah load factor (tingkat keterisian bangku) yang bisa dibilang minim, pada Mei 2019 kemarin pihak flag carrier ini terpaksa memberhentikan rute penerbangan ke Morotai dan beberapa destinasi lain di Timur Indonesia (Maumere dan Bima).

“Kita baru melakukan evaluasi, kita terpaksa melakukan itu (penutupan dan pengurangan penerbangan) agar kita tidak rugi sampai akhir tahun,” tutur Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham (22/5/2019).