Setelah Merugi di 2017, Garuda Indonesia Canangkan Return to Profit di 2018

0
Armada Airbus A330 Milik Garuda Indonesia. Sumber: Istimewa

PT Garuda Indonesia Tbk, menargetkan return to profit pada tahun 2018 setelah mengalami kerugian di tahun 2017 ini karena tengah berupaya untuk mengurangi pengeluaran dan memperbaiki struktur biaya operasionalnya. Maskapai plat merah ini memang memprediksi memperoleh keuntungan sebesar US$75 juta di semester kedua yang berakhir pada Desember 2017.

Baca juga: Mengenal SkyTeam, Aliansi Penerbangan Internasional Garuda Indonesia

Namun, sayangnya ini tidak akan mampu membukukan keuntungan untuk periode 12 bulan setelah kerugian yang terjadi lebih besar pada semester pertama di tahun ini. Chief Executive Officer Pahala Mansury mengatakan, kerugian di semester pertama 2017 mencapai US$284 juta.

Mansury menambahkan pengusaha Indonesia meningkatkan utilitas pesawat dengan mengurangi waktu penerbangan dan pemotongan biaya, dimana langkah-langkah ini yang akan membantu Garuda Indonesia menghasilkan keuntungan tahun depan. “Kami telah meningkatkan tingkat utilisasi pesawat terbang kami dan akan terus melakukannya. Ini akan menjadi faktor kunci untuk menentukan apakah kita menguntungkan di masa depan dan apakah keuangan kita memperbaiki,” kata Mansury yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (23/10/2017).

Saat ini sebagai perbandingan, biaya per kursi yang tersedia di seluruh grup Singapore Airlines, yang juga mencakup anggaran Scoot adalah 6,83 sen Singapore dalam kuarter fiskal yang berakhir pada bulan Juni. Sedangkan Garuda Indonesia saat ini sedang berada dalam diskusi untuk merencanakan penundaan pengiriman pesawat terbang. Mansury mengatakan, pada tahun 2015 lalu maskapai berkomitmen untuk memiliki 60 pesawat dari Boeing senilai US$10,9 miliar pada daftar dan 30 pesawat dari Airbus senilai US$9,1 miliar sebelum diskon.

“Perusahaan merestrukturisasi Citilink dengan biaya rendah dan mengubah hutang di unit menjadi ekuitas,” kata Mansury.

Selain itu, Garuda berencana untuk meningkatkan pendapatan dari bisnis lain yang menunjang penerbangan, seperti perawatan pesawat terbang dan perhotelan. Mansury mengatakan, Garuda memanfaatkan posisi geografis Indonesia untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan dari luar negeri. Pendapatan dari penerbangan internasional meningkat hampir 15 persen di semester pertama dari tahun sebelumnya, sementara pangsa dari perjalanan domestik turun.

Saham Garuda Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 1,8 persen menjadi Rp334 pada hari Senin (23/10/2017), memangkas penurunan year to date menjadi 1,2 persen. Itu dibandingkan dengan kenaikan 24 persen di Bloomberg Asia Pacific Airlines Index pada 2017.

Baca juga: Khusus Layani Jamaah Haji Tradisional, Garuda Indonesia Andalkan Awak Kabin (Lokal)

Mulai bulan depan, maskapai ini akan terbang tanpa henti ke London dari Jakarta setelah bertahun-tahun mengalami kemunduran, yang memungkinkannya untuk menarik sekitar 700.000 penumpang yang melakukan perjalanan antara Australia dan Inggris setiap tahun dengan apa yang disebut sebagai rute Kangaroo. Garuda Indonesia menargetkan margin laba bersih 1 persen menjadi 2 persen pada 2018, dibandingkan dengan 0,21 persen tahun lalu. “Situasi Garuda Indonesia telah membaik,” kata Mansury.

Leave a Reply