Seorang WNA Berikan Observasinya Terhadap Kondisi Perkeretaapian Indonesia

Kereta api lokal Rangkasbitung-Merak PP

Sebagai salah satu moda transportasi yang mengalami perkembangan sangat pesat di Pulau Jawa, kini Pemerintah juga tengah mengupayakan kehadiran dan ‘reinkarnasi’ kereta api di sejumlah titik di luar Pulau Jawa. Di pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia sendiri, khususnya di Ibukota, kereta api memang menjadi moda yang digandrungi oleh banyak banyak elemen masyarakat. Mulai dari pedagang, pegawai kantoran, hingga orang-orang yang menjabat posisi penting di sebuah institusi, semuanya ada di dalam kereta yang akrab di sapa Commuter Line Jabodetabek.

Baca Juga: Wow! Kereta di Indonesia Ini Tempuh Jarak Lebih dari 900KM!

Secara keseluruhan, kereta api Indonesia tidak pernah sepi peminat. Beragam transformasi menuju arah yang lebih baik tiada hentinya diupayakan oleh otoritas terkait guna melayani para penumpangnya lebih baik lagi. Namun patut diketahui, kondisi perkeretaapian Indonesia mendapat sorotan dari media asing. Bukan pemberitaan negatif, melainkan pujian, dan analisa yang menjadi inti dari pemberitaan tersebut.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman indonesiaexpat.biz, adalah Daniel Pope, seorang warga negara asing yang sudah cukup lama menetap di Indonesia memberikan observasinya terhadap perkeretaapian Indonesia. Analisa singkat mengenai tingkat keamanan si ular besi ini juga turut dicantumkan, dimana jika dibandingkan dengan moda darat lainnya dan moda laut, kereta api terbilang yang paling aman dan nyaman. Sebagai informasi tambahan, jumlah korban jiwa akibat kecelakaan moda darat (selain kereta api) yang terjadi pada tahun 2017 tercatat mencapai angka 9.338 orang.

Ia juga menyoroti tentang proyek kereta cepat Jakarta – Bandung yang semula ditargetkan dapat mengular di tahun 2019. Namun karena rumit dan alotnya soal pembebasan lahan, rencana tersebut terpaksa diundur ke tahun 2021 mendatang. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, proyek kereta cepat Jakarta – Bandung yang membentang sejauh 142km ini akan memangkas waktu tempuh antara dua kota tersebut, dari yang semula empat jam menjadi 45 menit saja.

Baca Juga: PT Len Gandeng Thales Kembangkan Sistem Sinyal Kereta Api Indonesia

Tidak lupa, Daniel juga menyoroti fenomena kereta komuter yang selalu penuh sesak ketika peak hours. Ia mengasumsikan bahwa para penumpang berdesak-desakan di pagi dan sore hari layaknya ikan sarden di dalam kaleng.