Indonesia memiliki beragam transportasi berbasis rel yang dahulu sejak jaman Kolonial Belanda. Maka tak heran jejak-jejak bangunan maupun jalur kereta api yang dulunya ramai digunakan, kini sudah teronggok tak berfungsi bahkan hampir terlupakan. Meskipun begitu jalur kereta api yang digunakan dan masih berfungsi aktif masih dijumpai khususnya di Pulau Jawa dan Sumatera. Bahkan masyarakat di Sulawesi Selatan sudah bisa menikmati kereta api, karena sebelumnya di wilayah tersebut belum ada pembangunan jalur kereta api.
Nah, bicara soal pembangunan jalur kereta api lainnya tengah menjadi sorotan media. Kini berada di Kalimantan yang menjadi perbincangan pemerintah agar masyarakat bisa merasakan transportasi berbasis rel di wilayah tersebut yang tentunya praktis dan mudah. Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas nasional.
Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan konektivitas antardaerah, menekan biaya logistik, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa. Menurut pemerintah, penguatan jaringan rel menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pemerataan pembangunan dan memperluas akses ekonomi masyarakat di berbagai wilayah.
Namun dari perencanaan pembangunan tersebut, ternyata jaringan kereta api di Kalimantan sudah ada sejak dulu dan memiliki sejarah panjang. Ya, aktivitas kereta api pernah beroperasi di Kalimantan Selatan (KalSel) pada masa Hindia Belanda, meski bukan untuk angkutan penumpang, melainkan mendukung aktivitas pertambangan batu bara yang berkembang pesat sejak akhir abad ke-19.
Kereta Uap Kalimantan, Pelancong Diajak Jelajah Hutan Borneo Tanpa Pendingin Udara
Keberadaan rel dan kereta tambang di Kalimantan Selatan menjadi bagian penting sejarah industri pertambangan kolonial yang digunakan untuk mempercepat pengangkutan hasil bumi menuju pelabuhan ekspor. Pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan perkeretaapian di berbagai wilayah Indonesia untuk menunjang eksploitasi sumber daya alam.
Mengutip buku Onze Koloniale Mijnbouw De Steenkolenindustrie karya R.J. Van Lier, disebutkan bahwa kereta api di Kalimantan memang pernah ada, namun berfungsi sebagai kereta tambang. Kereta tambang paling awal di Kalimantan Selatan diketahui beroperasi di tambang batu bara Oranje-Nassau. Di lokasi tersebut, gerobak kecil berjalan di atas rel sederhana untuk mengangkut batu bara dari area tambang menuju Sungai Riam Kiwa.
Masa kejayaan tambang batu bara di Kalimantan berlangsung sekitar 1888 hingga 1954. Salah satu pusat aktivitasnya berada di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, yang dikelola perusahaan Borneo Maatschappij dengan lebar rel 600 milimeter dan sebagian 1.067 milimeter.
Untuk mendukung operasional tambang, Pemerintah Hindia Belanda bersama perusahaan tambang De Steenkolen-Maatschappij Poeloe Laoet membangun jalur angkut sepanjang sekitar 5 kilometer dari wilayah Semblimbingan menuju Pelabuhan Stagen sejak 1903.
Peta jalur spoorweg Semblimbingan-Stagen menunjukkan rel kereta melintasi kawasan permukiman, jalur sungai, dan sejumlah ruas jalan darat sebelum mencapai pelabuhan. Keberadaan kereta api tambang di Kalimantan Selatan juga diperkuat oleh berbagai dokumentasi sejarah yang tersimpan di sejumlah lembaga internasional.
Selain itu, terdapat dokumentasi dari koleksi Ellerman Series Vereeniging Koloniaal Instituut Amsterdam tahun 1915 serta Hydrographich Bericht Zeemans Gids voor den Oost-Indischen Archipel tahun 1904. Temuan arsip, foto, lori tambang, dan jejak infrastruktur tersebut menjadi bukti bahwa sistem transportasi berbasis rel pernah hadir di Kalimantan Selatan jauh sebelum rencana pembangunan jaringan kereta api modern kembali diwacanakan.
Jalur Kereta Api Makassar – Parepare Dibangun, Kira – kira Apa Manfaatnya, ya?
