‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

0
Maskapai Air Tahiti Nui. Foto: Sam Chui

Virus corona tak selamanya berdampak negatif. Setelah sebelumnya British Airways mencatat rekor baru untuk Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan empat jam dan 56 menit pertengahan Februari lalu, belum lama ini, maskapai Air Tahiti Nui justru berhasil mencetak rekor sebagai penerbangan komersial terjauh di tengah ekosistem industri penerbangan yang memburuk akibat COVID-19.

Baca juga: Kurang dari 5 Jam, British Airways Catatkan Rekor Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan Boeing 747

Dilansir CNN Travel, maskapai asal Polinesia Perancis tersebut biasanya terbang menuju Bandara Charles de Gaulle di Paris dengan transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Los Angeles (LAX), Amerika Serikat. Namun, karena negara tersebut tengah memberlakukan pembatasan penerbangan akibat maraknya wabah COVID-19, pesawat Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui terpaksa terbang langsung dari Pape’ete di Tahiti menuju Paris, Perancis.

Namun, siapa nyana, penerbangan yang ‘dipaksakan’ tersebut justru berhasil mendorong terpecahkannya rekor penerbangan komersial terjauh. Bila sebelumnya rekor tersebut disandang Singapore Airlines pada rute Singapura-Newark dengan jarak tempuh 15.348 km, Air Tahiti Nui berhasil mematahkannya dengan mencatatkan penerbangan sejauh 15.715 km dalam waktu selama 15 jam 45 menit.

Pesawat dengan nomor penerbangan TN064 diketahui tinggal landas dari Pape’ete sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada tanggal 15 Maret dan mendarat di Perancis 16 Maret pukul 5.54 pagi waktu setempat. Sekalipun berhasil mencatatkan rekor, penerbangan tersebut bukannya tanpa risiko.

Pasalnya, pesawat Boeing 787 Dreamliner yang digunakan saat maskapai tersebut memecahkan rekor penerbangan komersial terjauh, standar pabrikannya hanya mampu terbang sejauh 14.800 km, sedangkan kala itu penerbangan dipaksakan sampai 15.715 km.

Beruntung, karena virus corona telah membuat penurunan jumlah penumpang dimana-mana, tak terkecuali di Polinesia Perancis (dalam hal ini maskapai Air Tahiti Nui), pilot jadi memiliki keberanian untuk terbang lebih dari standar penerbangan terjauh yang telah ditetapkan.

Baca juga: London Gatwick-Singapura, Menjadi Rute Penerbangan LCC Terjauh di Dunia!

Sebab, saat itu, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner hanya mengangkut total 150 penumpang dari kapasitas maksimal mencapai 290 penumpang. Oleh karenanya, pilot memiliki dasar yang cukup untuk menerbangkan pesawat lebih jauh dari biasanya karena konsumsi bahan bakar yang lebih irit (disebabkan jumlah penumpang yang lebih sedikit).

Air Tahiti Nui sendiri, dalam sebuah pernyataan, mengaku kagum dengan penerbangan tersebut, sekaligus tak menyangka akan berakhir manis seperti itu. “Penerbangan ini dioperasikan secara luar biasa dan dalam batasan yang diberlakukan oleh otoritas Amerika dalam menghadapi epidemi Covid-19,” kata juru bicara Air Tahiti Nui, seperti dikutip dari CNN Travel.

Leave a Reply