Sejarah Pulau Onrust, Tempat Karantina Jemaah Haji hingga Bendung Semangat Nasionalisme

0
Jemaah haji sedang digelandang ke Pulau Onrust untuk dikarantina. Foto: Arsip Nasional RI

Ibadah ke Tanah Suci Mekkah memang bukan perkara mudah. Perlu kekuatan harta dan tenaga agar dapat sampai ke sana. Di masa lalu, jemaah haji tempo dulu, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, berangkat menggunakan kapal laut, bukan dengan pesawat.

Baca juga: Tak Hanya Kasus ABK WNI, Larung Jenazah Sudah Dilakukan Sejak Perjalanan Haji di Masa Lalu

Di beberapa literatur dan cerita turun-temurun, durasi jemaah haji tempo dulu mulai dari berangkat sampai pulang kembali ke rumah cukup bervariasi, mulai dari sebulan hingga total 10 bulan. Luar biasa bukan? Bahkan, di banyak kasus, keluarga sama sekali tidak mengetahui dimana jenazah anggota keluarganya. Sebab, baik saat perjalanan ataupun pulang, jemaah haji yang meninggal di lautan memang dilarung ke laut, tidak menunggu sampai ke daratan.

Terlepas dari perdebatan soal waktu ataupun proses pemakaman jemaah haji dengan cara dilarung ke laut, satu hal yang pasti, sebelum mulai mengarungi lautan menuju Mekkah-Madinah atau kembali ke kediaman masing-masing, jemaah haji tempo dulu harus menjalani karantina di salah satu pulau di Kepulauan Seribu; Pulau Onrust.

Pulau Onrust (berasal dari bahasa Belanda yang berarti tak pernah istirahat) ini sejak tahun 1911-1933 ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi pusat karantina jemaah haji akibat wabah pes. Tindakan itu diambil setelah wabah yang menewaskan hampir 200 ribu korban di Hindia Belanda ini, mulai dari Jawa Timur sebagai episenter wabah, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, terdeteksi dibawa oleh para penumpang kapal laut yang baru pulang dari ibadah haji.

Wabah pes itu ditulari dari tikus yang ikut masuk ke dalam kapal saat bersandar di Rangin (kini Yangon), Birma (kini Myanmar) saat kapal mengangkut beras. Alhasil, pulau seluas 7,6 hektar (sebelum abrasi seluas 12 hekter) ini pun kemudian dibangun mess-mess sebagai fasilitas penunjang karantina jemaah.

Tercatat, 35 barak dengan kapasitas 3.500 jemaah haji, rumah dokter, hingga sanitasi pun didirikan di pulau yang mulai diduduki sejak 1619 oleh Belanda tersebut dengan biaya sebesar 607 ribu gulden atau sekitar Rp4 miliar. Dana sebesar itu juga termasuk membangun tembok anti tikus untuk memperkokoh status karantina agar benar-benar steril sebelum kembali ke rumah.

Berbeda dengan masa karantina pandemi corona, ketika itu, jemaah haji normalnya dikarantina selama lima hari saja. Namun, realisasinya, bergantung pada kesehatan masing-masing jemaah itu sendiri. Tak heran, bila durasi jemaah haji mulai dari meninggalkan rumah sampai kembali ke rumah, menurut cerita turun-temurun, cenderung berbeda-beda.

Bahkan, saking lamanya meninggalkan rumah, berbagai sebutan pun muncul mengiringi tinta emas sejarah haji tempo dulu, mulai dari sebutan Haji Singapura, selamatan orang mau mati, hingga tradisi wasiat bagi para jemaah haji sebelum mulai meninggalkan kediaman.

Akan tetapi, sebelum dikarantina di Pulau Onrust, para jamaah haji diturunkan di Pulau Cipir yang bersebelahan dengan Onrust. Mereka dicek kesehatan dan diminta mandi, lalu menanggalkan seluruh pakaian dan diganti dengan pakaian karantina setelahnya diperiksa seorang dokter. Bila dinyatakan sehat, mereka akan digelandang ke Pulau Onrust. Sampai di Pulau Onrust, mereka akan disambut oleh tim dokter dari Belanda untuk kemudian dicek kembali kesehatannya, sebelum menuju barak.

Sebaliknya, bila terindikasi ‘positif’ wabah, mereka akan di karatina di Pulau Cipir, yang fasilitas karatinanya dibangun bersamaan dengan fasilitas karantina di Pulau Onrust. Bila jemaah haji meninggal, baik di Pulau Onrust maupun di Pulau Cipir, maka mereka akan diangkut ke Pulau Kelor untuk dimakamkan secara sederhana tanpa memperhatikan arah kiblat, layaknya melarung jemaah haji di lautan saja.

Jadi, dengan segitiga emas yang saling berkaitan antara sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor di masa lalu, maka, sangat tak etis bila banyak pihak menyebut bahwa hanya Pulau Onrust saja yang bersejarah. Sebab, tanpa Pulau Cipir dan Kelor, mungkin, fasilitas karantina di Pulau Onrust akan tidak maksimal.

Baca juga: Khusus Layani Jamaah Haji Tradisional, Garuda Indonesia Andalkan Awak Kabin (Lokal)

Namun, Onrust bukan hanya soal karantina jemaah haji akibat wabah. Di pulau ini juga, ketika itu, jemaah haji di karantina sebelum pulang ke rumah. Bukan karena penyakit, namun VOC atau pemerintah Hindia Belanda tak ingin para jemaah yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang menyebarkan semangat melawan kolonial di Tanah Air.

Setelah Indonesia merdeka, mulai tahun 1968, Pulau Onrust akhirnya dapat beristirahat dengan tenang. Berbagai peninggalan masih akan tetap menjadi saksi bisu di sana, rumah sakit, aula, dan penjara. Rumah sakit saat ini dijadikan museum, gereja dijadikan aula, sementara ruang tahanan masih utuh yang masih utuh dibiarkan tak berpenghuni.

Leave a Reply