Singapore Airlines Borong 39 Unit Boeing ‘Wide Body’ Senilai US$13,8 Miliar

(Yahoo Finance)

Singapore Airlines, maskapai penerbangan kedua terbesar di dunia dalam aspek permodalan, dikabarkan baru-baru ini telah mengadakan kesepakatan untuk membeli armada pesawat baru dari Boeing dengan nilai total mencapai US$13,8 miliar. Kesepakatan ini ditandatangani di Gedung Putih pada Senin (23/10/2017).

KabarPenumpang.com melansir dari laman finance.yahoo.com (24/10/2017), Singapore Airlines secara keseluruhan membeli 39 unit pesawat jenis wide body untuk penerbangan jarak jauh, terdiri dari 20 unit Boeing 777-9 dan 19 unit Boeing 787-10 Dreamliner, yang kedua perusahaan dibuat di basis produksi di kota Seattle. Sampai saat ini Boeing sendiri sudah memiliki pesanan untuk 30 Dreamliner. Rencananya tahun depan, pesanan pertama Boeing 787 Dreamliner untuk Singapore Airlines akan mulai dikirimkan.

Karena merupakan pesanan dengan nilai fantastis, penandatanganan pembelian di Gedung Putih secara langsung disaksikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Republik Singapura Lee Hsien Loong. Betapa tidak, proyek pesanan Singapura ini sangat menyenangkan Trump, mengingat akan menciptakan 70.000 lapangan kerja baru di AS. Dalam momen penandatanganan, dari pihak Singapore Airlines hadir CEO Singapore Airlines Goh Chon Phong dan Kevin McCalister, Presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes.

Baca juga: Singapore Airlines dan Grab Integrasikan Layanan Ridesharing di Satu Aplikasi

Bulan Oktober ini, Boeing sendiri ternyata meluncurkan seri yang pertama dari pesawat Boeing 787-10 di fasilitas Final Assembly-nya yang ada di South Carolina.

Minggu lalu, saat Trump menjadi tuan rumah untuk kehadiran Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras di Gedung Putih, Ia mengatakan bahwa negara Eropa tersebut sedang mencari cara untuk membeli pesawat tambahan dari Boeing dan pemerintah Amerika Serikat akan membantu dalam proses pembeliannya.

Baca juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru

Sebenarnya, kesepakatan yang dilakukan bersama Singapura terjadi saat Boeing berada ditengah perselisihan perdangangan dengan manufaktur pesawat asal Kanada, Bombardier. Saat itu juga produsen kedirgantaraan Amerika Serikat menuduh pesaingnya menjual jet single board Series C baru dengan harga yang jauh lebih rendah di pasar Amerika Serikat.

Hal ini mengakibatkan Departemen Perdagangan Amerika Serikat lebih berperihak pada Boeing dan menempatkan tarif 300 persen pada Bombardier yang akan membuat jet di fasilitasnya di Alabama. Baru-baru ini, Airbus sebagai pesaing terbesar Boeing di industri pesawat terbang mengumumkan bahwa mereka akan mengambil saham mayoritas dalam program Seier C tersebut.