Sambut New Normal, Qantas Malah Grounded 100 Pesawat dan PHK 6 Ribu Karyawan! 11 Ribu Lainnya Nyusul

0
Boeing 787-9 Dreamliner milik Qantas. Sumber: Skyscanner Australia

Maskapai terbesar di Australia, Qantas, mengaku akan meng-grounded 100 pesawat hingga setahun ke depan dalam persiapan recovery menyambut era the new normal. Rencana tersebut adalah bagian dari strategi perusahaan setidaknya selama tiga tahun mendatang, dalam balutan konsep 3R; rightsizing, restrukturisasi, dan rekapitalisasi.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Selain menggrounded pesawat atau dua pertiga dari total armada, maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut juga telah mem-PHK sebanyak 6 ribu karyawan. Bahkan, total 11 ribu karyawan lainnya juga dipastikan menunggu diliran PHK.

Dari berbagai kebijakan tersebut, perusahaan diharapkan dapat menghemat hingga sekitar $10,5 miliar atau sekitar Rp149 triliun (kurs 14.300). Adapun untuk menjalankan konsep 3R itu, Qantas butuh dana sekitar $700 juta atau Rp10 triliun (kurs 14.300).

“Beradaptasi dengan realitas baru ini berarti beberapa keputusan yang sangat menyakitkan. Kehilangan pekerjaan yang kami umumkan hari ini juga sedang kami hadapi. Begitu juga dengan fakta bahwa ribuan lebih dari orang-orang kita yang sedang menghadapi kenyataan pahit kehilangan pekerjaan atau karir mereka sampai waktu yang tak ditentukan,” kata CEO Qantas, Alan Joyce dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

“Kami harus memposisikan diri selama beberapa tahun di mana pendapatan akan jauh lebih rendah (dibanding masa sebelum pandemi corona). Hal itu berarti menjadikan maskapai lebih kecil (dari segi ekspansi dan jumlah karyawan) dalam jangka pendek,” tambahnya.

Keputusan Qantas mem-PHK 6 ribu karyawan serta 11 ribu lainnya pun menuai protes dari Serikat Pekerja Transportasi Australia (ATWU). Mereka mengecam keputusan tersebut dan meminta pemerintah untuk turun tangan.

“Sebelum Qantas memangkas ribuan karyawan dan membawa lebih banyak pesawatnya ke pihak lessor, mereka harus melobi Pemerintah Federal agar memberikan dukungan finansial guna menghindari karyawan dari jurang PHK dan membantu perusahaan mempertahankan bisnis saat krisis seperti sekarang ini akibat wabah corona,” kata Sekretaris Jenderal ATWU, Michael Kaine.

Namun, tuntutan tersebut langsung dibantah Joyce. “Seperti yang telah kami lakukan sepanjang krisis ini, keputusan kami didasarkan pada fakta yang kami miliki sekarang dan jalan yang kami lihat di depan kami. Rencana tersebut memberi kami fleksibilitas dalam berbagai skenario, termasuk rebound lebih cepat atau pemulihan lebih lambat,” tegasnya.

Meskipun demikian, saat ini, Qantas dilaporkan masih berada pada posisi aman, mengingat stok uang tunai untuk operasional perusahaan masih mumpuni. Namun, perusahaan disebut tetap akan mencari pendaaan jangka pendek untuk memperkuat likuiditas perusahaan dengan berbagai cara.

Baca juga: Intip Cara Qantas Rawat Komponen Landing Gear System Tanpa Harus Terbang

“Grup Qantas memasuki krisis ini dalam posisi yang lebih baik daripada kebanyakan maskapai penerbangan dan kami memiliki beberapa prospek terbaik untuk pemulihan, terutama di pasar domestik, tetapi akan butuh bertahun-tahun sebelum penerbangan internasional kembali seperti semula,” ujar Alan Joyce.

Sebagai informasi, Australia memang dikenal sangat liberal dalam mencermati kondisi industri penerbangan dalam negeri. Alih-alih memberikan suntikan dana –sebagaimana negara lain- Australia justru memberikan kesempatan lebih ke pasar untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Jadi, jangan heran bila terkait kondisi Qantas saat ini, yang notabene maskapai nasional, mereka belum juga sampai turun tangan, sekalipun mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk ATWU.

Leave a Reply