Singapore Airlines Akan Dapatkan Pesawat ke-1000 Boeing 787 Dreamliner

0
Boeing 787 Dreamliner Singapore Airlines dengan livery khusus 1000th. Foto: Planespottergary

Setelah menunggu sembilan tahun, Boeing akhirnya menatap keberhasilan untuk mengirimkan pesawat 787 Dreamliner ke-1000 unit. Sebelum benar-benar dikirim, pesawat diujicoba terlebih dahulu. Penerbangan perdana sendiri sudah dilakukan pada Jumat, 3 April lalu di fasilitas produksi Boeing di North Charleston, South Carolina, Amerika Serikat (AS). Singapore Airlines menjadi maskapai yang beruntung untuk menerima pesawat spesial tersebut.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Menurut laporan Aeronews, Boeing 787-10 dengan kode registrasi 9V-SCP tersebut tampak begitu eye catching dengan livery khusus bertuliskan “1000th 787 DREAMLINER” di bagian depan kiri pesawat atau tak jauh dari posisi jendela kokpit dan pintu utama pesawat.

Dengan tambahan satu pesawat, Singapore Airlines kini tercatat sudah memiliki 16 armada Boeing 787-10 Dreamliner. Namun, hal itu belum lah cukup. Flag carrier Singapura tersebut berharap masih akan mendapat tambahan sekitar 49 Dreamliners dalam beberapa tahun ke depan. Pasalnya, SIA memang berharap banyak pada 787 Dreamliner. Hal itu setidaknya tercermin dari statement CEO Singapore Airlines, Mr Goh Choon Phong, saat menerima 787-10 pertama pada Maret 2018 silam.

“787-10 benar-benar mahakarya teknik yang luar biasa dan benar-benar sebuah karya seni. Ini akan menjadi elemen penting dalam strategi pertumbuhan kami secara keseluruhan, memungkinkan kami untuk memperluas jaringan kami dan memperkuat operasi kami,” katanya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Singapore Airlines memang begitu kepincut dengan 787 Dreamliner. Meskipun bukan maskapai pertama yang memesan pesawat jet komersil pertama di dunia yang mengaplikasikan material karbon komposit di struktur rangka utama pada badan pesawat tersebut, nyatanya, SIA memang begitu mengandalkan Dreamliner, khususnya pada penerbangan point-to-point.

Selain itu, Dreamliner juga dinilai lebih efisien dengan bahan komposit termasuk serat karbon untuk membuat pesawat lebih ringan serta fitur mesin baru dari Rolls Royce dan General Electric yang akan memberikan jangkauan yang lebih luas sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar. Menariknya, dengan kemampuan jangkauan yang lebih jauh, pesawat hanya bermodalkan dua mesin serta mengangkut lebih banyak penumpang dibanding pesawat medium lainnya kala itu. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah daya tarik bagi SIA, dan juga banyak maskapai lainnya, yang ingin melakukan ekspansi besar-besaran di masa mendatang.

Meskipun berhasil digandrungi banyak maskapai di seluruh dunia, Boeing 787 Dreamliner bukan tanpa masalah. Hingga awal Maret lalu, maskapai-maskapai yang mengoperasikan pesawat tersebut bahkan harus memutar otak akibat permasalahan pada mesin Rolls-Royce-nya.

Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.

Jauh sebelum masalah pada mesin muncul, Boeing 787 Dreamliner juga pernah memiliki riwayat permasalahan pada sistem oksigen. Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas. Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.

Baca juga: Setelah Pamor Meroket di 2009, Mungkinkah 2020 Jadi Tahun Terakhir Boeing 787 Dreamliner?

Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian. Dekompresi sebetulnya jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.

Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia. Adapun penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat. Masalah tersebut, walaupun tidak masif, namun cukup membuktikan bahwa permasalahan Dreamliner yang dilaporkan oleh John Barnett, eks manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing, benar adanya.

Leave a Reply